Sepuluh kamera digital prosumer terbaik (menurut saya)

2008 November 26

Kamera digital prosumer hingga saat ini eksistensinya masih terus bertahan meski harus berjuang keras ditengah himpitan serbuan kamera DSLR baru nan murah dan canggih. Padahal kamera prosumer ini kalau diadu dengan DSLR dalam hal kualitas foto dan kinerja secara umum, memang harus mengaku kalah. Namun jangan dulu berkecil hati. Sebagai kamera berfitur manual yang lengkap dan berlensa tetap/fix, prosumer masih punya banyak keunggulan asal kita tahu keterbatasannya.

Perkembangan teknologi fotografi digital masa kini telah mengantar kamera prosumer menjadi kamera praktis yang bisa diandalkan untuk fotografi sehari-hari, mulai dari memotret makro, landscape, hingga foto tele di alam terbuka. Bahkan kemampuan prosumer dalam merekam video pun semakin ditingkatkan, dengan kemampuan merekam High Definition serta memakai kompresi MPEG-4 AVC yang efisien. Banyak prosumer masa kini yang telah dilengkapi dengan dudukan flash eksternal, sehingga keterbatasan prosumer di daerah kurang cahaya dapat disiasati dengan memasang lampu kilat eksternal (flash hot-shoe) yang berdaya lebih besar, dan bisa dibouncing keatas bawah atau kiri kanan. Soal kenyataan lensa prosumer yang tetap/fix, bila disikapi dengan bijak bisa menghindarkan kita dari keinginan membeli banyak lensa, mencegah gonta-ganti lensa yang tidak praktis dan beresiko masuknya debu ke dalam sensor. Soal kendala noise dapat diupayakan dengan sedikit kerja ekstra yaitu memotret memakai file RAW dan selanjutnya diolah di komputer. Belum lagi soal harga dan bobotnya yang lebih ringan dari DSLR, membuat prosumer sebenarnya masih punya harapan untuk mendapat tempat di kalangan fotografer, baik pemula hingga profesional sekalipun.

Lantas kompromi seperti apa yang harus diterima oleh seseorang yang membeli kamera prosumer? Pertama adalah menghindari pemakaian ISO tinggi, artinya bermain aman saja di ISO dasar hingga maksimal ISO 400. Kedua adalah tidak berharap banyak akan fotografi dengan DOF sempit, seperti foto portrait atau still life. Ketiga adalah menghindari fotografi yang memerlukan kerja kamera yang serba cepat, termasuk shutter, auto fokus hingga continuous shooting yang cepat.

Bila anda termasuk orang yang tidak ingin ribet memakai kamera DSLR, simaklah daftar Sepuluh kamera prosumer baru yang terbaik (menurut saya) yang dilengkapi dengan uraian singkat, beserta plus dan minusnya. Sebagai catatan, penyusunan peringkat pada daftar kamera ini diurut berdasarkan preferensi personal saya semata. Artinya tidak ada jaminan bahwa kamera yang berada di posisi atas akan memiliki hasil foto yang lebih baik dari peringkat dibawahnya.

Peringkat 1 : Fujifilm Finepix S100FS, saingan berat DSLR

fuji-s100fsApa lagi yang kurang dari kamera Finepix S100FS ini? Sensor SuperCCD 11 MP yang mengagumkan, lensa zoom 14x yang zoomnya bisa diputar manual,  image stabilizer, layar LCD yang bisa dilipat, plus dudukan lampu kilat untuk flash eksternal. Hasil foto dari S100FS ini pun amat baik, dengan kemampuan mengatasi noise di ISO tinggi yang mendekati kualitas DSLR. Terdapat mode yang tidak umum dijumpai di kamera prosumer lain yaitu Film Simulation, yang berguna untuk mengatur dynamic range dan saturasi warna. Bagi yang tidak ingin ribet dengan DSLR namun tidak ingin banyak berkompromi akan kualitas hasil foto, S100FS adalah pilihan tepat. Pantas saja S100FS menempati peringkat pertama dalam daftar sepuluh prosumer terbaik versi saya.

Kekurangan dari S100FS cukup minor, khususnya bila kita mengaharap S100FS akan menjadi pengganti DSLR. Masalah kecil ada pada lensa seperti adanya purple-fringing dan distorsi, kemampuan burstnya yang kalah dibanding DSLR kelas menengah (sekitar 3 fps) dan kecepatan auto-fokusnya yang juga tidak secepat DSLR.

