Kamera digital favorit saya di 2008

Masih ingat blog saya berjudul : Kamera digital favorit saya di 2007? Sangat menyenangkan saat mengetahui antusiasme pembaca yang begitu tinggi terhadap blog tersebut. Dengan hadirnya bermacam kamera baru di tahun 2008 ini, rasanya saya perlu menulis lanjutan blog terdahulu supaya dapat tetap update dan informatif bagi pembaca. Namun mengingat saat ini masih pertengahan tahun 2008, ke depannya blog ini akan terus diupdate sesuai dengan kemunculan produk baru di bulan-bulan mendatang. Pada kesempatan kali ini, katagori kamera saku dan kamera wide saya lebur menjadi satu supaya lebih praktis. Selamat membaca…

Katagori kamera DSLR :

  1. Nikon D300 masih menjadi kamera DSLR favorit pertama saya dengan sensor CMOS 12 MP dengan format DX, live-view dan weather sealed body. Hingga kini Nikon D300 masih menjadi kamera DSLR tercanggih dan termahal di kelas DSLR bersensor APS-C. D300 dinobatkan sebagai baby-D3 karena secara desain dan fitur memang seperti versi ‘kecil’ dari kamera DSLR profesional Nikon D3 Full Frame. Keunggulan Nikon D300 lainnya adalah memiliki 51 titik fokus yang fleksibel dan kualitas hasil foto yang baik pada ISO tinggi.
  2. Canon EOS-40D pun masih menempati posisi kedua kamera DSLR favorit saya dengan sensor CMOS 10.1 MP dan didukung fitur andalannya seperti Digic III engine, Live view, dust reduction, weatherproof body, 9 titik AF, 6.5 fps burst mode dan layar LCD 3 inci. EOS-40D sebagai kamera mid-level/semi-pro harus bersaing ketat dengan kamera DSLR lain yang lebih baru dan sarat fitur, seperti Pentax K20D, Sony A350 dan Olympus 520. Namun saya merasa 40D masih lebih baik dari para pesaingnya, meski pesaing tadi pun tak kalah baiknya.

Katagori kamera prosumer :

  1. Fuji Finepix S100FS menjadi prosumer terbaik yang pernah dibuat oleh Fujifilm. Hadir dengan sensor khas Fuji SuperCCD 2/3 inci beresolusi 11 MP, kamera ini diyakini dapat menghasilkan gambar berkualitas meski pada ISO tinggi. Kehebatan S100FS terletak pada lensa 14.3x zoom (28-400mm) yang zoomnya manual persis seperti lensa SLR, plus layar LCDnya yang bisa dilipat. Terdapat pula mode Film Simulation (FS), format file RAW, serta fitur untuk menaikkan dynamic range secara otomatis. Fuji menyediakan flash hot-shoe untuk memasang lampu kilat eksternal kian meneguhkan posisinya sebagai kamera prosumer. Fuji S100FS menjadi favorit pertama saya di katagori prosumer, meski produk pesaing DSLR pemula ini berharga diatas 7 juta rupiah.
  2. Olympus SP570 dengan resolusi 10 MP memakai sensor CCD berukuran 1/2.33 inci, hadir sebagai prosumer dengan lensa wide yang memiliki jangkauan terpanjang dalam sejarah kamera prosumer yaitu 20 kali zoom optik (26-520mm) dengan diafragma yang relatif cepat. Inilah yang menjadikan kamera mega-zoom ini sebagai prosumer favorit saya di tempat kedua. Layar LCDnya juga lumayan besar dengan ukuran 2,7 inci. Sebagai kamera prosumer, SP570 tidak hanya mengandalkan fitur manual yang berlimpah, namun juga telah menyediakan file format RAW. Prosumer satu ini cukup berbeda dalam urusan baterai dibandingkan kebanyakan prosumer lain karena menggunakan baterai AA sebanyak 4 buah. Sebagai tambahan, Olympus menyediakan flash hot-shoe untuk memasang lampu kilat eksternal. Dengan semakin murahnya harga memori, jenis memori xD yang digunakan Olympus rasanya tidak menjadi masalah.
  3. Canon Powershot G9 dengan sensor CCD berukuran 1/1.7 inci beresolusi 12 MP dan 6x zoom optik masih menjadi prosumer favorit ketiga saya berkat desainnya yang keren dan fitur yang lengkap seperti stabilizer, file format RAW, flash hotshoe dan sebuah optical viewfinder. Mengusung layar LCD 3 inci beresolusi 230 ribu piksel, tampilan layar G9 memang amat tajam dan baik. Kemampuan movie modenya pun amat baik dengan resolusi maksimum di 1024×768 piksel. Hanya saja prosumer yang satu ini bukan masuk ke kelas kamera super-zoom, sehingga lebih cocok diposisikan sebagai kamera prosumer saku yang berkualitas tinggi.

Katagori kamera pocket :

  1. Canon Powershot A650IS masih menjadi kamera saku favorit pertama saya dengan resolusi 12 MP, image stabilizer dan lensa dengan zoom optik 6x. Setahun telah berlalu, namun sulit bagi saya untuk mencari kamera saku lain yang lebih baik dari A650IS ini. Dia memiliki fitur manual P/A/S/M yang lengkap, layar LCD yang bisa diputar, masih ada optical viewfinder, ergonomi yang baik dan ditenagai baterai AA sebanyak 4 buah yang cukup bertenaga. Kualitas hasil foto kamera ini juga relatif lebih baik dibanding kamera sejenis, berkat penggunaan sensor CCD berukuran 1/1.7 inci. Canon A650IS ini kadang disejajarkan dengan Canon G9 karena kemiripan fitur dan spesifikasi, terutama dalam hal lensanya, meski A650IS tidak dilengkapi file format RAW dan flash hot-shoe (namun layar LCD Canon G9 tidak dapat diputar).
  2. Panasonic Lumix FX500 menempati posisi kedua kamera saku favorit saya dengan keunggulan pada layar LCD touch-screen 3 incinya yang interaktif. Untuk menentukan titik auto fokus, pemakai tinggal menyentuh layarnya saja. namun bukan itu saja kehebatannya. Simak saja lensa Leicanya yang sangat wide di 25mm, 5x zoom optik, stabilizer, manual mode P/A/S/M dan kemampuan merekam video berkualitas HD/High-Definition. Kamera beresolusi 10.1 MP inipun diklaim lebih baik dalam menangani noise pada ISO tinggi berkat engine baru Venus IV engine.
  3. Panasonic Lumix TZ5 dengan resolusi 9 MP menjadi kamera yang memiliki keunikan pada lensa Leica 10x zoom (28-280mm) dengan image stabilizer yang dikemas dalam bodi yang ringkas. Kemampuan kamera ini semakin baik dengan dukungan Venus IV engine, layar LCD 3 inci dan kemampuan merekam video berkualitas HD/High-Definition. Bahkan terdapat varian khusus dari TZ5 ini yang dilengkapi dengan fitur WiFi. Meski tanpa dukungan fitur manual, kamera ini berhasil merebut hati saya untuk dinobatkan sebagai kamera saku favorit saya di tempat ketiga.

