Info : Kursus Dasar Fotografi di Jakarta

Belajar fotografi kini semakin diminati banyak orang untuk mendapatkan foto yang bagus. Bila anda tertarik untuk belajar bersama saya sebagai instruktur tetap dari infofotografi.com tersedia bermacam agenda kursus, workshop dan mentoring privat/semi privat yang diadakan di Jakarta.

Berikut adalah jadwal kursus di bulan Maret 2017:

Continue reading Info : Kursus Dasar Fotografi di Jakarta

Review : Canon EOS M10

Kali ini saya sajikan sebuah review kamera mirrorless murah meriah dari Canon yaitu EOS M10. Walau kecil, kamera ini punya fungsi dasar yang lengkap diantaranya memakai sensor sama seperti DSLR (APS-C 18 MP), mode Manual, RAW, built-in flash, WiFi dan perekaman video. Mau dijadikan sebagai kamera selfie atau vlog juga boleh karena layarnya bisa dilipat ke depan.

img_2724-rz

Ukuran kamera ini memang kecil, sekilas mirip kamera saku seri PowerShot, kalau ditangan wanita sepertinya kamera ini lebih pas. Lensa kitnya juga kecil karena zoomnya dibuat pendek (15-45mm saja), dan kini dengan desain lensa yang bisa dipendekkan saat tidak dipakai (collapsible zoom). Tidak ada roda P-Tv-Av-M di bagian atas, tapi kita bisa menemuinya melalui Menu (ya memang akan memperlambat kita saat mau ganti mode dengan cepat). Melingkari tombol shutter ada satu-satunya roda yang penting untuk mengganti berbagai setting, karena di belakang tidak ditemui roda lain, hanya ada beberapa tombol saja. Memang filosofi EOS M10 sepertinya ingin memaksimalkan layar sentuhnya sehingga tombol fisik bisa dikurangi (tidak banyak ruang tersisa juga kalau melihat ukuran kamera ini yang kecil).

img_2729-rz

Setelah saya jelajahi fitur dan menu EOS M10, saya dapati beberapa fitur yang tidak terlalu penting memang tidak ada di kamera ini. Misalnya EOS M10 tidak menyediakan indikator level horizon (tapi tetap ada live histogram), tidak ada Kelvin WB, tidak ada AEB (Bracketing), dsb. Di bagian Menu juga terasa lebih sederhana tanpa ada My Menu, juga tidak ada pengaturan menu untuk Exposure Simulation. Di bagian yang pengaturan dasar seperti ISO juga tidak bisa diatur kelipatan 1/3 stop, juga auto fokus area tidak bisa diubah ukuran kotaknya.

Mode manual dengan pengaturan ISO, shutter dan aperture
Mode manual dengan pengaturan ISO, shutter dan aperture

Continue reading Review : Canon EOS M10

Teknologi dan fotografi modern

Di jaman yang makin canggih ini saya kerap bertanya-tanya dalam hati, apakah teknologi masa kini mampu membantu untuk meningkatkan kualitas hasil foto kita? Kalau iya seberapa banyak?

Fotografi sejatinya adalah bahasan klasik, dengan penemuan kamera, teori cahaya dan eksposur, hingga kita kenal istilah ASA (kini ISO sensitivity), shutter speed dan aperture. Teorinya cenderung tidak banyak perubahan sampai saat ini, semisal kaitan shutter speed dan motion, atau hubungan antara aperture dan ruang tajam. Soal gelap terang bisa main ISO, atau atur kekuatan lampunya, bila justru terlalu terang tinggal pasang filter ND. Selebihnya tinggal mau fokus secara otomatis atau manual, dan kemudian tinggal jepret aja. Lalu dimana peran teknologi untuk improvement hasil foto kita?

Ya kita tetap harus akui bahwa kamera digital itu sendiri adalah perwujudan dari kemajuan teknologi, misal sensor modern yang kualitasnya sudah baik, auto fokus yang pintar, auto WB yang bisa diandalkan, bahkan adanya touch screen sangat membantu kemudahan kita memotret. Tiap tahun juga kemampuan dari kamera ditingkatkan, semisal kerapatan pixel (megapiksel), kemampuan ISO maksimum, kecepatan dan jumlah prosesor, dan tak lupa kualitas video 4K yang sudah umum belakangan ini. Intinya sih kecepatan komputasi dan software bakal menjadi faktor pembeda antara kamera modern dan kamera jadul.

canon-eos-5ds-custom-quick-menu-2

Saya pikir teknologi saat ini dan akan datang akan berdampak pada dua hal, pertama yang langsung berkaitan dengan hasil foto kita, dan kedua berhubungan dengan kemudahan pemakaian (user experience) yang membuat kita jadi makin senang jeprat-jepret. Continue reading Teknologi dan fotografi modern

Renungan akhir tahun : adakah kamera/lensa one for all?

