Rekomendasi : Kamera digital dibawah 1,5 juta
Ingin memiliki kamera digital namun dananya terbatas? Jangan kuatir, pada kesempatan kali ini saya coba menyajikan daftar kamera digital yang harganya bersahabat namun fiturnya cukup lengkap, siapa tahu satu diantaranya cocok untuk anda.
Sebelum kita mulai, saya ingatkan terlebih dahulu di awal, bahwa kamera digital saku yang dijual di pasaran memiliki rentang harga yang cukup lebar. Faktor yang membuat harga kamera bisa berbeda jauh biasanya adalah resolusinya, dimana kamera dengan resolusi 7 MP bisa terpaut beberapa ratus ribu dengan yang 8 hingga 10 MP. Sebaiknya dalam hal membeli kamera, faktor yang satu ini jangan terlalu menjadi pertimbangan utama. Sebaliknya, ambil saja manfaatnya yaitu bila kita mau membeli kamera dengan resolusi lebih rendah maka keuntungannya harganya bisa lebih murah. Ingat, kamera resolusi 7 MP (sekarang semakin sulit mencari kamera resolusi 6 MP ke bawah di pasaran) sudah sangat mencukupi untuk mendapat foto berkualitas, sehingga jangan ada anggapan keliru kalau resolusi 7 MP itu ‘kalah’ dengan resolusi 8 MP. Lebih jelasnya coba baca lagi artikel saya soal MP/megapiksel disini dan disini.
Di kesempatan kali ini saya coba susun beberapa kamera digital saku yang dipasarkan dengan harga 1,5 juta atau kurang. Tidak semua kamera saya masukkan tentunya, saya coba mencari yang relatif layak direkomendasikan, dengan pertimbangan fitur, kinerja, harga, model dan ketersediaan stok di pasaran. Harga yang saya cantumkan hanya sebagai kisaran saja, tidak selalu persis sama seperti harga sebenarnya.
Inilah dua belas kamera saku ekonomis yang bisa saya rekomendasikan, disusun secara urut berdasar harga tertinggi hingga terendah :
- Canon Powershot A570 IS-1,5 juta. Inilah kamera digital yang sering saya rekomendasikan pada siapapun yang sedang mencari kamera ekonomis dengan fitur lengkap. Dibanding saat pertama kali kamera ini diluncurkan, harga A570IS kini sudah jauh turun dan tampaknya harganya tidak akan turun lagi. Jujur saja, dengan harga 1,5 juta, saya tidak berharap akan menemukan kamera dengan fitur stabilizer. Nyatanya, A570IS sudah dilengkapi stabilizer pada lensa 4x zoomnya, melengkapi fitur lain seperti sensor 7 MP, manual mode P/A/S/M, jendela bidik optik dan layar LCD 2,5 inci. Kamera favorit saya ini menggunakan 2 buah baterai AA sebagai sumber tenaganya. (update : produk ini kini sudah diskontinyu)
- Canon Powershot A580-1,5 juta. Bagi mereka yang lebih menginginkan kamera beresolusi 8 MP, coba Canon A580 ini. Dengan harga sama seperti A570IS, anda tetap menemui kamera ekonomis dengan fitur manual P/A/S/M, mendapat ekstra resolusi 1 mega, namun dengan konsekuensi kehilangan fitur penting : stabilizer. Ya, fitur ini absen di seri A580, membuatnya kurang maksimal untuk dipakai pada shutter rendah.
- Nikon Coolpix L15 VR-1,5 juta. Seri ekonomis dari Nikon ini juga layak dipertimbangkan, dengan kunci utama di fitur stabilizer VR-nya. Hadir menjadi pesaing ketat Canon, L15VR telah dibekali sensor 8 MP dengan lensa zoom 3x. Melihat tampilan layar pada kamera ini juga menyenangkan dengan LCD-nya yang selebar 2,8 inci. Seperti seri Canon, Nikon L15VR inipun ditenagai oleh dua buah baterai AA. Sayangnya, Nikon ini dalam pengoperasiannya serba otomatis hingga ke setelan nilai ISO pun tidak bisa diset secara manual.