Katagori kamera value :

  1. Panasonic Lumix LZ10 menjadi favorit pertama saya di kelas kamera saku ekonomis. Tidak mudah untuk menempati posisi pertama di kelas ini. Syarat pertama adalah harganya harus terjangkau, dan kedua kualitasnya jangan dikorbankan. Bicara soal kualitas, LZ10 dibekali lensa Leica dengan zoom optik 5x. LZ10 inipun telah didukung oleh Venus IV engine yang bertenaga, telah terdapat fitur manual P/A/S/M, dan fitur video beresolusi 848 x 480 piksel. O ya, saya tidak perlu menulis kalau kamera ini telah dilengkapi stabilizer, karena faktanya semua kamera digital Lumix memang memiliki fitur ini. Layar LCDnya amat baik untuk ukuran kamera ekonomis dengan ukuran 2.5 inci beresolusi 230 ribu piksel. Bandrol harga sekitar 2 jutaan, cukup pantas mengingat fitur kamera beresolusi 10.1 MP ini memang terbilang lengkap.
  2. Canon Powershot A590IS dengan resolusi 8 MP dan zoom optik 4x menjadi andalan kedua saya di kelas kamera murah meriah. Kamera penerus A570IS ini tetap dilengkapi fitur image stabilizer. Terdapat pilihan manual mode P/A/S/M layaknya kamera saku kelas menangah, juga terdapat fitur face detection, serta (yang unik) masih terdapat fasilitas optical viewfinder. Inilah kamera yang berkualitas baik, berfitur lengkap dan memiliki ergonomi yang baik, yang dijual dengan harga dibawah 2 juta rupiah. Sulit dipercaya…

Apakah anda punya rekomendasi tersendiri? Ingin menyampaikan kamera favorit versi anda? Jangan segan untuk mengisi komentar di bawah ini, disertai alasan mengapa anda memfavoritkan kamera itu. Barangkali info tersebut ada gunanya bagi pembaca yang lain. Salam..

34 Comments so far

  1. menik8110 on 13 June 2008

    thanks… tulisan yg sangat membantu..
    Ada rekomendasi utk yg suka camdig pocket dg battery lithium & budget 2-3jt..?

    Banyak dong.. Ada IXUS, ada Lumix, ada Coolpix, ada Exilim dll.
    Btw, agak jarang lho ada yang nyari kamera dengan batere sebagai kriteria utamanya. Biasanya orang nyari kamera dengan kriteria biasanya :
    resolusi : 6,7,8 MP dst.
    lensa : wide, normal, superzoom dsb.

  2. Yoky on 14 June 2008

    Saya mohon bantuan dipilihkan mana yang bagus antara Kodak Z812 IS dengan Fuji Finepix S8000 fd. saya dapat info dari tokocamzone.com harga keduanya sama sekitar 2,9 juta.
    Atau ada saran spek yang lebih baik dari keduanya dengan budget 3juta-an..??? Saya biasa memakai digicam pocket dan ingin belajar lebih lagi… Tks.

    Keduanya punya kesamaan utama : 8 megapiksel, stabilizer dan harganya ekonomis.
    Bedanya dalam hal jangkauan lensa, kalau benar-benar perlu 18x zoom tentu bisa ambil S8000/S8100. Kalau cuma perlu zoom 12x, Fuji punya S1000fd yang harganya juga 2,9 juta (tapi 10 megapiksel).
    Saya rekomendasiin S8000/8100 aja, inilah kamera super zoom lensa wide yang bagus dan terjangkau, tapi kalau ada dana lebih bisa ambil Lumix FZ18. Rasanya kamera sensor kecil begini 8 mega udah pas lah, gak perlu sampai 10 mega segala.

  3. Durra on 27 June 2008

    saya baru akan membeli kamera. informasi dari kawan bahwa kamera olympus FE 310 cukup bagus. saya juga sudah lihat sih barangnya. sepertinya bagus.
    mohon dong berikan reviewnya utk kamera ini apa kelebihan dan kekurangannya ?

    Bukan review lah, cuma opini probadi saja ya…
    Olympus FE310 jadi satu dari dua belas kamera saku murah meriah yang saya favoritkan. Petikannya saya kutip ya :
    Olympus FE-310-1,5 juta. Olympus selalu menjadi kamera yang ‘berbeda’ baik secara desain maupun jenis memori yang digunakan. Contohnya FE-310 ini, dengan lensa wide yang zoomnya hingga 5x, kamera 8 MP ini tampil dengan desain yang cantik namun sayangnya memakai memori jenis xD yang tidak umum. Jangan terkecoh oleh fitur Digital image stabilizer, karena ini hanya istilah marketing untuk pemakaian ISO tinggi saja. layar LCD yang digunakan berukuran 2,5 inci dan ditenagai oleh 2 buah baterai AA.

    Jadi menurut saya :
    The good : lensa wide dengan 5x zoom
    The bad : stabilizer ‘palsu’, memori xD

    Choice is yours, tapi buat saya, dengan harga segitu banyak merk/model lain yang bisa dipilih, kecuali kalau memang benar-benar perlu lensa wide yang zoomnya sampai 5 kali.

  4. Busa_tio21 on 3 July 2008

    Kok untuk kelas prosumer Nikon P80 ngga masuk katagori?

    Lagi bingung ni mau beli prosumer dengan kepraktisan lensanya (+ anggaran) atau sekalian DSLR tapi pasti tambah bengkak buat anggarannya berhubung masih newbie.
    Bener-bener bingung aku. :(
    Pokoknya syaratnya tu udah 10 MP / lebih bisa wide+tele+macro.
    Mohon pencerahan….

