Mini review : Nikkor AF-S 18-105mm VR
Waktunya untuk membuat review lensa lagi… Kali ini lensa yang saya review adalah lensa kit dari Nikon D90 yang bernama AF-S 18-105mm VR. Lensa DX keluaran tahun 2008 ini menjadi lensa Nikon yang populer karena harganya yang terjangkau, rentang fokal yang lebar dan efektif, fitur VR dan punya bukaan diafragma f/3.5-5.6. Tak heran banyak pemakai DSLR Nikon DX yang menjadikan lensa ini sebagai lensa utamanya. Dalam membuat review ini, saya masih memakai kamera Nikon D40. Apakah lensa kit D90 seharga 4 juta (kurang sedikit) ini layak dipertimbangkan sebagai lensa ‘all around’ anda? Simak review saya selengkapnya.
Pendahuluan
Lensa Nikon 18-105mm ini menjadi lensa zoom Nikon DX terbaru yang lagi-lagi overlap dengan lensa consumer-grade Nikon lainnya (dalam hal rentang fokal), seperti 18-55mm (kitnya D40-D5000), 55-200mm, 18-70mm (kitnya D70), 18-135mm (kitnya D80) dan 18-200mm. Hal ini berbeda dengan yang terjadi di jajaran lensa pro Nikon yang tidak ada overlap, mulai dari 14-24mm, 24-70mm, 70-200mm dan 200-400mm. Banyak pihak yang berharap Nikon akan membuat versi VR dari lensa 18-135mm (tersiar kabar Nikon akan men-diskontinyu lensa 18-135mm) namun ternyata inilah jawaban dari Nikon, lensa 18-105mm VR yang hadir di bulan Agustus 2008, sebagai lensa kit dari Nikon D90.
Beberapa fakta dari lensa 18-105mm diantaranya :
- rentang fokal lensa yang mencukupi untuk fotografi sehari-hari (equiv. 28-157mm)
- variable aperture dari f/3.5 hingga f/5.6 (maks) dan f/22 hingga f/38 (min)
- sistem stabilizer VR
- optik yang sudah dilengkapi elemen ED dan aspherical, plus SIC coating
- diameter filter 67 mm
- mounting dari bahan plastik
- inner focus, tidak ada elemen di depan lensa yang berputar
- format DX (tidak untuk DSLR full frame)
- tanpa fitur kelas pro (distance scale, ring aperture dsb)
Tak bisa dipungkiri, lensa ini memang tergolong sebagai lensa serba-bisa (versatile lens) karena rentang fokalnya, sehingga praktis saat dipakai bepergian tanpa perlu membawa banyak lensa. Lensa ini juga sudah dianggap memenuhi syarat mendasar sebuah lensa modern karena sudah ada VR, pake motor micro untuk AF, ada ED lens dsb. Tapi bagaimana pun lensa 18-105VR ini tetaplah lensa kit yang masih dipandang sebelah mata oleh sebagian dari kita (terlepas harga jualnya yang lumayan mahal untuk ukuran lensa kit). Ada yang bilang kalau lensa ini adalah versi murah dari lensa 18-200VR, dengan harga setengahnya (dan rentang fokal yang juga setengahnya). Namun ada yang bilang juga kalau lensa ini adalah penyempurna lensa 18-135mm yang dilengkapi VR dan sudah meniadakan masalah purple fringing di lensa 18-135mm.
Bicara soal rentang fokal, khususnya di posisi tele, memang fokal lensa kit dari D90 ini punya keunggulan dibanding lensa kit lain yang umumnya berada di kisaran 55mm dan 70mm. Tapi apakah 105mm ini sudah mencukupi untuk kebutuhan tele atau tidak, tentu ini soal lain. Apalagi jika si empunya lensa tidak bermaksud untuk memiliki lensa tele tersendiri, tentu fokal 105mm itu (ekuiv. 157mm) perlu dipertimbangkan lagi apa sudah cukup panjang atau belum. Tapi bila kita merasa 105mm ini sudah cukup, maka lensa ini sudah bisa menjadi lensa utama khususnya untuk pemula. Tak heran meski 18-105VR ini sejatinya adalah lensa kitnya Nikon D90, namun banyak yang membeli lensa ini untuk dipakai di kamera lain mulai dari D40 hingga D300.