- Sony Cyber-shot S750-1,5 juta. Anda pecinta Sony? Kalau begitu seri ekonomis dari Sony ini patut disimak. Hadir dengan baterai Lithium rechargeable, kamera berbalut logam ini berkesan mewah, meski memiliki spesifikasi standar dengan lensa zoom 3x, layar LCD 2,5 inci dan resolusi 7 MP. Ingat, Sony selalu memakai memori jenis MS-memory sticks.
- Olympus FE-310-1,5 juta. Olympus selalu menjadi kamera yang ‘berbeda’ baik secara desain maupun jenis memori yang digunakan. Contohnya FE-310 ini, dengan lensa wide yang zoomnya hingga 5x namun relatif lambat, kamera 8 MP ini tampil dengan desain yang cantik namun sayangnya memakai memori jenis xD yang tidak umum. Jangan terkecoh oleh fitur Digital image stabilizer, karena ini hanya istilah marketing untuk pemakaian ISO tinggi saja. layar LCD yang digunakan berukuran 2,5 inci dan ditenagai oleh 2 buah baterai AA.
- Kodak easyshare M753-1,4 juta. Kodak sudah cukup lama membuktikan bahwa jajaran kameranya terkenal simpel dan mudah digunakan, tak terkecuali seri M753 ini. Kamera beresolusi 7 MP ini memiliki spesifikasi standar yaitu lensa zoom 3x dan layar berukuran 2,5 inci. Tidak banyak kamera ekonomis yang memakai baterai Lithium rechargeable seperti Kodak ini.
- Panasonic Lumix LS75-1,4 juta. Tidak banyak kamera Lumix yang memiliki banderol harga dibawah 2 juta. Seri terendah dari Lumix ini ditargetkan sebagai pengisi segmen ekonomis yang mengandalkan kehebatan stabilizer OIS khas Lumix. Hadir tanpa nama Leica di lensa 3x zoomnya, LS75 memiliki fitur unggulan yaitu wide-VGA (848×480) movie mode. Kamera beresolusi 7 MP ini hanya memiliki LCD selebar 2 inci, dan ditenagai 2 buah baterai AA.
- Casio Exilim EX-Z75-1,3 juta. Seri Exilim memiliki keunikan dalam hal dimensi kameranya yang tipis berbalut bahan almunium nan mewah. Kini kemewahan Exilim tak harus dibayar mahal, karena EX-Z75 yang memiliki resolusi 7 MP ini berharga sekitar 1,3 juta saja. Di dalam bodi kerennya, terdapat lensa zoom 3x, layar LCD berukuran 2,6 inci dan baterai Lithium rechargeable yang tipis. Mungkin inilah kamera saku dengan baterai Lithium dengan harga termurah yang ada di pasaran saat ini.
- Sony Cyber-shot S730-1,3 juta. Kamera ekonomis dari Sony ini terbilang standar, yaitu memiliki resolusi 7 MP, lensa zoom 3x, layar LCD 2,4 inci dan 2 buah baterai AA. Yang patut diacungi jempol adalah modelnya yang keren, walau bodinya berbalut plastik namun tetap tampak keren dan berkelas.
- Fuji Finepix A900-1,3 juta. Semua kamera digital saku memiliki kendala yang sama : noise di ISO tinggi. Penyebabnya tak lain adalah sensor CCD kecil yang digunakan, sehingga praktis kamera saku hanya efektif untuk dipakai di tempat yang cukup cahaya. Namun tidak demikian halnya dengan Fuji yang berhasil mendesain sensor sendiri yang dinamai SuperCCD, sehingga memotret di tempat kurang cahaya tidak menjadi masalah bagi kamera A900 ini. Dengan harga semurah ini, anda bisa mendapatkan kamera dengan sensor CCD 9 MP dan lensa zoom 4x. Selebihnya, kamera ini mampu menampung memori jensi xD dan SD sekaligus, memiliki layar 2,5 inci dan 2 buah baterai AA.
