Sony SLT-A33 vs Lumix GH2, mencari format terbaik untuk kamera hybrid

Kamera yang oke untuk foto maupun video. Mungkin inilah yang jadi jawaban kita saat ditanya kamera seperti apa yang diinginkan. Langsung saja, bicara kualitas maka kita akan bicara soal kamera dengan sensor besar. Yang muncul di benak kita selanjutnya tentu kamera DSLR kan? Masalahnya, DSLR belum cukup mudah untuk urusan merekam video, apalagi bila sudah urusannya soal auto fokus. Kebanyakan DSLR belum bisa auto fokus saat merekam video, kalaupun ada kinerjanya belum sesuai harapan. Tanpa terobosan di bidang kamera, sulit mendapatkan kamera yang ideal (oke untuk foto dan video). Terobosan inilah yang kemudian menjadi awal kelahiran kamera hybrid, hasil pengembangan teknologi yang belum pernah dijumpai di era sebelumnya.

Sony Alpha A33

Saya ingin ulas sedikit soal dua kamera hybrid yang tergolong sukses meramu kemampuan video dan audio dengan sama baiknya, meski keduanya memiliki perbedaan konsep mendasar. Yang pertama adalah Sony Alpha A33 (hadir bersamaan dengan A55) sebagai kamera dengan cermin transparan (mewakili kubu DSLR yang berevolusi), dan kedua adalah Panasonic Lumix GH2 (kamera micro four thirds) mewakili kubu kamera tanpa cermin (mirrorless) namun bisa berganti lensa (interchangeable lenses).

Panasonic Lumix GH2

Keduanya sama-sama memiliki sensor berukuran besar yang membawa dua kabar baik : sensitivitas yang tinggi (merekam video di kondisi kurang cahaya bukan lagi halangan, meski tanpa bantuan lampu tambahan) dan kemudahan menghasilkan video seperti film bioskop / cinematic dengan latar blur. Kedua kamera yang ukurannya hampir sama ini tentu saja sudah mendukung resolusi video 1920 x 1080 piksel alias High Definition dengan kompresi AVCHD maupun M-JPEG. Keduanya memiliki bentuk kamera yang mirip, dengan mount lensa tersendiri, Sony A33 tentunya bisa dipasang lensa Sony atau Minolta, sedang Lumix GH2 memakai Micro 4/3 mount yang pilihan lensanya masih sedikit. Keduanya sebagai kamera hybrid, memiliki viewfinder LCD (ya, Sony A33 tidak punya finder optik) yang membedakan keduanya dari kamera DSLR konvensional. Untuk kemudahan dalam memotret maupun merekam video, layar LCD berukuran 3 inci pada kedua kamera ini bisa dilipat dan diputar, Sony A33 dilipat ke bawah sedang Lumix GH2 dilipat ke samping.

Perbedaan utama dari keduanya adalah dalam hal cermin. Sony A33 sebagai kamera digital SLT memang sangat mirip dengan DSLR, namun dengan cermin yang dimodifikasi menjadi semi transparan (SLT : Single Lens Translucent) sehingga bisa meneruskan dan memantulkan sinar dalam waktu yang bersamaan. Keuntungannya, saat live view atau saat merekam video, kamera tetap bisa memanfaatkan fasilitas auto fokus berbasis deteksi fasa. Di lain pihak, Lumix GH2 (dan semua kamera mirrorless) tidak mengenal yang namanya deteksi fasa, sebaliknya hanya mengandalkan auto fokus berbasis deteksi kontras. Meski sistem deteksi kontras lebih lambat dan sering mengalami ‘focus hunting’ namun Lumix GH2 diklaim sebagai kamera dengan kecepatan fokus yang amat cepat menyamai kamera DSLR.

Bagaimana dengan bedah fitur dari keduanya? Kita ulas satu per satu ya..

Sensor

Sony A33/A55 memakai sensor EXMOR berukuran APS-C dengan crop factor 1,5x sedangkan Lumix GH2 memakai sensor live MOS Four Thirds dengan crop factor 2x. Ukuran sensor Four Thirds memang sekitar 40% lebih kecil dari sensor APS-C, namun masih 9x lebih besar dari sensor kamera digital biasa bersensor 1/2.5 inci. Dalam hal ini sensor A33 sedikit lebih unggul dalam urusan mengatasi noise dan membuat bokeh yang baik, namun perhatikan kalau cermin di A33 memiliki sifat menahan 30 % sinar masuk ke sensor sehingga kalau dibandingkan dengan Lumix GH2 karakter noisenya hampir berimbang.