Selayang Pandang
Lensa 18-105VR sepintas tampak serupa dengan lensa 18-135mm dengan ukuran yang relatif kecil meski memiliki diameter filter 67mm. Bobot lensa inipun terasa pas, dalam arti tidak ringan (seperti 18-55mm) dan tidak berat juga (seperti 24-70mm) sehingga bila dipasang di kamera DSLR terasa balance. Dalam posisi wide 18mm, tidak ada bagian dari lensa yang menonjol, namun begitu lensa di zoom maka elemen lensa akan memanjang dan akan berada di posisi terpanjang berada pada posisi 105mm. Posisi ring fokus manual berada di sebelah dalam (kebalikan dari lensa kit 18-55mm atau 55-200mm) sehingga terhindar dari resiko terputar secara tidak sengaja (seperti yang terjadi di lensa 24-70mm). Di samping kiri ada dua tuas selektor yaitu tuas manual/auto fokus dan tuas on/off VR. Dalam urusan manual fokus, lensa ini unik karena pada tuas tertulis kode A – M (bukannya M/A – M seperti lensa Nikon yang lebih mahal) namun dalam penggunaan manual fokus kita bisa memutar ring fokus kapan saja tanpa harus menggeser tuas dari posisi A ke posisi M. Gerakan zoom lensa saat di putar terasa kokoh dan tidak ‘enteng’ seperti lensa kit 18-55mm. Lensa buatan Thailand ini memiliki mounting dari plastik sehingga perlu hati-hati saat membawa kamera, jangan menggenggam pada lensanya (supaya tidak patah).
Kinerja
Hanya ada dua hal yang perlu diketahui soal kinerja lensa ini, yaitu kecepatan motor fokus AF-S dan performa stabilizer VR. Saya tidak tahu jenis motor SWM di dalam lensa ini apakah tergolong motor kelas murah (seperti motor SWM di 18-55mm atau 55-200mm) ataukah yang kelas cepat (seperti motor SWM di 18-200mm atau 24-70mm). Anggaplah dengan harga jualnya yang terjangkau, motor AF-S di lensa ini masih memakai motor kelas murah; maka saya rasakan kecepatan penguncian fokus di lensa ini tergolong amat cepat, sekitar setengah detik dalam kondisi ideal. Kinerja mulai menurun saat dipakai di low-light, atau bila kamera mencoba mengunci fokus pada objek foto yang kontrasnya kurang.
Soal stabilizer, sistem VR di lensa ini memang bukanlah sistem VR generasi II yang sanggup bekerja hingga 4 stop. Nikon meng-klaim VR disini hanya bisa 3 stop, meski kenyataannya tentu hasilnya bisa bervariasi. Terdengar suara halus dari dalam lensa saat VR aktif (tombol shutter ditekan setengah) dan efek stabilisasi bisa dirasakan melalui viewfinder optik. Soal hasil pengujian VR di lensa ini bisa dilihat di pengujian di bawah ini.
Kinerja lensa secara umum
Fokal lensa dan bukaan diafragma
Lensa 18-105mm ini punya rentang fokal yang cukup lebar, dengan kemampuan mengambil area yang luas (wideangle) hingga medium tele. Lensa semacam ini tentu amat disukai oleh mereka yang membeli kamera DSLR untuk travelling, karena kemampuannya menjangkau wide hingga tele tadi. Pada posisi lensa 18mm, dengan adanya crop factor kamera Nikon DX maka akan menjadi 27mm dan pada posisi lensa 105 akan menjadi 157,5mm. Untuk mendapat gambaran seperti apa kemampuan rentang fokal ekstrim lensa ini, berikut adalah foto replika candi Borobudur yang diambil dari kejauhan.
