Kamera digital favorit saya di 2009

Tiba saatnya saya menuliskan jajaran kamera digital yang jadi favorit saya di tahun 2009 ini. Sebagai disclaimer, saya nyatakan kalau daftar yang saya buat ini murni merupakan opini pribadi dan bukan merupakan rekomendasi atau panduan belanja untuk pembaca. Anda belum tentu mesti sependapat dengan saya dan adalah wajar  bila diantara kita punya kamera favorit yang berlainan. Di daftar ini saya masih menyusun kamera yang saya favoritkan berdasar kelompok (DSLR, prosumer dan kamera saku), yang masing-masing diisi oleh tiga kamera yang paling saya sukai di tiap kelompok disertai alasan dan fitur singkatnya.

Tanpa perlu berlama-lama, inilah kamera-kamera digital di tahun 2009 ini yang saya favoritkan.

Kelompok kamera DSLR :

1. Canon EOS 5D mark II : dahsyatnya full-frame plus full HD movie

Masih ingat Canon EOS 5D? Kamera DSLR full frame dari Canon itu tercatat menjadi DSLR full frame termurah yang populer di kalangan profesional. Pada September 2008 Canon meluncurkan penerusnya yang bernama EOS 5D mark II demi menjaga persaingan dengan Nikon D700. Resolusi kali ini menjadi 21 MP sehingga sudah mendekati DSLR full frame kelas kakap seperti EOS 1Ds mark III, Nikon D3x atau Sony A900. Dengan banyaknya penyempurnaan dibanding produk sebelumnya, kualitas ISO tinggi dari sensor CMOS full frame beresolusi 21 MP, ditambah kemampuan fitur movie full HD, membuat kamera DSLR full frame berharga 30 jutaan ini menempati peringkat pertama dalam daftar kamera DSLR favorit saya di tahun 2009.

Inilah fitur utama dari Canon EOS 5D mark II :

  • sensor CMOS resolusi 21.1 MP, full frame
  • mendukung semua lensa EF tanpa mengalami crop-factor
  • material bodi campuran logam dan magnesium alloy dan anti lembab dan debu
  • prosesor Digic 4, 14-bit AD conversion
  • LCD ukuran 3 inci dengan resolusi 920-ribu piksel
  • Live view dan anti debu pada sensor
  • tiga pilihan ukuran file RAW
  • 15-titik AF (ya, masih jauh bila dibandingkan dengan Nikon D700)
  • 3.9 fps (RAW maksimal 15 foto)
  • sensitivitas hingga ISO 25.600
  • mampu merekam video resolusi full HD, 30 fps, MPEG-4 codec hingga batas 4GB
  • bisa memilih paket penjualan dengan lensa kit EF 24 – 105 mm f/4L IS
  • pesaing terdekat : Sony A900 sebagai sesama DSLR full frame semi-pro beresolusi tinggi, meski Sony tanpa fitur movie

2. Nikon D90 : serasa memakai DSLR kelas semi-pro

d90_18_105vr_frt

Nikon D90 merupakan kamera DSLR pertama di dunia yang mampu merekam video. Tapi bukan lantaran faktor itu yang membuat saya menobatkan Nikon D90 ini jadi kamera DSLR favorit saya. Faktanya, Nikon D90 sudah lebih dari cukup untuk memenuhi hasrat fotografi sebagian besar fotografer. Betul kalau diatas D90 ini masih ada D300 (salah satu kamera DSLR favorit saya di 2008) yang sama-sama berformat DX, namun fitur D90 saja sudah sedemikian lengkapnya dan kualitas ISO tinggi yang prima membuat saya jatuh hati pada DSLR mid-class ini, meskipun kamera seharga 13 juta ini bukanlah tergolong kamera kelas semi-profesional seperti D300. Karena beberapa keunggulan itulah maka saya menempatkan D90 ini di posisi dua kamera DSLR favorit saya di 2009.