    Nikon P80 agak ‘terlambat’ saat bergabung di kancah persaingan superzoom 18x, saat Lumix, Fuji dan Olympus sudah cukup laris penjualannya. Sebagai yang terakhir datang, semestinya Nikon belajar dari kekurangan pendahulunya, dan menjadi kamera superzoom terbaik. Nyatanya, tidak banyak yang bisa dibanggakan dari P80, lensanya tidak berbeda dengan pesaing. Sensornya pun sama-sama kecil. Bahkan Olympus membuat terobosan dengan membuat lensa 20x zoom. Itulah mengapa meski Olympus SP570 juga sensornya kecil dan hasil fotonya biasa-biasa saja, saya memfavoritkan dia di kelas prosumer karena kemampuan zoomnya dan prinsip kerja zoomnya yang diputar (putaran tangan akan menggerakkan motor zoom lensa). Tapi bila ditanya pilih mana antara keempat kamera 18x zoom : Lumix FZ18, Olympus SP560, Fuji S8100 atau Nikon P80, saya akan memilih Lumix FZ18.

  5. MTAROM on 3 July 2008

    Bos….untuk budget 1,5 - 2jt camdig apa yang direkomendasikan? kalau produk sony dsc w110 gimana?

    Saya pribadi kurang sreg dengan Sony, tapi itu pendapat pribadi semata lho. Untuk dana dibawah 2 juta saya cenderung pilih Canon A720 IS.

  6. MTAROM on 3 July 2008

    Tapi saya tak tahan godaan bodynya yang menurut saya oke yah……kalo canon body-nya khan gede2. BTW saya akan ikuti saran anda. Cuma yang masih penasaran…….kurang sreg-nya dimana yah? Apa ada artikel anda mengenai produk sony, terutama u.camdig entry level…..Terimakasih. Oh ya blog ini sangat bermanfaat bagi saya yang awam tentang camdig, mudah-mudahan anda tidak bosan-bosannya menulis artikel baru yang dapat mencerahkan siapa saja yang mengunjungi blog ini. Salam.

    Terima kasih atas dukungannya, semoga bisa memberi semangat saya untuk terus nge-blog disini.

    Saya sependapat, bodi Sony W110 cantik dan terkesan mewah dengan lapisan almuniumnya. Secara spesifikasi juga Sony ini lumayan bagus, lensa agak wide (32mm) dengan 4x zoom, sensor 7 MP, optikal viewfinder dan Super Steady Shot. Bila anda tidak keberatan dengan ketiadaan fitur manual dan memorinya yang pakai MS-duo, go for it. W110 ini sudah amat terjangkau dan mencukupi. Saya cenderung suka Canon A720 karena adanya fitur manual dan lensanya yang 6x zoom (plus harganya, he..he..). Tahun 2005 silam saya beli Lumix LZ-2 (kamera pertama dengan 6x zoom) harganya 3 juta lebih. Bayangkan, sekarang A720 dijual dibawah 2 juta.

  7. newfotografi on 3 July 2008

    Kutipan:
    “Saya pribadi kurang sreg dengan Sony, tapi itu pendapat pribadi semata lho. Untuk dana dibawah 2 juta saya cenderung pilih Canon A720 IS.”

    Mas, bukannya Canon PS 720 IS harganya sedikit di atas 2 juta? Saya lihat di http://www.tokocamzone.com. Kalau memang di bawah 2 juta, mungkin saya akan pilih itu. Saya masih timbang-timbang, A570 IS, A590 IS, atau 720 IS.

    Terima kasih.

    Saya lihat di ek-gadget, ada dua versi : garansi resmi dan garansi toko. Yang garansi resmi memang 2 juta lebih dikit, yang garansi toko dibawah 2 juta. Asumsi saya, di pasaran bisa dicoba mencari A720 yang garansi resmi dengan harga 2 juta bahkan kurang asal bisa nego harganya. Tapi kalaupun masih diatas 2 juta, apakah tidak lebih baik menabung sedikit lagi untuk mengejar lensa A720 yang 6x zoom daripada A590 yang lensanya 4x zoom (keduanya 8 MP). Lain halnya bila dananya terbatas, A570 sudah amat memadai di kelas 7 MP.

    Setidaknya meski bukan garansi resmi, ada A720 yang berharga di bawah 2 juta. (meski sebaiknya upayakan membeli produk bergaransi resmi).

    Terima kasih juga..

  8. newfotografi on 3 July 2008

    O, begitu. Karena keperluan saya kebanyakan motret-motret anggota keluarga (kalau udah kebeli…), apa betul kalau di dalam ruangan cenderung gelap (untuk jenis Canon Powershot)? Kemudian, jika motret anak kecil yang susah diam, bagaimana supaya tidak blur ya? Saya udah motret pake HP, 90% blur karena anaknya nggak bisa diem…:-). Atau, kalau ada artikelnya, boleh dong saya dikasih link-nya.

    Saat motret indoor pilihannya pake lampu kilat, naikin ISO atau kombinasi keduanya. Saya motret anak saya yang berumur 20 bulan juga merasakan hal yang sama. Namanya anak, disuruh diam untuk difoto, mana mau? Motret pake ponsel, buyar semua. Pake kamera saku, terpaksa harus pake lampu kilat (gambar jadi tidak natural). Akhirnya saya pake ISO 1600 dengan Nikon D40, hasilnya baru bisa lumayan. Lain cerita kalau bung Ken motret Ryan (anaknya) pake Nikon D3. Dia pake ISO 3200 pun hasilnya masih bersih. Kalau sudah begini nggak perlu lagi yang namanya make lampu kilat di dalam rumah.

  9. Ahmad hadya on 3 July 2008

    Pertama..senang sekali ada tulisan bapak!
    Mo nanya dikit..dengan budget dibwah 2 jt,kamera apa nih yang cocok..saya ingin kamera dengan hasil bagus untuk pemotretan dalam atau luar ruangan(yang respon cahayanya bagus/flashnya kuat)
    trim’s

    Dibawah dua juta ya? Hmmm…. apa ya?
    Is it deja-vu? Rasanya saya tadi pagi baru saja menjawab pertanyaan serupa, dan saya jawab Canon A720 IS seharga 2 juta pas. Meski demikian, saya juga tertarik oleh info dari sang penanya yang menanyakan Sony W110 dengan harga 1.7 jutaan. Flash kuat ditentukan dari apakah di kamera tsb tersedia setelan untuk mengatur kekuatan flash (flash intensity level).