- Kodak Easyshare C813-1,3 juta. Seri C pada kamera Kodak menandakan seri ekonomis namun dapat diandalkan, seperti C813 yang memiliki sensor 8 MP ini. Kamera standar ini memiliki lensa 3x zoom optik, layar LCD 2,4 inci dan 2 buah baterai AA. Sejujurnya tidak ada yang istimewa dari produk ini, namun inilah kamera yang cukup laris di pasaran berkat suksesnya promosi yang dilakukan oleh Kodak.
- Canon Powershot A470-1,2 juta. Bagi anda yang budget-minded, dan ingin mencari kamera bermerk dengan harga termurah, barangkali A470 inilah jawabannya. Kamera yang tergolong cukup tebal ini memiliki resolusi 7 MP, lensa zoom 3,4x yang relatif lambat, dan layar LCD berukuran 2,5 inci. A470 ini juga ditenagai oleh 2 buah baterai AA.
Demikianlah jajaran kamera berharga dibawah 1,5 juta yang dapat saya rekomendasikan kepada anda. Sebagai info tambahan, semua kamera yang saya tulis diatas memiliki kesamaan dalam hal kelas yaitu kelas ekonomis/budget/value/entry-level. Ciri kamera kelas ekonomis (selain harganya yang murah) adalah simpel/mudah digunakan, berukuran kecil, fiturnya terbatas dan kinerjanya pas-pasan. Tentu saja bagi mereka yang mengharap kinerja lebih dari sebuah kamera haruslah menyediakan anggaran yang lebih pula, sehingga beberapa kekurangan pada kamera ekonomis haruslah dimaklumi sebagai kompensasi atas harganya yang murah.
20 Comments so far
Leave a reply













mas mo nanya ne..6 bln yg lalu sya bli camdig olympus FE210,,trus skr masuk service center olympus cz da problem n dh 2 bln lm beres2 :(..
prtnyaan sya:emang kl servis di service center emg btuh wktu lma y??mnrt mas kmera yg sya pnya ntu kwalitasna gmn??atu lg,,kl mo jual kmera digital 2nd dmn y mas??sya brdomisili di jogja..trima kasi bnyak tas bntuannya..
@ rifat
kalo boleh saya jawab. sepengetahuan saya spare parts ready-stock di Indonesia ada banyak pada brand Fuji, Nikon, Canon, Kodak dan Sony. selain brand tsb, service center ybs ambil parts dari Singapore. pernyataan tsb saya dapat dr penjual kamdig, karna waktu itu saat pilih2 kamdig.. saya juga mempertimbangkan layanan after sales-nya, jadi.. kalo rusak apa servisnya mudah atau tidak
Trims atas masukannya, saya sependapat dengan mas Ading. Biasanya urusan after sales jadi hal yang paling ribet karena ada aja alasan si toko/distributor. Harus dibawa ke singapur lah, nunggu spare-part lah… Ujung-ujungnya biayanya mahal dan hampir sama seperti beli baru.
sementara ini yang paling deket servis di solo ya sony & canon….kmrn malem sy tny2 & bandingkan dgn review diatas. ada 1 nih, nikon L16. dengan harga lumayan miring, ada yang tau kelebihan kamera berlensa nikkor ini? pake image stabilizer gak siy
Nikon L16 tidak dilengkapi stabilizer seperti adiknya Nikon L15 VR.
Kelebihannya…. apa ya? Kalo baca-baca di review sih jajaran kamera saku Nikon lumayan menyedihkan (tidak seperti jajaran DSLRnya). Yang saya tidak suka dari kamera Nikon adalah ketiadaan setting manual ISO. Jadi kita hanya bisa pasrah bila memotret lalu kamera menaikkan ISO hingga 800, misalnya.