Inilah fitur utama dari Nikon D90 :

  • sensor CMOS resolusi 12.3 MP format DX (APS-C)
  • mendukung lensa dengan Nikkor F-mount (yang berulang tahun ke 50), crop factor 1,5x
  • LCD berukuran 3 inci dengan 920-ribu piksel
  • Live view dan anti debu pada sensor
  • ISO resmi adalah ISO 200 – 3200, meski sebenarnya bisa mencapai ISO 100 – 6.400
  • 11-titik AF dengan 3D tracking (ya, masih jauh bila dibandingkan dengan Nikon D300)
  • 4.5 fps
  • mampu merekam video HD 1280 x 720, 24 fps
  • wireless flash
  • GPS unit tambahan untuk geotagging (GP-1)
  • tersedia paket penjualan dengan lensa kit 18 – 105 mm f/3.5-5.6 ED VR
  • pesaing terdekat : Canon EOS 50D sebagai sesama DSLR mid-level, meski 50D juga lawan sepadan dari Nikon D300

3. Olympus E-620 : entry level tak berarti minim fitur

olympus-e-620

Tak pelak kalau kamera DSLR entry level menjadi produk paling banyak peminatnya, mengingat harganya yang masih terjangkau dengan kualitas hasil foto yang sudah cukup memuaskan.  Tak heran kalau produsen pun gencar membanjiri pasaran dengan produk anyarnya. Nikon dan Canon sudah mengejutkan pasar dengan produk anyar mereka yaitu D5000 dan EOS 500D yang dilengkapi fitur movie HD. Namun ada kalanya fotografer pemula yang mencari DSLR entry-level tidak memerlukan fitur movie yang membuat harga kamera menjadi tinggi. Nah, kali ini saya justru melirik satu kandidat lain yang cukup jarang dibahas, padahal punya fitur yang amat lengkap untuk ukuran DSLR murah. Adalah Olympus, sang pengusung format four thirds yang akhirnya membuat gebrakan dengan membuat penerus E-610 yang bernama E-620 dengan mengambil sebagian fitur andalan dari sang kakak E-30 namun dengan bodi yang kecil dan ringkas. Harap diingat kalau DSLR Olympus (dan Pentax serta Sony) menerapkan stabilizer pada sensor, sehingga lensa apapun yang dipasang akan mengalami keuntungan dari fitur stabilisasi ini. Adanya stabilizer dalam bodi, plus 7 titik AF dengan 5 cross-type sensor dan dukungan akan wireless flash, membuat kamera DSLR seharga 8 jutaan ini mampu menempati peringkat ketiga kamera DSLR favorit saya di 2009, mengalahkan Canon 500D dan Nikon D5000 (meski E-620 tidak dilengkapi fitur movie).

Inilah fitur utama dari Olympus E-620 :

  • sensor Live MOS, resolusi 12.3 MP, format 4/3
  • 2x crop factor
  • stabilizer pada sensor
  • Live view dan anti debu pada sensor
  • LCD ukuran 2.7 inci yang bisa dilipat, resolusi 230,000 piksel
  • 7-titik AF, 5 diantaranya cross type AF (wow!)
  • ISO 100 – 3200
  • 4 fps
  • wireless flash
  • Dua slot memory card (CompactFlash dan xD)
  • tersedia paket penjualan dengan lensa kit 14 – 42 mm
  • pesaing terdekat : Canon EOS 500D dan Nikon D5000 sebagai sesama DSLR entry level sarat fitur

Kelompok kamera Prosumer :

1. Lumix GH1 : best of both worlds

gh1k_front

Bila tiba waktunya mencari kamera yang sama baiknya untuk foto dan video, bisa jadi Lumix GH1 ini jawabannya. Menjadi penerus/penyempurna dari Lumix G1 yang merupakan kamera hybrid pertama di dunia bersensor Four Thirds, Lumix GH1 ini menambahkan kemampuan full HD movie berkompresi AVCHD dengan tata suara Dolby stereo yang bisa auto fokus dengan lensa Lumix HD. Meski format micro 4/3 memakai sensor DSLR dan memungkinkan pemiliknya untuk berganti lensa, kamera ini tetap saja bukanlah DSLR. Sebut saja karena di kamera ini tidak ada cermin seperti yang ditemui di DSLR. Sebagai konsekuensinya, pengambilan gambar sepenuhnya memakai sistem live-view di LCD atau viewfinder dan proses auto fokus  sepenuhnya memakai contrast-detect AF. Hebatnya, meski auto fokus Lumix GH1 memakai sistem contrast-detect AF namun kinerja AF-nya luar biasa cepat layaknya memakai kamera DSLR. Dengan segala kelengkapan fitur dan terobosan format micro 4/3 yang diusung Panasonic, membuat kamera hybrid bersensor Four Thirds seharga 15 jutaan ini dengan mudah menempati posisi pertama di jajaran kamera prosumer favorit saya tahun 2009 dan mungkin juga untuk tahun-tahun berikutnya :)

