full-frame

Antara inovasi dan inkonsistensi kamera buatan Sony

Saya suka kamera buatan Sony, paling tidak saya suka mengamati bagaimana Sony berinovasi dalam hal teknologi, dan selalu penasaran ingin tahu terobosan apa lagi yang bakal dilakukannya. Dulu Sony membuat saya terkesan dengan terobosan live-view di kamera DSLR dengan dual sensor, yang lalu tidak berkembang karena rumit. Lalu Sony mengenalkan translucent mirror (sempat disebut kamera SLT), yang mengatasi permasalahan auto fokus saat live-view. Kini Sony berkembang dengan jajaran mirrorless dan juga kamera translucent mirror-nya, bahkan menjadi produsen kamera mirrorless pertama yang pakai sensor full frame.

Tapi ada yang belum bisa diwujudkan oleh Sony sampai saat ini, yaitu meraih market share yang cukup banyak. Orang masih seperti belum yakin untuk memilih kamera Sony, walau dari teknologi dan value bisa dibilang menyamai bahkan melebihi pemain besar seperti merk C dan merk N. Saya prediksi alasan utamanya adalah kekuatiran jangka panjang, karena kamera sekarang (selain kamera pocket atau kamera prosumer) adalah laksana investasi membangun sebuah sistem yang berkelanjutan. Jaminan dukungan lensa, aksesori dan kamera baru untuk upgrade di masa mendatang jadi sesuatu yang perlu bagi mereka yang menjadikan fotografi sebagai hobi serius atau mata pencarian hidup.

sony_a350_live-view

Kamera Sony A350 dengan sensor live-view terpisah

(more…)

Jalan-jalan singkat ke Focus Expo 2014 di JCC

Tadi sore pulang kerja, saya sempatkan mampir ke pameran tahunan Focus Expo 2014 di JCC Senayan. Seperti tahun-tahun sebelumnya, pameran ini juga berbarengan dengan pameran komputer juga. Tujuan saya kali ini tentu ingin melihat langsung kamera-kamera baru yang biasanya boleh dicoba atau minimal dipegang-pegang :)

Jadilah acara jalan-jalan singkat ke Focus kali ini seperti acara hands-on preview, alias mencoba beberapa kamera baru secara singkat saja.

aP1000398

Pengunjung menikmati galeri foto di area depan

aP1000395

Pengunjung lainnya menatap iklan Nikon Df

aP1000411

Stan Nikon, terlihat di belakangnya ada stan Fuji dan Canon. Di sampingnya lagi (tidak terlihat di foto) ada stan Sony dan Samsung.

aP1000412

Ada pembicarayang sedang membahas menu kamera di stan Nikon. (more…)

Pilihan lensa pengganti dari lensa kit kamera DSLR

Lensa kit, atau lensa yang dijadikan satu paket penjualan saat membeli kamera DSLR, disediakan supaya para pembeli bisa langsung memakai kameranya untuk memotret. Lensa kit yang paling banyak ditemui disaat ini biasanya adalah lensa 18-55mm. Spesifikasi lensa kit umumnya dibuat cukup untuk mewakili kebutuhan fotografi dasar sehari-hari, dan kualitas optiknya pun sudah lumayan bagus. Tapi adakalanya kita merasa bosan dengan lensa kit yang dipunyai, dan sedang mencari-cari info mengenai lensa lain yang setingkat lebih baik dari lensa kit. Artikel ini akan membantu anda untuk mendapat gambaran lensa apa saja yang bisa jadi pengganti lensa kit, khususnya lensa 18-55mm.

Tapi sebelum itu, ketahui dulu apa alasan utama anda ingin mengganti lensa kit. Bila jawabannya karena lensa kit itu kurang wide, atau kurang tele, mungkin akan lebih baik anda membeli lensa lain yang jadi pelengkap dari lensa kit. Misalnya yang perlu lebih wide bisa beli lensa wide 10-24mm, atau yang perlu jangkauan tele lebih jauh bisa membeli lensa 55-200mm/55-250mm. Beberapa alasan orang yang ingin ‘berpisah’ dari lensa kitnya diantaranya adalah :

  • perlu lensa yang bisa menjangkau dari wide hingga lebih tele
  • perlu lensa yang bukaannya lebih besar
  • perlu lensa yang motor fokusnya lebih cepat
  • perlu lensa yang kualitas optiknya lebih baik
  • tidak suka dengan manual fokus lensa kit yang kurang presisi, atau fing manual fokus yang berputar (tidak bisa pakai filter CPL)
  • tidak bisa menghasilkan bokeh yang baik
  • malu memakai lensa kit (kurang keren)