Adapun untuk urusan bukaan diafragma, lensa 18-105mm ini memang tergolong lensa lambat dengan bukaan variabel dari f/3.5 hingga f/5.6. Bagi yang belum mengetahui, lensa zoom ekonomis memang tidak punya bukaan maksimal yang tetap pada seluruh panjang fokal, sebagai gantinya bukaan maksimum lensa akan semakin mengecil seiring perubahan posisi fokal lensa. Sebagai contoh, pada posisi 18mm bukaan maksimal lensa ini adalah f/3.5 namun begitu posisi lensa berubah ke 24mm maka bukaannya maksimalnya turun ke f/4. Yang membuat saya cukup terkejut adalah bahwa lensa ini sudah mencapai bukaan maksimum f/5.6 bahkan pada posisi fokal baru mencapai 70mm, sehingga di rentang 70 – 105mm bukaan maksimumnya sudah stabil di f/5.6. Jadi saran saya, bila anda perlu memasukkan cahaya sangat banyak (ingin bukaan diafragma sebesar mungkin) hindarilah memakai posisi fokal diatas 70mm.
Ketajaman
Sifat alami lensa pada umumnya akan memberi ketajaman maksimal di bukaan sekitar f/8 dan akan soft di bukaan maksimal dan minimal (akibat difraksi), demikian juga halnya dengan ketajaman yang diberikan oleh lensa ini. Karena dengan 15 elemen yang tersusun di dalam sebuah lensa ini, adalah wajar bila ketajaman juga akan berbeda pada tiap posisi fokal, dan lensa akan cenderung lebih soft pada posisi ekstrim di 18mm dan 105mm. Ketajaman juga tampak berkurang di bagian tepi dan ini merupakan konsekuensi memakai lensa DX, bukan suatu masalah bagi yang memakai lensa ini untuk memotret orang/wajah, namun mungkin akan jadi masalah bagi mereka yang memakai lensa ini untuk memotret landscape. Dari hasil pengujian, lensa ini punya optik yang tergolong bagus karena mampu memberi ketajaman dan kontras yang stabil di sepanjang rentang fokal, dengan sedikit penurunan terjadi di posisi 105mm (apalagi bila hasilnya dibandingkan dengan lensa fix AF-S 105mm micro).
Kinerja VR
Saya ingin membuktikan efektivitas stabilizer VR pada lensa ini, dimana VR berfungsi untuk mengkompensasi getaran tangan saat memotret sehingga mencegah foto jadi blur. Sebagaimana yang kita tahu, kamera cenderung akan memberikan hasil foto yang blur akibat getaran tangan yang umumnya terjadi saat shutter terlalu lambat dan/atau fokal lensa terlalu panjang. Di contoh pengujian kali ini, saya memakai speed 1/10 detik dan posisi fokal lensa 105mm, dimana kombinasi keduanya hampir pasti akan menghasilkan gambar yang blur tanpa VR. Ternyata dengan memakai VR, saya tetap bisa membuat hasil foto yang tajam meski speed yang saya pakai itu 3 stop dibawah speed minimum secara teori 1/panjang fokal (fokal 105mm semestinya memakai speed 1/100 detik). Dari pengujian tadi, disimpulkan bahwa VR berfungsi dengan baik dan efektif mencegah foto blur akibat pemakaian shutter lambat dan/atau fokal tele. Sebgai catatan, VR bukan untuk mencegah blur akibat gerakan objek yang difoto, dia hanya mencegah blur akibat gerakan tangan si fotografer. VR juga tidak berdaya untuk speed terlampau rendah (dibawah 1/8 detik) untuk itu gunakan tripod.
