Tidak ada lensa yang ‘ideal’

Tren larisnya kamera DSLR belakangan ini membuat begitu tingginya rasa ingin tahu kita akan lensa apa yang cocok untuk jadi pasangan si kamera tersebut. Bisa jadi anda sudah banyak mencari informasi di internet seputar lensa yang bakal jadi idaman, dan boleh jadi anda akan banyak dihadapkan pada kekecewaan karena ternyata begitu sulitnya mencari lensa mana yang paling baik buat dipilih. Dari sekian banyak pilihan merk dan jenis lensa, mengapa justru kita seakan-akan jadi kesulitan dalam mencari satu atau dua yang paling disukai? Barangkali satu diantara alasannya adalah karena kita terjebak saat mencari lensa yang ‘ideal’ menurut perspektif kita sendiri.

EarlyAFlensIllusLensa yang biasa dipasang pada kamera DSLR merupakan sekumpulan optik yang disusun secara presisi, merupakan faktor yang amat menentukan seperti apa hasil foto yang diambil oleh sebuah kamera nantinya. Semakin mahal lensa artinya semakin baik kualitas dan ketepatan optik yang digunakan, semakin rumit pembuatannya, dan semakin sedikit cacat pada foto yang dihasilkannya. Bahkan belakangan ini lensa pun dilengkapi dengan CPU yang membuatnya mampu berkomunikasi dengan kamera baik dalam hal informasi jarak (distance information), posisi fokal lensa hingga membantu kamera dalam menentukan eksposure lewat proses metering. Belum cukup itu saja, lensa modern pun telah dilengkapi dengan sederet fitur baru seperti motor micro dan sistem stabilizer (IS/VR dsb). Bahkan dengan pesatnya teknologi manufaktur, kualitas optik masa kini semakin mampu meminimalisir cacat optik yang ada sehingga bisa didapat ketajaman, kontras dan tone yang tak terbayangkan sebelumnya. Lantas mengapa saya katakan tidak ada lensa yang ideal? Karena tiap lensa punya pertimbangan untung rugi tersendiri, yang mana pilihan semestinya ditujukan setelah menimbang untung ruginya dan tentu disesuaikan dengan kebutuhan dan anggaran.

Untuk memudahkan bahasan kita, saya coba daftarkan kira-kira batasan lensa ideal itu seperti apa dan anda akan sadar mengapa tidak mungkin mendapatkan kesemua hal berikut ini sekaligus dalam satu lensa.

  • lensa ideal itu harus mampu menghasilkan foto yang tajam, bokehnya mantap dan bebas cacat (inilah impian para perfeksionis)
  • lensa ideal itu harus punya rentang fokal yang mampu menjangkau dari sangat wide hingga sangat tele (inilah impian para traveller/petualang)
  • lensa ideal itu harus punya bukaan besar dan konstan (inilah impian mereka yang sering memotret di tempat low light)
  • lensa ideal itu harus berukuran kecil dan mudah dibawa (inilah impian para outdoor tele-shooter)
  • lensa ideal itu harus murah dan terjangkau (inilah impian dari kebanyakan kita :) )

Kita kupas satu per satu. Pertama, tidak mungkin membuat lensa yang bebas cacat, namun cacat itu bisa diminimalisir dengan sederet penemuan modern seperti memakai lensa Aspherical, lensa ED, hingga memakai coating khusus. Namun lensa tidak bisa menghindar dari fenomena fisika seperti difraksi, fall-off dan CA/purple fringing. Mencari lensa yang ideal dalam hal kualitas optik perlu terlebih dahulu mengenali tipikal dan kebutuhan fotografi anda, karena mungkin pecinta landscape perlu lensa yang tajam saat memakai bukaan kecil, sementara ‘tukang potret’ perlu lensa yang bokehnya mantap dengan bukaan besar.

Kedua, lensa (zoom) ideal mestinya adalah lensa yang mampu menjangkau rentang wide hingga tele, atau biasa disebut lensa all-around/lensa sapujagad. Lensa ini cocok dibawa bepergian / travelling karena kepraktisannya dan rentang fokalnya yang efektif. Namun saat lensa semacam ini dipaksa mampu menjangkau kedua ujung ekstrim dari fokal lensa, alias dari amat wide (misal dari 25mm) hingga amat tele (misal di 600mm) maka yang terjadi lensa akan kehilangan kualitas optiknya dan sangat rentan akan cacat seperti distorsi, softness hingga vignetting.