Pada pembahasan tentang Fuji Finepix A900 di atas, disebutkan tentang kelebihan SuperCCD. Dan keunggulannya adalah mampu memotret dengan bagus meskipun kondisi kurang cahaya. Apakah itu berarti, dalam hal ini, dalam kondisi kurang cahaya di dalam ruangan, kamera ini lebih bagus dari Canon PS A570 IS? Bagaimana bila dibandingkan dengan A590 IS atau A720 IS?
Terima kasih.
Fuji mendesain sendiri sensornya dengan nama Super CCD yang sudah mencapai generasi ke 8. Sensor SCCD ini lebih unggul dari sensor CCD biasa dalam hal sensitivitas cahaya sehingga noise akibat pemakaian ISO tinggi dapat dijaga tetap rendah. Dibanding kamera saku apapun yang bersensor kecil (termasuk seluruh jajaran Canon seri-A), Fuji dengan sensor SCCD tentu lebih baik dalam urusan foto low-light tanpa lampu kilat. Bahkan kamera saku yang dinobatkan sebagai best-camera untuk kualitas sensor adalah FUJI F31fd, dimana hasil foto pada ISO tinggi hampir sebaik hasil dari kamera DSLR.
Namun perlu dicermati, tidak semua kamera Fuji memakai sensor SCCD.
Setau saya, yang pake sensor SCCD : A800/900, F20, F30/31, F40, F50, F100, F120, S6000/6500, S9600, S100FS
Yang pake sensor CCD biasa : S5700/5800, S8000/8100, S1000 (Semuanya super zoom)
Yang pake sensor APS-C : S5 pro
Waduh… saya jadi ragu-ragu nih. Canon PS A570 IS atau Fuji yang pakai SuperCCD ya? Dalam 1 minggu terakhir, saya “terobsesi” dengan Canon PowerShot seri A ini. Low light itu, menurut persepsi saya, seperti kondisi di dalam kamar yang cuma ada lampu kamarnya (tanpa bantuan sinar matahari dari luar…). Kalau pakai SuperCCD lebih bagus…gimana ya… Canon apa Fuji, Canon apa Fuji…. Saya akan coba cari, yang FinePix di atas bisa manual nggak ya…
Aduh.. bingung…
Thanks atas informasinya.
Bingung kan? Persepsi anda soal low-light dibayangkan seperti cahaya lampu di dalam kamar memang ada benarnya. Lampu neon atau bohlam di ruangan memang bukan sumber cahaya yang baik, disamping energinya lemah, warnanya juga suka menyulitkan white-balance dari kamera.
Tapi selagi masalah kurang cahaya dalam ruangan ini masih bisa diatasi dengan lampu kilat, problem solved. Lampu kilat memberi cahaya di area yang cukup dekat, meski hasilnya tampak kurang natural, membuat bayangan yang keras dan kadang bikin mata objek jadi merah. Bisa jadi hampir 90% pemakai kamera saku mengandalkan lampu kilat di situasi begini, sementara sisanya memilih menaikkan ISO dan menikmati noise di fotonya.
Masalah sesungguhnya muncul saat lampu kilat tak mampu menjangkau objek foto, sementara kondisi pemotretan cenderung gelap. Bayangkan pada sebuah aula yang luas sedang berlangsung wisuda sarjana, kita ingin memotret momen penting itu tanpa lampu kilat. Pilihan paling mungkin yaitu dengan memakai ISO tinggi (dan kalau perlu dipadukan dengan shutter lambat, jangan lupa tripod). Untuk urusan begini DSLR tentu lebih tepat, namun kamera saku yang bisa manual mode dan sukur-sukur punya kemampuan ISO tinggi yang baik, bisa juga dipakai.
Kembali ke kebutuhan. Bila anda lebih sering memotret outdoor, siang hari, tidak keberatan dengan hasil foto yang diambil dengan lampu kilat, rasanya kamera saku apapun akan cocok untuk anda.