Inilah fitur utama dari Lumix GH-1 :

  • sensor Live MOS resolusi 12.1 MP, format four thirds 4/3
  • paket dengan lensa Lumix G Vario HD 14-140mm f/4-5.8 OIS (ya, lensa lambat..)
  • prosesor berinti ganda : Venus Engine HD
  • sistem anti debu pada sensor
  • LCD berukuran 3 inci yang bisa dilipat dan diputar, resolusi 460-ribu piksel, refresh rate 60 fps
  • electronic viewfinder ekstra detail dengan 480-ribu piksel, terbaik diantara prosumer manapun
  • 23 titik AF metoda contrast detect yang secepat DSLR
  • mode manual lengkap plus file RAW
  • 3 fps
  • mampu merekam video full HD, 24 fps, Dolby Digital stereo, tombol khusus video
  • port HDMI
  • pesaing terdekat : Samsung NX sebagai sesama kamera hybrid

2. Fuji Finepix S200EXR : jawara prosumer berlensa fix

Fuji Finepix S200EXR

Bila di peringkat satu kamera prosumer diatas ditempati oleh kamera yang mengusung format interchangeable lenses, maka di peringkat kedua ini saya sajikan kamera prosumer dengan lensa fix/tetap. Sambutlah sebuah sinergi antara kamera prosumer sarat fitur dengan sensor Super CCD EXR yang terbukti handal : Fuji S200EXR, prosumer baru dari FujiFilm yang menggabungkan segala kebaikan yang ada pada pendahulunya S100FS dengan kehebatan sensor ‘3-in-1′ SuperCCD EXR yang handal di ISO tinggi maupun dalam urusan dynamic range. Layaknya sang kakak, S200EXR ini pun masih mengandalkan lensa 14x zoom yang bisa diputar manual. Selain sensor EXR baru, di S200EXR dijumpai beberapa penyempurnaan penting seperti fitur face detection dan Pro-Focus mode. Kenyaman lensa zoom manual ditambah sensor EXR yang handal dalam urusan noise dan dynamic range, membuat kamera seharga 7 juta ini mencuri hati saya di posisi dua kamera prosumer favorit saya.

Inilah fitur utama dari Fuji S200EXR :

  • sensor terbaru SuperCCD EXR ukuran 1/1.6 inci, beresolusi 12 MP
  • sensor punya tiga mode : Fine Capture (resolusi tinggi 12MP), Pixel Fusion (sensitivitas tinggi dan noise rendah, 6MP), dan Dual Capture (dynamic range tinggi, 6MP)
  • EXR Auto mode menganalisa objek foto dan otomatis memilih mode EXR
  • dynamic range bisa dinaikkan hingga 800%
  • lensa Fujinon 14X zoom, 30.5 – 436 mm f/2.8-5.3
  • Pro Focus Mode / Pro Lowlight Mode
  • stabilizer pada lensa
  • LCD 2.7 inci dengan 230-ribu piksel yang fix (pada S100FS bisa dilipat)
  • mode manual lengkap plus file RAW
  • ISO 100 – 12.800
  • Super Intelligent Flash dan TTL hotshoe
  • pesaing terdekat : adik kandungnya sendiri, FinePix S100FS