Peringkat 2 : Canon Powershot SX1, prosumer CMOS yang full HD

canon-sx1Keputusan tepat dari Canon dalam merevolusi S5 IS tampak dari dipakainya lensa super zoom 20x yang wide di 28mm pada Powershot SX1 dan juga memakai sensor baru CMOS 10 MP untuk kinerja burst yang lebih tinggi (4 fps dengan resolusi penuh). SX1 ini tetap melanjutkan spesifikasi S5 IS yang sudah baik seperti LCD yang bisa diputar (kini berukuran 2,8 inci widescreen), stereo movie recording, memakai teknologi USM untuk motor zoomnya (bukan motor fokus) dan flash hotshoe. Bahkan kemampuan movie SX1 amat mengagumkan dengan kemampuan full HD 1080i plus HDMI dengan kompresi efisien H.264 dan kemampuan zoom saat merekam video (berkat pemakaian USM motor yang tanpa suara), membuat SX1 jadi kamera dan camcorder yang sama baiknya. Segala kelebihan dari SX1 ini membuatnya pantas untuk menduduki peringkat kedua dalam daftar saya. Catatan : saya juga menyukai saudara kandung dari SX1 yaitu SX10 yang masih memakai sensor CCD dan tidak memiliki fitur HD movie.

Kekurangan dari SX1/SX10 sendiri adalah lensanya yang tidak secepat pendahulunya, dengan bukaan maksimal f/5.7 pada tele maksimum yang membatasi pilihan bukaan diafragma di saat memotret tele (dan kecenderungan mengalami efek difraksi lensa). Bagi yang biasa memakai file RAW juga patut kecewa dengan SX1/SX10 karena tidak ada dukungan pada file RAW di kamera ini.

Peringkat 3 : Panasonic Lumix FZ28, best prosumer with 18x zoom

lumix-fz28Sukses Lumix dalam merajai pasaran kamera prosumer dengan zoom 18x telah ditorehkan oleh Lumix FZ18. Kini penerusnya hadir dengan nama Lumix FZ28 yang memakai sensor CCD 10 MP, dan mengalami perubahan sedikit dalam rentang fokal (kini 27-486mm f/2.8-4.4) serta Venus 4 engine yang lebih bertenaga. Lumix sudah dikenal akan lensa Leicanya yang berkualitas, pengoperasiannya yang mudah (intelligent Auto), serta stabilizer OISnya yang paling efektif dibanding merk lain. Bagi yang suka file RAW akan merasa lega dengan kemampuan FZ28 merekam file RAW, serta tersedianya fitur HD movie 30fps yang jadi tren standar resolusi di masa depan. Kesemua fitur ini membuat Lumix FZ28 berada di posisi tiga besar kamera prosumer favorit saya.

Kekurangan Lumix secara umum adalah noisenya yang tampak lebih tinggi dari kamera lain (padahal artinya Lumix menjaga detail lebih baik daripada kamera lain). Khusus FZ28 ini, sayangnya tidak tersedia dudukan lampu kilat sehingga cukuplah mengandalkan lampu kilat built-in di kamera.

Update : Lumix FZ28 (bersama Canon SX10) mendapat predikat (joint) Winner dari DPreview Super Zoom Camera Group Test.

Peringkat 4 : Casio Exilim FH20, need for speed

casio-ex-fh20Bayangkan kecepatan burst kamera DSLR, betapa tingginya hingga ada yang mencapai 10 frame per detik. Bayangkan kalau ada kamera prosumer yang bisa melebihi kecepatan DSLR dengan 40 fps! Ini bukan mimpi, kamera Exilim FH-20 dengan sensor CMOS 9 MP mampu memotret hingga 40 fps pada resolusi 3072 x 2304 piksel. Didukung lensa wide 26mm dengan 20x zoom dan kemampuan merekam video HD 30 fps (bahkan tersedia pilihan 1.000 fps untuk resolusi 224 x 56 piksel, lebih kecil dari resolusi video kamera ponsel), file RAW format, image stabilizer dan layar LCD 3 inci, membuat super zoom EX-FH20 bisa menduduki peringkat empat di daftar saya mengalahkan merk lainnya.

Kekurangan EX-FH20 adalah ketiadaan dudukan lampu kilat dan hasil fotonya yang ‘biasa-biasa’ saja untuk ukuran kamera kelas prosumer.