  10. Busa_tio21 on 3 July 2008

    Ini lho mas kamera2 yang bikin saya bingung:
    * Olympus SP-570 UZ
    * Lumix FZ50
    * Coolpix P80
    * FinePix S8100 fd (ada FinePix S100FS tapi kemahalan untuk kelas prosumer)
    * Sony CyberShot H50

    Kamera2 diatas fitur2nya sudah komplit (selera saya, 10 MP,superzoom/wide,tele,macro dan ada menu manual) dan harganya pun hampir sama.
    Tapi apakah menu manual di kamera prosumer di atas sudah seperti settingan manual di DSLR?
    Karena salah satu faktornya pingin kamera yang ada menu manualnya apakah mendingan beli DSLR sekalian dengan budget yang sama tapi mengorbankan kemampuan pengambilan gambar tele? Padahal saya suka banget kalo ngliat hasil foto macro dan tele macro tapi kalo beli DSLR + lensa yg tele budgetnya ngga nyandak.
    Ada sih DSLR dengan double kit lensa seperti Olympus E410 dan E510 (14-42+40-150mm) juga Sony Alpha A300 (18-70+55-200mm) tapi selisih harganya lumayan jauh dibanding prosumer.
    Inilah kebingungan saya mas. :<

    Waduh, sedang menghadapi dilema ya? Pertama, kalau suka motret tele dan dana terbatas, lupakan DSLR. Sebaliknya, bila anda pecinta wide angle / ultra wide, tidak ada prosumer yang bisa menjangkau fokal hingga 12mm layaknya DSLR (plus lensa wide).

    Soal prosumer untuk tele, the bestnya saya rasa masih Lumix FZ50. Saya sering pake ini dan asal tidak dipake diatas ISO 100, FZ50 luar biasa mantap. Tapi bila anda ingin yang terbaik di kelas prosumer, pertimbangkan Fuji S100FS, meski harganya hampir 8 juta (sama seperti Nikon D80 plus lensa 18-55), anda dapat kamera mirip DSLR dengan lensa wide yang serba bisa (28-400mm), sensor fuji lebih baik dari prosumer lain dan hasil foto ISO tinggi tentunya lebih baik juga (meski msh kalah dengan DSLR).

    Bila anda benar-benar gila akan tele, pecinta burung atau ingin bersafari ke Afrika :) , pertimbangkan Olympus SP-570. Inilah satu-satunya lensa 20x zoom dengan harga 4 jutaan. Jangan berharap banyak akan kualitas lensa dan sensornya, ini kamera just for fun yang luar biasa.

    Saya lihat di review luar, Sony H50 atau Nikon P80 banyak dibantai karena hasil fotonya yang jelek. Saya lebih tertarik pada Canon S5IS atau Fuji S8100 yang meski keduanya punya bentuk agak aneh, tapi harganya bersahabat.

    Satu hal yang perlu diingat saat memutuskan membeli prosumer untuk urusan tele : pemakaian EVF (electronic viewfinder) akan terasa sulit saat objeknya bergerak (seperti burung atau aeromodelling). Untuk itu perlu membiasakan dan banyak berlatih.

  11. newfotografi on 3 July 2008

    Saya bantu mas Gaptek. Buat yang bertanya soal harga di bawah 2 juta, silakan lihat bagian atas dari tanya jawab ini, di halaman ini juga. :-)

  12. vallan on 11 July 2008

    mass

    mao nanya nee…
    pilihann kameraa yg 5jutaan paan ya??
    bingung antara fz18 sama fz50 nya panasonic..

    di antara kedua nya bgs yg mana mas…??

    atau mungkin ada yg lebihh baik lagii…

    makasii sebelum nya

    Walah, 5 juta sih mending FZ50 plus asesoris lainnya. Yang lebih baik lagi ya DSLR kit ekonomis :)

  13. vallan on 12 July 2008

    tp mas saya lebihh cenderung ke fz18..
    karena mungkinn lebihh ringan,18x zoom, dan lebih murahh juga…
    teruss setelahh baca comment dari mas saya jadii lebih jatoh hatii ke fz18 di banding sekelas nya… hehee…

    dan lagi setelahh saya carii informasii ke forum lain untuk kualitas sii kata nya tidak terlaluu beda jauu… cm ada beberapa hal aja yg tidak di miliki fz18… bagaimana menurut pendapat mas?

    wahh jadii makinn bingung nee mas…
    fz18 ato fz50????

    inii mungkin bisa membantuu mas saya ada link perbanding an kedua nya… tp karena saya masii ijo jadii saya tidak begitu mengertii fungsi iso fokus dsb…

    http://www.digitalversus.com/duels.php?ty=1&ma1=60&mo1=389&p1=2586&ma2=60&mo2=317&p2=2080&ph=21

    dan ini foto2 hasil jepret an fz18..

    http://www.flickr.com/groups/panasoniclumixdmcfz18/pool/page5/

    terima kasih lagi sebelum nya..

    Memang FZ18 lebih unggul diatas kertas dengan lensa 18x zoom dimulai dari 28mm. Tapi FZ18 dan teman-temannya (Olympus SP560, Fuji S8100, Nikon P60) tergolong kamera superzoom biasa, dalam arti kamera ini punya fitur manual dan punya lensa panjang sehingga bisa untuk motret landscape atau tele.

    Tapi FZ50 tetap saja jadi flagship dari Lumix dengan keunggulan di lensanya yang bisa diputar manual untuk zoomnya. Ini akan amat berguna kalau kita sering berubah-ubah posisi zoom saat motret seperti saat even olahraga. Lensa zoom yang bisa diputar manual dapat menghemat baterai, lebih cepat dan serasa lensa SLR. Selain itu, layar LCD FZ50 bisa diflip untuk pemotretan dengan angle sulit. Belum lagi adanya flash hot shoe akan menambah keleluasaan pemotretan.

    Kalau anda lebih perlu rentang fokal lensa yang lebar, pilih FZ18. Tapi kalau anda perlu lensa yang zoomnya manual, pilih FZ50.

    Kalau saya ada dana 5 juta dan ditanya pilih FZ18 atau FZ50, saya akan ambil FZ50, sisa dananya bisa beli lampu kilat eksternal dan wide lensa adapter.

    Tapi kalau saya ditanya, pilih mana FZ18 atau Olympus SP560/Fuji S8100/Nikon P80, saya akan pilih FZ18 (atau saya akan pilih Olympus SP570 dengan 20x zoom :) )

  14. ahmad hadya on 12 July 2008

    Saya lagi tertarik nih ma Canon PS S5 IS..harga selisih dikit ma pocket camera,tp yang paling menarik buat saya adalah adanya fasilitas external flash,ini bisa menutupi ketidakpuasan saya thdp pocket kamera jika untuk pemotretan rendah cahaya.
    Tolong donk review singkat kelemahan n kelebihan,serta komparasi produk sekelas(harganya terutama)
    Thanks!!

