Kupas Tuntas Canon

Info : Kursus Dasar Fotografi di Jakarta

Bagi anda yang tinggal di Jakarta dan ingin mengikuti kursus dan workshop Dasar Fotografi yang dibimbing langsung oleh saya selaku instruktur tetap dari infofotografi.com, anda bisa memilih kelasnya sesuai kebutuhan dan waktu luang yang anda miliki. Pilihan kelasnya ada Kupas Tuntas Kamera Digital (1x pertemuan @4 jam), Kursus Dasar Fotografi (2-3x pertemuan) dan ada juga kelas privat.

Jadwal saya untuk mengisi materi di bulan Oktober 2014 adalah sebagai berikut :

  • Minggu, 12 Oktober 2014 jam 13.00 :

Kupas Tuntas Kamera Digital, done

  • Senin – Rabu, 13-15 Oktober 2014 jam 18.30 :

Kursus Kilat Dasar Fotografi Malam (angkatan 7), running

  • Sabtu-Minggu, 25-26 Oktober 2014 jam 10.00 :

Kursus Kilat Dasar Fotografi reguler (angkatan 66), 700rb, dibuka pendaftaran

(more…)

Polling : tebak kamera mana yang sensornya APS-C :)

Berikut ini ada sebuah foto yang menampilkan tiga buah kamera modern, dengan tipe dan ukuran sensor yang berbeda. Saya tidak perlu tulis tipenya, pembaca mungkin sudah tahu gambar di bawah ini kamera apa saja. Yang pasti dari ketiga kamera ini hanya satu yang sensornya berukuran cukup besar, setara kebanyakan DSLR saat ini yaitu APS-C. Dengan sensor APS-C modern sudah bisa didapat kualitas foto yang baik bahkan hingga ISO 3200.

P1030091 compare

Di sebelah kiri ada kamera yang ukurannya terbilang besar seperti DSLR, di tengah ada kamera yang berukuran sedang dan di kanan ada kamera yang tergolong kecil. Pertanyaannya, kamera mana yang pakai sensor APS-C?

Thanks for your vote..

Tren dan prediksi teknologi kamera digital terkini

Selalu menarik saat mengamati tren perkembangan kamera digital setiap tahunnya, sambil membuat prediksi teknologi apa yang akan terus ditingkatkan dan mengapa. Untuk saat ini, bisa dibilang kamera ponsel mulai menjadi ancaman serius para produsen kamera, walau sisi positifnya tren ini memaksa mereka untuk bangkit dan membuat penyempurnaan. Tren lain yang begitu terlihat adalah banjirnya kamera alternatif untuk pelengkap/pengganti kamera DSLR, dengan aneka pilihan model dan dukungan lensanya. Di jajaran kamera DSLR sendiri mereka tidak berdiam diri, banyak produk baru diluncurkan namun memang terlihat sedikit sekali peningkatan signifikan dari fiturnya. Soal apakah fitur itu berguna atau tidak itu soal lain, mungkin banyak juga orang yang tidak pernah mencoba fitur seperti WiFi di kameranya, tapi kamera tanpa WiFi saat ini jadi terasa ketinggalan jaman kan?

Banyak tren positif yang saya catat, dan saya rangkumkan disini :

Smartphone is the new compact camera

Panasonic-Lumix-CM1Wow, benarkah? Ya setidaknya beberapa ponsel cerdas terbaru punya fitur kamera yang wow, sensor besar, lensa lebih baik dan bisa mengatur mode manual. Saya catat setidaknya tiga ponsel yang bikin heboh : Nokia Lumia 1020 yang megapikselnya gila-gilaan (sensor BSI CMOS 41MP ukuran 1/1.5 inci dipadukan dengan lensa Zeiss f/2.2 setara 27mm), Samsung Galaxy K Zoom yang lensanya bisa 10x zoom optik (ya benar, sepuluh kali) serta terakhir ada Panasonic Lumix DMC-CM1 yang memasang sensor ukuran 1 inci resolusi 20 MP dengan lensa fix Leica setara 28mm bukaan f/2.8 yang jauh lebih besar dibanding kamera saku pada umumnya.

