Antara lensa Canon dan lensa Nikon

Saat akan membeli kamera DSLR, umumnya pilihan ditujukan kepada kemudahan dan ketersediaan pilihan lensa nantinya. Maka itu produsen DSLR papan atas seperti Canon dan Nikon tetap jadi favorit fotografer, karena jajaran lensa yang dimilikinya amat lengkap. Betul kalau Pentax, Olympus, Sony (Minolta) juga punya koleksi lensa yang lengkap, namun kadang-kadang pemiliki DSLR juga tergoda untuk membeli lensa alternatif seperti Sigma/Tamron/Tokina dan nyatanya lensa alternatif seperti ini tidak banyak menyediakan pilihan lensa dengan mounting selain versi Canon atau Nikon.

Lensa kamera DSLR terbagi menjadi beberapa macam. Paling sederhana adalah dari jenisnya, yaitu lensa tetap (fix/prime) dan lensa zoom (variabel rentang fokal). Lensa zoom juga akan terbagi dua, yaitu yang bukaannya konstan (fix f/2.8, fix f/4 dsb) atau yang bukaannya variabel (mengecil saat di zoom). Dari ukuran diameter lensa juga ada dua macam lensa DSLR, yaitu lensa untuk SLR film/DSLR full frame, dan lensa dengan diameter lebih kecil (untuk APS-C). Dari segi teknologi juga lensa terbagi dua, dengan motor fokus (dan mikro-chip) di dalam lensa dan tanpa motor fokus (lensa lama). Dengan banyaknya perbedaan ini, wajar kalau para fotografer pemula (seperti saya) menjadi kebingungan saat melihat lensa yang dijual di pasaran, apalagi harganya pun bisa bervariasi dari satu juta hingga puluhan juta.

Sekedar mengenal jajaran lensa Canon dan Nikon, saya sajikan daftar head-to-head lensa favorit para fotografer beserta sedikit ulasannya. Tapi sebelumnya, saya sajikan dulu terminologi atau istilah dari keduanya supaya tidak bingung :

  • Ukuran diameter lensa : Canon memakai istilah EF dan EF-S, perhatikan kalau kode EF menunjukkan diameter yang besar (untuk SLR film dan DSLR Full Frame) sementara EF-S adalah untuk sensor APS-C yang image circle lebih kecil. Demikian juga lensa Nikon, yang berkode DX artinya hanya untuk kamera Nikon DX saja. Lensa Nikon tanpa kode DX artinya bisa dipakai di SLR Nikon film atau DSLR Nikon full-frame (meski di DSLR Nikon DX pun tetap bisa).
  • Teknologi : Canon memiliki lensa dengan motor fokus di dalamnya, tapi tidak semuanya memakai motor fokus USM (Ultra Sonic Motor). Motor USM terkenal akan kehalusannya, kecepatannya dan akurasinya. Lensa Canon dengan teknologi USM relatif mahal. Sebaliknya, semua lensa Nikon berteknologi AF-S pasti ada motor fokus SWM (Silent Wave Motor), sementara lensa lama Nikon AF atau AF-D tidak ada motornya. Meski semua lensa AF-S ada motor SWM, tapi kinerja motor itu tidak sama antara lensa mahal dan lensa murah. Motor SWM di lensa murah lebih lambat dan tidak halus.
  • Optical Image Stabilizer : Baik Canon dan Nikon menerapkan sistem stabilizer pada lensa, dimana artinya tidak semua lensa memiliki fitur ini. Cara kerjanya yaitu gyro-sensor di dalam lensa mendeteksi getaran tangan dan melakukan kompensasi dengan menggerakkan elemen lensa khusus sehingga foto yang diambil pada speed rendah (dan/atau posisi tele) terhindar dari resiko blur. Canon menamai sistem ini dengan kode IS, sementara Nikon memakai kode VR. Baik IS dan VR, keduanya dapat menampilkan efek stabilisasi pada viewfinder optik, sebelum foto diambil.
  • Pembagian kasta : Di lensa Canon terdapat dua kasta lensa, yaitu lensa biasa dan lensa Luxury (L series, ditandai gelang merah diujungnya). Nikon tidak membedakan kasta pada lensanya, hanya saja lensa Nikon baru disederhanakan dengan meniadakan ring aperture, ditandai dengan kode G (gelded).

Lensa prime / fix

Lensa fix punya ketajaman tak tertandingi oleh lensa zoom, dengan bukaan yang umumnya besar, sehingga cocok untuk dipakai foto potret dengan bokeh yang menawan. Canon dan Nikon sama-sama punya jajaran lensa fix yang lengkap, dengan fokal mulai dari wide (sekitar 20mm), normal (sekitar 50mm) hingga tele (sekitar 100mm). Perhatikan kalau semua lensa fix Canon berkode EF, dengan beberapa memakai kode L dan USM.

