Prosumer strikes back!

Akankah tahun 2008 ini menjadi ajang kebangkitan kembali kamera digital kelas prosumer? Tahun lalu saat DSLR mulai menempel ketat kamera prosumer dengan produk DSLR murah meriah, perkembangan prosumer seakan diam di tempat. Tercatat hanya ada beberapa produk baru yang muncul di pasaran, dan itupun spesifikasinya masih kurang memuaskan. Banyak pengamat akhirnya meramalkan bahwa nasib prosumer akan tamat riwayatnya akibat sulitnya bersaing dengan DSLR murah meriah tadi. Tapi nanti dulu, kamera prosumer sesungguhnya masih memiliki harapan untuk bertahan. Masih banyak orang yang menginginkan sebuah kamera prosumer daripada membeli sebuah DSLR dan perangkat lensanya. Umumnya hal-hal yang menjadi alasan mereka adalah :

  • budget terbatas : meski harga DSLR semakin murah, tidak demikian dengan harga lensanya yang selangit
  • solusi all-in-one : tidak perlu repot membawa bermacam lensa, umumnya prosumer punya rentang zoom panjang
  • tidak suka kamera besar dan berat : bayangkan beratnya sebuah Nikon D300 dengan lensa AF-S 18-200mm f/3.5-5.6 terpasang, prosumer tentu menang dalam masalah ukurannya yang kecil dan bobotnya yang ringan
  • perlu fitur video : tentu saja, hingga kini belum ada DSLR yang bisa merekam video, meski untuk keperluan video susungguhnya tetap saja prosumer belum bisa menyamai camcorder/handycam.

Gairah kebangkitan prosumer membutuhkan terobosan revolusioner yang dapat meyakinkan calon pembeli bahwa prosumer masih mampu memuaskan mereka, setidaknya melalui spesifikasi di atas kertas. Selanjutnya tentunya adalah bukti nyata melalui hasil foto, karena diatas segalanya baik tidaknya sebuah kamera dinilai dari kualitas foto yang dihasilkannya. Sampai saat ini, prosumer memang baru menjadi ‘jagoan’ di atas kertas dengan spesifikasi tinggi namun saat dianalisa hasil fotonya memang belum sesuai harapan. Jangan salahkan ekspektasi tinggi para fotografer pada kamera prosumer mengingat biaya yang diinvestasikan disini juga lumayan besar.

Bila tahun ini dianggap sebagai tahun kebangkitan prosumer, bolehlah Olympus dan Fujifilm dijadikan pemicu kembalinya kejayaan prosumer. Mau tahu kenapa?

Olympus SP570

Lihatlah Olympus, saat semua orang masih tercengang akan terobosannya di tahun lalu dengan meluncurkan prosumer pertama di dunia dengan lensa zoom 18x, kini Olympus lagi-lagi menjadi pionir dengan memperkenalkan prosumer baru dengan rentang zoom lebih fantastis, 20x optical zoom! Rentang ini setara dengan 26 – 520 mm dengan maksimum aperture f/2.8 hingga f/4.5, suatu spesifikasi lensa yang mengagumkan. Hadir menyempurnakan kakak-kakaknya SP-550 dan SP-560, Olympus SP-570 ini seakan menggebrak pasar kamera prosumer yang telah lesu dengan spesifikasi kelas berat, diantaranya :

  • Lensa zoom 20x yang dimulai dari 26mm (lebih wide dari sebelumnya 28mm) dan berakhir di 520mm (lebih tele dari sebelumnya 504mm). Fantastic range! Selain itu juga terdapat elemen lensa ED dan lensa refraksi tinggi untuk ketajaman pada seluruh rentang zoom. Mau makro? Bisa juga..
  • Sensor CCD berukuran 1/2,33 inci dengan resolusi 10 MP. Memang tampaknya Olympus sedikit memaksakan diri dengan resolusi sebesar ini, tapi masih lumayan daripada bersaing di level 12 MP atau lebih, karena sebetulnya 10 mega sudah lebih dari cukup untuk ukuran sensor sekecil ini.
  • Dual image stabilizer : sensor shift dan high ISO.
  • Flash hotshoe yang kompatibel dengan flash unit dari Olympus, dan telah support wireless flash system.
  • High-speed burst mode, hingga 13,5 fps pada resolusi 3 MP atau 1,7 fps pada resolusi 10 MP.
  • Tersedia file format CCD-RAW yang cocok untuk keperluan olah digital.
  • Layar Hyper Crystal LCD berukuran 2,7 inci dengan 230 ribu piksel, nyaman dilihat meski dari samping.
  • Internal memori lumayan lega, 45 MB. Sayangnya seluruh kamera Olympus masih ‘ngotot’ memakai slot memori jenis xD yang jelas-jelas tidak populer.
  • Ditenagai oleh 4 buah baterai AA.