Posisi sensor pada Sony A33 masih mirip DSLR dengan adanya cermin di bagian depannya, sehingga bila lensa dilepas yang tampak adalah cerminnya, bukan sensornya. Pada kamera mirrorless seperti Lumix GH2 tidak lagi dijumpai adanya cermin sehingga sensor nampak begitu terbuka dan rentan terkenda debu atau benda asing lainnya.

Lensa

Ditinjau dari koleksi lensanya, Sony lebih diuntungkan dengan penggunaan Alpha Mount yang kompatibel dengan lensa Sony maupun lensa Minolta. Selain itu, adanya fitur Super Steady Shot pada sensor Sony membuat lensa apapun yang dipasang di A33 bisa merasakan fitur stabilizer. Sedangkan Lumix hanya mengandalkan lensa baru yang memakai mount Micro 4/3. Untuk bisa merasakan fitur stabilizer, pemakai Lumix GH2 perlu mencari lensa dengan fitur OIS. Kalaupun mau memakai lensa Olympus maka perlu memakai adapter khusus.

Sony A33/A55 dijual dengan paket lensa kit Sony DT 18-55mm f/3.5-5.6 SAM, sedangkan Lumix GH2 dijual dengan dua pilihan paket lensa kit, yaitu Lumix G Vario 14-42 mm f/3.5-5.6 OIS (setara 28-84 mm) dan Lumix G Vario HD 14-140 mm f/4-5.8 OIS (setara 28-280 mm).

Auto Fokus

Sony A33 menjadi satu-satunya kamera dengan cermin yang bisa menikmati AF deteksi fasa saat merekam video, mengandalkan 15 titik AF yang dimiliki A33. Bahkan urusan continuous AF saat merekam video jadi hal yang mudah dan tidak mengalami kasus ‘focus hunt’ seperti yang dialami oleh DSLR lain semisal Nikon D3100 (yang memakai deteksi kontras).

Salah satu kendala saat merekam video dengan auto fokus, suara putaran motor fokus bisa ikut terekam. Untuk urusan ini Lumix GH2 dengan lensa kitnya yang didesain khusus lebih mampu mengatasi kendala ini, karena memiliki motor fokus di lensa. Sebaliknya pada Sony A33 bila memakai lensa modern dengan teknologi SAM akan mampu menyamai lensa kit Lumix GH2, namun bila memakai lensa lain seperti lensa Minolta maka suara motor fokus bisa ikut terekam.

Sony A33 punya 15 titik AF

Ada issue lain yang perlu dicermati berkaitan dengan auto fokus memakai modul AF seperti DSLR atau Sony A33, yaitu kita tidak bisa menentukan fokus selain pada titik-titik yang sudah ditentukan sesuai modul. Hal ini akan menyulitkan saat live view sambil mengaktifkan fitur face detection, bila wajah yang dideteksi ternyata tidak berada pada titik AF kamera maka kamera akan gagal mengunci fokus ke arah wajah. Hal ini tidak akan terjadi pada Lumix GH2 karena dengan deteksi kontras, dimanapun titik fokus yang diinginkan tidak masalah. Maka itu Lumix GH2 juga memberikan fasilitas touch focus, alias kita yang menentukan bagian mana yang akan dibuat fokus dengan hanya menyentuh layar LCD. Lumix GH2 juga pasti akan terbebas dari masalah front-focus atau back-focus seperti pada DSLR.

Format Video

Kedua kamera sanggup merekam video berformat High Definition 1920 x 1080 piksel, audio stereo dengan kompresi AVCHD maupun M-JPEG bahkan tersedia frame rate tinggi yaitu 60 fps interlaced. Lumix GH2 pada kompresi AVCHD bahkan mampu merekam dengan bitrate 24 Mbps (bandingkan dengan Sony A33 yang hanya 17 Mbps) dan audio level yang bisa diatur serta kendali manual saat merekam video. Keduanya memang mumpuni untuk urusan video, format HD, kompresi efisien, audio stereo, continuous focus yang cepat dan hasil dengan bokeh yang baik layaknya film bioskop dengan bokeh yang baik, berkat sensor besar yang dimilikinya.

Fotografi

Fitur fotografi pada keduanya tak perlu diragukan, dengan hasil foto yang bagus dan kendali manual yang lengkap. Sony A33 layaknya DSLR pada umumnya, punya kinerja burst yang cepat, bahkan bila harus melakukan burst dengan continuous AF. Namun bila DSLR biasa melakukan burst dengan continuous AF memakai metoda live view barulah akan kedodoran, karena bila continuous AF memakai deteksi kontras pasti akan memakan waktu. Mengingat kamera mirrorless juga hanya punya deteksi kontras maka pastilah Lumix GH2 juga akan kedodoran. Bila diadu secara angka, Sony A33 bisa melakukan burst 6 fps dan Lumix GH2 hanya 2 fps, bila memakai continuous AF. Maka itu untuk urusan foto action yang cepat, Sony A33 lebih superior dibanding Lumix GH2.