Saya coba cari FinePix F31FD di tokocamzone, nggak ada ya? Memang harganya berapa itu? Itu sekelas A900 atau di atasnya?
Yang ada malah F40 FD, mungkin lebih di atasnya lagi dibanding F31 FD?
–mode: tanya melulu…
–mode: jawab melulu…
F31 tampaknya sudah diskon(tinued), lupakan saja…
F40 juga cukup menarik untuk ukuran kamera seharga 2 juta. Baca reviewnya mas Jeff disini. Saya kutip kesimpulannya ya :
What I liked:
* Very good photo quality, with less noise than competition at high ISOs (though see issues below)
* Small, stylish, and well built
* Gorgeous 2.5″ LCD display has high resolution and fluid frame rate; good indoor/outdoor visibility
* AF-assist lamp, good low light focusing
* Dual xD/SD memory card slot
* Powerful flash, very little redeye
* Face detection feature works fairly well; can also be used in playback mode (where it is more useful, IMHO)
* VGA movie mode
* Above average battery life
* Support for underwater case
* USB 2.0 High Speed support
What I didn’t care for:
* Fair amount of noise reduction artifacting, even at ISO 100
* Some operations are slower than average (shot-to-shot times, image playback)
* Disappointing continuous shooting modes
* Custom white balance not previewed on LCD
* More manual controls would be nice
* No optical viewfinder
* IrSimple feature not terribly useful (how about Bluetooth instead?)
* Plastic tripod mount
Sudah baca promo fuji yang dulu?
Di satu sisi saya mendapat pencerahan, di sisi lain lagi saya jadi semakin bingung, karena kelebihan dan kekurangan masing-masing kamera. Nah, karena A570 IS secara teknologi kalah dengan Fuji FinePix A900, disebabkan oleh Fuji punya sensor Super CCD-nya itu, apa mungkin, kelemahan pada low light, bisa diatasi dengan setting manual di Canon PS A570 IS?
Saya beberapa kali baca-baca soal aperture, shutter speed, dan ISO (baru tahu teori doang….). Nah, mungkin kelemahan pada sensor, bisa diatasi dengan setting manual, dengan mengatur-atur aperture, shutter speed, dan juga ISO (Canon gitu lho…).
Bagaimana menurut mas Gaptek…
Kalau make ISO tinggi takut berbuah noise, bisa saja pake ISO rendah. Tapi sesuai teori fotografi, gunakan shutter lambat dan diafragma terbesar untuk mendapat eksposure yang pas saat motret low light tanpa lampu kilat (plus pake tripod juga). Kamera saku apapun yang bisa diset manual (inilah mengapa fitur manual P/A/S/M saya anggap penting), tentu bisa menghasilkan foto low light yang bersih dari noise asal make shutter lambat dan ISO rendah. Masalahnya, yang difoto itu apa/siapa? Kalo moto gedung atau still life lainnya, tentu tidak masalah. Tapi kalo moto objek bergerak (anak kecil, sport, kendaraan dsb) dengan shutter lambat bisa kebayang kan ancurnya..
Sebaliknya, jangan berharap ‘miracle’ pada kemampuan sensor Fuji. Meski hasil pada ISO tinggi relatif lebih baik dari kamera sejenis, bukan berarti kamera ini menjadi yang terbaik. Kebutuhan fotografi tiap orang berbeda, yang penting saat kemampuan/skill kita mulai meningkat, jangan sampai kamera yang kita punya tidak lagi mampu mengejar skill kita. Pas udah mulai seneng moto dan mau coba-coba pake manual, ternayat kameranya cuma bisa auto, walah…. kepaksa beli lagi deh (setidaknya itu yang saya alami dengan 5 kamera saku saya sebelum akhirnya memakai DSLR). Salam..
Yang saya suka, respon blog ini cepat dan detil. Dan teryata sudah ada artikel baru lagi, soal camdig yang pas 2 juta…:-). Sip deh. Dan, sepertinya, saya kembali ke inceran semula, Canon!