Beberapa lensa fix kelas elit dari Canon adalah :

  • EF 24mm f/1.4L USM
  • EF 50mm f/1.2L USM
  • EF 85mm f/1.2L II USM

Sementara Nikon punya jajaran lensa prime yang bukaan maksimal di f/1.4 seperti yang baru saja diluncurkan dan kompatibel dengan D40, yaitu AF-S 50mm f/1.4G. Sedangkan lensa fix ekonomis dan favorit dari Canon adalah EF 50mm f/1.8, dan dari Nikon adalah AF 50mm f/1.8D. Selain itu, Nikon juga punya prime yang wide seperti AF 14mm f/2.8D ED (update : Nikon meluncurkan prime AF-S 24mm f/1.4 di tahun 2010) dan prime tele seperti AF 85mm f/1.4D IF, dan prime micro seperti AF-S 105mm f/2.8D VR ED. Bicara soal lensa prime tele, baik Canon maupun Nikon punya jajaran lensa tele yang lengkap mulai dari 135mm, 180mm, 200mm, 300mm, 400mm, 500mm dan 600mm (Canon bahkan punya yang 800mm dan 1.200mm), beberapa dilengkapi dengan IS atau VR.

Lensa zoom : wideangle

Bila lensa fix tidak memberi keleluasaan untuk berganti posisi fokal, maka lensa zoom memungkinkan kita untuk merubah fokal dalam rentang tertentu sehingga bisa didapat berbagai variasi komposisi (dan terhindar dari sering maju mundur). Lensa zoom wideangle umumnya bermula dari 14 sampai 24mm, namun perhatikan kalau dipakai di kamera dengan crop factor (1,6x untuk Canon APS-C, 1,3x untuk Canon 1Ds dan 1,5x untuk Nikon), maka panjang fokalnya akan banyak berubah. Untuk itu, produsen lensa harus berusaha ekstra keras untuk mendesain lensa yang amat wide supaya saat terkena crop factor, lensa tersebut masih layak disebut lensa wide.

Untuk kebutuhan fotografi wideangle seperti landscape dan arsitektur, pemakai Canon sensor APS-C hanya bisa menikmati lensa wide EF-S 10-22mm f/3.5-4.5 USM, sementar pemakai Nikon DX bisa menjajal lensa AF-S DX 12-24mm f/4G IF ED. Untuk pemakai Nikon Full frame, tersedia Nikon AF-S 14-24mm f/2.8G ED. Sayangnya dari pihak Canon belum tersedia lensa EF yang sepadan dengan Nikon 14-24mm f/2.8 ini.

Lensa zoom : standar

Rentang zoom standar merupakan rentang aman, dengan kemampuan wide dan tele yang mencukupi sehingga untuk bepergian cukup dengan membawa satu lensa saja ini saja. Kabar gembira bagi pemakai Nikon DX karena tersedia banyak lensa Nikon DX yang berkualitas dan terjangkau (seperti lensa kit D40 18-55mm), diantaranya :

  • AF-S DX 16-85mm f/3.5-5.6G ED VR
  • AF-S DX 17-55mm f/2.8G IF ED (bukaan konstan)
  • AF-S DX 18-70mm f/3.5-4.5G IF ED (kitnya D70)
  • AF-S DX 18-105mm f/3.5-5.6G VR (kitnya D90)
  • AF-S DX 18-135mm f/3.5-5.6G IF ED (kitnya D80)
  • AF-S DX 18-200mm f/3.5-5.6G VR IF ED (sapu jagad)

Ketersediaan banyak pilihan lensa standar DX yang murah dan berkualitas inilah yang menjadikan banyak fotografer yang non profesional memilih kamera DSLR Nikon, meski banyaknya pilihan ini juga dikritik beberapa pengamat karena banyaknya overlap dalam rentang lensa dan umumnya punya bukaan lensa yang mirip (semestinya Nikon mulai membuat lensa standar bukaan konstan f/4).