    Mas Ahmad,
    saya tidak bisa mereview produk yang tidak saya punyai. Pernah ada temen saya minjemin kamera sebentar, itupun saya cuma bisa bikin hands-on preview saja (seperti Canon A650IS). Tapi jangan kuatir, banyak review profesional untuk S5 IS di internet, dijamin lengkap dan detil.

    Pendapat saya soal S5 IS, inilah best flagship dari prosumer / super zoom Canon yang masih ada dipasaran. Entah kenapa Canon belum juga bikin penerus S5 IS ini. Saat ini harganya udah murah banget, dibanding fitur dan kemampuannya, harganya terasa relatif murah. Ambil saja sebelum dia diskontinu.

    Saya setuju akan pemakaian flash eksternal di S5 IS, setidaknya anda tidak lagi harus memaksakan pakai ISO tinggi. Saya suka akan motor lensanya yang USM, movie modenya (stereo), layar LCDnya yang bisa dilipat dan baterainya AA (4 buah).

    Saya berharap S5 IS ini lensanya lebih wide (misalnya di 28mm), bisa zoom putar (seperti Lumix FZ30/50), punya kompresi video MPEG4, dan bodinya lebih ringkas. Tapi yang saya sebut diatas tadi bukanlah kekurangan S5 IS, cuma akan lebih baik bila generasi penerus S5 IS ini (S6 IS mungkin?) bisa memenuhi harapan saya.

    Untuk harga yang hampir sama, anda bisa pertimbangkan Lumix FZ18, Fuji S8100, Nikon P80, Olympus SP560 dan Sony H50. Semoga cukup jelas, salam..

  15. endi on 12 July 2008

    kalau liat harga kelas Zooom 18x antara sp560, FZ18, and s8000fd harga yang paling murah s8000.
    gimana menurut mas, beda jauh ngak kualitas ketiganya dibanding sp570 20x zoom?
    kalau cuman beda di zoom doang, saya rencananya mau beli s8000 aja , habis jauh lebih murah dibanding kelas zoom 18x yang lain (s8100fd kelihatannya belum ada diindoneasia ya, sudah tanya kemana2 belum ketemu).
    thanks

    Lihat artikel saya soal super zoom. Pada intinya semua super zoom 18x punya spek mirip tapi harganya bervariasi. Kalo masalahnya adalah dana, tentu Fuji sudah amat baik untuk dipilih. Hanya saja dari sistem stabilizer kesemua kamera ini tidak sama, ada yang pakai optikal shift ada yang sensor shift. Untuk pemakaian tele, stabilizer sensor shift kurang efektif. Untuk itu sistem OIS dri lumix lebih cocok, resikonya ya harganya lebih tinggi.

    Olympus 570
    punya keunggulan di lensa ekstrimnya. Bukan cuma kemampuan telenya yang diatas 500mm, tapi widenya juga dibawah 28mm. Selain itu putaran lensa zoom dilakukan secara manual (meski tetap memakai motor zoom). Belum lagi adanya Flash hotshoe menjadikan Oly 570 ini dijajaran prosumer elit, sekelas Lumix FZ50, Canon S5 IS & G9 dan Fuji S100. (saya ingat kemarin ada yang tanya bedanya Lumix FZ18 dan FZ50).

    Tapi untuk kualitas foto, semua kamera sensor kecil umumnya sama. Kalau ada satu lebih baik dari lainnya, itu semata karena mutu lensanya, engine prosesornya dan noise reduction saja.

  16. ulfi on 14 July 2008

    mas saya jg lagi hunting kamera di bawah 2 jutaan.. tapi saya tertarik sama kodak M series,, kalo gak salah 3x optical zoom, 8MP, body slim. tapi kenapa merk kodak gak di sebut2 yah?
    kalo bolweh tw plus minus kamera ini apa ya??
    thx :)

    Kenapa ya? Karena urusan memfavoritkan sesuatu, setiap orang akan cenderung subjektif dan relatif. Saya kurang tertarik dengan kodak (meksi dulu pernah 2x beli kodak di tahun 2001-2002) karena sekarang merk pesaing bisa bikin kamera yang lebih baik (menurut saya). Plusnya kodak adalah nama besarnya di dunia fotografi, dan kodak jugalah yang berhasil membuat sensor beresolusi 50 MP. Lensa schneider nya juga bagus, menunya mudah dan simpel. Minusnya kodak adalah inkonsistensi dalam pembuatan produk, segmentasinya yang tidak jelas dan kini dia tidak lagi membuat DSLR.

    Seri M dari Kodak sudah cukup oke, saya tidak masukkan di daftar kamera favorit saya 2007/2008 (mungkin nanti di 2009?) tapi setidaknya Kodak seri M ada di daftar kamera dibawah 1,5 juta dan seri Z sudah masuk daftar saya di kamera dua jutaan.

  17. Inyo on 15 July 2008

    Mas saya berminat dengan s8000fd mengingat harganya yang paling terjangkau dibanding pesaing-pesaing dikelasnya, yang saya ingin tanyakan kelemahan dan kelebihannya di banding produk sekelas yang jauh lebih mahal, maklum masih mahasiswa. Thanks

    Memang Fuji S8000 ini menggoda untuk dibeli karena harganya yang lebih murah dari pesaingnya. Diatas kertas, kembaran Fuji ini adalah Olympus SP560, dengan spek lensa yang persis sama (27-486mm f/2.8-4.5). Selain itu, mereka berbagi spesifikasi yang sama seperti shutter speed dari 4 - 1/2000 detik, movie VGA 30 fps, ada fitur RAW (Nikon P80 justru tanpa RAW) dan pakai stabilizer pada sensornya, serta pakai baterai AA 4 buah.

    Kelebihan fuji dibanding pesaing, tentu adalah harganya.
    Kekurangannya, sistem stabilizer kalah efektif dibanding Lumix FZ18. Kecepatan lensa juga kalah dibanding Lumix dan Nikon P80. Fitur movie Lumix sudah di 848×480 piksel, sementara Fuji masih VGA. Resolusi kalah oleh Nikon (8 MP vs 10 MP) dan kemampuan makronya fuji paling jelek (10 cm, merk lainnya bisa sampai 1 cm).

