1001 alasan mengapa foto saya tidak bagus

Ingin lihat seperti apa foto yang bagus itu? Lihatlah screenshot berikut ini, yang saya ambil dari sebuah web photo-sharing baru bernama Photo Blogku. Meski dalam ukuran thumbnail yang kecil-kecil, apakah anda setuju kalau  foto-foto dibawah ini tampak bagus?

landscape

Bukan, foto diatas itu bukan saya yang motret. Untuk mengetahui siapa fotografernya, masuk saja ke web itu dan klik fotonya, nanti akan muncul nama juru fotonya. Saya pribadi melihat foto-foto diatas merasa kagum akan kehebatan para juru foto yang berhasil mendapat gambar-gambar indah seperti itu. Bayangkan, tanpa harus melihat foto diatas dalam ukuran aslinya, saya sudah dapat menikmati indahnya suasana alam yang dihadirkan dalam foto diatas. Pemilihan objek yang indah, komposisi yang tepat, warna yang berkesan dan teknik yang tinggi telah bersinergi membuat suatu foto (atau karya seni) yang amat baik meski hanya disajikan dalam ukuran kecil. Kita tidak sedang berbicara soal megapiksel disini, tidak juga soal ketajaman lensa ataupun kamera-kamera mahal yang menjadi obsesi sebagian dari kita. Saya sedang mengintrospeksi diri : mengapa membuat foto yang baik itu (ternyata) tidak mudah.

Beberapa pembaca blog saya bertanya, mana galeri foto milik saya pribadi? Mana sih karya foto dari mas gaptek yang (katanya) mengaku menyukai hobi fotografi itu? Dengan apa adanya saya selalu katakan kalau saya memang belum punya karya foto yang pantas untuk disajikan kepada publik. Bila saya menulis soal kamera dan fotografi disini, itu hanya sekedar berbagi / sharing pengetahuan dan bukan berarti saya adalah fotografer yang punya karya-karya indah. Sementara banyak fotografer di luar sana yang menampilkan karya indahnya melalui website, cukuplah saya sekedar menulis seputar kamera dan fotografi sehingga diharapkan banyak muncul fotografer baru yang bermula dari membaca blog saya.

Membeli kamera (digital), mungkin menjadi harapan banyak orang saat ini. Banyak dari kita yang kebingungan saat hendak memilih kamera. Umumnya kita malah mengharapkan keajaiban, bahwa kamera yang dibelinya nanti dapat memberi hasil foto yang sempurna, bersih dari noise, dapat diandalkan di tempat gelap dan sebagainya. Atau simaklah betapa masih saja ada yang terjebak akan issue soal resolusi dan megapiksel, sehingga dirinya menjadi ragu saat dia ditawari kamera saku resolusi kecil atau kamera DSLR termurah seperti D40 yang ‘cuma’ 6 MP. Menurut saya sih resolusi kamera digital tidak ada kaitannya dengan kualitas foto. Tidak percaya? Lihat saja foto-foto ini sebagai buktinya.

Saya tanya satu hal, untuk apa kita membeli kamera? Mungkin saja tidak banyak yang menjawab bahwa tujuan utama sesorang membeli sebuah kamera adalah untuk mendukung hobi fotografinya. Bisa jadi kita hanya perlu sekedar untuk jepret-jepret seadanya, untuk dokumentasi keluarga, untuk mendukung kerja (surveyor dsb), untuk mengikuti tren gadget anyar (demi gengsi), atau untuk tujuan lainnya. Ingatlah, bila membeli kamera bukan untuk mendalami fotografi, kita tidak akan berupaya untuk mendapatkan foto yang baik secara teknis dan secara seni.

whattheduck

Saya punya 1001 alasan untuk berkelit bila ada yang bertanya mengapa saya tidak punya foto yang bagus (secara teknis dan secara seni). Bisa jadi alasan ini sama dengan anda, dan bolehlah ini jadi bahan instrospeksi betapa banyaknya alasan yang ternyata sering kita lontarkan, sementara di lain pihak para fotografer profesional juga punya 1001 alasan mengapa karya foto mereka begitu bagus.

Inilah alasan-alasan yang biasa kita kemukakan (termasuk oleh saya) :

  • saya beli kamera cuma untuk dokumentasi (keluarga, kerja dsb)
  • kamera saya cuma kamera saku
  • kamera saya tidak punya mode manual (P/A/S/M)
  • kamera saya bukan kamera DSLR mahal
  • lensa saya cuma lensa kit
  • saya belum punya lensa ini dan itu
  • saya jarang hunting foto
  • saya tidak pernah ikut kursus fotografi
  • saya kesulitan mendapat momen yang baik
  • background dari objek foto kebetulan jelek
  • pencahayaan saat itu tidak tepat
  • saya tidak mengerti harus memakai setting yang mana
  • saya salah menentukan white balance
  • saya tidak punya jiwa seni
  • dan ratusan alasan-alasan lainnya