(Catatan : Untuk dapat memberi gambaran jangkauan lensa Olympus ini rasanya belum ada lensa SLR yang dapat dijadikan pembanding. Katakanlah lensa zoom Tamron 18-250 f/3.5-6.3 yang cukup populer untuk lensa all-around dijadikan referensi, maka lensa Tamron ini setara dengan 28-375mm dan rentang ini masih kalah jauh dibanding lensa Olympus SP-570.)

Bila anda merasa prosumer dari Olympus ini sudah dapat membuat anda jatuh cinta, tunggu dulu. Hanya sehari setelah Olympus ini diluncurkan, kejutan di dunia prosumer kembali muncul. Kali ini tidak tanggung-tanggung, seolah bangkit dari tidur panjangnya, Fujifilm meluncurkan prosumer flagship yang mengagumkan. Sambutlah Fujifilm S100FS, bintang baru prosumer 2008 yang akan membuat siapa pun yang hendak membeli DSLR entry level akan berpikir dua kali karenanya.

Fuji S100FS

Inilah alasan mengapa Fujifilm S100FS ini saya anggap prosumer yang mengagumkan :

  • Lensa wide dengan 14,4 x optical zoom, 28-400mm f/2.8-5.3 dengan pengoperasian secara manual (mechanical zoom).
  • Sensor SuperCCD HR generasi ke-8 berukuran 2/3 inci dengan resolusi 11.1 MP memungkinkan hingga ISO 10.000 pada resolusi 3 MP (Sensor SuperCCD inilah yang membuat Fujifilm selama ini sukses membuat kamera yang mampu menghasilkan foto ISO tinggi dengan hasil mengagumkan).
  • Dual image stabilization : lens shift dan high ISO. Lens shift diyakini lebih baik untuk mengkompensasi guncangan pada saat posisi lensa tele daripada sensor shift milik Olympus atau Pentax.
  • Layar tilt-LCD berukuran 2,5 inci beresolusi 230 ribu piksel yang dapat diputar secara fleksibel ke atas dan ke bawah.
  • Film simulation mode : portrait, soft, Velvia dan Provia.
  • Face detection 2.0 yang otomatis menghilangkan efek mata merah.
  • High speed burst mode 7 fps pada 3 MP atau 3 fps pada resolusi maksimal.
  • Flash hot-shoe untuk pemasangan lampu kilat eksternal.
  • Tersedia file format CCD-RAW yang cocok untuk keperluan olah digital.
  • Bermacam pilihan bracketing mode, termasuk dynamic-range bracketing.
  • Tersedia slot memory card yang mampu menerima 2 jenis memori : SD/SDHC dan xD
  • Ditenagai oleh sebuah baterai Lithium NP-140.

Dengan spesifikasi dan kemampuan selengkap Olympus atau Fuji ini rasanya akan sulit untuk memilih antara prosumer atau DSLR kelas value. Meski demikian satu hal yang tetap harus diingat bahwa DSLR selalu menang dalam kualitas foto berkat sensor berukuran besar dan ini juga berimbas pada kemampuan low-light yang umumnya memakai ISO tinggi. Saat pilihan jatuh pada prosumer tentu ada kompromi yang harus diterima, kembali lagi kepada kebutuhan fotografi tiap orang yang tentu berbeda.

Update :

Telah terdapat review lengkap untuk Fuji S100FS, saya masih menantikan review yang lengkap untuk Olympus SP-570.

Advertisements

Published by

Erwin M.

Saya suka mengikuti perkembangan teknologi digital, senang jalan-jalan, memotret, menulis dan minum kopi. Pernah bekerja sebagai engineer di industri TV broadcasting, namun kini saya lebih banyak aktif di bidang fotografi khususnya mengajar kursus dan tur fotografi bersama infofotografi.com.