One for all, atau satu untuk semua, terdengar menarik bukan? Tapi dalam fotografi, nafsu untuk mencari gear yang memenuhi prinsip one for all kadang malah bikin repot. Seringkali penanya di blog ini (atau blog saya yang lain) menanyakan kamera apa yang bisa dipakai untuk ini, itu, demikian juga dengan lensa apa yang bisa untuk itu dan ini.

Tidak salah juga memang. Terlebih disaat ekonomi seperti saat ini, dan harga kamera/lensa terus merangkak naik, maka kita perlu lebih selektif mencari satu produk paling mumpuni. Bahkan dalam memilih kebutuhan lain, misalnya ponsel, komputer hingga kendaraan.

Perlu diluruskan dulu bahwa untuk tiap aspek tersedia produk yang sifatnya umum, generalis. Produk ini akan laku dan diterima pasar, tapi tidak punya kelebihan yang menonjol. Kalau yang anda cari adalah kamera/lensa yang serbaguna, bisa dipakai untuk banyak kebutuhan dasar, maka jawabannya ya banyak sekali. Tidak perlu misalnya tanya kamera apa yang bisa untuk foto makanan, foto produk dan foto satwa? Itu sama saja tanya mobil apa yang bisa dipakai buat bawa orang, bawa belanjaan atau bawa air galon. Semua mobil bisa.mirorless-cameras

Tapi kalau kebutuhan anda lebih spesifik, saran saya adalah fokuslah, jangan mau semuanya. Misal kita mencari kamera yang sensornya full frame, megapikselnya banyak, bodinya weather sealed, auto fokusnya cepat, menembak kontinu cepat, videonya 4K, ada IS di bodi, full fitur (layar sentuh, WiFi, ada colokan mic dan headphone, dual slot memory), plus minta harga terjangkau, ya sampai lebaran kuda juga tidak akan ketemu. Tentukan satu dua hal yang paling utama yang dibutuhkan, dan sisanya adalah kompromi. Continue reading Renungan akhir tahun : adakah kamera/lensa one for all?

Tren kamera setelah tahun 2016 nanti

Era fotografi punya periode tersendiri. Sebutlah di awal kehadirannya, ramai dengan kamera film, lensa manual dan berbagai format kamera klasik. Di awal era digital hadir (sejak tahun 2000-an) ramailah dengan kamera saku hingga kamera DSLR, tentunya sudah memakai format digital dan populerlah istilah megapiksel.D5500

Di era sekarang, fotografi terpecah dalam banyak kubu, misal untuk kerja, untuk hobi dan untuk travel plus sosmed. Mereka yang bekerja di bidang fotografi membutuhkan kamera handal dengan aneka lighting dan aksesori, umumnya masih mengandalkan DSLR sebagai kamera kerjanya. Penghobi fotografi kini mulai terbagi antara memakai DSLR dan mirrorless, dengan alasan tersendiri. Traveler justru lebih tertarik pada kamera mirrorless yang ringkas, dengan satu dua lensa saja. Untuk yang hobi eksis di sosmed mungkin cukup dengan kamera saku, kamera aksi atau bahkan modal ponsel saja.

Kamera dengan lensa panjang bukaan konstan f/2.8, sensor 1 inci dan pengaturan yang lengkap, membuatnya ideal untuk dipakai liburan

Faktanya, laporan penjualan kamera digital menunjukkan penurunan signifikan dari tahun ke tahun, baik untuk kamera yang bisa ganti lensa, ataupun yang tidak. Penyebabnya diduga adalah ponsel yang hasil fotonya semakin membaik, dan cukup untuk kebutuhan sosmed, travel hingga dokumentasi keluarga. Kamera digital hanya akan dicari oleh pekerja foto, dan penghobi serius. Maka itu tak heran harga kamera terus merangkak naik, demi mengimbangi turunnya demand supaya produsen tetap bisa profit.