3. Canon SX1 : sensor CMOS dan HD stereo movie

powershot-sx1-is-flip

Canon SX1 (dan SX10) semestinya punya segalanya untuk bisa disebut kamera prosumer, namun kamera yang dibekali dengan lensa zoom 20x ini masih mengandalkan motor untuk proses zoomnya sehingga saya lebih suka menggolongkannya ke dalam kelas kamera super zoom. Berkat sensor CMOS resolusi 10 MP yang dipakainya membuat kamera penerus Canon S5 IS ini mampu beraksi cepat dengan mengambil 4 foto per detik dan juga sanggup merekam video full HD bertata suara stereo. Canon masih tetap mempertahankan segala hal-hal baik yang ada di S5 IS seperti layar LCD yang bisa diputar dan flash hot shoe, dan tombol khusus untuk merekam video. Meski ditempel ketat oleh pendatang baru Sony HX1 dan Casio EX-FH20, saya tetap menobatkan kamera seharga 6 jutaan ini sebagai peringkat tiga kamera prosumer favorit saya di 2009.

Inilah fitur utama dari Canon SX1 :

  • sensor CMOS beresolusi 10 MP
  • lensa 20x zoom, 28 – 560 mm f/2.8-5.7
  • LCD ukuran 2.8 inci widescreen beresolusi 230-ribu piksel yang bisa diputar
  • prosesorDigic 4
  • stabilizer pada lensa
  • merekam video resolusi full HD, 30 fps, H.264 codec, audio stereo, tombol khusus video
  • 4 fps continuous shooting
  • mode manual lengkap plus file RAW
  • hot shoe untuk lampu kilat eksternal
  • port HDMI
  • pesaing terdekat : Sony DSC-HX1 sebagai sesama ‘super 20x zoom‘ plus full HD movie dengan sensor CMOS

Kelompok kamera saku :

1. Fuji Finepix F200EXR : kamera saku serba bisa

fuji-finepix-f200

Saat bicara akan kualitas, tidak banyak yang bisa diharapkan dari sebuah kamera saku. Namun tidak demikian halnya dengan si mungil buatan Fuji yang bersensor EXR ini. Adalah Fuji yang memperkenalkan kamera pertamanya dengan sensor EXR yaitu Finepix F200EXR yang membuatnya menjadi kamera yang ‘kecil-kecil cabe rawit’. Inilah kamera saku 12 MP yang bisa digunakan untuk memotret ISO tinggi dengan hasil yang bersih (dengan resolusi 6 MP) ataupun memotret dengan dynamic range tinggi (yang juga dengan 6 MP) tanpa perlu pusing mengatur setting sensornya, semua serba otomatis. Itulah alasan utama saya menjadikan kamera berharga 4,5 juta ini menjadi favorit pertama saya di kelas kamera saku.

Inilah fitur utama dari Fuji F200EXR :

  • sensor terbaru SuperCCD EXR beresolusi 12 MP
  • sensor punya tiga mode : Fine Capture (resolusi tinggi 12MP), Pixel Fusion (sensitivitas tinggi dan noise rendah, 6MP), dan Dual Capture (dynamic range tinggi, 6MP)
  • EXR Auto mode menganalisa objek foto dan otomatis memilih mode EXR
  • dynamic range bisa dinaikkan hingga 800%
  • lensa Fujinon 5X zoom, 28 – 140 mm f/3.3-5.1
  • stabilizer pada sensor
  • LCD berukuran 3 inci dengan 230-ribu piksel
  • mode manual lengkap
  • ISO 100 – 12.800
  • Super Intelligent Flash
  • pesaing terdekat : adik kandungnya, Fuji F70EXR yang punya sensor sedikit lebih kecil

2. Lumix TZ7 : keajaiban desain lensa Leica

zs3-front

Yang istimewa kini bahkan semakin lebih baik. Saat Lumix TZ5 mampu mengejutkan dunia dengan lensa 28-280mm dalam dimensi kamera yang kecil, kini penerusnya Lumix TZ7 (atau ZS3) justru semakin mencengangkan dengan spesifikasi lensa lebih spektakuler dengan kemampuan optik 12x zoom yang bermula dari fokal amat wide di 25mm dan berakhir di 300mm. Hebatnya, desain lensa Leica ini tidak membuat kamera TZ7 ini menjadi berukuran besar, justru sebaliknya, tak ada yang menyangka kalau dibalik kesederhanaan kamera mungil ini tersimpan lensa Leica berkemampuan zoom besar dan optiknya tetap tajam baik saat wide 25mm hingga tele 300mm. Mengusung sederet fitur lain yang tak kalah mengagumkan seperti HD movie bertata suara stereo, membuat kamera yang dibanderol seharga 4 jutaan ini menempati peringkat kedua di daftar kamera pocket favorit saya di tahun 2009, meski kamera ini tidak dilengkapi dengan fitur manual mode.