Peringkat 5 : Fujifilm Finepix S8100, best value super-zoom

fuji-finepix-s8100Bisa jadi banyak dari kita yang mendambakan memiliki kamera super zoom 18x yang berkualitas namun terjangkau. Jawabannya mungkin adalah Finepix S8100 ini dengan sensor CCD 10 MP yang punya lensa wide 27mm dan mampu menjangkau hingga 486mm. Didukung stabilizer jenis CCD shift, kamera ini punya fitur manual lengkap layaknya kamera prosumer lain. Fitur movie masih memakai resolusi VGA 30 fps dan masih memakai LCD berukuran 2.5 inci. Dengan harga sekitar 3,5 jutaan, kamera ini tidak lantas kalah dalam kinerja dan hasil foto dibanding kamera lain yang lebih mahal. Itulah sebabnya S8100 ini saya tempatkan di peringkat lima besar kamera prosumer favorit saya.

Kekurangan S8100 adalah tidak memakai sensor SuperCCD andalan Fuji, ketiadaan dudukan lampu kilat dan ketiadaan file format RAW yang amat dibutuhkan para profesional.

Peringkat 6 : Olympus SP-565UZ, 20x zoom tanpa zoom ring mekanik

olympus-sp-565Anda mungkin masih ingat kamera super zoom pertama dengan 20x optical zoom? Ya, Olympus SP-570UZ adalah kamera pertama dengan 20x zoom, yang mekanisme zoomnya dilakukan dengan memutar ring pada lensa. Model zoom begini harusnya lebih nyaman dan mudah, tapi lucunya sistem putaran di lensa zoom SP-570 ini masih dikopel dengan motor khusus sehingga bukanlah murni zoom mekanik. Konsep ini dirasa kurang efektif sehingga Olympus membuat seri SP-565 yang meniadakan ring mekanik untuk zoom lensa, sehingga proses zoom in-out cukup menekan tuas zoom layaknya kamera lain. Modifikasi ini berhasil membuat desain SP-565 jadi lebih kecil dengan bobot 373 gram saja. Lensa SP-565 punya rentang efektif 26-520mm dan sensor CCD yang dipakai beresolusi 10 MP. Selain itu, untuk layar LCD berukuran 2.5 inci dan tersedia fitur movie VGA. Pesaing SP-565 yang sama-sama 20x zoom (Canon SX1/SX10 dan Casio EX-FH20) punya fitur lebih lengkap, maka itu cukuplah SP-565 ini berada di peringkat enam daftar saya.

Kekurangan semua kamera Olympus (kecuali DSLR) menurut saya adalah pemakaian xD card yang tidak populer. Khusus SP-565, ketiadaan flash hot-shoe dan RAW file format menjadi kekurangan utamanya.

Update : Olympus SP-565 mendapat rating : Recommended dari DPreview Super Zoom Camera Group Test.

Peringkat 7 : Panasonic Lumix LX-3, Lensa Leica nan impresif

lumix-lx3Lupakan dulu super zoom, mari bicara ultra wide lens. saat banyak prosumer yang memberi kemampuan tele yang besar, nyatanya tidak banyak prosumer yang sebaliknya, memberi kemampuan wide yang dramatis. Untuk itu Lumix LX-3 hadir mengisi kekosongan itu dengan mengusung lensa LEICA DC VARIO-SUMMICRON yang punya spesifikasi luar biasa, yaitu ekstra wide  24mm hingga berakhir di 60mm dengan bukaan ekstra besar f/2.0-2.8, wow! Pada kamera bersensor 10 MP ini telah tersedia fitur manual lengkap layaknya prosumer pada umumnya, termasuk dukungan RAW file format. Pada bagian atas lensa terdapat selektor aspek rasio yaitu 4:3, 3:2 dan 16:9 yang mampu mengakomodir berbagai kebutuhan fotografi anda. Soal movie tak perlu kuatir karena Venus 4 dari LX-3 ini telah mendukung resolusi video HD 24 fps. Dengan kemampuan burst 2.5 fps, layar LCD 3 inci dan adanya flash hot-shoe, membuat LX-3 ini semakin  mengagumkan. Inilah prosumer kecil dengan kemampuan besar, yang mendapat tempat ke tujuh di jajaran prosumer terbaik versi saya.

Kekurangan mendasar dari LX-3 adalah secara spesifikasi lensa memang kamera ini tidak untuk memotret objek yang jauh, karena rentang zoom lensanya harus berakhir di 60mm saja.