Bila disederhanakan, umumnya alasan terbagi tiga hal, yaitu kepada kamera (alat), keterbatasan teknis kita (fotografer)  dan tempat (momen). Padahal bisakah kita menjamin, bila alasan-alasan diatas ditiadakan, bisakah kita mendapat foto yang baik? Bila anda sudah dibekali kamera DSLR full frame, lensa mahal bukaan konstan, ditempatkan di tempat yang tepat dan waktu yang tepat, bisakah kita menjamin kita pasti bisa dapat foto yang baik? Belum tentu.  Betul bahwa kamera mahal nan lengkap bisa memberi kita kecepatan lebih, keleluasaan setting,  kecil kemungkinan salah mengukur eksposure, dan jarang gagal dalam mencari fokus. Betul kalau lensa mahal mampu memberi ketajaman tinggi, warna dan kontras lebih baik, bukaan besar dan konstan, bebas distorsi, fall-off, vignetting, dan bisa memberi bokeh yang baik. Tapi mengapa mereka yang dengan berbekal peralatan seadanya, tanpa banyak memberi alasan, mampu menyuguhkan foto yang baik yang membuat kita menjadi speechless?

Fotografi adalah hobi, fotografi adalah seni. Kamera hanya alat, dia bisa menjadi sarana dokumentasi, sarana fotografi, atau sarana pamer gengsi. Bila kamera akan dijadikan alat fotografi, tinggalkanlah alasan-alasan yang menghambat kita untuk menghasilkan foto yang baik. Banyak di luar sana orang-orang hebat yang ingin menyalurkan hobi fotografinya namun tidak memiliki alat apapun, mengapa kita yang dikaruniai kelebihan dengan mampu memiliki kamera digital justru tidak mencoba mengoptimalkan kamera kita?

Sekedar tips untuk saya pribadi, dan mungkin juga berguna buat anda pembaca, kiat-kiat menghasilkan foto yang baik, apapun kameranya :

  • Berlatih berimajinasi sebelum mengambil foto. Kunci dari bagus tidaknya foto ada pada sang fotografer. Dia melihat objek, dia melihat background dan dia membayangkan betapa indahnya bila ini semua dituangkan dalam suatu karya seni berupa foto. Istilahnya, memotret tanpa kamera. Disiplinlah, sebelum mampu membayangkan keindahan seni dari sebuah objek, jangan dulu ambil kamera anda.
  • Eksposure/teknik pencahayaan itu penting. Perhatikan dulu cahaya sekitar, amati karakter warnanya, jatuhnya bayangan, kemungkinan pemakaian shutter dan diafragma, serta mode metering kamera yang cocok untuk situasi pemotretan saat itu. Bila perlu bisa bermain kompensasi eksposure bila metering kamera tidak sesuai yang kita inginkan. Jangan lupa white balance juga tidak boleh meleset, bahkan sedikit adjust ke arah biru atau merah bisa berdampak banyak pada warna foto keseluruhan.
  • Berlatih komposisi, bisa dengan mengacu aturan rule-of-thirds (garis dan area imajiner di bidang gambar) atau komposisi lainnya yang proporsional. Perhatikan juga keseimbangan penempatan objek dan kedalaman dimensi dengan adanya framing (bingkai) di bagian foreground (umumnya untuk landscape) dan memperhatikan penempatan horizon. Perhatikan juga aspek lain seperti Point-of-Interest (PoI) yang kerap membuat foto sederhana justru nampak bagus.
  • Mencari momen yang tepat. Ini cukup sulit karena biasanya setengahnya adalah faktor ketekunan dan setengahnya lagi faktor keberuntungan. Ini lebih kepada candid-photography, dengan mengejar momen yang khas, jarang terjadi, menyentuh, ekspresi wajah yang unik dan sebagainya. Dibutuhkan kesabaran dan ketepatan pengambilan keputusan untuk mendapat momen yang pas, yang kadang adalah foto once in a lifetime.
  • Go out. Saya yang kesehariannya cuma menatap monitor kantor mana bisa bikin foto yang bagus? Apalagi buat pecinta landscape, pergi travelling akan banyak membuka kesempatan untuk mendapat foto yang indah.

Sebagai bahan perenungan, bila anda sedang berencana membeli kamera, jangan tanggung-tanggung. Niatkan saja sekalian kalau kamera yang akan dibeli adalah juga untuk menjadi sarana belajar fotografi, siapa tahu bakat terpendam anda bisa terwujud tanpa disadari. Pilihlah kamera yang bagus menurut ekspektasi (dan budget) anda, tapi iringilah dengan mengenal teori dasar fotografi dan berkreasilah dengan melatih seni, imajinasi dan komposisi. Kenali juga setting teknis kamera seperti metering, shutter, aperture, ISO, white balance dan focus mode. Siapa tahu anda nanti bisa punya gallery foto di internet yang banyak dikunjungi dan dikagumi orang. Salam..

About these ads

27 comments

  1. sy dah baca blog ini berkali2&gk bosen2 jg bacanya..terusin sharenya ya mas..helpful bgt nih!!!

Comments are closed.