Saya setuju dengan poin ketiga, idealnya lensa punya bukaan besar (seperti f/1.2 pada lensa prime) dan bukaan konstan (seperti f/2.8 pada lensa zoom). Bukaan besar menjamin keleluasaan pemotretan di saat cahaya low-light karena  lensa semacam ini mampu memasukkan cahaya lebih banyak dari lensa yang bukaannya kecil. Namun lensa bukaan besar amat mahal dan bila lensa itu adalah lensa zoom maka akan menjadikan ukuran lensa yang besar dan berat (lihat lensa 24-70mm f/2.8 dan 70-200mm f/2.8). Nyatanya, kebanyakan lensa zoom di pasaran bukan berjenis bukaan konstan, jadi saat lensa di-zoom maka bukaan maksimalnya akan semakin mengecil bahkan hingga f/6.3 yang tak berdaya di low-light.

Lensa yang panjang, besar dan berat menjadi mimpi buruk bagi sebagian fotografer. Berkeliling mencari objek foto sambil membawa beban berat tentu bukan hal yang nyaman. Untuk itu hadirnya sebuah terobosan lensa berukuran kecil menjadi berita baik yang dinanti-nanti, apalagi bila menyangkut soal lensa tele. Canon berhasil membuat elemen lensa DO yang menjadikan lensa tele bisa berukuran kecil. Bahkan kini lensa tele 55-200mm bisa dibuat mungil dan ringan, meski tetap memiliki kemampuan tele maksimum yang sama dengan lensa 70-200mm yang ukurannya besar. Sayangnya ideal di satu sisi merupakan masalah di sisi lain. Maksudnya begini, dengan mengecilkan ukuran lensa tentu ada pengorbanan yang harus ditempuh. Apalagi kalau bukan soal diafragma yang pasti tidak memiliki bukaan konstan. Jadi lensa tele yang mungil memang praktis namun perlu cahaya banyak, dan bila anda sering memotret di tempat gelap tentu lensa semacam ini akan membuat anda frustasi karenanya.

Terakhir, ini yang paling menarik. Idealnya lensa (harus) bisa dijual lebih murah. Namun jujur saja, harga jual lensa umumnya jauh melebihi harga jual kameraDSLR itu sendiri. Untungnya lensa punya harga jual bekas yang stabil, sementara harga bekas kamera akan menukik jatuh seiring shutter count-nya bertambah. Saat bicara lensa profesional yang punya sederet kelebihan, jangan berharap harganya yang murah. Saat bicara lensa murah, jangan mencelanya karena kekurangannya. Lucunya, kita senang mencari kekurangan dari lensa murah dan menjadikan alasan untuk tidak membelinya, namun juga tidak membeli lensa mahal karena harganya tidak terjangkau kantong. Ada saja dijumpai lensa murah yang memang jelek, soft, minim fitur dsb, namun ada juga beberapa lensa yang punya kualitas optik yang melebihi harga jualnya yang murah, dan ini bisa jadi lensa best-buy menurut saya (terlepas dari segala kekurangan selain optik). Di lain pihak, hampir mustahil mencari lensa mahal yang punya optik jelek atau build quality yang buruk, karena duit tidak bohong. Diantara lensa best buy menurut saya adalah lensa kit pada umumnya (18-55mm), lensa tele ekonomis (55-200mm), lensa super zoom (18-200mm) dan lensa prime ekonomis (50mm f/1.8). Tentu saja merk sangat berpengaruh namun saya asumsikan lensa-lensa tersebut bermerk Nikon :)

Kesimpulan :

Tidak ada lensa yang ideal. Tiap jenis lensa punya untung rugi :

  • lensa zoom murah : murah tapi umumnya optiknya jelek, minim fitur, mounting plastik
  • lensa prime (secara umum) : tajam, tapi tidak bisa di zoom
  • lensa prime bukaan besar (f/1.4 atau lebih) : jago di low-light tapi mahal
  • lensa zoom bukaan konstan (f/2.8) : jago di low-light tapi mahal, besar, berat
  • lensa tele ukuran kecil : kecil dan ringan namun bukaannya kecil, rentan blur karena sering dipakai di speed rendah
  • lensa super zoom : praktis tanpa perlu bawa banyak lensa, tapi agak mahal dan optiknya biasa saja

Semoga dengan membaca tulisan ini anda tidak jadi semakin bingung saat akan membeli lensa.

Sebagai bonus, bantu saya isi polling berikut ini ya :

About these ads

23 thoughts on “Tidak ada lensa yang ‘ideal’

  1. lensa pertama yg saya beli itu 18-200mm :D
    biarpun agak mahal (menurut saya), tapi udah mencakup wide & tele
    & hasilnya gak mengecewakan sama sekali!!!