Sementara bagi pemakai Canon APS-C yang perlu lensa EF-S tampaknya harus cukup bersabar karena sementara ini hanya tersedia lensa EF-S berikut ini (tidak termasuk 18-55mm) :

  • EF-S 17-55mm f/2.8 IS USM (bukaan konstan)
  • EF-S 17-85mm f/4-5.6 IS USM
  • EF-S 18-200mm f/3.5-5.6 IS (sapu jagad – non USM)

Kondisi menjadi berbalik saat kita melihat jajaran lensa Full frame, dimana Canon punya ciri khas dengan menyediakan dua pilihan lensa untuk seri EF-nya, yaitu lensa bukaan konstan yang cepat (f/2.8 ) dan lensa bukaan konstan yang ekonomis (f/4). Sementara Nikon hanya menyediakan lensa bukaan cepat f/2.8 yang mahal saja. Update : Nikon akhirnya meluncurkan lensa dengan bukaan f/4 yaitu AF-S 16-35mm f/4 VR.

Lensa Canon EF standar yang favorit :

  • EF 16-35mm f/2.8L ISM
  • EF 17-40mm f/4L USM
  • EF 24-70mm f/2.8L USM
  • EF 24-105mm f/4L IS USM

Sementara sebagai padanannya, di jajaran Nikon juga terdapat dua lensa zoom standar yang menjadi favorit :

Istriku tercinta, dengan D40 plus AF-S 24-70mm f/2.8
Istriku tercinta, dengan D40 plus AF-S 24-70mm f/2.8

Sebagai catatan, masih banyak lensa lain dari Canon EF ataupun Nikon non DX untuk rentang standar seperti 28-80mm, 28-105mm, dan 28-200mm, namun karena lensa ini bermula dari 28mm, maka bila terkena crop factor akan menjadi tidak umum (sekitar 43mm) sehingga tidak disukai pemakai DSLR Canon APS-C ataupun Nikon DX.

Lensa zoom : tele

Kita mulai di kelas APS-C atau kelas DX. Nikon  terkenal akan lensa telenya yang ekonomis, AF-S DX 55-200mm f/4-5.6G IF-ED VR sementara Canon menawarkan kemampuan tele lebih panjang dengan EF-S 55-250mm f/4-5.6 IS. Canon sendiri sebenarnya punya lensa lawas dengan rentang 55-200mm tapi bukan EF-S.

Selanjutnya, di kelas Full-frame, persaingan head-to-head berimbang terjadi di dua kelas, yaitu kelas 70-300mm dan kelas 70-200mm aperture konstan. Canon punya EF 70-300mm f/4-5.6 IS USM dan Nikon punya AF-S 70-300mm f/4.5-5.6G IF ED VR yang mana keduanya disukai banyak fotografer karena harganya terjangkau dan kemampuan telenya lumayan jauh di 300mm (ekuivalen 450mm). Di kelas lensa bukaan konstan 70-200mm, ketimpangan terjadi saat Nikon yang hanya punya satu produk lensa harus bersaing dengan empat (ya, empat) lensa Canon 70-200mm. Nikon mengandalkan AF-S 70-200mm f/2.8G IF ED VR sementara Canon punya empat pilihan yaitu :

  • EF 70-200mm f/2.8L IS USM (cepat, plus IS)
  • EF 70-200mm f/2.8L USM (cepat, tanpa IS)
  • EF 70-200mm f/4L IS USM (hemat, plus IS)
  • EF 70-200mm f/4L USM (paling hemat, tanpa IS)

Sementara untuk keperluan lensa tele zoom khusus baik Canon maupun Nikon juga punya rentang yang tidak umum seperti :

  • Canon EF 90-300mm f/4.5-5.6 USM
  • Canon EF 100-400mm f/4.5-5.6L IS USM
  • Nikon AF 80-400mm f/4.5-5.6D ED VR
  • Nikon AF-S 200-400mm f/4G IF ED VR

Nah, itulah beberapa jajaran lensa dari Canon maupun Nikon. Pilihan lensa keduanya tergolong cukup lengkap, sehingga tak heran para profesional banyak yang melirik DSLR dari Canon ataupun Nikon. Hanya saja kita harus mencermati kebutuhan lensa kita (sebelum membeli DSLR), bila sudah perlu satu lensa spesifik maka memilih kamera DSLR tentu tidak jadi masalah. Sekali kita menentukan merk kamera, maka kita akan terikat pada sistem yang semerk, seperti lensa dan lampu kilat.

Sebagai penutup, berikut kesimpulan singkat dari ulasan diatas :

  • Canon dan Nikon sama-sama punya lensa fix yang lengkap
  • Di kelas lensa zoom wideangle, Nikon punya koleksi lebih lengkap
  • Di kelas lensa standar zoom, Nikon lebih lengkap di lensa kelas DX, sementara Canon lebih lengkap di kelas lensa full-frame
  • Di kelas lensa tele, Canon dan Nikon sama-sama punya koleksi yang lengkap (catatan Canon 70-200mm punya empat varian)
  • Nikon tidak banyak punya lensa bukaan konstan f/4 (seperti AF-S DX 12-24mm f/4G IF ED)
  • Untuk mendapat kinerja optik tertinggi (plus teknologi USM) dari lensa Canon, bisa didapat dari lensa Canon L series.