Cacat lensa
Secara fisika, cacat atau penyimpangan optik memang harus dialami setiap lensa, sebutlah misalnya distorsi, flare, vignetting dan chromatic abberation. Semakin mahal lensa, makin baik kemampuannya dalam meminimalisir cacat yang terjadi. Jadi saat memilih lensa ekonomis, tentu soal cacat lensa ini perlu dikompromikan. Perlu dicatat bahwa cacat lensa yang saya maksud bukan cacat dalam manufaktur seperti cacat fokus (front focus/back focus) atau penyimpangan warna/tone.
Lensa 18-105mm merupakan lensa zoom yang rentan terhadap distorsi. Di posisi 18mm, lensa mengalami cacat yang nyata dalam hal distorsi dimana garis jadi tampak melengkung keluar (barrel) dan ini membuat lensa ini tidak cocok untuk urusan foto arsitektur atau interior. Namun begitu kita memakai fokal diatas 18mm, lensa langsung berbalik mengalami distorsi kedalam (pincushion), padahal biasanya pincushion hanya terjadi di posisi tele maksimum. Biasanya untuk mengatasi kelengkungan ini foto harus diolah lagi memakai software komputer.
Saat lensa mendapat sorot matahari dari samping, sinar matahari akan terpantul-pantul diantara susunan lensa dan menyebabkan flare. Pada lensa ini tampaknya flare dapat diatasi dengan baik sehingga tidak mudah muncul. Demikian juga dengan vignetting atau fall-off atau dark corner, suatu fenomena lensa yang cenderung lebih gelap di bagian pojok, tidak terlalu nampak pada hasil foto aktual. Lensa ini pun saya akui mampu mengatasi fenomena purple fringing atau chromatic abberation, suatu kondisi dimana muncul warna keunguan di bagian foto yang beda kontras amat tinggi. Lensa ekonomis umumnya tak bisa menghindari cacat ini karena sedikitnya pemakaian elemen lensa ED atau elemen aspherical. Kamera modern seperti D90 bisa otomatis menghilangkan cacat ini melalui prosesor di dalam kamera, sementara kamera lawas masih harus menerima hasil dari lensa yang terpasang apa adanya. Pada beberapa kasus lensa ini masih sedikit menampakkan purple fringing meski jauh lebih baik daripada lensa 18-135mm.
Makro
Salah satu hal yang ingin diketahui oleh calon pembeli lensa adalah kemampuan makronya. Lensa 18-105mm punya rasio reproduksi makro 1:5, dan minimum focus distance sejauh 45 cm. Tidak ada tuas selektor macro di lensa ini, menandakan memang lensa ini tidak ditujukan untuk keperluan fotografi makro. Namun untuk kebutuhan makro sekedarnya, lensa ini masih bisa diandalkan.
Tampak 100% crop dari sebuah micro SD card yang masih tampak tajam dan detil, diambil dari jarak sekitar 50 cm dari objek. Lumayan untuk ukuran lensa non makro.
Bokeh
Bagi anda yang penasaran ingin melihat kemampuan lensa ini dalam membuat out of focus atau blur pada background (biasa disebut dengan bokeh), tampaknya saya akan membuat anda kecewa. Adalah hal yang wajar bila lensa ekonomis punya bokeh yang biasa saja, bahkan belum sanggup membuat latar yang benar-benar blur. Untuk bokeh sesungguhnya, tentu lensa fix apalagi yang bukaannya besar tentu lebih cocok. Berikut contohbokeh yang dihasilkan lensa 18-105mm pada posisi 105mm dan pada bukaan maksimum f/5.6. Sebagai pembanding saya tampilkan hasil foto dari lensa khusus makro, 105mm VR micro dengan bukaan f/2.8.
Tentu saja dari perbandingan di atas tampak kalau kedua lensa memiliki bokeh yang jauh berbeda, meski digunakan pada fokal yang sama yaitu 105mm. Pada lensa 18-105mm samar-samar masih tampak bentuk latar yang berupa dedaunan, namun pada lensa 105mm micro, latar sudah sangat blur sehingga sulit ditebak kira-kira benda apa yang ada di belakangnya. Baik dalam hal bukaan diafragma (f/5.6 melawan f/2.8) ataupun dalam hal harga, kedua lensa yang diuji di atas jelas berbeda kelas, maka itu wajar bila hasilnya pun berbeda. Kemampuan bokeh lensa 18-105mm ternyata tak banyak berbeda dengan lensa kit lain semisal 18-55mm.