    • Canon EF-S 18-200mm f/3.5-5.6 IS nih…
      praktis & gak ribed musti ganti2 lensa
      emang agak mahal sih harganya, tp skrg harganya udah turun jauh…
      (waktu itu beli 7.5jt, skrg 6jt ++ udah bisa dapet tuh)

  2. kok menurut saya inti dari semuanya kok uang yah :)
    kalau saja banyak uang yg ndak kepakai di dompet ya ndak perlu mikir2 lagi mau beli lensa mana aja, pengen lensa wide beli, pngen lensa tele beli, pngen lensa prime dg bokeh yg ajib beli, gampang kan hahahaha

    • Ya iya lah, masalahnya ada saja yang komentar di blog ini menanyakan lensa yg ‘ideal’ dengan dana terbatas, kan sulit jawabnya :/ maka itu tulisan ini saya buat…

  3. saya baru beli lensa 55-200 dan hasil sangat mnggembirakan walaupun dgn harga yg murah tapi hasilnya maknyus.

  4. Ini dia tag yg saya tunggu, sdh sedikit paham tentang penggunaan kamera dslr skrg naik sedikit grade. Memperdalam seputar lens.. Mantabss.. Bravo to mas gaptek.

  5. mas gaptek, saya penasaran ama lensa canon made in china yg makin banyak di pasaran dengan harga miring banget. yg saya tau bedanya sih mount nya plastic, trus garansi paling cuma 3 bulanan, and katanya kualitas gambar ga gitu bagus. kalo menurut mas gimana? layak beli kah lensa bikinan china, apakah mereka itu bagian dari manufaktur yg punya pabrik di china atau bagaimana?

    • Sya belum tahu info spt itu, karena spt nikon misalnya, lensanya memang buatan cina dan thailand. Tapi harganya dimana tempat juga standar, mutunya standar dan garansinya juga resmi. Jadi kalo nikon, lensa buatan cina sangat layak dibeli. Utk pemakai lensa canon mungkin ada yg bisa membantu kasih jawaban?

      • saya rasa anda sedang di mainin oleh retailer nya tuh. lensa canon emang ada 2 macam, yg resmi canon and yg grey market. yg resmi canon memang relatif lebih mahal, karena diimport langsung oleh canon lokal dengan garansi canon dan berlaku worldwide (international warranty). yg grey market diimport langsung oleh retailer dengan memberikan limited garansi dari canon lokal, or kadang cuma garansi toko. karena ga ada biaya tetek bengek, makanya relatif lebih murah dari yg versi ‘canon’.

        secara kualitas ga ada bedanya karena dibuat di pabrik yg sama, spare part yg sama dan identik. yg beda ya itu, harga and garansi nya. kalau retailernya bilang mountnya plastic, anda dimainin tuh. mereka berusaha menggiring anda ke produk mereka yg lebih mahal kali. canon ga pernah ngeluarin 2 versi lensa dengan nama or seri yg sama.

  6. mas,da gak alternatif lensa third party yang murah meriah sebagai pengganti lensa kit bawaan kamera,misalnya dari tamron, tokina,dll..
    tapi kualitasnya hampir mendekati lensa kelas kakap gtu(setidaknya mounting lensa dari logam, n aperturenya lmyan gede sekitar 2.8)
    thanks sebelumnya y,

  7. Mas Gaptek,

    Saya tertarik pas baca rubrik seputar lensa extender.
    Disebutkan bahwa dengan extender bisa menggandakan focal length, dan mengurangi aperture efektif.
    Apa ada lensa extender yg bisa meng-offset crop faktornya kamera non full frame?

    • Tele converter memang bisa merubah fokal lensa, plus mengurangi aperture. Makanya t-con hanya berfungsi di lensa cepat bukaan konstan. Saya kurang mengerti maksudnya meng-offset crop factor kamera non FF gimana ya? Umumnya utk mendapat fokal yg kita inginkan, kita harus mencari lensa yg ekuivalen crop factor tsb. Misal maunya kita punya lensa yg fokal efektifnya di 18-35mm, maka lensa yg harus dibeli jadi 12-24mm gitu..

  8. mas gaptek, bagusnya diklasifikasikan lensa menurut posisinya (tele, superzoom, prime, etc) harga, fitur, dan kompatibel untuk kamera apa saja! Biar kita yang newbie n pengen terjun di dunia photografy ini ga jadi bingung, puyeng n kagak ngarti2! (banyak banget istilah sih, oon mode on).. He. Gimana mas???

  9. Mas Gaptek,

    Ada aturan atau limitation ga buat ngatur aperture menggunakan mode M (manual).
    Maksudnya gini, saya punya lensa canon EF 28-135mm f/3.5-5.6.
    Kalau saya set aperture katakanlah F/2, apakah saat saya ambil gambar aperture efektifnya tetep F/2 atau ada faktor konversi berhubung max aperture lensa saya F/3.5.

    Thanks in advance

    • Pengaturan bukaan maks di kamera dibatasi oleh spek teknis maksimum aperture lensa. Jadi kalau anda pake lensa f/4-5.6 maka di kamera cuma bisa diset maks f/4 tapi kalo ganti lensa f/2.8 ya bisa dibuka sampai f/2.8

Comments are closed.