Kamera saku memang sudah waktunya digantikan oleh ponsel cerdas karena kualitas hasil fotonya sudah nyaris setara. Kamera saku saat ini praktis tidak bisa menawarkan benefit apapun, apa yang bisa kita lakukan dengan kamera saku juga bisa dilakukan (bahkan lebih) di ponsel kita. Ke depannya, ponsel akan terus bertarung di sektor kamera, seperti iPhone 6 dengan stabilizer optik dan deteksi fokus yang canggih, Samsung Galaxy S5, Sony Xperia Z3 dan masih banyak lagi siap membuat kita terpana.

Compact camera is not dead (yet)

Evolusi mengajarkan kita untuk bertahan hidup. Kamera saku sadar bahwa nasibnya hanya tinggal menghitung hari, maka untuk bisa survive hanya ada satu jalan, menjadi niche. Dalam arti umum, niche itu unik, spesifik, hanya untuk dipakai sedikit orang yang benar-benar suka akan kamera itu. Daripada membuat kamera saku yang speknya sama antar merk, lebih baik masing-masing merk mencari spesialisasi yang unik. Maka itu orang lebih suka kamera saku yang berfungsi khusus, misal untuk outdoor (tahan jatuh, tahan air), kamera saku bersensor (agak) besar dan kamera saku yang  premium (fiturnya disesuaikan untuk fotografer pro). (more…)

DSLR terus terdesak oleh mirrorless, apa strategi Canon dan Nikon?

Memang sampai saat ini kamera DSLR masih memimpin penjualan dan juga pengguna, alasannya karena DSLR adalah hasil evolusi dari kamera SLR film, dan juga pilihan lensanya banyak. Dua merk yang identik dengan kamera DSLR yaitu Canon dan Nikon pun tetap bersaing hingga kini, lalu diikuti dengan Pentax dan Sony. Tapi mereka perlahan tapi pasti terus ditekan oleh kamera mirrorless. Dulu orang beli DSLR untuk mengejar kualitas hasil foto karena kamera saku sampai prosumer hasil fotonya kurang baik. Hampir semua orang yang sudah beli DSLR akan puas dengan hasil fotonya, tapi sebagian daripadanya tetap mengeluhkan akan bobot dan ukurannya yang bikin repot. Disinilah kamera mirrorless bisa mencuri celah, dengan hasil foto yang relatif sama baiknya dengan DSLR, pemakainya dapat keuntungan dari ukuran yang kecil. Kira-kira 80% kebutuhan fotografi itu bisa dilakukan dengan kamera mirrorless asal lensanya sesuai.

Saya temui memang kamera DSLR secara teknis bakal sulit untuk berkembang. Fitur yang ada sekarang sudah tampak sulit untuk ditingkatkan lagi, salah satunya karena terlalu banyak mekanik yang bekerja di dalam kamera DSLR. Terlebih produsen seperti Canon dan Nikon tampak nyaman dengan posisi mereka saat ini dimana mereka masih mendominasi penjualan. Tapi orang kan menantikan peningkatan signifikan dari setiap produk yang dilahirkan. Terlihat sekali produk-produk baru (Canon : EOS 700D 70D, 6D, Nikon : D5300, D610, D810 dsb) seperti tidak banyak beda dibanding pendahulunya. Canon dan Nikon terjebak untuk menaikkan hal-hal yang terukur seperti megapiksel, ISO maksimum, burst, titik AF, titik metering dsb dan kadang disertai dengan naiknya bandrol harga. Di sisi lain produsen mirrorless berupaya mencari alternatif yang jarang dikembangkan oleh kamera DSLR, seperti hybrid AF, layar LCD bisa selfie, dukungan OS maupun aplikasi, silent/electronic shutter dan sebagainya.

