Casio Exilim EX-V8 : untuk foto dan video (updated)

Bingung antara membeli kamera digital atau kamera video? Ingin memiliki kamera digital yang mampu merekam video dengan kualitas handycam? Kamera digital memang telah memiliki kemampuan merekam video klip pendek. Namun pada prakteknya ada keterbatasan dalam pemakaian dan hasil videonya pun belum memuaskan. Sebaliknya, kamera video pun dapat dipakai untuk mengambil foto meski resolusinya rendah dan hasil fotonya tidak maksimal.

Fitur untuk merekam video pada kamera digital umumnya memiliki keterbatasan, antara lain dalam hal resolusi, kompresi, zoom optik dan audio. Oleh karena itu kamera digital masih belum bisa menggantikan kamera video yang memiliki fitur lebih baik. Solusinya adalah konvergensi antara kamera digital dan kamera video dalam satu alat. Di pasaran telah banyak beredar perangkat ‘hybrid’ yang menggabungkan kemampuan foto dan video pada satu alat. Namun perangkat tersebut umumnya cenderung mengadopsi bentuk camcorder mini yang digenggam seperti layaknya sebuah pistol. Katakanlah, Sanyo Xacti, Canon TX1 atau Creative DVcam yang menjadi perekam video tanpa pita dengan kemampuan mengambil foto sama baiknya seperti kamera digital biasa.

Exilim V8Namun bagi mereka yang tetap ingin memiliki sebuah kamera saku digital yang bisa merekam video dengan kualitas baik memang harus mencari perangkat yang tepat. Salah satu pilihan yang layak dipertimbangkan adalah Casio Exilim EX-V8 yang merupakan kamera digital beresolusi 8 MP terbaru dari Casio. Kamera yang berbalut aluminium ini memiliki desain unik dengan menggunakan sistem lensa yang bergerak di dalam kamera, sehingga proses zoom in dan zoom out tidak ada elemen lensa yang menonjol keluar. Inilah beberapa keunggulan dari kamera ini, baik dalam hal fotografi maupun urusan merekam video :

  • Lensa aspherical dengan 7x internal optical zoom (38-266mm) dalam bodi kamera yang kecil (96.5 x 61.0 x 25.4 mm)
  • CCD-shift image stabilizer yang bekerja pada mode foto dan video
  • Merekam video dengan resolusi widescreen (848 x 480) 30 fps dengan audio stereo
  • Menggunakan kompresi video MPEG-4 H.264 terbaru (mampu merekam 1,5x lebih lama dari MPEG-4 biasa dengan kualitas yanga sama)
  • YouTube capture mode untuk merekam video dengan ukuran dan setting yang pas untuk diupload ke YouTube, suatu komunitas video online terbesar
  • Zoom optik dan lampu LED dapat digunakan saat merekam video
  • Fitur fotografi yang lengkap (auto, shutter/aperture priority, manual) dengan pilihan ISO (auto, 50, 100, 200, 400, 800 dan Hi- Sensitivity/1600), tiga macam metering (evaluative, center-weighted, spot metering) dan berbagai pilihan fokus serta white balance.

Exilim V8bRasanya produk unggulan dari Casio ini belum memiliki pesaing yang sepadan untuk saat ini. Canon seri prosumer seperti S2IS (dan adik-adiknya, S3IS, S5IS) memang memiliki fitur foto dan video yang lengkap dengan kemampuan merekam suara stereo. Namun ukurannya yang besar kadang merepotkan saat dipakai untuk mengambil video, belum lagi tidak tersedia pilihan resolusi widescreen dan kompresi MPEG-4. Jajaran kamera Panasonic Lumix terbaru juga kini memiliki fasilitas movie dengan resolusi widescreen namun sayangnya fitur lainnya masih belum bisa menyamai fitur EX-V8, seperti audio mono dan belum bisa zoom optikal saat merekam video. Sedangkan Pentax Z10 8 MP menjadi satu-satunya pesaing dengan spesifikasi mirip (7x internal zoom) namun tanpa dilengkapi fitur stabilizer.

Melalui Exilim EX-V8 ini Casio seolah hendak unjuk gigi ditengah ketatnya persaingan antar merk kamera khususnya kamera dengan kemampuan merekam movie. Apalagi mengingat Casio adalah pelopor kelahiran kamera digital di dunia pada tahun 1997 silam.

Update 13 Februari 2008 : Hands-on preview
Rekan kantor saya kemarin membeli Casio EX-V8 seharga 2,65 juta (setelah berdiskusi dengan saya mengenai kamera apa yang paling cocok untuknya) dan saya berkesempatan mencoba produk ini beberapa saat. Inilah kesimpulan yang saya buat setelah mencobanya :

  • kamera ini lebih berat dari yang saya duga
  • start-up lumayan cepat
  • zoom 7x internal bekerja dengan baik, kecepatan zoom linier dengan cara kita menggeser tuas zoom
  • pada ISO auto kamera cenderung berada di level aman ISO 200 (cahaya ruangan kantor dengan lampu neon)
  • noise : seperti kamera lain dengan sensor kecil, hindari ISO diatas 200 kecuali kondisi darurat
  • fitur video juga asik, bisa zoom saat merekam video
  • hanya tersedia 3 pilihan nilai aperture (pada mode A atau M)
  • face detection bekerja dengan baik
  • stabilizer kurang efektif untuk pemakain tele (cukup wajar karena untuk pemakaian tele sistem CCD shift memang kalah efektif dibanding lens shift, lagipula saat mencoba saya terlalu memaksakan stabilizer melampaui batas kemampuannya dengan memakai shutter 1/20 pada jarak fokal 266 mm !)
  • saya baru tahu : ada fasilitas RGB histogram (yang dioverlay dengan histogram biasa)
  • saya baru tahu : ada fitur AF tracking object (bila objek adalah anak kecil yang tidak mau diam, gunakan fitur AF ini)
  • flash agak lemah, untuk ruangan cukup luas dan ISO 50/ISO 100 cahaya flash kurang mampu menerangi ruangan (dengan ISO 200 problem solved)
  • hanya bisa charge baterai dan transfer foto saat kamera dipasang di cradle bawaannya
  • sayangnya saya belum bisa melihat hasil fotonya dalam layar komputer atau hasil cetaknya, namun kamera saku manapun umumnya menghasilkan gambar yang kurang baik saat diamati pada ukuran 100% di layar monitor (pixel peeping) namun sebaliknya memberi hasil baik saat hasil fotonya dicetak ukuran 4R.

Published by

Erwin M.

Saya suka mengikuti perkembangan teknologi digital, senang jalan-jalan, memotret, menulis dan minum kopi. Pernah bekerja sebagai engineer di industri TV broadcasting, namun kini saya lebih banyak aktif di bidang fotografi khususnya mengajar kursus dan tur fotografi bersama infofotografi.com.