Maka tren kamera untuk tahun depan dan seterusnya boleh jadi akan seperti ini : Continue reading Tren kamera setelah tahun 2016 nanti

Ikuti lomba foto Indomaret 2016, hadiah total 250 juta rupiah

Ayo ikuti lomba foto yang diadakan oleh Indomaret bekerjasama dengan id-photographer dan Nikon Indonesia. Kali ini lomba mengambil tema ‘Potret Indonesia’ dan siapkan karya foto terbaik Anda yang masih baru (maksimum 2 tahun, dilihat dari EXIF). Lomba ini gratis dengan hadiah total 250 juta rupiah.

Akan dipilih 15 foto finalis, untuk ditentukan Juara 1, 2, 3 dan 12 Juara Harapan. Pemenang Utama (Juara I, II, III), akan mendapatkan hadiah :

  • Juara I : Rp. 25.000.000,- + Kamera Nikon Df 50mm f1.8G kit + Trophy + Piagam
  • Juara II : Rp. 20.000.000,- + Kamera Nikon D7200 18-140mm VR kit + Trophy + Piagam
  • Juara III : Rp. 10.000.000,- + Kamera Nikon D5500 18-55mm VRII kit + Trophy + Piagam
  • 12 Pemenang Harapan masing-masing akan mendapatkan uang sebesar Rp. 2.500.000,- + Kamera Nikon CoolPix L340

Continue reading Ikuti lomba foto Indomaret 2016, hadiah total 250 juta rupiah

Mencoba singkat sensasi memakai Canon EOS 1Dx mk II

Canon EOS 1Dx mk II hadir menjadi kamera DSLR Canon kasta tertinggi yang dirancang untuk fotografer pro, pewarta olah raga atau siapapun yang memerlukan kamera DSLR tercepat yang pernah ada. Menjadi penerus dari Canon 1Dx lama, generasi kedua ini lahir kembali dengan desain hampir sama seperti sebelumnya dengan bentuk besar dan ada vertikal grip terpadu.

Peningkatan yang dilakukan Canon pada 1Dx mk II ini diantaranya sensor dari 18 MP menjadi 20 MP, layar sentuh dengan hybrid AF, fitur 4K video, GPS dan slot baru CFast card. Kinerja kamera juga meningkat dari 12 fps menjadi 14 fps, bahkan bisa jadi 16 fps pada mode live view. Buffer kamera ini juga lega, bisa memotret JPG non stop sampai memori penuh, atau bisa sampai 170 foto RAW.

Mungkin banyak pihak bertanya mengapa harga kamera ini bisa begitu tinggi? Kalau ditinjau dari sensor dan hasil fotonya memang termasuk bagus, tapi bukan yang luar biasa. Misalnya kamera ini ‘cuma’ 20 MP sementara kamera lain punya megapiksel lebih banyak (termasuk Canon 5DS dengan 50 MP). Tentunya alasan utama adalah kamera ini dirancang untuk kinerja tinggi, dan bila megapiksel terlalu banyak membuat kinerja kamera akan melambat.

Profesional akan memerlukan kinerja auto fokus tanpa kompromi. Canon 1Dx mk II punya 61 titik fokus (41 titik diantaranya cross type) dan hebatnya semua titik ini bisa bekerja walau bukaan lensa cukup gelap (hingga f/8). Jadi pengguna lensa f/4 yang memasang 2x tele converter tetap bisa auto fokus dengan kamera ini. Saat memakai mode live view atau video, 1Dx mk II tetap bisa auto fokus dengan cepat berkat Dual Pixel AF (pertama kali ditemui di DSLR Canon full frame). Kinerja Auto fokusnya dibarengi dengan modul metering terbaru dengan 360.000 piksel RGB metering membuat kamera 1Dx mk II lebih presisi dalam mencari fokus, mengikuti gerakan subyek dan menguncinya.

DSC_0259Saya berkesempatan menajajal langsung kamera ini selama 2 hari dan disini saya tuliskan kesan dan hasil mencoba singkat, walau belum menemukan keadaan foto yang cocok untuk menguji dahsyatnya auto fokus dan shoot kontinu dari kamera ini, tapi setidaknya saya bisa uraikan apa saja yang saya temui dari kamera ini. Saya mencoba di dua lokasi, yaitu di studio infofotografi.com dan juga di masjid Bani Umar di acara hunting foto model muslimah bersama id-photographer.com. Continue reading Mencoba singkat sensasi memakai Canon EOS 1Dx mk II