Kesimpulan
Banyak orang yang mencari sebuah lensa yang bisa dipakai untuk kebutuhan fotografi dasar sehari-hari, dengan ciri ukuran kecil, rentang fokal yang lebar (wide hingga tele), ada sistem VR, optiknya bagus dan tentu harganya terjangkau. Keuntungan bagi anda yang memakai DSLR Nikon adalah banyaknya pilihan lensa yang masuk dalam kriteria ini, seperti lensa kit D70 yang legendaris (18-70mm namun tanpa VR), 16-85mm VR hingga 18-200mm VR. Nah, lensa 18-105mm VR ini pun mampu menjadi salah satu pilihan yang menarik karena memenuhi semua kriteria yang saya tuliskan di atas.
Sebagaimana layaknya lensa walk-around pada umumnya, lensa ini juga bukanlah lensa high performance yang dicari para profesional. Sebutlah karena material mountingnya yang terbuat dari plastik, bukaan diafragmanya yang tergolong lambat, tidak kompatibel dengan format FX / full frame, hingga cacat distorsinya yang tampak jelas membuat garis jadi melengkung. Selain masalah di atas, lensa ini merupakan lensa yang praktis dan bisa diandalkan untuk menghasilkan foto-foto yang indah, warna yang natural, kontras dan ketajaman yang tetap terjaga pada sepanjang rentang fokal.
Sebagai penutup, kesimpulan dan saran saya terhadap lensa 18-105mm VR ini adalah :
- dalam banyak hal lensa ini sedikit lebih baik dari lensa kit pada umumnya (rentang fokal lebih lebar, lebih mantap digenggam, ring manual fokus lebih presisi dan diameter filter lebih besar)
- lensa ini cocok untuk anda yang mencari lensa travelling (dipakai jalan-jalan) yang ringkas dan ringan berkat rentang fokalnya yang ekuivalen dengan 27-157mm
- lensa ini bisa dipilih bila anda tidak ingin memiliki lensa 18-200mm VR (entah karena mahal atau karena berat) meski tentu fokal 105mm hingga 200mm tak mungkin dijangkau oleh lensa ini
- bila anda mau menambah dana untuk mencari lensa yang lebih ’serius’ daripada lensa ini, bisa pertimbangkan AF-S 16-85mm VR yang punya mount logam, meski secara kualitas optik keduanya hampir sama dan sama-sama bukan lensa cepat
- bila mau menambah lensa tele sebagai pelengkap lensa ini, bisa coba memakai AF-S 70-300mm VR (meski nantinya jadi ada sedikit overlap range di 70-105mm)
- lensa ini tidak cocok untuk anda yang sering memotret benda-benda dengan garis tegas karena distorsi lensa ini yang cukup parah
- lensa ini cukup nyaman bila ingin mencoba manual fokus karena ring manual fokusnya cukup presisi
- lensa ini kurang cocok untuk penggemar landscape murni yang perlu ketajaman di semua bidang foto
- lensa ini kurang cocok untuk penggemar bokeh yang creamy, untuk itu gunakan lensa fix
- lensa ini lumayan cocok untuk yang suka candid, jurnalistik atau sport karena motor AF-nya lumayan cepat, plus VR yang efektif hingga 3 stop
- bagi pemilik D40 – D5000, bila anda ingin upgrade dari lensa kit 18-55mm ke lensa ini, lakukan hanya jika anda merasa fokal 55mm dirasa kurang cukup untuk kebutuhan tele (karena secara kualitas optik keduanya relatif sama)
- bagi pemilik D90 yang sudah paket dengan lensa kit 18-105mm ini, bila anda ingin menjual lensa kit ini dan lalu membeli lensa lain, pertimbangan terbaik adalah lensa 18-200mm VR.
