Pertanyaan ini bisa membawa banyak jawaban. Tapi tentu bukan jawaban seperti ‘murah tapi bagus’ atau ‘kamera dengan fitur paling lengkap’ yang saya harapkan karena jawaban semacam itu terlalu umum dan tidak substansif. Kita coba kesampingkan dulu soal fitur dan segala istilah marketing yang kerap membiaskan kita saat menilai sebuah kamera digital seperti kecepatan auto fokus, burst mode, kejernihan layar LCD atau HD movie. Bagi saya, esensi kamera digital yang ideal adalah kamera dengan ukuran kecil, punya ukuran sensor cukup besar dan lensa zoom bukaan besar. Mengapa? Lanjut membaca
Arsip Tag: sensor
Misteri ukuran sensor kamera Nikon mirrorless
Baru-baru ini muncul sebuah foto yang diduga kuat adalah bocoran produk kamera Nikon mirrorless pertama mereka. Foto ini hanya menunjukkan mount lensa dan sensornya, tidak menggambarkan bodi kamera Nikon secara utuh (menurut si penyebar foto dia takut dipecat andai foto kamera ini sampai bocor). Dengan foto ini saya semakin yakin kalau Nikon (dan mungkin juga Canon) akan ikut terjun di bisnis kamera mirrorless sehingga akan semakin banyak pilihan kamera jenis ini di masa mendatang. Lanjut membaca
Untung rugi kamera dengan sensor CMOS
Saya tidak tahu apa artikel ini masih relevan untuk saat ini karena kini semakin banyak produsen yang sudah beralih dari sensor CCD ke sensor CMOS. Tapi setidaknya saya coba sajikan seperti apa sensor CMOS itu beserta untung ruginya dan saya coba buat dalam bahasa yang mudah dipahami, mengingat bahasan teknis semacam ini cenderung membosankan..
Sensor CCD (charge coupled device) maupunĀ Sensor CMOS (complementary metal oxide semiconductor) hanyalah bagian dari kamera digital berbentuk sekeping chip untuk menangkap cahaya, menggantikan fungsi film pada era kamera film. Pada kepingan ini terdapat jutaan piksel yang sensitif terhadap cahaya (foton) dan energi cahaya yang diterima mampu dirubah dalam bentuk sinyal tegangan. Lanjut membaca
Kamera kecil bersensor besar, ketika perang megapiksel mencapai titik jenuh
Perang megapiksel sudah mulai mencapai titik jenuhnya. Saya mengamati ‘peperangan’ ini sejak kehadiran kamera digital Kodak di tahun 2001 dengan 1 MP hingga kini tahun 2010 yang sudah mencapai resolusi 14 MP. Ada satu hal yang tidak berubah dari dulu, yaitu ukuran sensor yang dipakai. Anda bisa bayangkan, peningkatan dari 1 MP ke 14 MP pada keping sensor yang sama, bagaikan dulu biasa naik sedan berdua kini naik sedan diisi sepuluh orang. Persaingan memaksa produsen kamera bertindak seperti itu, meski kini mereka tengah kebingungan karena sudah tidak mungkin lagi menaikkan resolusi diatas 14 MP apabila ukuran sensor tidak berubah. Lanjut membaca
Fuji S200EXR : kamera prosumer bersensor EXR pertama dari Fuji
Seperti yang sudah lama dirumorkan, Fujifilm akhirnya benar-benar meluncurkan kamera prosumer dengan sensor SuperCCD EXR yang bernama FinePix S200EXR. kamera ini menjadi penerus dari kamera S100FS yang meraih banyak penghargaan di tahun lalu berkat kualitas hasil foto, kemampuan dynamic range yang tinggi dan lensanya yang bisa diputar seperti lensa SLR. Lanjut membaca
Aneka kesalahan yang biasa dilakukan pemula saat memotret
Sering sekali ada komentar di blog ini menyatakan bahwa dirinya adalah fotografer pemula yang bertanya mengenai kamera apa yang cocok untuknya. Saya agak bingung juga karena yang dimaksud dengan pemula itu sendiri batasnya tidak jelas, bahkan saya pun masih merasa jadi pemula dalam urusan foto-memfoto. Mungkin istilah pemula (dari asal kata : mula / awal / beginner) dalam fotografi bisa dikaitkan dengan fotografer amatir / amateur, atau non profesional / non komersil dan bisa juga pemula diidentikkan dengan mereka yang sedang belajar (teori dan praktek) fotografi. Inipun belum termasuk mereka (yang bisa disebut pemula) yang membeli kamera hanya sekedar untuk urusan dokumentasi keluarga dan tidak mau dipusingkan soal istilah-istilah fotografi. Karena blog ini dibuat dari pemula untuk pemula, maka tulisan kali ini hanya ditujukan untuk sekedar sharing pengalaman seputar aneka kesalahan yang biasa dilakukan oleh fotografer pemula. Lanjut membaca
Mengapa kamera digital berbeda dengan camcorder
Kepraktisan. Ya, itulah yang melandasi tren konvergensi antara kamera digital dan camcorder belakangan ini. Pemikiran simpel yang mengemuka : mengapa tidak dibuat satu perangkat saja : kamera digital yang bisa merekam video (atau camcorder yang bisa mengambil foto). Upaya produsen pun lantas bak gayung bersambut yang mulai menawarkan kualitas video HD pada kamera digital termasuk DSLR, dan di lain pihak camcorder masa kini pun semakin baik dalam urusan memotret / membuat still foto. Sekian waktu berselang, saya tanya pada anda : apakah anda sudah menemui produk yang benar-benar hybrid (sama baiknya dalam urusan foto dan video) ? Rasanya belum ada. Sebaik-baiknya kamera digital membuat video, hasil videonya masih kalah dengan camcorder. Pun sebaliknya, hasil foto dari camcorder masih belum bisa menyamai hasil foto dari kamera digital. Lanjut membaca
Hal-hal yang mungkin tidak anda ketahui seputar kamera digital
Saat ini hampir semua orang punya kamera digital, minimal kamera yang ada pada ponsel. Kehadiran kamera digital ini sudah banyak merubah cara hidup kita, dengan begitu mudahnya memotret, mengedit, mencetak dan menghapus bila perlu. Tidak perlu beli film, tidak perlu mencuci ke negatif, bahkan foto digital tidak harus selalu dicetak diatas kertas. Dengan hadirnya kemudahan dari alat yang bernama kamera digital ini, hampir sebagian besar diantara kita sudah tidak peduli lagi akan bagaimana cara kerja dari sebuah kamera dan hal-hal teknis apa yang terjadi saat kita memotret. Lanjut membaca