Demikian tulisan ini saya buat, tanpa bermaksud mengundang ‘brand war’ Canon vs Nikon, hanya ingin memberi gambaran singkat soal (beberapa) pilihan lensa yang ada. Please jangan tanya harga lensa kepada saya, untuk itu silahkan tanyakan pada om google saja.

About these ads

110 comments

  1. Hai mas
    tadi saya baca kalau canon ada dua lensa yaitu lensa biasa dan lensa luxury dari kedua lensa itu bagus mana.

    Kalo saya bilang sama saja, ntar pemakai L series pada marah dong.
    Ya jelas bagusan L series lah… (duit gak boong)

  2. Mungkin ada perkecualian untuk EF-S 17-55mm f/2.8 IS USM. Tidak berlabel L tapi secara mechanic dan optik lebih baik dari beberapa lensa L seperti 17-40mm L, 24-105mm L dan juga lebih mahal.

  3. mas, lensa yg dipakai ama istri mas tuh berapaan ya range harganya.. thank be4

    Itu lensa pinjaman kok, kalo beli dibawah 20 juta.

  4. supaya lensa 18-55mm terpakai kombinasi 55-200mm f/4-5.6G IF-ED AF-S DX VR cocok gak mas (cari yang ekonomis) untuk d40.

    Ya, seperti yg selama ini saya lakukan. Pelu wide, pake lensa kit. Mau tele, ganti lensa 55-200.

    Kalo mau pake AF-S 55-200VR sudah saya buat reviewnya.
    Kalo mau pake merk lain, ada Sigma 55-200.

  5. puntenn, saya mau nanya neh. misal camera canon 50d dipasang lensa sigma
    AF-MF ZOOM LENS yang 100-300mm F4.5.6.7 DL, itu nanti hasilnya bagus engga?

    1. Memilih lensa alternatif biasanya didasarkan akan dua hal : spesifikasi yg tidak dimiliki lensa semerk atau faktor biaya.

      Pemilik nikon misalnya, kesulitan mencari lensa zoom standar yg bukaan f/2.8 tapi variabel aperture merk nikon. Pilihan yg ada adalah lensa 18-55 yg lambat (f/3.5-5.6) atau lensa 17-55 yg mahal (f/2.8 konstan). Untuk itu mereka bisa memilih sigma 18-50 f/2.8-4.5 yg cepat namun terjangkau.

      Kalau memang perlu lensa sigma 100-300 (entah karena rentang fokal dan/atau harganya), tentu anda perlu mencari tahu issue seputar image/optic quality dari lensa ini dgn mencari reviewnya (bila ada). Bila anda ragu, carilah lensa lain yg lebih anda yakini kualitas optiknya, meski mungkin rentang fokal nya jadi tidak sama.

      Sekilas lensa sigma 100-300 sih, ini lensa ekonomis yg optiknya ‘biasa’. Fiturnya pun ‘biasa’ tanpa kode EX atau OS. Dari bukaan lensa juga sudah lambat dgn melewati batas kinerja AF kamera di f/5.6.

    1. Punten, saya kurang tahu juga karena kebutuhan lensa utk komersil mestinya harus selektif. Saya takutnya kalo menyarankan satu dua lensa dan ternyata setelah anda pakai malah kecewa kan jadi runyam. Mestinya sih sebuah lensa zoom standar bukaan besar, sebuah lensa tele 70-200 (boleh f/2.8 atau f/4) dan sebuah prime utk low light dan mengejar bokeh.

      Tampaknya lensa zoom standar bukaan besar akan mendominasi hampir keseluruhan kegiatan wedding, maka itu upayakan yg cukup wide (utk foto keluarga besar) hingga cukup tele (utk close up kedua mempelai). Lensa tele sendiri bisa utk pre-wed dan keperluan khusus.

  6. salam kenal, mas maaf saya mo nanya, klo lensa zoom zigma apo 70-300mm f/4-5.6 dg macro for nikon bgs ngk ya ? n klo lensa wide zigma 10-20mm f/4-5.6 ex dc hsm ama tokina 12-24mm at-x 124 pro dx f/4 pilih mana ya mas? mksh mohon petunjuknya cos nebiew abis ni. salam jepret

    1. Zigma baguz.. :)
      ehm, sigma ya? bagus kok.. versi APO memang lebih bagus (dan lebih mahal) dari non APO. Tentu yg saya maksud soal kualitas optik dalam batasan harga jualnya ya, jangan diadu sama nikon AF-S 70-300. Kalo nikon anda ada motor fokus (D50/D70/D80 dsb) bisa aja pake nikon lama 70-300.