Pilihan lensa-lensa yang saya sarankan :

Lensa bukaan besar

Lensa Tamron 17-50mm f/2.8

Lensa di kelas ini punya ciri bukaan maksimumnya besar (f/2.8) dan konstan (dari wide hingga tele bukaan maksimumnya tetap besar). Jangan heran karena itulah harga lensa seperti ini bisa berkali-kali lipat dari harga lensa kit (asumsi harga lensa kit adalah 2 juta). Nikon misalnya, punya lensa AF-S 17-55mm f/2.8 yang harganya diatas 10 juta, demikian juga dengan Canon. Alternatif hemat ada Sigma 17-50mm f/2.8 seharga 7 juta dan dari Tamron di kisaran 4 juta. Paling terjangkau adalah Tamron AF 17-50mm f/2.8 non VC yang dijual dibawah 3 juta, seperti gambar di atas. Keuntungan lensa ini adalah bukaan besar bisa membantu mendapat foto yang terang walau cahaya kurang, lalu bisa dapat bokeh yang lebih blur dan kualitas optiknya relatif paling baik dibanding lensa sekelasnya. Maka itu lensa seperti ini sering dipakai untuk liputan khususnya wedding. Kekurangannya adalah harganya mahal dan rentang fokalnya cukup pendek (hanya sampai 55mm, bahkan ada yang cuma sampai 50mm) jadi seakan-akan tidak berbeda dengan lensa kit 18-55mm. (more…)

Untung rugi memakai lensa full-frame di kamera DSLR APS-C

Di awal hadirnya kamera DSLR, sensor full-frame merupakan hal yang jarang dijumpai. Alasannya adalah biaya produksi yang tinggi, sehingga produsen kamera digital lebih memilih memakai sensor yang lebih kecil dari ukuran full-frame, yaitu sensor APS-C. Untuk mengimbangi sensor yang lebih kecil ini, para produsen juga menyiapkan lensa khusus yang lebih sesuai, sebutlah misalnya Nikon DX atau Canon EF-S. Tapi lensa-lensa semacam ini tidak terlalu banyak pilihannya, karena mereka membuatnyaa secara bertahap (mungkin setahun hanya bikin 1 atau 2 lensa). Kabar baiknya, pemilik kamera DSLR sensor APS-C boleh-boleh saja memilih lensa yang didesain untuk kamera full-frame, karena memang kompatibel. Apakah untung ruginya? Simak yuk.. (more…)

Rumor kamera baru di akhir tahun 2013

Masih tertarik sama rumor kamera baru di tahun ini? Apakah begitu banyaknya pilihan kamera yang ada saat ini belum membuat anda puas? Atau hanya sekedar membayangkan apa lagi kecanggihan yang mau ditampilkan para produsen? Ya kita simak aja rumor kamera digital kali ini, seperti biasa, tidak ada jaminan rumor ini akan menjadi kenyataan :)

Hampir pasti 99,99% :) : Panasonic Lumix GX7

Kamera mirrorless dari Panasonic punya banyak versi, misal seri G, seri GF dan GH. Uniknya ada satu lagi versi yang seakan terlupakan (padahal saya senang dengan desainnya) yaitu seri GX. Menurut saya seri GX itu pas untuk kamera mirrorless kelas serius kompak, beda dengan seri GF yang condong ke pemula kompak. Beda lagi dengan seri G dan seri GH yang mau menyerupai bentuk kamera DSLR. (more…)

Tampak depan D800

Hands-on Preview Nikon D800

Kali ini saya berkesempatan untuk menjajal kamera DSLR full frame dari Nikon yaitu D800. Kamera seharga hampir 30 juta rupiah ini punya keunggulan utama dalam hal resolusi sensornya yang mencapai 36 MP, mendekati kamera medium format yang harganya ratusan juta. Sebagai pelengkap preview ini, saya gunakan lensa prime nan tajam yaitu Nikon AF-S 50mm f/1.8 yang masih sanggup meladeni tingginya resolusi sensor D800. Preview bertujuan mengenali fisik kamera, sepintas kinerja, noise di ISO tinggi dan tentunya melihat detil dari hasil fotonya. Sebagai bonus saya lengkapi juga preview ini dengan video singkat, jadi anda juga bisa mendengar suara saya :) (more…)