Peringkat 8 : Canon Powershot G10, rangefinder style dengan lensa wide

canon-g10Generasi seri G dari Powershot identik dengan kamera premium kelas atas dari Canon. Seri terakhir dari seri G adalah Powershot G10, dengan desain yang gagah bergaya ala rangefinder, material bodi yang kokoh dan banyaknya kendali eksternal, membuat kamera prosumer saku beresolusi 14,7 MP ini tampak seperti kamera profesional. Pada lensanya yang wide terdapat kemampuan menjangkau hingga 5x zoom, cukup lumayan untuk ukuran kamera saku. Tersedia dukungan untuk file RAW, flash hot shoe, LCD 3 inci beresolusi tinggi dan Digic 4 prosesor untuk kinerja tinggi. Saya tempatkan G10 ini di peringkat delapan dalam daftar prosumer terbaik versi saya.

Kekurangan dari G10 (dan G7 dan G9) adalah lensanya yang tidak secepat pendahulunya, serta LCDnya yang tidak lagi bisa diputar. Khusus G10, resolusi 14,7 MP pada sensor sekecil 1/1.7 inci dirasa terlalu memaksakan diri sehingga rentan akan noise. Belum lagi kinerja continuous shootingnya yang hanya 1.3 fps amat mengecewakan untuk ukuran kamera seharga 6 jutaan ini.

Peringkat 9 : Fujifilm Finepix S2000HD, best value prosumer plus HD

fuji-s2000hdKembali ke super zoom. Bagaimana bila anda hanya ingin kamera yang zoomnya 15x saja? Bisa jadi Finepix S2000HD ini cocok untuk anda. Dengan desain keren, Fuji S2000HD memiliki resolusi 10 MP (dengan sensor CCD biasa) dan lensa 15x yang lambat dengan f/3.5-5.4 saja. Kemampuan utama dari Fuji S2000HD ini apalagi kalau bukan fitur movie HD 30fps memakai kompresi MPEG-4, ditambah layar LCD 2.7 inci dan CCD shift image stabilizer. Inilah kamera Fuji pertama yang TIDAK mendukung xD memory card, karena fitur HD movie perlu memory card berkecepatan tinggi seperti SD card. Fuji S2000HD ini berada di posisi sembilan daftar saya.

Sebagai pesaing sepadan dari S2000HD ini, ada Kodak Z1015IS dengan 10 MP, 15x zoom wide lens, stabilizer dan fitur HD movie dengan kompresi MPEG-4. yang menarik, spesifikasi lensa antara Fuji S2000HD dengan Kodak Z1015IS ini persis sama, yaitu 15x zoom dengan bukaan agak lambat di f/3.5-5.4, kebetulankah?

Baik Fuji S2000HD dan Kodak Z1015IS, keduanya lebih menarik bagi saya dibanding satu lagi pemain 15x zoom yaitu Sony H50 yang beresolusi 9 MP dan lensa Carl Zeiss 31- 465mm (non HD movie), meski jujur saya suka model LCD lipat dari Sony H50 ini. Kekurangan Fuji S2000HD dan Kodak Z1015IS adalah ketiadaan file RAW dan flash hot-shoe. Mengingat harga mereka yang tidak terlalu tinggi, saya juga tidak berharap keduanya memiliki fitur RAW dan hot-shoe seperti yang saya tulis diatas.

Peringkat 10 : Nikon Coolpix P80, last but not least

nikon-p80Dimanakah gerangan posisi Nikon dalam daftar saya ini? Ternyata dia ada di posisi buncit! Alasan pertama saya, Nikon terlambat untuk membuat prosumer di tahun 2008 ini. Kedua, saya hampir saja tidak memposisikan Nikon dalam sepuluh besar daftar saya, tapi karena sebenarnya super zoom dari Nikon yaitu Coolpix P80 ini kualitasnya cukup baik, bolehlah akhirnya dia mengisi di peringkat sepuluh daftar saya ini.

Tidak ada yang menonjol dari kamera beresolusi 10 MP dan lensa zoom 18x ini. Rentang lensa Nikkor 27-486mm ini mirip-mirip pesaingnya yaitu Lumix FZ18/28 dan Fuji S8000/8100. Tidak ada flash hot-shoe disini, tidak juga RAW file format, tidak juga HD movie recording. Kamera ini murni 18x zoom biasa yang secara spesifikasi bisa disejajarkandengan Fuji S8100, dengan layar LCD 2.7 inci, fitur manual yang lengkap, 1.1 fps burst mode dan in-camera distortion control yang mungkin berguna. Satu hal yang bisa dibanggakan adalah desain kameranya yang kecil dan keren, khas Nikon.

