Pilih-pilih Lumix terbaru
Panasonic kini semakin populer di kalangan pecinta fotografi berkat konsistensinya dalam meluncurkan kamera berkualitas dan sarat fitur yang diberi nama Lumix. Generasi terakhir kamera digital dari Panasonic ini telah memakai engine Venus IV yang diklaim lebih baik dalam hal mengatasi noise. Sebelumnya, Lumix memang dikenal cukup sensitif terhadap noise meski secara fair harus diakui kalau semua kamera saku tentu tidak lepas dari masalah serupa. Lumix tampaknya telah berhasil mendikte pasar kamera dengan menjadi trendsetter tersendiri, seperti katakanlah penerapan stabilizer pada semua jajaran kameranya, serta banyaknya pilihan kamera dengan lensa wideangle. Apalagi keputusan Panasonic yang menggandeng Leica sebagai produsen lensa kamera-kamera Lumix merupakan nilai plus tersendiri, mengingat reputasi Leica dalam membuat lensa berkualitas tinggi telah diakui dunia.
Generasi Lumix baru yang telah menggunakan Venus IV engine telah mengalami banyak penambahan fitur baru, diantaranya :
- Intelligent Auto (iA) yang mengatur semua setting secara otomatis
- Quick AF, saat kamera diarahkan ke objek, auto fokus langsung bekerja
- Face detection yang lebih akurat mendeteksi hingga 15 wajah
- Scene detection, menggantikan bermacam scene mode
- Intelligent ISO (motion detection) untuk menaikkan ISO bila si objek bergerak
- Light detection mengatur eksposure secara otomatis, mencegah terlalu gelap/terang
- two steps noise reduction mencegah noise berlebih pada pemakaian ISO tinggi
Tanpa bermaksud berpromosi, inilah kamera-kamera saku Lumix baru yang layak dipertimbangkan, lengkap disertai dengan plus dan minusnya. Semoga dapat membantu memudahkan anda yang sedang mencari-cari kamera Lumix yang tepat.
Best Lumix overall : DMC-FX500
Inilah kamera flagship dari Lumix yang mengusung spesifikasi mengagumkan, terutama dengan lensanya yang sangat wide di 25mm dan kemampuan zoom hingga 5 kali. Didukung oleh layar sentuh berukuran 3 inci beresolusi tinggi, semua kemudahan untuk pengaturan fokus dan eksposure bisa dilakukan hanya dengan menyentuh layar. Kamera ini juga memiliki fitur manual yang membuatnya menjadi kamera serba bisa, plus mampu merekam video sekualitas HD. Namun bagi anda yang selalu menginginkan kamera beresolusi tinggi mungkin akan kecewa karena FX500 ini ‘hanya’ memiliki resolusi 10 mega piksel. Inilah beberapa fitur dari Lumix FX500 :
- 10.1 MP dengan CCD sensor berukuran 1/2.33 inci
- lensa 25-125mm f/2.8-5.9 (5x zoom)
- Venus IV engine
- Full manual mode (program, aperture priority, shutter priority, manual)
- Touchscreen LCD berukuran 3 inci dengan resolusi tinggi (460ribu piksel)
- Touch AF/AE, Focus tracking
- HD 720p movie mode mampu merekam video berukuran 1280 x 720
Best high megapixel counts : DMC-FX100
FX100 tak ayal menjadi kamera Lumix dengan resolusi tertinggi saat ini dengan 12 mega piksel, cocok bagi anda yang tak ingin kalah dalam urusan bersaing resolusi kamera. Kekuatan kamera ini tentu saja dalam ukuran sensornya yang paling besar diantara semua kamera Lumix yang ada. Urusan lensa sebenarnya tergolong standar dengan tipikal Lumix (yang wide di 28mm) dan 3x optikal zoom. Sayangnya, kamera ini masih memakai engine Venus III yang kalah canggih dibanding Venus IV, meski secara fitur sudah amat memadai. Selain masih memakai engine lama, pada kamera ini juga tidak tersedia fitur manual (A/S/M). Namun dengan model yang keren dan resolusi sensor yang tinggi, kamera seharga 3,3 juta ini layak dinobatkan sebagai best flagship Lumix pada kelas kamera beresolusi tinggi.