      Soal lensa wide, setahu saya jawaranya masih dipegang oleh tokina deh, nah si sigma ini menang di widenya dan HSM-nya.

  7. makasih, kebetulan saya punya dua camera yang satu 50d dan yang satunya d40x saya masih tertarik dengan rujukan mas tentang lensa yang pas buat acara wedding, yang jadi pertanyaan kalo masing masing masih pake lensa setandar kira kira untuk warna kulit lebih gampang ter akali yang mana? mengingat saya sering ke daerah yang pengantin wanitanya masih pake makeup tebal jadi warna kulit jelas ilang. makasih…

    1. Menarik juga ya, tapi kan memang pengantin selalu di make-up? Kalau soal lensa mana yg pas buat mengakali warna kulit saya juga tidak tahu, mungkin ada pembaca lain yg bisa menambahkan?

  8. wah trimakasih banyak untuk masukannya mas.tp saya blm ngerti maksutnya: “jangan diadu sama nikon AF-S 70-300″ tu gmnya mas. pa maksudnya untuk kualitas oftic n gmbrnya ma harganya. mang sih harganya terpaut 2x lipat tp ngk maco n klo yang nikon 70-300 biasa lebih murah dari zigmanya tp ngk macrojuga, klo ngk slh ya. maka itu saya cenderung ke zigma dng alsn maco n baget. tp sy mlh jd bingung ni mo bli stlh baca sana sini soalnya sy msh nol bngt mslh fotografi n camera, seakan cuma mo nurutin keinginan aja n ngk tau mo kemana arahnya. So aku mo naya lagi boleh ni mas, blh kan. saya pki d90+nikor 18-200 vr so rncn pngin bli tu zigma 70-300 dng alsn di lengt 200mm ngerasa msh kurang.yg ingin sya tanyakan kalo antara lengt 200-300 tu beda perubhannya jauh ngk ya mas.atau mas ada rekomendasi lain tentunya dngan harga berkisaran dengan lensa tsbt. makasih n maaf klo nyanya kebanyakan.

    1. Optik nikon bagaimanapun tentu lbh bagus :)

      Bila anda mengejar lensa 70-300 utk diambil 200-300 nya, alangkah sayang. Pertama, diatas 200mm lensa sigma itu soft. Kedua, tidak banyak perbedaan perspektif antara 200mm (300mm equiv.) dan 300mm (450mm equiv.). Lensa 18-200VR itu lensa yg amat bagus dan mampu mengakomodir 90 % rentang fokal sehari-hari, investkan dana anda utk satu lensa wide dan/atau satu lensa prime saja.

  9. oh jadi begitu ya mas, maksih banget untuk sarannya. so saya urungkan saja untuk 70-300nya n prefer aj ke lensa wide. tapi aku masih gamang juga ni untuk lensa widenya walau udah ada masukan dari mas untuk prefer ke tokina 12-24 dibanding zigma 10-20.bingung karena ngejar wide untk zigma tau kualitas tuk tokina. so menurut pengalaman mas yang dah banyak jam terbang, mana yang mesti dikorbanin? kolo sya korbanin zigma kira2 rentang 10-12mm bdnya jauh ngk ya mas? wah lensa prime dari awal baca dah tertarik n kepingin punya juga ni, tp kyknya blm saatnya deh, soalnya masih bnyk yang perlu dipelari dulu. kan vocalnya dah terwakili ma lensa zoom. nanti aja klo dah mo plng ke indo, biar ngerti dulu. mas mohon bimbingannya. makasih bnyk utk bimbingannya n maf lg2 nayanya buoanyak banget. salam jepret

    1. Pertama saya klarifikasi dulu, saya bukan sang ahli yg jam terbangnya banyak. Saya cuma pake D40, lensa kit dan satu lensa tele ekonomis, itu aja. Maka itu disini saya lebih suka diskusi saling berbagi info.

      Betul kalau di lensa wide, beda sedikit saja soal fokal lensa itu cukup terasa, tidak seperti lensa tele. Jadi, 10-20 bisa terasa bedanya dgn 12-24, meski keduanya sama2 tergolong lensa wide. Menurut saya andalah yg menentukan seberapa perlukah thd rentang 10-12 itu, karena kalau kena crop factor jadi lumayan, anggap anda pake DSLR olympus, maka akan jadi : 20-24mm. Bila anda bisa mencapai 20mm, kenapa harus menyerah di 24mm kan? Tapi dgn DSLR crop factor 1,5x, perbedaan tidak begitu banyak karena 10-12 hanya setara dgn 15-18mm saja.