Canon dan Nikon harus punya strategi tepat, bila tidak mau pangsa pasarnya semakin berkurang akibat orang beralih ke mirrorless. Jangan sampai nantinya yang beli DSLR hanya orang-orang tua yang sudah punya banyak lensa dan mereka ‘terpaksa’ beli DSLR baru supaya lensanya tetap bisa dipakai. (more…)

Adu spek Motorola Moto G dengan para kompetitor

Motorola Moto G. Ponsel yang diumumkan akhir tahun 2013 ini akhirnya hadir juga di pasaran lewat jalur pre-order sebuah toko online terkemuka tanah air, tak ketinggalan saya pun ikut memesan unit ini untuk mencari tahu apa yang membuatnya begitu diminati. Sambil menunggu barang pesanan saya datang, ada baiknya saya tulis juga spek Moto G ini dibanding kompetitornya. Tapi sebelumnya, saya ulas sedikit kalau ponsel buatan Motorola ini termasuk ponsel low-end dalam harga (dibawah 2 juta), tapi high-end dalam sebagian besar fiturnya. Dari penampilan fisik memang cenderung menipu (dan saya suka) karena sepintas Moto G seperti ponsel murahan, tidak terkesan mewah. Simak yuk ulasan saya soal perbandingan fitur Moto G.

Moto G

Spek dasar :

Ditinjau dari fitur dasar memang sepintas Moto G relatif sama dengan ponsel lain seperti konektivitas HSDPA dan WiFi, dual SIM, kamera 5 MP dengan flash dan AF, RAM 1 GB, ukuran layar 4,5 inci (termasuk ukuran sedang buat saya, karena 4 inci masih kekecilan, dan 5 inci ke atas terlalu besar untuk dikantongi), baterai 2070 mAh dan GPS GLONASS . Biasa saja kan? (more…)

Review kamera mirrorless Samsung NX300

Dalam rangka acara workshop Samsung NX di Bandung kemarin, saya berkesempatan untuk mencoba kamera mirrorless Samsung NX300 dengan beberapa lensanya seperti lensa kit 18-55mm OIS, lensa tele 55-200mm OIS dan lensa fix 45mm f/1.8 selama beberapa hari. Kamera ukuran kompak ini membuat saya antusias karena fitur yang ditawarkan cukup banyak seperti sensor APS-C 20 MP, kemampuan burst 8,6 foto per detik, auto fokus hybrid dan layar Amoled yang touch-sensitive.

Samsung NX300

Desain kamera Samsung NX300 mengesankan sebuah perpaduan antara desain modern dan klasik dengan bagian atasnya berbahan logam dan bodinya berbungkus karet hitam bertekstur, bagian belakang dominan plastik. Saya suka grip kamera ini yang cukup besar sehingga aman digenggam tanpa takut meleset. Roda mode kamera (PASM dsb) ditempatkan di pojok atas kanan yang saya rasa tepat, tapi roda untuk mengganti setting saya rasa terlalu kecil dan bahannya plastik. Disertakan juga sebuah flash eksternal yang kecil dan mengambil tenaga dari baterai kamera, lalu sebuah kabel charger mirip seperti charger ponsel yang langsung dicolok ke port USB kamera (in-camera charging).

Samsung NX300 back flip

Layar Amoled 3 inci yang berjenis touch sensitive di kamera ini bisa dilipat ke atas dan ke bawah untuk komposisi foto dengan sudut yang sulit. Warna dan kejernihan layar sangat baik, demikian juga dengan kepekaan layar terhadap sentuhan. Kita bisa mengatur setting kamera, memilih titik fokus hingga memotret dengan menyentuh layar. Saat melihat hasil foto, seperti di ponsel Android misalnya, kita bisa pinch (cubit) layar untuk zoom dan geser jari di layar untuk berganti foto. Sayangnya tidak ada jendela bidik elektronik di kamera ini, ataupun aksesori jendela bidik eksternal yang dibuat oleh Samsung, sehingga setiap saat untuk komposisi foto mengandalkan layar utama saja (yang akan lebih menguras baterai). Untungnya karena layar berjenis Amoled maka tetap terlihat jelas walau dipakai dibawah cahaya matahari yang menyorot dari atas. (more…)

Daftar 5 ponsel Android layar 5 inci harga 2 jutaan (bahkan kurang), pilih yang mana?