Value for money

Terakhir adalah soal harga. Dengan segala kelebihannya, Sony A33 ‘hanya’ dijual dengan harga di bawah 7 juta lengkap dengan lensa kit. Sebaliknya, Lumix GH2 sebagai kamera Micro 4/3 andalan Panasonic justru dijual jauh lebih mahal dengan kisaran harga 9 jutaan. Sony tidak kesulitan membuat A33 begitu murah karena sudah memiliki teknologi DSLR yang baik dan cukup melakukan modifikasi cermin dan meniadakan prisma, sehingga tidak perlu biaya produksi yang tinggi. Di lain pihak Lumix GH2 adalah kamera tertinggi di kelas SLR-like setelah Lumix G2, Lumix GH1 dan Lumix G1 di masa lalu sehingga Panasonic merasa patut memberi bandrol GH2 dengan harga tinggi. Panasonic merasa sudah berinvestasi cukup banyak saat menemukan teknologi auto fokus berbasis deteksi kontras yang bisa sangat cepat layaknya DSLR, belum lagi viewfinder elektronik (EVF) yang terbaik dibanding kamera lain dan layar LCD 3 inci yang sudah touch screen, pantas untuk dijadikan alasan mengapa GH2 dijual begitu mahal.

Inilah tinjauan singkat dari saya, saat menilik perbedaan antara dua kamera hybrid yang saya anggap terbaik dan paling bisa mewakili dua kubu yang sedang saling menunjukkan yang terbaik. Ini akan mengawali dualisme standar kamera masa depan, mana yang bisa bertahan akan terus eksis di masa depan. Anda ingin berpartisipasi? Bisa dengan mengisi polling berikut, atau menulis pendapat anda di kolom komentar.

About these ads

11 comments

  1. SONY memang kuat dari riset dan investasi masa depan, namun apa mugkin semua vendor mengadopsi kemajuan SONY, banyak hal SONY saya lihat tidak mau sejalan dengan kesepakatan yang umum dipasaran.

    he he he … ini investasi lensa umumnya di Canon dan Nikon, kemana neh ?

    1. Bukannya tidak sejalan, yang menarik dicermati adalah solusi untuk beberapa kendala yang ditemui saat ini seperti fitur AF yang gesit di perekaman video HD pada Alpha 33/55.
      Yang juga masih dikategorikan “asing’ adalah implementasi EVF pada kamera sekelas SLR yang saya yakin menjadi tren masa depan kamera – kamera generasi baru.

      Mungkin tidak untuk type ini.. tapi ke depan ? Saya percaya akan mempengaruhi arah bisnis digital imaging :)

  2. sony sangat mumpuni untuk menjawab tantangan ini karena pertama memang sony hebat dalam teknologi gambar dan audio, dan didukung dengan teknologi kamera dari Konika yang dibeli oleh sony, saya yakin sony pasti akan sukses dengan konsep ini

  3. Menurut saya justru panasonic menawarkan harga yg lbh murah dibanding sony, karena musuh sesungguhnya gh2 adalah sony camcorder interchangeable lens yg harganya 20jt an, sy lupa serinya.. sony a33 blm menyediakan fungsi manual video seperti gh2, klo di pretelin lbh jauh.. :
    1. sound gh2 sudah dolby surround, tersedia input mic yg bisa di atur..
    2. low light record video seperti 5dmark2
    3. gambar video boleh diadu sama 5dmark2 lihat http://www.eoshd.com
    4. krn mirorless kamera ini tahan panas, jd kuat merekam video hingga 110mnt, tdk spt lainnya yg hanya mampu 20mnt..
    5. Native 24p video record yg mampu memberikan gambar lbh baik..

    1. Terima kasih utk masukannya. Di ajang Focus 2011 saya sempat mencoba demo unit A55 di stan Sony, kinerja auto fokusnya memang cepat tapi entah kenapa kok kayaknya masih suka meleset / lari, mungkin karena saya yg belum terbiasa. Meski memakai deteksi kontras, auto fokus GH2 memang diakui sangat cepat, meski saya belum bisa membuktikannya untuk movie. Anda pernah mencoba mungkin?

  4. ikutan nimbrung ah,, hmm,,a33,a55, a77 aja deh yg paling baru..auto fokusnya oke banget ! tapinya ko kualitas video nya untuk kamera+kit yg mendekati harga 20 juta kalo dibandingin ama fz100 nya panasonik yg harganya cuman 4juta300san detilnya masih menang fz100 tuh :P,, kalo gh2+kit mah untuk videonya dibandingin ama 5dm2+ lensa premiumnya canon banyak orang lebih milih gh2 termasuk saya :d

Comments are closed.