Canon A650IS : hands-on preview

Artikel ini awalnya berjudul ‘Memilih Canon seri A dengan stabilizer’.

Namun entah kenapa, setelah saya coba baca-baca kembali artikel ini, isinya ternyata sudah hilang entah kemana. Bila saya coba untuk edit page, yang muncul hanya sebuah edit box kosong saja. Aneh memang, karena saya tidak pernah men ‘delete’ post ini, buktinya komentar yang ada pun masih utuh. Sialnya lagi, saya belum sempat membuat back-up artikel ini di komputer, karena kebiasaan saya mengetik blog langsung pada halaman wordpress.

Inti artikel ini memperkenalkan jajaran kamera Canon seri A yang telah dilengkapi stabilizer, yaitu A570/590IS, A720IS dan A650IS. Generasi Canon seri A cukup populer karena harganya yang ekonomis, fiturnya lengkap dan memakai baterai AA. Namun tidak semua seri A telah dilengkapi fitur image stabilizer sehingga saya perlu membuat artikel ini. Di lain kesempatan mungkin saya akan mencoba menyusun kembali artikel ini, namun untuk saat ini saya akan sampaikan sebuah hands-on preview (kesan pertama) dari kamera digital Canon seri A yang tertinggi (dan termahal), yaitu A650IS. Selamat membaca…

Canon A650IS
Canon A650IS

Pagi ini saya dikejutkan oleh kawan kerja saya yang baru saja membeli A650IS dan beliau berkenan meminjamkan kameranya kepada saya. Tanpa panjang lebar lagi, saya langsung jepret kamera ini dengan kamera HP saya (maaf fotonya noise parah) (foto sudah diupdate). Kesan pertama, seperti layaknya Canon seri A 6xx dengan 4 buah baterai (A610, 620, 630, 640 dan 650IS), adalah ergonominya yang mantap. Hal ini karena ruang untuk genggaman tangan bertambah besar akibat jumlah baterai hingga 4 buah, sehingga rasanya seperti menggenggam mini prosumer. Untuk mengetahui performa kamera ini tidak perlu waktu lama karena secara umum saya rasakan masih sama bagusnya dengan A610 milik teman saya yang dibeli tahun 2006 silam. Saya temukan fitur Auto ISO cukup cerdas untuk tidak menggunakan ISO tinggi meski pada pencahayaan kurang. Contohnya, di ruangan kantor saya yang menggunakan lampu neon, untuk menjaga exposure normal A650IS ini ‘hanya’ menaikkan ISO hingga 500 dan ini lebih baik daripada kamera lain yang cenderung memilih ISO 800. O ya, untuk Auto ISO pun tidak perlu tebak-tebakan, karena nilai ISO sudah tertulis di layar pojok atas kiri saat tombol rana ditekan setengah, nice.

Mengenai lensa dan stabilizer, well, relatif baik. Distorsi pada saat wide memang cukup jelas (dan wajar untuk lensa zoom 6x seperti ini) namun kontras dan ketajaman lensa ini pada seluruh panjang fokal (35-210mm) patut diacungi jempol. Zoom lensa terasa smooth dan responsif (meski tidak terlalu cepat). Stabilizer juga bekerja baik meski saya tidak bisa memberikan perbandingannya disini karena hasil fotonya belum di pindah ke PC.

Mode yang saya coba adalah P (program), Tv (shutter priority), Av (aperture priority) dan M (manual). Saya cukup terkesan dengan kemampuan lensa A650IS ini saat memakai mode Av karena mampu memberi bokeh yang cukup baik di f/2.8 dan saat diafragma diturunkan hingga ke f/8 maka hasil foto menjadi tajam baik di objek dan background. saat mencoba mode M saya agak bingung saat berganti mengatur nilai shutter dan aperture, hal ini karena ketiadaan semajam jog whell ataupun joystick. Sayang sekali.. Tapi setelah menemukan caranya, ternyata lama-lama jadi terbiasa. Caranya yaitu dengan menekan tombol Exposure Compensation, maka saat telah menentukan nilai shutter, kita bisa beralih ke nilai aperture.

Karena terbatasnya waktu peminjaman, saya tidak sempat mencoba fitur lain seperti manual focus dan lainnya. Tapi saya yakin caranya sama dengan A610 yang pernah saya coba sebelumnya. Intinya manual focus pada kamera saku tetaplah tidak semudah dengan kamera DSLR. Ini karena pergeseran yang dilakukan adalah secara elektronik. Namun fitur ini pasti berguna saat auto fokus gagal mengunci objek (seperti saat memotret kucing dalam kandang misalnya).

Singkatnya, the good :

  • Lensa 6x zoom, tajam dan rentang fokal efektif

  • stabilizer dengan sistem lens-shift

  • layar LCD bisa diputar

  • Auto ISO cerdas

  • memakai 4 baterai AA (daripada 2 baterai)

  • fitur baru seperti face detection

  • masih ada optical viewfinder

The bad (not too bad) :

  • sedikit distorsi di wide-end (meski masih wajar)

  • akan lebih baik bila wide dimulai di 28mm (daripada 35mm)

  • histogram tidak muncul saat sebelum memotret

  • tanpa jog-whell/joystick

  • akan lebih asyik bila ada RAW file format
  • resolusi 12 MP terlalu dipaksakan untuk sensor sekecil ini (mungkin 10 MP lebih rasional)

Overall, saya terkesan dan mengakui kehebatan seri tertinggi dari Canon powershot A series ini. Highly recommended IMO..

Advertisements

Published by

Erwin M.

Saya suka mengikuti perkembangan teknologi digital, senang jalan-jalan, memotret, menulis dan minum kopi. Pernah bekerja sebagai engineer di industri TV broadcasting, namun kini saya lebih banyak aktif di bidang fotografi khususnya mengajar kursus dan tur fotografi bersama infofotografi.com.

5 thoughts on “Canon A650IS : hands-on preview”

  1. itu yang 590IS bisa manual focus juga ngga ya?
    kan lumayan bisa buat belajar fotografi juga tuh klo bisa manual focus.

  2. wah ini makin bikin aku gemes utk bisa segera beli A650IS nih, di sentradigital.com Rp. 2.975.000.
    kalau harga A570IS nya Rp. 1.680.000, sedangkan A590IS nya …emh belum terpajang disana 🙂
    ada yg punya info A650IS dgn harga lebih miring dari itu?

Comments are closed.