Buat mas blogger, Keep Up The Good Work! Kalau bisa tambah lagi dengan tips dan triks… Siapa tahu jadi dpreview-nya Indonesia.
[gaptek28]
kepaksa beli lagi deh (setidaknya itu yang saya alami dengan 5 kamera saku saya sebelum akhirnya memakai DSLR).
[/gaptek28]
Kok sama ya, 10 bulan saya ganti 3 kamera. bulan pertama: canon yang PS (nggak nyebut tipe, malu), bulan ke enam ganti prosumer S5IS (yang canon PS dipakai mainan anak). Prosumer ini cukup enak, tapi hanya 2 bulan saja, setelah itu pingin yang bisa macem2 (sayang duwit nggak banyak). Nah pas ada rejeki bulan ke 10, kamera prosumer S5IS saya jual 3 jt (untung ada yang mau …
& ganti DSLR nikon D40. Sekarang cukup puas deh, yang penting bisa hunting akhir pekan. Tapi godaan tambah lensanya itu lho yang ngga ketulungan, maklum duwit cekak he..he..he. sekarang jarajan yang saya punya saya anggap cukuplah, D40+kit 18-55mm, nikkor 50mm, 1.8 dan sigma 70-300 DG makro.
Wow, anda luar biasa…
Biasanya orang kalo udah pake Canon S5 IS, nggak lagi pingin ganti kamera. S5 IS udah kumplit banget, meski lensanya kurang wide dan kurang asyik buat low-light. Anda benar, kalo udah punya DSLR memang godaannya adalah beli lensa. Padahal lensa yang bagus harganya bisa berkali-kali harga kameranya, duh…
Btw, lensa-lensa anda asyik juga yah. Ada prime 50 f/1.8 (manual fokus dong…), ada juga Sigma 70-300 (HSM atau bukan mas?). Saya pribadi pinginnya (kalo ada duit, he…he… ) lensa kit saya diganti dgn Tamron 17-50 f/2.8 dan untuk telenya cukuplah 55-200 VR AF-S yang murah-meriah. Soal napsu pingin wide pake 12-24 AF-S, masih terlalu mimpi kali ya… padahal suer pingin banget. Kapan ya…??
Bravo gaptet28!
pengen tahu alamat servis Kamera Digtal Sony dan handycam ya, serta alamat servis handycam samsung yang murah dan bagus di wilayah sekitar Bandung-jakarta, thanks
Diantara pembaca ada yang bisa bantu? Saya kalau melintas di perempatan TOMANG - JAKBAR pernah melihat ada perwakilan SAMSUNG. Barangkali bisa dicoba. Sementara SONY bisa coba ke SONY CENTER yang suka ada di pusat bisnis/perbelanjaan.
Kalau di Kuningan, ada kantor Sony. Sepertinya itu Service Center-nya Sony. Gedungnya itu, berseberangan dengan Menara Imperium (jadi Kuningan yang mengarah ke Menteng).
minta tolong alamat pusat servis lensa tamron, Thanks
Link ini valid tidak ya?
mas mo nanya, samsung L100 itu bagus g?
kekurangannya apa??
makasih ya Mas..
Saya baru tahu ada Samsung L100 setelah baca komentar anda. Menurut saya sih biasa saja, seperti kamera saku pada umumnya. Setelah saya baca speknya, yang membuat saya kagum adalah videonya yang resolusi SVGA (800×592), MPEG-4 dan advanced editing controls. Terdengar asyik ya…
DIS (digital Image stabilizer?), ini stabiilzer boongan jadi jangan terlalu diharapkan.
Thanks infonya Bang, berguna sekali bagi kami yang mo beli camera murah. Sekedar berbagi pengalaman kemarin aq nyari Canon PS A570 IS sulitnya minta ampun karena memang sudah diskon(tinued) oleh Canon. And akhirya malah beli yg 720 IS karena lensanya lebih bagus dengan harga yg terpaut sedikit saja dari PS A590 IS.