    Untuk lebih jelasnya bisa lihat tabelnya DPreview.

  18. naftha on 18 July 2008

    salam kenal, aku tertarik sama nikon D80, canon EOS-40D dan canon EOS-450D, tapi bingung ni…. yang mana aku pilih, tolong rekumendasikan yang mana yang terbaik atau ada kamera yang lain yang lebih dari ketiga camera di atas, tapi harga nya sekitar 10 juta. terimakasih atas saran dan informasinya

    Untuk dana 10 juta semestinya anda sudah punya gambaran kamera semacam apa yang dibutuhkan, sayang kalau dana sebesar itu dibelanjakan tanpa pilihan yang mantap. Nikon D80 sudah menjelang akhir penjualan, sebelum rumornya produksi seri D80 nanti akan dihentikan (atau bisa juga dibuat D90). Tapi Nikon D80 kit 18-135 secara umum bisa jadi kamera harga 10 juta yang paling pas, artinya antara harga dan fitur sudah sangat berimbang. Kini bahkan Canon 40D sudah turun jauh harganya hingga 9 jutaan body only. Dengan dana 10 juta, lupakan 450D. Sempitkan pilihan pada dua kandidat semi-pro tadi, Nikon D80 untuk 10 juta sudah plus lensa kit yang bagus, atau Canon 40D bodi only (atau plus lensa kit 18-55, tapi sebaiknya bodi only saja, kit Canon kurang tajam).

  19. Agonk on 26 July 2008

    salam kenal bos….
    thx untuk artikelnya….
    mo nanya nih bos, sebagai orang yang awam banget soal fotografi, saya baru beli canon ps a590 is, untuk charger dan ac adapternya khan gak include tuh waktu purchase, ada saran ama review gak buat beli ac adapter dan charging batery nya? yg bagus yg kayak apa sih? mungkin dr 3rd party ato gmn?
    thx bro….

    Salam kenal juga,
    anda kok tau kalo saya ini bos ? :)
    Selamat atas Canon A590 IS barunya. Betul kalo kamera yang pake baterai AA tidak dilengkapi dengan baterai rechargeable dalam paket penjualan. Untuk itu anda bisa beli sendiri minimal 2 buah yang jenisnya NiMH.

    Sekarang ini banyak merk baterai bermunculan, hati-hati akan merk yang aspal di pasaran. Pastikan beli baterai yang kapasitasnya tinggi, misalnya 2500 mAh atau lebih. Sebaiknya beli baterai yang paket dengan chargernya (kecuali kalau anda sudah punya charger) supaya lebih ekonomis. Kalau mau cari charger, ada beberapa hal yang perlu dipertimbangkan :
    - kapasitas baterai, apakah cuma bisa dipasang 2 atau 4 baterai. Sebaiknya pilih yang 4 baterai saja.
    - kecepatan charge, apakah ada mode quick charge atau tidak.
    - pake mikro prosesor atau tidak. Charger yang bagus pake chip didalamnya, sehingga arus pengisian akan disesuaikan dengan jenis dan sisa arus didalam baterai.
    - apa ada mode refresh untuk mengosongkan baterai. Kadang2 untuk mencegah baterai mengalami memory effect, fitur ini bisa dicoba.
    - ada charger kelas mahal yang pake layar LCD sehingga bisa melihat status pengisian secara detil. Tentukan apakah anda perlu fasilitas tsb atau tidak.

  20. Viska on 4 August 2008

    wah, tulisannya membantu sekali mas… jadi pengen ikutan nanya niy ;) adek saya lagi cari kamera, bujetnya sekitar 3jt.an… antara canon S5 IS dan kodak Z812 IS bagus yg mana ya, mas? saya liat2 kok nggak ada review kamera kodak di sini. malah setelah baca2 jadi bingung, kyna yg lain juga banyak yg bagus… thanks before!

    Blog, bagaimanapun tetaplah media yang subjektif, tergantung dari opini dan selera penulis. Maka itu wajar kalau saya cenderung menulis tentang merk tertentu. Lagipula definisi kamera bagus menurut saya dan mbak kan bisa jadi berbeda. Yang jelas, saya nggak mau di blog ini bilang merk A jelek karena bakal ada pihak yang ‘tidak berkenan’. Maka itu ngga ada artikel saja yang berjudul : 10 kamera terjelek menurut saya, misalnya.

    Saya pernah punya kamera kodak hingga 2 kali, namun saat ini menurut saya kodak kalah bersaing dengan merk lain. Kalau anda tanya bagus mana S5 IS dan Z812 IS, saya jawabnya jelas : bagus S5 IS. Diadu dari spesifikasi, fitur, kinerja, model dan lensa, Canon menang telak. Mungkin di lain kesempatan saya bisa coba bikin artikel tentang perbandingan kamera prosumer harga 3 jutaan.

  21. Viska on 4 August 2008

    ow, ow, ow…
    sori mas, salah nulis… harusnya bukan bagus mana, tapi pilih mana ya :) terimakasih atas penjelasannya. ditunggu tulisannya ttg perbandingan kamera prosumer harga 3 jutaan…

  22. Haris on 5 August 2008

    Salam kenal mas, saya tertarik kamera prosumer sony DSC H50, lumix FZ18 atau nikon Coolpix P80 mohon pencerahan dan sarannya,terima kasih.

    salam kenal juga.
    Menurut saya ketiganya selevel dan sama-sama berkelas. Khusus Sony, panjang fokal lensanya tanggung karena di wide dia kalah dgn lainnya, dan telenya pun juga kalah. Meski demikian bukan berarti Sony itu lebih jelek dari Lumix atau Nikon. Saya menyayangkan ketiga pilihan anda tidak ada satupun yang pakai flash hot-shoe, padahal yang namanya flash built-in kemampuannya amat terbatas. Ketiganya pun punya sensor yang kecil sehingga cuma cocok dipakai di ISO rendah saja. dari ketiganya saya tidak bisa memilih salah satu, alias draw. Ketiganya bagus, atau ketiga kurang, tergantung dari aspek mana kita menilai. Cari yang fiturnya paling sesuai, desain dan ergonomi paling terasa nyaman digenggam, dan cari yang harganya paling cocok.

  23. Haris on 8 August 2008

    Saya mau nanya lagi mas, jadi kamera prosumer yang harganya paling murah dibawah 4 juta tapi kualitas bagus atau paling bagus apa ya, terima kasih.

