Archive for the 'DSLR' Tag

Kamera digital favorit saya di 2008

Masih ingat blog saya berjudul : Kamera digital favorit saya di 2007? Sangat menyenangkan saat mengetahui antusiasme pembaca yang begitu tinggi terhadap blog tersebut. Dengan hadirnya bermacam kamera baru di tahun 2008 ini, rasanya saya perlu menulis lanjutan blog terdahulu supaya dapat tetap update dan informatif bagi pembaca. Namun mengingat saat ini masih pertengahan tahun 2008, ke depannya blog ini akan terus diupdate sesuai dengan kemunculan produk baru di bulan-bulan mendatang. Pada kesempatan kali ini, katagori kamera saku dan kamera wide saya lebur menjadi satu supaya lebih praktis. Selamat membaca…

Katagori kamera DSLR :

  1. Nikon D300 masih menjadi kamera DSLR favorit pertama saya dengan sensor CMOS 12 MP dengan format DX, live-view dan weather sealed body. Hingga kini Nikon D300 masih menjadi kamera DSLR tercanggih dan termahal di kelas DSLR bersensor APS-C. D300 dinobatkan sebagai baby-D3 karena secara desain dan fitur memang seperti versi ‘kecil’ dari kamera DSLR profesional Nikon D3 Full Frame. Keunggulan Nikon D300 lainnya adalah memiliki 51 titik fokus yang fleksibel dan kualitas hasil foto yang baik pada ISO tinggi.
  2. Canon EOS-40D pun masih menempati posisi kedua kamera DSLR favorit saya dengan sensor CMOS 10.1 MP dan didukung fitur andalannya seperti Digic III engine, Live view, dust reduction, weatherproof body, 9 titik AF, 6.5 fps burst mode dan layar LCD 3 inci. EOS-40D sebagai kamera mid-level/semi-pro harus bersaing ketat dengan kamera DSLR lain yang lebih baru dan sarat fitur, seperti Pentax K20D, Sony A350 dan Olympus 520. Namun saya merasa 40D masih lebih baik dari para pesaingnya, meski pesaing tadi pun tak kalah baiknya.

Katagori kamera prosumer :

  1. Fuji Finepix S100FS menjadi prosumer terbaik yang pernah dibuat oleh Fujifilm. Hadir dengan sensor khas Fuji SuperCCD 2/3 inci beresolusi 11 MP, kamera ini diyakini dapat menghasilkan gambar berkualitas meski pada ISO tinggi. Kehebatan S100FS terletak pada lensa 14.3x zoom (28-400mm) yang zoomnya manual persis seperti lensa SLR, plus layar LCDnya yang bisa dilipat. Terdapat pula mode Film Simulation (FS), format file RAW, serta fitur untuk menaikkan dynamic range secara otomatis. Fuji menyediakan flash hot-shoe untuk memasang lampu kilat eksternal kian meneguhkan posisinya sebagai kamera prosumer. Fuji S100FS menjadi favorit pertama saya di katagori prosumer, meski produk pesaing DSLR pemula ini berharga diatas 7 juta rupiah.
  2. Olympus SP570 dengan resolusi 10 MP memakai sensor CCD berukuran 1/2.33 inci, hadir sebagai prosumer dengan lensa wide yang memiliki jangkauan terpanjang dalam sejarah kamera prosumer yaitu 20 kali zoom optik (26-520mm) dengan diafragma yang relatif cepat. Inilah yang menjadikan kamera mega-zoom ini sebagai prosumer favorit saya di tempat kedua. Layar LCDnya juga lumayan besar dengan ukuran 2,7 inci. Sebagai kamera prosumer, SP570 tidak hanya mengandalkan fitur manual yang berlimpah, namun juga telah menyediakan file format RAW. Prosumer satu ini cukup berbeda dalam urusan baterai dibandingkan kebanyakan prosumer lain karena menggunakan baterai AA sebanyak 4 buah. Sebagai tambahan, Olympus menyediakan flash hot-shoe untuk memasang lampu kilat eksternal. Dengan semakin murahnya harga memori, jenis memori xD yang digunakan Olympus rasanya tidak menjadi masalah.
  3. Canon Powershot G9 dengan sensor CCD berukuran 1/1.7 inci beresolusi 12 MP dan 6x zoom optik masih menjadi prosumer favorit ketiga saya berkat desainnya yang keren dan fitur yang lengkap seperti stabilizer, file format RAW, flash hotshoe dan sebuah optical viewfinder. Mengusung layar LCD 3 inci beresolusi 230 ribu piksel, tampilan layar G9 memang amat tajam dan baik. Kemampuan movie modenya pun amat baik dengan resolusi maksimum di 1024×768 piksel. Hanya saja prosumer yang satu ini bukan masuk ke kelas kamera super-zoom, sehingga lebih cocok diposisikan sebagai kamera prosumer saku yang berkualitas tinggi.