Inilah review lensa 18-105mm VR yang bisa saya buat untuk anda pemakai DSLR Nikon, dengan segala keterbatasan teknis, waktu dan pengetahuan yang saya miliki. Untuk pertanyaan, koreksi dan diskusi seperti biasa lewat kolom komentar berikut ini.
Note : ada yang tahu dimana letak replika candi Borobudur pada foto diatas?




RSS - Posts
VR nya keren juga. Sepertinya, 1/10 itu udah 4 stops. Karena untuk camera crop sensor, 105mm itu berarti sekitar 157mm (105 X 1.5). Sehingga secara teori, minimal dibutuhkan 1/157 atau digenapkan 1/160.
Saya akui VR lensa ini lebih efektif dari 55-200 yg saya uji awal tahun lalu, rasio kegagalannya pun (saat dipakai 3 stop lbh rendah) sangat kecil. Tapi kalo 1/10 detik pada 105mm itu dianggap 4 stop, wah lensa ini setara dgn lensa yg pake VR II dong.. (meski tetap tdk ada pilihan fitur VR active atau VR normal).
Ini juga tergantung pada seberapa solid pegangan mas gaptek. Mungkin mas gaptek pegang kamera dan lensanya lebih dari “average” fotografer. Selamat ya mas
He..he..he.., kemarin saya pernah satu kali bisa bikin foto tajam tanpa VR, posisi fokal 105mm, speed 1/10 detik. Itu bener2 nahan nafas sama posisi tangan sekeras batu, ha..ha.. kalo diulang lagi belum tentu bisa tuh.
mas gaptek, tadi mas gapek bilang kalo pertimbangan lain selain lensa ini yaitu lensa 16-85 VR II (harga hampir sama dgn 18-200), kalo dengan lensa 18-70 (harga relatif sama soalnya) gimana dgn kata lain apa kelebihan ma kekurangan lensa 18-70 dibanding 18-105? apa pengaruh ketiadaan VR di lensa 18-70 cukup pengaruh mas? kalo menurut mas gaptek, mending mana lensa D90 kit, ato D90 plus 18-70 (yang kedepannya mungkin bs dikawin sama 70-300 VR II AFS) baik segi cacat lensa, ketajaman, tone warna? ….
18-70mm tidak ada VR namun memang apakah di rentang fokal begini VR dianggap mutlak perlu atau tidak masih jadi perdebatan, tapi prinsipnya para fokal berapapun, VR bisa membantu kita mendapat foto yg tajam. Selain dari VRnya, dalam segala aspek 18-70 mampu meng-ungguli 18-105 utamanya dlm hal build quality dan bukaan diafragma ug lebih besar. Kalo ditanya mending mana tentu kembali pada kebutuhan masing2, tapi kalo dari segi ketajaman dan tone semua lensa consumer grade nikon punya optik dan karakter yg serupa. Mending 16-85 deh
mas gaptek, bikin review 16-85 donk.
tapi kok mahal yah
apa ndak mending beli yg tele sekalian bila sudah ada kit 18-55 mas
Bila sudah punya 18-55, bisa tukar tambah ke 18-105 atau tetap dgn 18-55 tapi nambah lensa 55-200. Kalau ganti jadi 18-105, anda memang tidak bisa menjangkau area diatas 105mm, tapi praktis karena satu lensa tidak harus gonta ganti. Bila anda perlu tele tentu 18-55 tidak perlu dijual, cukup nambah 55-200 tapi ya tiap pergi perlu bawa dua lensa dan bakal sering berganti lensa.
wah Mas gaptek, mohon sarannya dong, aku dah punya 18-55 dan 70-300, pengennya seh ganti 18-55 ama 18-105 VR itu, tapi lensa prime 55/F 1.8 juga menarik..mohon pencerahannya dong…
Kalau 18-55 diganti dgn 18-105, ada sedikit overlap dgn lensa 70-300 tapi tidak masalah. Hanya saja tidak ada perbedaan dlm hal image quality antara 18-55 dan 18-105, jadi pilihan lebih ditujukan apabila anda merasa 18-55 ini kurang dalam hal fitur (VR, manual focus, hood dsb). Saran saya lebih baik beli prime semisal 50mm f/1.8 saja utk low light.