    Umumnya harga prosumer memang dibawah 4 juta. Anda perlu yang super zoom (12x, 15x, 18x, 20x) atau yang biasa (3x, 6x). Saran saya kalau perlu super zoom tapi tidak perlu lensa wide, bisa ambil Canon S5IS. Kalau perlu wide dan zoom 18x bisa ambil Lumix FZ18. Kalau yang hanya 6x zoom tapi ukurannya tidak terlalu besar bisa coba Canon G9.

  24. inyo on 10 August 2008

    Mas saya ingin tanya yang dimaksud dengan sensor kecil pada camera2 prosumers diatas apa ya? Mohon dijelaskan.

    Oiya satu lagi, saya berminat dengan fuji s8000 dan s8100 yang perbedaannya terletak di megapixelnya 8MP dan 10MP. Sebenarnya pengaruh megapixel itu sendiri apa ya mas, atau hanya pada resolusinya saja?

    Thanks

    1. Sensor kecil : sensor ukuran 1/3 inci hingga 1/1,8 inci. Prosumer masa kini harganya semakin murah. Salah satu alasannya karena sensornya pake sensor kecil supaya biaya bisa ditekan. Tapi sensor kecil ini sama seperti yang dipakai di kamera saku, sehingga meski prosumer masa kini keliatannya gagah, keren dan meyakinkan, tapi di ISO tinggi tetap aja mereka kedodoran (noise parah). Beda dengan prosumer masa lalu yang umumnya pake sensor ukuran sedang (2/3 inci).
    2. Beda megapiksel hanya di resolusi, secara teori resolusi tinggi membuka kesempatan untuk mencetak foto ukuran besar. Faktanya, seberapa sering kita cetak ukuran besar (diatas 10R),dan ingat resolusi tinggi membuat file jadi besar dan makan tempat banyak di hard-disk. Kalau ada dua kamera yang pake sensor berukuran sama, tapi beda resolusi, sebaiknya ambil yang resolusi lebih rendah saja. Selain lebih murah, sensornya punya ukuran piksel yang lebih besar.

  25. newfotografi on 13 August 2008

    Agak aneh, Canon PS A570 IS, di tokocamzone dan di ek-gadgets tidak ada lagi di daftarnya. Kalau di jpckemang sih masih ada. Ada apa dengan Canon PS A570 IS?

    Diskontinu mas, pilihannnya sekarang A580 yang tanpa IS (1,5 jt) atau A590 dengan IS (1,8 jt).

  26. Royyan on 14 August 2008

    mas, salam kenal, aku newbie neh, makanya mo banyak nanya boleh engga? rencananya aq mo beli kamera, tp pengennya yang : hasilnya kalo dicetak bagus (tajam, colornya bagus, jernih), bisa motret makro, bisa untuk tele (ga perlu besar-besarlah telenya), sementara ini, aku fokus di sensor image yang jadi pilihan. oh iya budget juga …
    Nah oprek sana oprek sini muncul beberapa opsi,
    1. fujifilm S100fs
    2. fujifilm F100fd
    3. canon G9 (fujifilm F100fd vs canon G-9 gimana mas pendapatnya)
    4. DSLR sony alpha A200 or A300 (sony alpha A200 vs alpha A300 komentarnya ya mas)
    ato mas punya pendapat ato pilihan lain…monggo mas…terima kasih atas jawabannya.

    Iya nih, panjang juga pertanyaannya.
    Hasil foto kamera digital umumnya semua bagus kalo dicetak 4R. Masalahnya anda mau cetak ukuran berapa? Kebutuhan telenya dibatasi dulu, mau 200mm, 300mm, 400mm? Fuji S100 dan F100 telenya beda banget, meski sensornya sama. Kalau fokus di sensor image maksudnya apa? Kalo mau cari sensor yang noise rendah di ISO tinggi, lupakan Canon G9. Fokus pada DSLR atau kamera Fuji dgn sensor super CCD.

    Budget anda tampaknya sekitar 5 jutaan ya? Kalo niat serius di fotografi, ambil aja DSLR (Sony A200/300 oke juga, tergantung perlu live view tdk). Kalo hanya ingin kamera mantap tapi tidak mau pusing cari lensa lagi, Fuji S100fs pilihan paling tepat saat ini. Kalo perlu kamera saku yang handal di ISO tinggi, Fuji F50/F60/F100 cocok untuk dipilih.

    Pilih Canon G9 atau Nikon P6000 hanya kalo perlu prosumer saku yang fiturnya lengkap (dan tampilannya garang), tapi mereka masih kedodoran di ISO tinggi. Kalo sama-sama masih noise di ISO tinggi, saya lebih suka Lumix LX-3 sekalian, meski kecil tapi lensanya yahud.

    Semoga tidak tambah bingung ya…

  27. Royyan on 14 August 2008

    oh gitu ya mas yaa,, kalo gitu, berarti
    1. mas kalo “live view” maksudnya apa, apa sama dengan pengertian “view finder” di handycam bukan?
    2. kalo pilih sony DSLR A200 ato A300 (selain live view, bedanya apa ya mas) plus lensa kitnya, kira-kira cukup engga kalo cuma buat photo pemandangan, indoor (yang ga terlalu gelap), pengen coba-coba photo makro, sama photo tele (kira-kira 8x optical zoom lah, syukur2 10x optical zoom, btw kalo lensa kitnya Sony dslr, optical zoomnya berapa seh 18-70mm) sama photo orang
    3. kalo pilih fuji S100fs udah lengkap yaaa mas, untuk keperluan photo aq tadi
    4. berarti canon G9 kedodoran ya mas kalo photo di tempat gelap? kalo fuji s100fs (sensor 2/3) ato F100fd (sensor 1/1.6) kedodoran engga photo di ruang gelap
    skali lagi makasih banyak mas jawabannya..

    Jawab ya :
    1. Live view di DSLR sama spt motret pake kamera saku yang melihat gambarnya lewat LCD. Viewfinder di handycam pake LCD, sementara viewfinder di DSLR pake optikal.
    2. Sony A200 punya viewfinder optik yang lebih besar. Sony A300 punya LCD yang bisa dilipat. Lensa kit Sony 18-70mm, buat wide oke, buat makro lumayan. Buat tele ya relatif, 70mm (setara 105mm) masih kurang untuk foto tele, tapi masih lebih baik dibanding lensa kit lain yang mentok di 55mm (setara 80mm). Tidak ada lensa kit yang zoomnya 8x apalagi 10x. Kalo mau lensa zoom gede begini harus beli lagi (itulah kenapa kalo emang suka zoom gede tapi dana terbatas mendingan pake prosumer / super zoom aja). 18-70mm optikal zoomnya berapa? Ambil kalkulator aja, 70 dibagi 18 berapa.
    3. Soal Fuji S100fs lihat disini. Menurut saya sih kalo untuk pemula udah lengkap banget. Asal jangan harapkan kecepatan autofokus spt DSLR.
    4. Sensor Fuji (super CCD) noisenya rendah saat dihajar di ISO tinggi. Di ruang gelap kamera akan naikin ISO dan noise juga ikut naik. Jangan berharap terlalu berlebihan, usahakan dapat pencahayaan sebaik mungkin sebelum motret.