Inilah fitur utama dari Lumix TZ7/ZS3 :

  • sensor CCD beresolusi 10.1 MP (ukuran 1/2.33 inci)
  • lensa 12x zoom, 25 – 300 mm f/3.3-4.9
  • prosesor Venus Engine HD
  • layar LCD berukuran 3 inci beresolusi 460-ribu piksel
  • stabilizer pada lensa
  • merekam video resolusi HD, 60 fps, AVCHD lite codec (9, 13 dan 17 Mbps), audio stereo, tombol khusus video
  • 2.3 fps
  • Intelligent Auto Mode (termasuk saat merekam video) yang menggantikan fitur manual mode (ya, tidak ada P/A/S/M disini)
  • port HDMI
  • pesaing terdekat : Canon SX200 IS sebagai sesama keajaiban super 12x zoom dalam ukuran mungil, plus fitur manual mode

3. Sony CyberShot DSC-WX1 : sensor dan lensa sama handalnya untuk low-light

Sony WX1

Sebuah hasil riset dari Sony melahirkan sensor CMOS Exmor R dengan back-illumination technology, menghasilkan gambar rendah noise bahkan di ISO tinggi. Memang sudah waktunya kamera saku memperbaiki diri dengan kemampuan low-light yang lebih baik, dan Sony menyadari hal ini dengan menempatkan sensor baru ini pada kamera saku CyberShot DSC-WX1. Tidak hanya mengandalkan sensor, Sony ini pun mendesain lensa Sony G dengan bukaan lebih besar dari kebanyakan kamera lain dengan f/2.4 yang tentu amat bermanfaat di kondisi low-light. Bagi pecinta landscape dan wide angle, lensa kamera ini juga amat menyenangkan dengan fokal yang bermula dari 24mm. Untuk urusan kerja cepat, anda bisa mengandalkan kinerja kamera ini yang bisa memotret sampai 10 gambar per detik, dan kecepatan shutter maksimalnya bisa mencapai 1/6000 detik. Selesai? Belum. Masih ada fitur sweep panorama dan HD movie 720p 30 fps di kamera mungil ini. Dengan imbangnya fitur, desain, kualitas, kinerja dan harga dari Sony DSC-HX1 ini, saya nobatkan kamera seharga 3,5 jutaan ini sebagai kamera saku peringkat ketiga yang saya favoritkan di tahun 2009 ini.

Inilah fitur utama dari Sony HX1 :

  • sensor CMOS Exmor R resolusi 10 MP
  • lensa Sony G, 5x zoom, 24 – 120 mm f/2.4-5.9
  • LCD berukuran 2.7 inci beresolusi 230-ribu piksel
  • prosesor Bionz
  • burst sangat cepat 10 fps (untuk 10 gambar)
  • stabilizer pada lensa
  • ISO 80-3200
  • sweep panorama
  • HD movie beresolusi 1280 x 720, 30 fps
  • pesaing terdekat : pemain di kelas kamera saku cukup banyak, namun dengan fitur, lensa dan sensor yang sama rasanya tidak ada

Itulah beberapa kamera digital yang saya favoritkan di tahun 2009 ini (meski kenyataannya sebagian dibuat tahun 2008). Harga jual yang saya tulis hanya merupakan kisaran semata dan bukan mewakili harga aktual di pasaran.

Anda punya kamera favorit di tahun ini? Silahkan berbagi dengan pembaca yang lain dengan berkomentar di bawah ini.

About these ads

83 thoughts on “Kamera digital favorit saya di 2009

  1. mau ikutan tny jg yah:
    1.) kl Nikon D90 ma D5000 harga nya lebih mahal D90 yah tp kl gw perhatiin kayak nya fitur nya sama aja kek D5000 ga ada beda nya gt ya
    Kl mnrt tmn2 yg ahli fotografi beda nya dmn yah?