Mas Gaptek….
Makasih atas infonya….
om gaptek milihan mana lensa 18 105 ato 18 – 135 punya d80???
klo bodynya pke d80..
dari sgi ktajamn dan keunggulan lain2nya???
thnkyu ya pak…..
Soal ketajaman sih sama, tapi memang 18-135mm itu menang di tele (135mm dibanding 105mm), meski dalam pelaksanaan di lapangan perbedaan ini tidak terlalu banyak. Saya lebih perlu VR dibanding ektra 20mm di tele, so saya lebih suka 18-105mm.
Mas gaptek, punya informasi tentang Tokina AT-X Pro 20-35mm F/3.5? mohon dishare, apa lensa ini punya auto focus (AF) ga?? kira2 bisa dipasang ke Nikon D-80??
Kalau bisa di pasang di D80, Kira-kira hasilnya bagus ga yaaa atau untuk pemotretan seperti apa??
saya belum tahu lensa tsb, fix aperture ya? Tampaknya lensa yg cocok utk SLR film atau DSLR FF. Kalau dipasang di D80, selama mount F / nikon mount tentu bisa dipasang, bicara AF kalau D80 kan punya motor di bodi jadi tentu bisa AF. Ditilik dari rangenya sih tentu utk wide zoom ya, bagus tidaknya sih relatif tapi Tokina cukup diakui dalam urusan lensa wide.
saya belum tahu lensa tsb, fix aperture ya? Tampaknya lensa yg cocok utk SLR film atau DSLR FF. Kalau dipasang di D80, selama mount F / nikon mount tentu bisa dipasang, bicara AF kalau D80 kan punya motor di bodi jadi tentu bisa AF. Ditilik dari rangenya sih tentu utk wide zoom ya, bagus tidaknya sih relatif tapi Tokina cukup diakui dalam urusan lensa wide.
mas gaptek, kayaknya tokina Tokina AF 16.5-135mm F/3.5-5.6 DX dah keluar dengan harga hampir sama dengan nikon 16-85, lensa tokina ini support engga dipasang di Nikon mas ? trus gimana dgn kualitasnya dibanding sama nikon 18-105 AFS dan 16-85 baik build quality atopun hasil jepretnya…? wah bisa jadi lensa all round ya mas…..? wass. wr wb…
Soal motor di lensa, kabarnya lensa ini PUNYA motor di lensa, meski tidak sekelas dgn SMW punya Nikon atau HSM punya Sigma. Oh, yang anda tanya support di DSLR Nikon ya? Selama yg dibeli adalah lensa dgn F mount, tentu bisa dipasang di semua SLR Nikon, film atau digital.
Soal kualitas memang belum ada pengujiannya, saya juga masih menantikan ada review dari situs luar. O ya, dgn rentang lensa 16.5 – 135mm, tentu kompromi optik lebih tinggi dari lensa 18-105mm apalagi 16-85mm, maksudnya lensa dgn zoom lbh panjang cenderung punya masalah optik lbh banyak.
replika itu dPRJ masgaptek.. ya kan.. hhee
Yup, anda benar..
mas gaptek, nyimpang dikit ga papa kan, kalo lensa fix, misalnya lensa 50 f1.4 ato lensa 85 f1.8, dibuat untuk foto landscape, masih cukup tajam engga mas pemandangannya mengingat kata mas gaptek di atas lensa 18-105 ini kurang cocok untuk penggemar landscape murni yang perlu ketajaman di semua bidang foto? thx jawabannya
klo lensa 18 – 105 dengan 18 – 200 ???
pilih mna mas????