      Tapi masalahnya tidak hanya fokal, ada yg mencari lensa itu didasarkan atas bukaan aperture-nya, ada yg variable dan ada yg fix. Nah, si Tokina itu bisa konstan di f/4. O ya, sigma juga udah update produk lensa wide nya dgn versi konstan aperture, namanya 10-20 f/3.5 EX DC HSM. Saya penasaran apa secara optik ada perbaikan dibanding versi awal 10-20 f/4-5.6 EX DC HSM.

  10. wah ada variable aparture ada constant apartur. jadi tambah bingung ni monentuin yang mna. ketajaman n constan variable plh tokina di sisi lain extra wide dng hsm plh zigma tp variable aparture n ketajaman mesti di kesampingkan, ditambah stu perbandingan lg produk baru dari Zigma yang dah constant aparture. tambah bingung ni mo milih yang mana hbs hrgnya masih kisaran rata2.tp kemarin ngecek di toko2 sini utk zigma yang baru lom ad brng. so sprtinya ak akn tunggu dulu zigma yang satunya klo harganya ngk trlalu jauh mngkn ak plh yang ni soalnya ak lb cenderung ke more widenya. so kyknya ak alokasikan dulu ke flas aj deh mas drpd bingung. makasih banyak untuk sarannya n masukannya mas. nambah banyak wawasan. oya satu lg, yang nentuin ahli ngk kan bukan d40nya (kameranya) tp kan kwntitas orngnya. katanya kan man behind the gun to.salam

    1. Saya pribadi melihat di lensa wide itu bukaan konstan atau variabel tidak terlalu pengaruh, toh utk bermain hyperfocal distance anda akan sering dipaksa berada di f/16 hingga f/32. lain halnya utk lensa tele yg sering dipakai di low light, misal 70-200 f/2.8

  11. hallo mas gaptek, apa kabar, ng..masih boleh nanya engga?hehehe,
    ini mas krn satu dan lain hal kayaknya aku mo usaha ke dslr aja deh, cuma ada yang mo ditanyain:
    Aku dah review sana sini, trus boleh engga minta pendapat mas gaptek, kalo aku punya opsi berikut ini, mana yang lebih worth dipilih menurut mas gaptek….
    1. lensa kitnya canon EF 18-55 IS sama canon EF 55-250 IS ; kalo ini
    dengan pertimbangan untuk dapet all range walopun harus bongkar
    pasang lensa, tapi harga relatif terjangkau sama kualitas image ga
    jelek-jelek amat masih agak tajam
    2. canon EF 50mm f1.4 USM, ato canon EF 85mm 1.8 USM, ato canon EF
    100mm f2 USM, buat lensa all round, dengan pertimbangan : fokusku
    seneng gambar yang tajam, sama dinamic range warna yang bagus, plus
    “no noise in lowlight”, dari ketiga lensa itu, harganya hampir
    mirip, jadi salah satu aja,
    3. lensa sapujagad canon EF 18-200 IS; ato Tamron 18-250
    4. Trus kalo Tamron 17-50 f2.8 layak dipilih engga buat gantiin lensa
    kit? katanya tajem loh.. (caranya gimana mas spy ga dapet bad copy)
    Jadi untuk aku yang suka gambar tajam enaknya ambil opsi yang mana ya mas gaptek menurut mas, dgn kebutuhan ; foto orang/protrait, pemandangan, tele sih ga terlalu sering, paling foto malem hari, gimana mas menurut mas gaptek? oh ya, satu lagi worth ambil canon eos 450D ato 1000D kalo diliat dari opsi di atas, (ogah ambil eos 500d, hehehe) oh ya mas gaptek, ga bahas nikon P90 nih? katanya ada 9 produk nikon yang dah keluar tahun ini?

    1. Kabar baik…
      1. Kit canon yg IS udah lebih baik, dan didampingi dgn 55-250 IS mereka jadi kombinasi populer dan efektif utk pemula.
      2. Fix lens memang tajam tapi biasanya orang beli lensa ini buat lensa kedua setelah punya lensa zoom. Kalo harga mirip ya mending f/1.4 tapi mestinya yg f/1.4 harganya jauh lbh mahal.
      3. Sapujagad cocok utk travelling, praktis, namun mahal. Mending canon 18-200 aja daripada tamron 18-250 atau 18-270.
      4. Tamron/Sigma 17-50 f/2.8 memang cocok buat gantiin lensa kit (dalam hal rentang fokal), malah kalo punya ini sudah tidak terlalu perlu lensa fix (sama2 lensa cepat). Bad copy ya teliti aja pas beli, coba dulu dan lihat hasil fotonya.

      jadi, mending Tamron/Sigma 17-50 f/2.8 plus Canon 55-250 IS deh, sementara lensa fixnya nanti saja.