Itulah sepuluh prosumer terbaik versi saya, dan tentu anda boleh untuk tidak sependapat, sah-sah saja kok. Sebagai tambahan, saya berikan dua bonus untuk anda :

  1. Bagi yang merasa semua kamera diatas tidak ada yang hasil fotonya memuaskan, namun juga tidak ingin membeli DSLR, pertimbangkan kamera micro 4/3 yaitu Lumix G1 yang bersensor DSLR 4/3 dan berfitur prosumer (contrast-detect AF, electronic viewfinder dsb.) Dengan 8 juta rupiah, anda mendapat Lumix G1 plus lensa kit 14-45mm buatan Lumix.
  2. Bagi yang mencari produk prosumer lawas yang tidak kalah bagusnya, pertimbangkan Lumix FZ50 yang sempat jadi kamera favorit di masa lalu. Lensanya yang 12x zoom ini bisa diputar manual seperti DSLR, meski tidak ada elemen lensa yang maju mundur saat di zoom.

Demikian semoga daftar kamera prosumer ini bisa menambah wawasan pembaca sekalian. Untuk berinteraksi dengan saya atau sekedar menyampaikan tipe kamera prosumer favorit anda, silahkan isi komentar di bawah ini. Salam..

135 Tanggapan leave one →
  1. 2009 Juni 24
    chandra permalink

    bro tanya kl mo beli finepix 2000 hd dimana ya kan kaga masuk ina nih

  2. 2009 Juli 9

    Mantab neh bos…seandainya ane punya satu, bisa buat motret-motret produk ane..hehehe…
    tapi bos, mohon pendapat, diantara semua merek, mana sih merk yang paling bagus buat motret lukisan biar keliahatan hidup, gitu .. ? thanks before…:)

  3. 2009 Juli 9
    Yanti permalink

    Om, tolooong… bingung neh…
    Aku sebenarnya udah mantap mau beli Fuji Finepix S100FS, tp di Surabaya gak ada yg jual… Aku udah ke dua toko kamera besar/terkenal di sini. Yg satu gak jual, alasannya gak berani jual Fuji krn byk pelanggan yg ngeluh servis Fuji tdk memuaskan (lama,…). Toko yg satunya lg jg tdk jual, tp kl aku jd beli, dia bs import S100FS, dan beri garansi toko. Trus, ada jg photographer yg komen negatif ttg Fuji… Aku jd ragu2 neh om, jd beli S100FS gak ya…
    * Apa beda garansi toko dgn garansi resmi? Kualitas barang keduanya sama gak??
    Jd aku skrg mulai melirik DSLR Canon EOS 500D dan Nikon D5000, tp harganya koq ya mahal… gak sesuai kantongku…
    * Kualitas hasil foto dan video lebih oke mana antara Fuji Finepix S100FS dinanding dgn Canon EOS 500D kit EF-S 18-55mm f/3.5-5.6 IS, dan Nikon D5000 kit AF-S 18-55mm VR?

    Jgn bosen ya kl aku tanya lg… Trims byk :)

    • 2009 Juli 10

      Saya sblm ambil D40 (di thun 2007 dulu) berkeliling mangga 2 mal utk nyari Fuji S6000 dan hasilnya tidak satupun toko yg jual. Mereka bilang rugi jual fuji, tuh liat pocketnya numpuk gak laku, katanya. Padahal fuji itu produk yg bagus dan berani diadu dgn merk lain. Di kelas DSLR, Fuji S5 pro jawaranya dynamic range tapi jarang disebut-sebut. Soal after sales, jujur saja adakah layanan yg benar2 memuaskan di negeri ini? Umumnya mereka tergantung pada singapur, dikit-dikit bilangnya harus ganti ini itu dibawa ke singapur dsb. Padahal kita punya teknisi, spare-part juga kalo mau tinggal minta (seberap jauh sih singapur, masih jauh ke medan lho).

      Biar nggak ngelantur, saya jawab ya :
      - barang garansi toko itu lewat jalur tidak resmi, tidak kena pajak, si toko (atau konsumen) lebih untung karena harga lbh murah. Tapi bila ada kerusakan, perwakilan resmi menolak memberikan perbaikan gratis, tapi kalo kita bayar dia tetap akan terima. Soal mutu barang, secara prosedur SEMUA produk yg keluar dari pabrik pasti sudah melalui quality control yg ketat, asumsikan saja garansi resmi dan garansi toko sama saja (mutu barangnya).