  28. Royyan on 14 August 2008

    oke mas trima kasih banyak berarti pilihan aku persempit lagi menjadi sony dslr alpha A200 or sony alpha A300 (hasil cetakan paling bagus kan mas dibandingkan dengan fuji film F100fs sekalipun? .. ) ato fujifilm S100fs ato terakhir ya ke fujifilm F100fd, gitu ya mas kira-kira, pola pikirku bener ya mas…

    Alurnya udah bener, cuma dilihat dari segi harga, bukannya S100fs lebih mahal dari A200? Kalo udah mantep DSLR ya bisa ambil Sony alpha, kalo masih ragu dan menemui dilema ya baca-baca lagi soal artikel saya seputar dilema ini.

  29. Royyan on 14 August 2008

    eh iya…ngomong-ngomong,
    1.kalo baca di pertanyaan2 di atas, katanya mas alergi sama sony, napa mas? (just asking lho…ga maksud apa-apa, cuma pengen tau aja, apa kelemahan merk sony gitu yang mas ketahui sampe alergi,heheheheeheh..)
    2. kalo pengen photo kayak di jalan tol, fokus ke mobil yang lagi gerak cepet, supaya mobilnya keliatan jelas, tapi sekelilingnya blur, gimana ya mas caranya, pake kamera prosumer bisa engga..??

    Dua alasan : Satu, Sony (dahulu) harganya mahal. Dua, Sony make memory stick. Tapi sejak harga kamera Sony turun, dan Sony tampak serius bikin DSLR Aplha series, saya angkat topi kepada Sony.

    Yang dimaksud efek panning ya? Pake kamera saku pun bisa. Prinsipnya berlatih follow objek yang bergerak (mobil, sepeda, anak yang lari) dan bermain dengan speed/difragma yang tepat. Saya juga sering mencoba motret panning, tapi memang saya akui tidak mudah. Coba berkunjung kesini.

  30. Royyan on 15 August 2008

    met pagi mas, mo konsul lage neh
    1. kalo ukuran lensa 18-200mm (berarti=11.1x optcl zoom) ato lensa 28-200mm, angka yang 18 menunjukkan apa ya mas, apa bedanya sama angka 28..
    2. kalo lensanya tamron bisa dipasang di kamera apa saja….

    Angka pertama : wide maksimum
    Angka terakhir : tele maksimum
    Lensa Tamron/Sigma/Tokina bisa dipasang di kamera Canon/Nikon/Pentax/Sony dll, tapi pastiin yang mount (dudukan) nya sesuai. Misal mau beli Tamron untuk Pentax, ya bilang ke tokonya untuk dipasang di Pentax (K mount).

  31. Royyan on 15 August 2008

    ada yang ketinggalan mas,
    sony alpha a200/300 vs canon EOS400d vs nikon D60 (kelebihan ma kekurangannya apa mas, trus kesimpulan pendapat mas gimana)..thx

    Coba baca di sini. Anggaplah Nikon D60 sama dengan Nikon D40. Malah ada bonusnya Olympus E410 dan Pentax K100D Super. Kesimpulan dan pendapat saya ada disana.

  32. Ryan on 15 August 2008

    wah tulisannya mantabs bos…
    mau ikutan tanya2 ni….
    saya baru beli Canon PSA 590IS. Ketika saya beli di toko, CS-nya mengajari memakai mode Manualnya bisa menggunakan MF(Manual Fokus) dan kita bisa set fokus object saja yang jelas dan kanan kiri object bisa dibuat blur atau sebaliknya secara otomatis..tetapi saya coba sendiri kok gak ketemu ya??…mohon saran untuk caranya, kira2 bagaimana ya…thank..u…boss

    Tipsnya, upayakan background sejauh mungkin dari objek. Gunakan posisi tele maksimum, kalau objeknya kecil (makro) gunakan mode makro. Jangan berharap banyak, kamera saku tidak untuk membuat foto yang bokehnya blur.

  33. nina on 15 August 2008

    makasih info-na yachh..

    jadi overall lebih baik mana A300 kalo diadu dengan 45OD? dan juga kedua lensa-kit na..

    soalnya belum dapet info test-review camera2 ini secara detail.

    ato menunggu tulisan-nya tentang kamera digital favorit saya di 2009 ? :p

    thanks bgt.. ^_^

    Sony A300 punya masalah di viewfinder optiknya yang kecil (sebagai dampak dari sistem live-viewnya). Secara umum keduanya draw, kalaupun ada pemenangnya, EOS450D sedikit menang tipis, he..he..

    Dari lensa kit, sony menang di jarak tele maksimum (70mm vs 55mm). Tapi menilai lensa kan utamanya dari kualitas optiknya, dan saya belum punya info seperti apa kualitas optik dari lensa DT milik sony. Kalo lensa kit canon sih kabarnya sudah lebih baik daripada kit pada EOS 350D/400D yang belum memakai sistem USM.

    Kamera favorit saya di 2009, Coba tebak kira2 apa hayo…?

  34. Royyan on 19 August 2008

    boss bilang “Sony A300 punya masalah di viewfinder optiknya yang kecil (sebagai dampak dari sistem live-viewnya)”
    1. apa pengaruhnya boss….(apa berpengaruh ke hasil foto nya, …aku lom gitu ngarti..)
    2. apa kalo begitu sony A200 lebih bagus dari sony A300

    Jumpa lagi mas..
    Sistem live-view A300/A350 memakai SENSOR TERSENDIRI sehingga konsekuensinya ukuran jendela bidik optik jadi kecil. Tidak ada efek ke hasil foto, cuma buat yang udah biasa make merk spt Nikon atau Canon akan ‘berasa beda’ kalo make A300. Karena A200 tidak ada live-view, ukuran jendela bidiknya relatif besar dan setara dengan Nikon, Canon dan Pentax.

Leave a reply