Kalau ditanya kamera DSLR apakah yang pertama kali memperkenalkan fitur movie, jawabannya tentu adalah Nikon D90. Nah, sejak saat itulah fitur yang semula tidak terbayangkan akan ada pada kamera DSLR ini akhirnya menjadi tren baru DSLR modern. Canon sendiri mengimplementasikan fitur movie ini pada EOS 5D mark II, kamera high-end berformat full frame dari Canon. Bila Nikon D90 dianggap mewakili kelas menengah dan EOS 5D mark II mewakili kelas atas, maka timbul pertanyaan apakah fitur movie juga akan dibenamkan di kamera DSLR kelas entry level? Olympus E-630 pun tak memberikan fitur movie ini, tidak juga pada pemain lama seperti EOS 450D, Nikon D60, Sony A200/A300 ataupun Pentax K200D. Continue reading
Arsip Bulanan: Maret 2009
Fitur baru pada kamera digital : seberapa perlukah?
Yang membedakan kamera generasi baru dengan yang lama adalah banyaknya fitur modern yang dibenamkan kedalamnya. Fitur baru ditujukan untuk memudahkan pemakaian, memperbaiki hasil foto atau sekedar saling tiru antar produsen demi menjaga persaingan. Terkadang saat akan membeli kamera, seseorang terjebak dengan deretan istilah baru yang membuatnya bingung dan tulisan ini mencoba menelaah satu persatu fitur modern yang kini sering dijumpai di kamera digital keluaran baru dan seberapa perlukah kita terhadap fitur tersebut. Continue reading
Tips memilih SDHC yang tepat untuk HD movie
Satu konsekuensi nyata dari peningkatan kemampuan merekam video pada kamera digital (dan camcorder berbasis memory card) adalah tingginya data rate dan kebutuhan media simpan ataudata storage. Di masa lalu yang kita kenal sebagai resolusi video pada kamera digital hanyalah QVGA (320 x 240) dan VGA (640 x 480) dengan frame rate bervariasi antara 10 hingga 30 fps. Itupun masih memakai kompresi kuno semisal MJEPG atau MOV, yang tidak efisien dalam memberikan data rate yang berimbang antara ukuran dan kualitas video. Kini dengan semakin tingginya tuntutan akan kemampuan video yang lebih dari sebuah kamera digital, ditambah semakin banyaknya perangkat monitor/TV LCD yang mendukung resolusi High Definition (HD), maka tren fitur movie pada kamera modern sudah bergeser ke resolusi HD, baik yang ‘HD biasa’ 720p ataupun yang ‘full HD’ 1080i. Continue reading
Yang baru dari iPhone OS 3.0
Menyambung tulisan sebelumnya bahwa Apple akan meluncurkan OS versi 3.0 untuk produk smartphone dan iPod mereka yang akan datang, berikut ini adalah daftar hal-hal baru yang disempurnakan pada OS 3.0 tersebut yang resmi diumumkan kemarin.
Perhatikan kalau beberapa penyempurnaan disini terdengar sangat terlambat, contohnya seperti fitur copy dan paste (kemana aja kemarin???). Continue reading
Apple iPhone 3G kemahalan? Masih banyak alternatif lainnya kok..
Berita gembira bagi pecinta Apple iPhone 3G. Telkomsel sudah mengumumkan daftar harga resmi paket bundle pra-bayar dan pasca bayar untuk produk smart phone unggulan dari Apple ini. Berita buruknya, harga yang ditawarkan Telkomsel ini dianggap kelewat mahal. Terlebih waktu peluncuran produk buatan tahun 2008 ini dianggap terlalu lama sehingga sudah mulai kurang greget seperti saat-saat awal diperkenalkan ke publik. Bahkan Apple berencana meluncurkan iPhone dengan OS 3.0 baru pada 17 Maret mendatang. Animo masyarakat yang dulu tinggi bisa jadi mulai kendur saat ini, apalagi ditengah hantaman krisis resesi dunia (tak terkecuali berimbas pada produk gadget) dan hadirnya para pesaing iPhone yang bermunculan di pasar smart phone semakin menurunkan minat calon pembeli terhadap produk sarat gengsi ini. Continue reading
Mengintip data teknis foto lewat flickr
Para pemakai kamera DSLR tentu paham benar kalau tiap jepretan dari shutter kamera (dikenal dengan istilah shutter count) itu akan selalu tercatat, yang mana bila setiap nilai shutter count ini bertambah maka usia shutternya semakin berkurang. Pada angka tertentu, misal 50 ribu kali jepret, dianggapnya shutter kamera telah mencapai usia hidupnya. Lewat dari itu mungkin si shutter masih tetap bisa berfungsi, mungkin mulai rewel atau bahkan rusak. Cara melihat shutter count ini tidak mudah, karena setahu saya tidak ada cara langsung dengan melihat di layar kamera. Shutter count hanyalah satu dari sekian banyak data teknis yang tercatat pada data EXIF foto dan hanya bisa dilihat saat foto dilihat di komputer. Maka itu untuk mengetahui data teknis foto termasuk tanggal pengambilan, olah digital pakai software hingga memastikan apa foto ini asli atau tidak, bisa diketahui dengan melihat file properties dari foto tersebut. Continue reading
Masa depan kamera digital, ditengah stagnasi teknologi dan resesi global
Waduh, judulnya kok serius amat mas? Seperti judul sebuah skripsi saja
Tenaaang, kali ini saya hanya ingin menuangkan uneg-uneg saya soal seperti apa sih perkembangan kamera digital itu nantinya. Judul diatas memang tampak serius, tapi tulisan ini diupayakan tetap ringan dan tidak membuat pembaca bingung kok.
Tahun 2009 ini diawali dengan situasi ekonomi yang kurang bersahabat, dengan lesunya daya beli dan melambungnya harga akibat resesi global. Fakta ini saja bisa memberi gambaran betapa beratnya tantangan bagi produsen kamera supaya bisa terus bertahan, sementara di lain pihak konsumen juga dituntut untuk dapat bijak dalam menyiasati kondisi ekonomi ini. Produsen kamera tidak bisa lagi mengandalkan strategi lama sebelum resesi dengan menjual produk ‘biasa’ dengan harga mahal, atau berlomba-lomba dalam menaikkan resolusi (mega piksel) dengan harapan pembeli akan memilih kamera yang resolusinya lebih tinggi. Konsumen masa kini harus semakin teliti, semakin cermat dan harus sudah bisa memahami kebutuhan fotografinya sehingga tidak lagi mau membeli kamera yang ‘biasa-biasa saja’. Continue reading