    2.) Kl gw pny budget maksimal 15 juta an gt (syukur2 kl bs menemukan yg bgs tp dgn hrg yg jauh lbh murah) buat memotret model & pemandangan gt (krn suka wisata alam), & acara2 pas mlm hr gt
    Kira2 gw cocok nya pake Kamera DSLR apa yah dgn budget maksimal segitu (syukur2 kl menemukan yg bagus tp dgn rang’e harga yg jauh lbh murah) gt? Merek apa & type apa gt yg bgs?
    Gw bkn fotografer profesional sih cm buat sekedar hoby aja gw ma tmn gw suka bgt foto2 gt & suka wisata alam jd pengen mengabadikan moment2 yg indah lewat Kamera DSLR ini

    • D90 untuk mereka yg pakai lensa AF/AF-D termasuk prime murah meriah 50mm f/1.8 lalu untuk yg perlu finder prisma, dan perlu top LCD. Saya lupa D90 udah ada wireless flash commander belum.

      Landscape meski tidak harus, tapi memang sudah identik dgn lensa wide. Utk itu beli aja DSLR biasa, tapi lensanya yg wide spt 10-24mm, 12-24mm atau 10-20mm. Lensa wide agak mahal (6-12 juta) karena desain yg rumit.

    • 1. Lebih baruan aja.. terus LCDnya bisa puter

      2. Coba pertimbangkan Sony Alpha 500 / 550.
      Lensa kitnya sudah cukup bagus dan memadai dengan reproduksi warna buat lansekap yang menawan tanpa fotosiop lagi.
      Untuk motret model biar blurnya lebih alami, bisa pertimbangkan 50 mm f/1.8.

      Alternatif lain bisa pilih Pentax K-X yang harga kit di bawah 7 juta
      Kalau mau buat model bisa ambil lensa DA 40 mm atau sekalian ke FA* 77 mm nya yang legendaris

  2. kl D5000 ma D90 lebih bagus an yg mana?
    kalau di lihat dr segi harga emang D90 jauh lebih mahal dr D5000 tp apakah harga yang di tawarkan D90 memang setara dengan kemampuannya?

    kl dgn budget 15 jt an kira2 tmn2 rekomendasi apa yah?
    soalnya mau cari2 & kumpulin referensi dl merek & type apa yang cocok?

  3. Mas tanya dong, antara Canon 500D, Pentax K-x dan Olympus E-620 Mas Gaptek prever mana (walaupun sudah disebutin Olympus E-620 diatas.. Hehehe) Thx ya Mas, oh ya.. Review dikit dong soal 3 kamera itu..

    • kalo mau ngejar HD movie, Pentax K-x sudah bisa juga dgn harga lebih murah. Bagi saya 500D terlalu mahal, saya lebih suka 450D. Utk review tidak bisa kecuali ada yg mau minjemin kameranya… :)

  4. Wah thx mas quick responnya, jadi lebih value for money Pentax ya, kalo dari segi teknis bagusan mana ya mas sama 500D..? (Maklum pemula)

  5. Semua kamera yang disebutkan diatas adalah kamera yang bagus dengan segala macam kelebihan dan kekurangan masing-masing, jadi kalau pilihan yang tergantung seberapa banyak orang yang memakai punya ilmu untuk memotret dan seberapa besar kemauan untuk belajar terus-menerus. Ini untuk aku sendiri yang hanya sebuah entry level yang sederhana tapi ingin belajar terus. Bravo pencinta fotography

  6. Mas Gaptek…kenapa camera Canon seri G10/G11 tidak masuh hitungan yaaa….kalau menurut saya yg orang awam camera tersebut lumayan bagus

    • G10 memang sarat fitur tapi lensa dan hasil fotonya biasa2 aja, dan harganya terlalu mahal. Belum lagi kinerja burst dia amat lambat. Untungnya di G11 resolusi sensor diturunkan sehingga urusan noise di ISO tinggi jadi lebih baik.Overall saya jauh lebih tertarik sama Canon S90.

Comments are closed.