Ponsel pintar dengan OS Android kini bisa dibeli dari harga dibawah 1 juta sampai yang 7 jutaan. Berbeda dengan beberapa tahun lalu, saat ini budget 2 jutaan untuk ponsel Android sudah terasa cukup (kecuali mencari spek tertinggi, atau demi gengsi). Paling tidak jeroannya sudah dibekali prosesor dual core atau bahkan quad core, kameranya sudah bagus dan spek lain umumnya tidak ada masalah. Urusan layar, opini saya sih 5 inci itu pas, karena 4 inci termasuk terlalu kecil untuk membaca web atau melihat foto, dan 6 inci sudah susah dimasukkan ke saku celana.

Saya sesekali memantau perkembangan pasaran ponsel dan menemukan umumnya ponsel Android berlayar 5 inci masih/akan dijual di kisaran 3 juta, seperti Samsung Galaxy Grand Neo atau LG L80 Dual (coming soon). Untungnya masih ada kok beberapa ponsel berlayar 5 inci yang harganya cuma di kisaran 2 jutaan bahkan kurang dari 2 juta, dan saya ingin berbagi hasil pantauan saya dengan pembaca sekalian.

Asus Zenfone 5 : keren, spek oke, tapi terganjal distribusi

Ponsel besutan Asus yang berada di kelas menengah ini dijual sekitar 2,2 jutaan, berada di atas Zenfone 4 (1 jutaan) dan Zenfone 6 (3 juta), dan speknya cukup menggiurkan seperti prosesor Intel Atom 2 GHz dual core dan layar 720×1280 piksel Gorilla Glass 3. Memorinya ekstra lega dengan 2 GB RAM dan 16 GB ROM. Kamera di ponsel ini punya sensor 8 MP auto fokus dengan flash. Kamera depan juga ada dengan resolusi 2 MP yang oke buat selfie. Zenfone 5 pakai baterai Li-Po 2100 mAh, kapasitasnya termasuk sedang dan sayangnya tidak bisa dilepas.

Image

Masalah utama Asus ini adalah distribusi karena sampai bulan Juni ini stok barang belum ada di pasaran dan cukup membuat kesal kaskusers yang lama menunggu. Mereka menyebutnya ‘smartphone pilihan orang-orang sabar’

Acer Liquid Z5 : ponsel selfie, tapi kamera depan cuma VGA

Acer Liquid seri Z5 dijual 2,3 jutaan, membidik segmen menengah dengan produk cukup premium, tebalnya kurang dari 9 mili. Ada speaker DTS di kiri kanan ponsel selfie ini. Ya, disebut ponsel selfie karena ada tombol jepret di bagian belakang untuk kita memotret wajah sendiri (dengan kamera depan). Oke kita tinjau jeroan ponsel ini, ada layar 854×480 piksel yang kalah detail dibanding pesaing, ada prosesor Mediatek 1,3 GHz dua inti, memori 512 MB dan ROM 4 GB yang terasa agak kurang besar untuk ukuran ponsel diatas 2 juta. Baterai kapasitas 2000 mAh tergolong pas-pasan mungkin guna menjaga ukuran ponsel ini tetap tipis.

Acer Liquid Z5

Acer Liquid Z5 (tekno.kompas.com)

Sebagai kamera utamanya memakai sensor resolusi 5MP dan lensa bukaan f/2.4 yang cukup besar.

Lenovo A859 : keren, agak mahal

Salah satu produk Lenovo seri A (budget series) yang harganya cukup mahal tapi sepadan dengan yang didapat, yaitu 2,4 jutaan. Simaklah sederet fitur yang menarik dari A859 ini seperti prosesor empat inti 1,3 GHz dari Mediatek, resolusi layar 720×1280 piksel dan RAM 1 GB – ROM 8 GB dan baterai Li-Ion 2200 mAh yang lumayan untuk dipakai harian.

Image

Kamera di ponsel ini punya sensor 8 MP auto fokus dengan flash. Kamera depan juga ada dengan resolusi 1,6 MP yang lumayan buat selfie. (more…)