      Nikon P90 kurang menarik utk dibahas, belum tahu soal nikon tapi rumornya bulan april ini akan ada peluncuran DSLR baru (D5000 atau D400).

  12. mas nanya dikit lagi,
    1. kalo obyek jaraknya kira-kira 5 meter dari kita, trus kita shoot pake lensa fix 50mm f1.4, trus lensa fix 85 f1.8 sama lensa fix 100 f2 (usm semuanya), menurut mas hasil fotonya emang ada bedanya engga antara ketiga lensa tersebut? (aku cuma pengen tau aja berdasarkan pengalaman mas kalo make lensa fix yang berbeda kayak tadi (tanpa melihat merknya), apa perbedaan hasil shootnya? (btw ketiga lensa tadi “highly recommended” lho mas dari “lens review”; “slr gear” ma “photozone”)
    2. oh iya jawaban mas sebelumnya makasih ya mas, hehehehe…biasa sering banyak nanya, asal mas gapteknya jangan bosen aja…..trus bukan 55-200 mas tapi 55-250…ooopss
    3. oh iya aku baca ada fans mas gaptek yang nanya belum kejawab mas gaptek deh, emang bener kalo kamera ada fasilitas video recordingnya, berpengaruh ke ketahanan sensor? (kalo ya, berarti fasilitas video di kamera ga worth donk, ya mas….)

    1. 1. Beda lah, misalnya motret orang dari jarak 5 meter : 50mm dapet close-up, 85mm sangat close-up, 100mm motret idung doang :)
      2. Ups, corrected (tadi cepet2 ada bos disebelah)
      3. Sudah dijawab kok, belum ada riset kesana. Resiko itu memang ada maka itu pakai movienya jangan sering2.

  13. 1. oooo, gitu yaa mas gaptek, berarti dengan analogi tadi kalo kita punya lensa 50mm f1.4
    kalo obyek yang dishoot jaraknya 30 meter, hasilnya obyeknya akan terlihat kecil
    dibanding kalo make lensa 100 f2.8, apa gitu mas analoginya, koreksi aku mas kalo salah?
    2. kalo gitu bener mas gaptek ya mas, pasangan yang tepat ya 17-40 sama 55-250 ya mas?
    3. lensa fixnya berarti kalo udah punya pasangan tadi, tinggal 50 f1.8 ato 50 f1.4 donk mas,
    apa kira-kira begitumas gaptek?
    4. oh iya, sebagai seorang nikonians ( cia elaaa…huhuy..) pernah nyobain tamron 17-40 f2.8
    ga mas, kalo udah pernah emang tajem ya mas,….. tajem mana sama lensa kitnya nikon
    18-55 VR?
    5. jangan bosen ya mas kalo aku nanya lagi … salam jepret…hehehehe

    1. 1. ya, namanya juga lensa fix. Kalo pake 50mm objeknya kejauhan ya kitanya yang maju mendekat.
      2. 17-50 kali, ups.
      3. yang 50mm f/1.8 aja, murah meriah.
      4. Belum. Cek di sampel fotonya aja. Udah tau ada tokina 16,5-135mm?
      5. Gak kok, tapi besok ya, pulang kerja dulu nih..

  14. met pagi mas gaptek,
    1.waduh satu sama donk…salah ya, iya maksudnya 17-50 tamron heheheheh….gantian..
    2.lensa fix yg 50 f/1.8 kualitas imagenya bagaimana kalo dibanding dengan 50 f/1.4, ada perbedaan engga mas?
    yalah..yang ini aja, lensa murmer….(jadi kenal istilah murmer…??)
    3 eh iya, udah nyoba tah mas. yang tokina 16.5-135mm kayaknya bisa jadi lensa all round ya mas??
    4.gimana kualitas tokina 16.5-135 dibanding ma 17-50nya tamron ato 18-135nya nikkor, tajam mana mas??trus berapa fulusnya…??
    5. contoh fotonya dimana ya? pengen tau donk….

    1. f/1.8 dan f/1.4 sama aja, tapi kan namanya lensa itu paling tajam kalo di stop down atau dikecilin dikit bukaan diafragmanaya. Nah, lensa mahal f/1.4 biar tajem biasanya diset jadi f/1.8 atau f/2.0. Kalo lensa f/1.8 mau tajem terpaksa dikecilin ke f/2.8 yang mana jadi berkurang kesaktiannya di low light.