Betul, A570 sudah diskontinu. Kalau penggantinya A590 ini harganya memang terpaut tipis dengan A720 sehingga anda sudah tepat kalau memilih yang A720 saja. Semestinya Canon menurunkan harga A590 ke kisaran 1,5 jutaan untuk menjaga penjualannya.
kebetulan disini lagi bahas camdig sekalian numpang nanya yah?? sy ditawarin Olympus fe-320 (harga 1,8jt) ama Nikon S200 (1,6jt), menurut teman2 mana yah yg lebi bagus kinerjanya? apakah 2 camdig tersebut udah memakai stabilizer secara hardware atau boongan? saran please…..thx
wah makasih banget atas infonya
beruntung saya menemukan blog ini.saya lagi kebingungan banget
mas.tlg dong.
saya lagi cari camera yang cocok buat yang amatiran dan harganya sekitar 3jt kebawah.
tlg ya mas.
Harga 3 juta ke bawah banyak lho, umumnya sudah bagus dan fiturnya lengkap. Coba lebih spesifik dulu, perlu kamera seperti apa. Umumnya kalau wanita suka yang modelnya cantik dan dipakainya mudah ya? Bagaimana kalau Sony DSC-T300, apa anda suka modelnya?
makasih mas infonya. ini bakal jadi referensi dsaya buat beli nanti…thx
mas..
klo handycam?? punya rekomendasinya ga?? soalnya saya lg nyari handycam.. biasalah, tiap orangkan pgn kualitas bagus dgn harga yang bagus jg..
hehehe…
makasi sblmnya…
Sementara ini saya belum mengamati bedanya pilihan handycam ekonomis, karena sekarang mereka terbagi 3 jenis media rekam : pita kaset DV, harddisk dan flash memory. Saya suka yang pake flash memory, karena ukurannya kecil, hemat baterai dan (semestinya) lebih awet (karena tidak ada mekanik yang bergerak). Bahkan kini yang berbasis flash memori sudah ada yang mampu merekam video dgn resolusi full HD.
Mas minta bantuannya dong, bruntung bgt sy bsa ikutan forum ini.
Dah 1 minggu sy bgung nyari merek dan tipe kamera, smpai skrg masih tetep bingung. Maunya sih beli kamdig yang DSLR tp stelah liat harganya jd g pgen DSLR lg deh.
Nah, berhubung kantong mepet bgt, jd kyaknya pengen ke prosumer aja.
Kalo menurut mas, prosumer mana antara KODAK Z712 is dan Fuji s8000 yg lebih baik kalo buat motret low-light dan ada fitur manual focus kalo prlu antara ke-2nya mana yang lensanya paling tajam gambarnya?
Saya suka kgiatan outbond, jd butuh kamera yang than banting.
Oh iya, budget saya cuma 3 jt.
Mas, bisa kasih rekomendasi kamera lain yg harganya sesuai kantong saya nggak?
Sebelumnya Thx atas tanggapanya.
Perlu lensa wide nggak? Kalo iya, Fuji S8000 pilihan pas. Kinerja low-light yg bagus cuma bisa didapat pake kamera Fuji yang sensornya superCCD (S6500, S100fs), sementara Fuji S8000 (dan Kodak Z712) pake sensor biasa, jadi bukan untuk low light deh.
Ngga minat Canon S5 IS? Kodak Z712 punya jangkauan lensa 12x (36-432mm), persis sama spt Canon S5 IS, tapi kecepatan lensanya (aperture) jauh menang Canon S5 IS yang cepat di wide hingga tele. Lagipula S5 IS bodinya tampak kokoh dan cocok buat outdoor, meski harganya memang sedikit diatas 3 juta.
Saran saya, dengan dana pas 3 juta, ambil saja Fuji S8000 yang lensanya wide (saya suka lensa wide). Tapi kalo mau nambah dikit, coba Canon S5 IS. Baik Fuji ataupun Canon pake baterai AA 4 buah yang praktis dan mudah dicari dimana-mana.