- 12.2 MP dengan CCD sensor berukuran 1/1.72 inci (resolusi terbesar diantara Lumix lainnya)
- lensa 28-100mm f/2.8-5.6 (3.6x zoom)
- Venus III engine
- LCD berukuran 2.5 inci dengan resolusi 207ribu piksel
- HD 720p movie mode mampu merekam video berukuran 1280 x 720 (meski hanya 15fps)
Best mini-superzoom : DMC-TZ5 (TZ50 plus WiFi)
Kamera penerus TZ3 ini tetap saja mengagumkan. Dengan bekal lensa 10x zoom dalam bodi yang ringkas, generasi TZ (Traveller Zoom) selalu mendapat pujian dari generasi ke generasi. Dilengkapi sensor CCD beresolusi 9 mega piksel dan Venus IV engine, TZ5 diyakini mampu meneruskan sukses TZ3, apalagi fitur movienya juga keren dengan kemampuan merekam video berkualitas HD. Kekurangan utamanya, apalagi kalau bukan lensanya yang lambat (dengan diafragma terbesar hanya 3,3 pada posisi 28mm). Selain itu, ketiadaan fitur manual (A/S/M) mungkin akan membatasi kreatifitas anda. Tapi terlepas dari kekurangan tadi, tetap saja seri TZ menjadi generasi superzoom mini paling mengagumkan yang pernah ada. Simaklah beberapa fiturnya yang membuat Lumix TZ5 menjadi best mini-superzoom menurut saya :
- 9 MP dengan CCD sensor berukuran 1/2.33 inci
- lensa 28-280mm f/3.3-4.9 (10x zoom)
- Venus IV engine
- LCD berukuran 3 inci dengan resolusi 230ribu piksel
- HD 720p movie mode mampu merekam video berukuran 1280 x 720
- saat merekam video dapat zooming optikal
Best value - wideangle : DMC-FX35
Berbicara kamera wide, tentu yang terbayang adalah jarak fokal maksimal di 28mm. Jarang ada produsen kamera saku yang bersedia membuat lensa yang lebih wide dari itu. Panasonic dengan menggandeng produsen lensa Leica berhasil memaksakan trend lensa wide ke arah yang lebih ekstrim dengan 25mm. Setidaknya, apabila anda merasa perlu memiliki kamera wide 25mm namun tidak perlu fitur lebih seperti FX500, mungkin anda cukup memilih Lumix FX35 ini. Hadir tanpa banyak basa-basi, dengan kekuatan di lensa widenya yang memiliki 4 x zoom (25-100mm), kamera ini telah dilengkapi engine Venus IV dan LCD lumayan standar, 2,5 inci. Urusan merekam videopun tentu menjadi nyaman berkat kemampuan HD movie. Sayangnya, tidak tersedia fitur manual pada FX35 ini. Akhirnya, bolehlah saya nobatkan Lumix FX35 menjadi kamera wide best value, karena harganya yang lebih murah dibanding harga FX500, dengan spesifikasinya yang sebagai berikut :
- 9 MP dengan CCD sensor berukuran 1/2.33 inci
- lensa 25-100mm f/2.8-5.6 (4x zoom)
- Venus IV engine
- LCD berukuran 2.5 inci dengan resolusi 230ribu piksel
- HD 720p movie mode mampu merekam video berukuran 1280 x 720
Best value - overall : DMC-LZ10
Bila anggaran menjadi masalah, kualitas jangan dikorbankan. Setidaknya itulah yang ingin ditegaskan oleh Lumix LZ10 ini. Seri LZ memang menjadi seri ‘kasta rendah’ dari Lumix, namun seiring berjalannya waktu, seri LZ selalu mengalami penyempurnaan. Generasi baru seri LZ kini bahkan telah memakai lensa Leica, sehingga tidak berbeda seperti seri lain seperti FX ataupun TZ. Lumix LZ10 ini meski harganya terjangkau namun tidak berarti sang pemilik akan kehilangan kemampuan wideanglenya, terbukti lensa LZ10 bermula di 30mm (atau 5mm lebih wide dari standar kamera lain di 35mm). Angka wide 30mm masih tergolong lumayan, tidak terpaut jauh dengan 28mm, apalagi kemampuan zoomnya telah mencapai 5 kali. LZ10 inipun telah didukung oleh Venus IV engine yang bertenaga, meski untuk urusan video cukuplah bermain di resolusi 848 x 480 saja. Hebatnya, kamera ini sudah menyediakan fitur manual yang lengkap (A/S/M) seperti yang terdapat di kamera FX500. Kalaupun ada yang harus dikeluhkan dari kamera ini, tentu adalah kecepatan lensanya yang pas-pasan, yaitu dengan bukaan maksimal di 3.3 pada posisi 30mm. Meski demikian, lensa lambat ini masih dianggap wajar untuk kamera sekelas LZ yang harga jualnya sekitar 2 jutaan ini. Inilah beberapa fitur utama dari kamera Lumix LZ10 :
- 10.1 MP dengan CCD sensor berukuran 1/2.33 inci
- lensa 30-150mm f/3.3-5.9 (5x zoom)
- Venus IV engine
- Full manual mode (program, aperture priority, shutter priority, manual)
- LCD berukuran 2.5 inci dengan resolusi 230ribu piksel
- movie mode mampu merekam video widescreen berukuran 848 x 480 (WVGA resolution)
- ditenagai dua buah baterai AA
Pilihan lain :
Kamera saku Lumix memiliki banyak varian. Selain yang saya tulis diatas, masih ada beberapa varian lain yang segmentasinya terbatas, seperti FS series dan LS series. Seri FS merupakan seri baru dalam jajaran kamera saku Lumix, memiliki spesifikasi yang agak tanggung, dengan pilihan Lumix FS20 yang lensanya lambat namun memiliki layar LCD berukuran 3 inci, serta Lumix FS5 dan FS3 yang memiliki spesifikasi berbeda-beda. FS5 memiliki resolusi 10.1 MP namun lensanya lambat (30-120mm f/3.3-5.8), sementara FS3 memiliki resolusi 8 MP namun lensanya lebih baik (33-100mm f/2.8-5.1). Sedangkan seri LS lebih ditujukan untuk mengisi segmen termurah dari Lumix, saya tidak terlalu antusias akan seri LS ini mengingat seri LZ pun sudah cukup terjangkau. Namun bila benar-benar tertarik akan seri LS, bisa dipertimbangkan Lumix LS80 yang memiliki sensor beresolusi 8 MP namun masih memakai Venus III engine.