Katagori kamera pocket :

  1. Canon Powershot A650IS masih menjadi kamera saku favorit pertama saya dengan resolusi 12 MP, image stabilizer dan lensa dengan zoom optik 6x. Setahun telah berlalu, namun sulit bagi saya untuk mencari kamera saku lain yang lebih baik dari A650IS ini. Dia memiliki fitur manual P/A/S/M yang lengkap, layar LCD yang bisa diputar, masih ada optical viewfinder, ergonomi yang baik dan ditenagai baterai AA sebanyak 4 buah yang cukup bertenaga. Kualitas hasil foto kamera ini juga relatif lebih baik dibanding kamera sejenis, berkat penggunaan sensor CCD berukuran 1/1.7 inci. Canon A650IS ini kadang disejajarkan dengan Canon G9 karena kemiripan fitur dan spesifikasi, terutama dalam hal lensanya, meski A650IS tidak dilengkapi file format RAW dan flash hot-shoe (namun layar LCD Canon G9 tidak dapat diputar).
  2. Panasonic Lumix FX500 menempati posisi kedua kamera saku favorit saya dengan keunggulan pada layar LCD touch-screen 3 incinya yang interaktif. Untuk menentukan titik auto fokus, pemakai tinggal menyentuh layarnya saja. namun bukan itu saja kehebatannya. Simak saja lensa Leicanya yang sangat wide di 25mm, 5x zoom optik, stabilizer, manual mode P/A/S/M dan kemampuan merekam video berkualitas HD/High-Definition. Kamera beresolusi 10.1 MP inipun diklaim lebih baik dalam menangani noise pada ISO tinggi berkat engine baru Venus IV engine.
  3. Panasonic Lumix TZ5 dengan resolusi 9 MP menjadi kamera yang memiliki keunikan pada lensa Leica 10x zoom (28-280mm) dengan image stabilizer yang dikemas dalam bodi yang ringkas. Kemampuan kamera ini semakin baik dengan dukungan Venus IV engine, layar LCD 3 inci dan kemampuan merekam video berkualitas HD/High-Definition. Bahkan terdapat varian khusus dari TZ5 ini yang dilengkapi dengan fitur WiFi. Meski tanpa dukungan fitur manual, kamera ini berhasil merebut hati saya untuk dinobatkan sebagai kamera saku favorit saya di tempat ketiga.

Katagori kamera value :

  1. Panasonic Lumix LZ10 menjadi favorit pertama saya di kelas kamera saku ekonomis. Tidak mudah untuk menempati posisi pertama di kelas ini. Syarat pertama adalah harganya harus terjangkau, dan kedua kualitasnya jangan dikorbankan. Bicara soal kualitas, LZ10 dibekali lensa Leica dengan zoom optik 5x. LZ10 inipun telah didukung oleh Venus IV engine yang bertenaga, telah terdapat fitur manual P/A/S/M, dan fitur video beresolusi 848 x 480 piksel. O ya, saya tidak perlu menulis kalau kamera ini telah dilengkapi stabilizer, karena faktanya semua kamera digital Lumix memang memiliki fitur ini. Layar LCDnya amat baik untuk ukuran kamera ekonomis dengan ukuran 2.5 inci beresolusi 230 ribu piksel. Bandrol harga sekitar 2 jutaan, cukup pantas mengingat fitur kamera beresolusi 10.1 MP ini memang terbilang lengkap.
  2. Canon Powershot A590IS dengan resolusi 8 MP dan zoom optik 4x menjadi andalan kedua saya di kelas kamera murah meriah. Kamera penerus A570IS ini tetap dilengkapi fitur image stabilizer. Terdapat pilihan manual mode P/A/S/M layaknya kamera saku kelas menangah, juga terdapat fitur face detection, serta (yang unik) masih terdapat fasilitas optical viewfinder. Inilah kamera yang berkualitas baik, berfitur lengkap dan memiliki ergonomi yang baik, yang dijual dengan harga dibawah 2 juta rupiah. Sulit dipercaya…

Apakah anda punya rekomendasi tersendiri? Ingin menyampaikan kamera favorit versi anda? Jangan segan untuk mengisi komentar di bawah ini, disertai alasan mengapa anda memfavoritkan kamera itu. Barangkali info tersebut ada gunanya bagi pembaca yang lain. Salam..

Next Page »