(sory nanya lgi)saya pengen nyari lensa untuk traveling ok untung hunting biasa ok…
rekomendasinya yg mana ya mas???
thnkyu…
18-200 aja kalo dananya ada. Build quality menang, VR juga lbh advanced.
wah, jadi tambah yakin mau beli 18-105, buat jalan2 soalnya, jadi agak repot kalo mau ganti2 lensa (sebenernya rada males).. dan 18-55 saya rasa kurang ‘jauh’.
ehm.. beberapa minggu yang lalu saya udah ke toko mau beli 18-105, tapi abis, sialan, eh terus saya ragu mau bali atau engga. *lho jadi dongeng*
lho, saya kira bokehnya lebih bangus dari 18-55, ternyata sama tho..
Sama aja, kalo lensa all-round gini gak usah banyak berharap sama bokeh. Bokeh itu dari lensa prime bukaan besar atau pake lensa tele dgn posisi fokal mentok tele maks.
MAS BAGAIMANA JIKA DIBANDINGKAN DENGAN 24-120 VR KARENA AKU KEMARIN NYOBA PUNYA TEMAN , SEBENARNYA TIDAK TERLALU MEYAKINKAN KARENA HANYA MENANG DI VR DAN SISI TELENYA SAJA, KARENA AKU PAKE D40 JADI SISI WIDENYA MALAH JADI TANGGUNG, NAMUN DI SISI TELENYA GAMBARNYA MALAH CENDERUNG SOFT.
Ya begitulah, seperti yg anda bilang. Lensa zoom dgn awalan 24mm ini kurang tepat kalau dipasang di D40 karena akan menjadi 35mm dan kita kehilangan kemampuan wideanglenya. Lensa zoom memang cenderung soft di ujung tele, meski lensa yg lbh mahal tentu mampu menghandle softness ini dgn lebih baik. Saya pernah iseng pasang lensa 24-70mm di D40 dan terasa kurang fleksibel meski lensa ini tajamnya ampun…
saya baca di salah satu majalah foto katanya VR untuk lensa ini sudah termasuk VR II tapi sebenarnya apa sih bedanya VR dan VR II pada hasil foto, utamanya di D40 ? Terus kalo ada kesalahan atau cacat lensa yaitu distorsi lensa, apakah berarti lensa ini tidak cocok misalnya untuk memotret gedung atau jembatan misalnya. anyway thanks.
Dan untuk semuanya selamat menunaikan ibadah puasa
Bedanya VR dan VR II secara spesifik sih Nikon tidak menjelaskan, hanya seputar efektifivitas saja. VR II diklaim mampu 4 stop, sementara VR lama sekitar 3 stop. Saya menyimpulkan lensa VR II dari ada tidaknya tombol VR mode di lensa : active – normal – off sementara VR lama hanya on – off saja. Kabarnya VR II juga cerdas mengenali gerakan panning.
Distorsi memang mengganggu foto arsitektur spt gedung, namun distorsi dari lensa ultra wide itu pengecualian. Bila perlu bisa dikoreksi pake software meski tidak sempurna.
Met puasa juga..
Satu lagi mas jika lensa yang ada saat ini 18-55 (lensa kit d40) tak jual dan diganti dengan 18-105 ini apakah ketajaman dari lensa ini sama dengan lensa kit ataukah jauh lebih baik.
thanks ..
18-105 tidak lebih tajam dari 18-55, setidaknya itu menurut pengamatan saya. Maka itu jika anda puas dgn ketajaman 18-55, mestinya anda juga puas dgn 18-105.
Singkatnya gini, buat saya 18-55 cuma kurang panjang saja, saya perlu satu lensa yg bermula di 18mm dan berakhir di kisaran 70-135mm. Nah, diantara 18-70, 18-105 dan 18-135 hanya 18-105 lah yg ada VR, makanya saya menukar lensa 18-55 ke 18-105. Sedangkan masalah utama dari 18-105 menurut saya adalah distorsi lensanya yg aneh, menunjukkan barrel dan pincushion yg nyata.