Setelah berhasil mendapatkan tambahan kanal 5 MHz untuk jalur 3G, baik Telkomsel dan Indosat kini mulai memperkenalkan kehadiran teknologi HSPA+ atau akses internet nirkabel berkecepatan ekstra tinggi hingga 21 Mbps. Perkembangan teknologi internet berbasis jaringan selular ini memang sudah diprediksi sebelumnya dan kecepatan akses data masih akan terus meningkat ke arah Long Term Evolution (LTE) yang biasa dipopulerkan dengan istilah 4G (kecepatan 100 Mbps). Anggaplah HSPA+ ini nantinya adalah bakal jadi standar untuk teknologi internet nirkabel, pertanyaan sederhana muncul di benak saya, apakah kita benar-benar memerlukan HSPA+ ini (setidaknya untuk saat ini) ?
Tak rela hanya menjadi penonton tingginya penjualan ponsel Blackberry wannabe buatan Cina yang dijual seharga satu jutaan, LG akhirnya merilis ponsel tipis dengan keyboard QWERTY yang harganya tidak menguras kantong. Sambutlah LG GW300, yang saat ini penjualannya di-bundling dengan operator 3, konon dilego seharga 1,3 jutaan saja. Strategi LG cukup tepat dengan tidak menjadi pesaing Samsung dengan membuat produk sekelas Valencia, namun justru mencoba meredam pertumbuhan ponsel Cina yanglaris manis berkat keberaniannya dalam menjiplak habis desain ponsel Blackberry, HTC atau Nokia E series. read more…
Fenomena mobile internet saat ini sudah sedemikian meluas pemakaiannya. Hampir setiap orang yang menggenggam ponsel sudah bisa mengakses internet via mobile browser seperti Opera Mini atau Net Front. Dengan peningkatan jumlah pengakses data GPRS itu, operator pun merasakan kenaikan pendapatan dari sektor data. Maka itu wajar kalau pihak operator lalu menawarkan paket yang lebih bersahabat dalam segi tarif, daripada konsumen harus mengacu patokan tarif standar yang dihitung per kilobyte data. read more…
Sejak Nikon D90 memperkenalkan fitur movie pada tahun 2008 silam, kini tren fasilitas perekam video pada kamera DSLR tampaknya menjadi hal yang wajib. Mulai dari DSLR termurah seperti Pentax K-x hingga Nikon D3s dan Canon EOS 1D mark IV, semuanya kini berlomba-lomba menambah fitur HD movie. Padahal di masa lalu, fungsi kamera DSLR sebagai kamera serius hanya ditujukan untuk memotret tanpa pernah terbayang akan menjadi perekam video. Jangankan untuk video, bahkan DSLR era tahun 2007 pun belum bisa live-view sehingga LCD hanya bisa dipakai untuk menampilkan setting dan hasil foto saja. Dengan kenyataan saat ini dimana konvergensi teknologi sudah tak terelakkan lagi, haruskah kita bertahan pada opini lama yang menentang fitur movie pada DSLR? Paling tidak, inilah analisa saya mengenai untung rugi adanya fitur movie pada DSLR.
Hari ini genap dua tahun sudah saya, beserta blog nan sederhana ini, hadir menemani pembaca setia lewat dunia maya. Dua tahun lalu, tepatnya 24 Oktober 2007, dimulai lewat tulisan pertama, blog ini mulai terbit. Sejak saat itu, bermacam tulisan, artikel, opini, review hingga rekomendasi saya tuangkan lewat media ini dan lambat laun berhasil meraih banyak respon positif dari pembaca baik dalam memberikan komentar maupun dukungan. Tidak mudah memang, menjaga konsistensi dan fokus pada topik yang spesifik, mengingat blog ini khusus membahas soal teknologi digital terutama bidang fotografi dan komputer. Di tengah aktivitas saya sebagai staf teknik di sebuah stasiun TV swasta di Jakarta, dan masih ditambah bermacam kesibukan saya sebagai seorang kepala keluarga, saya masih sempatkan untuk menghidupkan blog ini untuk anda. read more…
Ah ya, nama apa lagi itu, Naite Greenheart? Bagi anda yang belum tahu, itu adalah nama untuk produk ponsel kelas menengah ke bawah dari Sony Ericsson yang peluncurannya tak banyak diketahui publik ditengah gegap gempita kehadiran ponsel elit dari Sony Ericsson seperti Satio, Aino dan Yari. Produk Naite sendiri diluncurkan sudah cukup lama, sekitar empat bulan lalu meski baru memasuki pasar tanah air Oktober ini. Naite menjadi ponsel kedua Sony Ericsson yang mendapat julukan Greenheart, setelah produk pertamanya C901 yang menjadi flagship dari proyek Greenheart atau aksi nyata peduli lingkungan. Naite sendiri bukanlah ponsel kelas elit, bukan ponsel gaya, bukan pula ponsel canggih sarat fitur. Namun tetap saja dia terasa istimewa buat saya, dan inilah sepuluh alasan mengapa saya menyukai ponsel ini. read more…
Bila kita bicara tentang perseteruan dua raksasa di dunia DSLR, maka fokus bahasan kita tak bisa lepas dari kompetisi dua papan atas Canon vs Nikon. Keduanya punya sejarah panjang di dunia fotografi, punya koleksi lensa yang lengkap dan punya dua kelompok kelas DSLR yaitu kelas sensor APS-C dan sensor full frame. Kamera DSLR bersensor APS-C sendiri biasa dikenal sebagai DSLR crop-sensor karena ukuran sensornya yang lebih kecil dari ukuran film 35mm, menyebabkan lensa yang terpasang mengalami koreksi fokal (crop factor). Nah, bicara soal DSLR APS-C, kita mengenal DSLR paling basic sampai paling canggih, mulai dari harga 5 juta hingga 20 juta. Kali ini saya coba ulas pertarungan dua DSLR paling bergengsi, paling canggih dan paling panas di kelas DSLR APS-C.
Bukan iklan bukan promosi. Saya cuma mau tanya, apakah diantara anda masih ada yang berminat untuk akses internet unlimited memakai IM2 (broom)? Kenapa, soalnya belakangan ini kan ramai dibicarakan soal keluh kesah pengguna Telkomsel Flash yang menurunkan ‘fair usage’ bulanan untuk akses unlimited-nya dan sulitnya mencari perdana XL unlimited. Nah, siapa lagi yang punya paket GSM unlimited kalau bukan Indosat? read more…
RSS - Posts