      Tokina ini baru dan belum ada reviewnya, andai ada stabilizer dan motor AF di lensa, saya mau banget. Tapi buat pemakai oly/pentax/sony yg udah ada IS di bodi sih tokina ini cocok banget. Harga mungkin 3 jutaan..

  15. 1.pantesan aku cari-cari ga ada, baru release ya mas,
    2.kalo buat foto suasana malam pake lensa 17-50 tamron masih cukup bagus engga ketajaman ma DR nya mas? (berarti hrs diset Fokal = 18-20, f= 2.8 ya mas trus shutternya pake brp mas, pake 1/100 tah?)
    3.kalo pake lensa 50 f1.8 berarti settingannya f dinaikin ya mas jadi f2.8, biar masih dapet tajamnya, cuma shutternya apa masih sama di 1/100 tah?
    4.nah kalo pake lensa 55-250, pas mo tele malem di fokal 200mm, settingannya f=5.6 masih aman engga mas trus shutternya di 1/200 ya mas? kasih tau aku ya mas kalo salah..hehehehehe…
    5. oh kalo gitu teorinya gini ya mas, kalo mo tajem pake lensa kit 18-55 di fokal = 18mm(wide) berarti f-nya jangan 3.5 donk harus 5.6 ato 8.0 trus shutternya 1/100 (kondisi pemandangan siang hari, cahaya cukup), betul engga mas…..
    6. makasih mas buat jawabannya, sorry kata2nya masih belepotan, biasa sama kayak mas gaptek, curi2 wkt brkl ada bosss,…hehehehehe

    1. DR bukan dari lensa tapi sensor, ketajaman lensa tamron/sigma 17-50 sih sudah mencukupi karena lensa ini didesain utk juru foto kelas menengah/semi-pro yg perlu lensa bukaan konstan f/2.8 tapi dana terbatas.

      Eksposure adalah kombinasi dari shutter, aperture dan ISO. Angka ketiganya sangat ditentukan dari kondisi cahaya saat itu. Jangan tanya saya berapa shutter yg harus dipakai, tapi umumnya kalo low light pakai bukaan terbesar yg mungkin, misal f/2.8. Biasanya shutter akan drop ke 1/10-1/20 di saat kurang cahaya dan ISO pun bisa naik ke 1600 bila memakai mode Auto ISO. Kalau diafragma dikecilkan, maka shutter akan menjadi lebih lambat lagi (konsep reciprocity). Makanya lensa lambat spt 55-250 saat dibikin mentok 250mm bukaannya tinggal f/5.6 sehingga memaksa shutter drop amat lambat dan/atau naikin ISO amat tinggi. Coba baca lagi teori dasar eksposure deh biar lebih kebayang.

      Nggak usah lensa kit, lensa zoom apapun akan tajam kalau pake f/8.

  16. okay, dah mengerti mas, oh iya, sorry mas sedikit oot, kalo kamera prosumer ada keterbatasan shuterspeed sampe berapa kali jepret kayak DSLR kamera engga?

    1. Mestinya sih ada tapi tidak seperti DSLR karena shutter unit DSLR bekerja berdasar mekanik sementara prosumer kombinasi mekanik dan elektrik.

  17. halo mas gaptek, mo nanya dikit neh;
    1. mas gaptek, emang ada ya lensa canon 18-55 IS yang USM, apa ada perbedaan signifikan antara canon 18-55 IS biasa yang jadi lensa kit, sama lensa canon 18-55 IS USM dari segi : optikal image, ketahanan body, sama sharpnessnya?
    2. aku pernah baca di thread2 tetangga sebelah, katanya lensa yang udah ada SWM ato USM itu juga masih rentan sama debu, kalo kemasukan suka bunyi “krinyit-krinyit”, dan katanya lebih aman yang ada SWM ato USM, emang benar kayak gitu mas gaptek?
    3. itu aja dulu….makasih ya mas gaptek….

    1. Ya, EFS 18-55 IS versi USM memang ada. Secara optik sama saja :

      Since Canon don’t mention any optical changes, it’s reasonable to assume that the lens will perform identically to the non-USM version.

      SWM/USM/HSM/SDM dsb menandakan motor di lensa, lebih aman mungkin artinya bisa dipakai dikamera yg tidak ada motor AF nya spt D40. Tapi menurut saya motor fokus di lensa itu lebih presisi, lebih cepat dan lebih halus (tidak berisik). Beberapa lensa mahal kode SWM/USM menandakan juga kalau ring manual fokus bisa diputar seketika tanpa menggeser tuas A/M.

      Trims juga.

Comments are closed.