      - jangan bandingkan apel dgn jeruk. Meski S100FS punya kualitas gambar terbaik di kelas prosumer, pada ISO tinggi dia tetap kalah dgn DSLR. Di ISO rendah, dengan cahaya cukup, hasil antara S10)FS dan DSLR hampir tidak bisa dibedakan.

      -Fuji S100FS belum HD movie, bila anda benar2 perlu HD movie tentu EOS 500D / Nikon D5000 lebih cocok. Saya pribadi merasa VGA movie pada kamera digital sudah cukup, atau kalau mau wide ada resolusi 848 x 480 seperti beberapa kamera saku Lumix.

      • 2009 Juli 22
        Yanti permalink

        Trims om jawabannya! Yep, after-sales service produk & jasa di negeri ini kebanyakan tidak memuaskan, bahkan terkadang sangat mengecewakan (pengalaman…!). Maka dari itu, saya banyak pertimbangan sebelum membeli sesuatu supaya ntar gak nyesel jadinya. Tapi ya gitu, kadang terlalu banyak baca reviews, jadi tambah bingung, trus jadinya gak beli2… hehe.

        Tanya, apa saja yang harus kita perhatikan ketika kita membeli digicam? Selain mengecek kelengkapannya (battery, adapter, card,…), adakah hal yang lain perlu kita cek dan tes untuk memastikan bahwa barang yang kita terima dalam kondisi baik?

        Saya baca sebuah review luar, ada orang yang beli S100fs refurbished (bahkan katanya beli dari website resmi Fuji pula!?)… Hmm, apa benar ada refurbished digicam??? Saya pernah tanya ke sales person toko kamera, katanya, tidak ada istilah refurbished dalam penjualan kamera (tidak seperti halnya dengan mobile phone)… Trus, bisakah saya orang awam membedakan antara digicam yang benar2 baru dengan yang refurbished??

  4. 2009 September 6
    ikam permalink

    om….minta pendapatnya,
    salah seorang teman mo ngejual nikon p80 n minta dihargai 2,4 juta.
    bilangnya sih BU n barang normal.
    tolong pendapatnya ya om…….
    makasih.

    • 2009 September 7

      Periksa aja kartu garansi dan kondisi fisik kamera secara umum. Soal harga sih segitu sudah wajar kok..

  5. 2009 September 24
    Mas Rio permalink

    Mana yang lebih recommended, antara Fuji Finepix S100FS atau Fuji FinePix S200EXR?
    apa saja keunggulan dan kelemahan masing2?

    thx…

    • 2009 September 24

      S100FS : sensor sedikit lbh besar tapi belum EXR, layar LCD lipat.
      S200EXR : sensor EXR tapi agak mengecil, sebagai konsekuensinya ada sedikit crop factor akibat mengecilnya sensor, maka fokal lensa fujinon 28-400mm bergeser menjadi 31-436mm, cukup disayangkan.. (fuji tidak merubah sedikitpun desain lensa 28-400 dari S100 ke S200 ini). Selain itu layar LCD di S200EXR ini tidak lagi bersistem lipat, lagi-lagi sangat disayangkan..

      Namun mengingat sensor EXR ini handal di low light dan di high contrast area (dua-duanya adalah kondisi fotografi sulit yg memaksa kamera utk bekerja hingga batas kemampuannya), maka saya masih merekomendasikan S200EXR.

  6. 2009 September 24
    Mas Rio permalink

    Wuih…cepat sekali responnya…thx Mas Gaptek…
    banyak hal yang bisa saya peroleh disini…
    pengennya sih mau beli yang S200EXR,tapi kog harganya sudah bisa untuk beli DSLR low end (murah) ya…jadi makin bingung…

    • 2009 September 24

      DSLR murah menang di sensor, kinerja dan pilihan berbagai jenis lensa. Bila anda merasa cukup dgn kualitas sensor EXR, merasa cukup dgn ketajaman dan fokal lensa S200EXR ini, dan merasa cukup akan kecepatan burst dan shutter-lag, shot-to-shot dari kamera ini, maka anda kan tidak perlu beli DSLR murah (yg harus invest lagi di lensa).

  7. 2009 September 24
    hadi permalink

    mas gaptek,,, minta pencerahannya,, bagusan 1000d atau 400d… tlg jelasin keunggulannya ya,, saya mau beli tp msh bingung.hehehe.. trims

  8. 2009 Oktober 19
    mamed permalink

    mas mo nanya nek fuji s1500 bagus gak yaw?
    review dunk

Tinggalkan Balasan

Note: You can use basic XHTML in your comments. Your email address will never be published.

Berlangganan umpan komentar ini melalui RSS