Ponsel (buatan) Cina, mau?

Selain jepang dan korea, produk elektronika yang banyak dijual di negeri ini juga banyak yang buatan cina. Meski demikian, entah kenapa saya kurang berminat akan produk-produk elektronika yang diproduksi oleh negeri tirai bambu itu. Mungkin saya sudah terlanjur punya anggapan bahwa produk elektronik dari cina ya hanya sebagai pengisi kekosongan segmen pasar yang tidak diisi oleh produsen asal jepang atau korea saja. Ditambah lagi standar mutu dan kehandalan produk cina yang masih sering dipertanyakan, membuat saya tidak terlalu ingin mencari tahu apa-apa saja yang berkaitan dengan Made-in-China. Tapi saya sadar kalau saya juga salah karena terlanjur menganggap semua yang buatan cina itu kurang berkualitas. Kini dipasaran sudah banyak dijual bermacam gadget dari cina yang mutunya bersaing dengan produk jepang atau korea, dengan harga yang tentu saja lebih terjangkau. Prinsip pasar juga membuktikan bahwa produk yang harganya lebih ‘miring’ dari produk sejenis tentu laris manis, tak peduli meski harus bermerek aneh dan jarang didengar.

Saya tidak pasti akan hal ini, tapi saya menangkap kesan bahwa jepang dan korea mulai tergerus oleh cina dalam urusan market sharenya. Contoh kecil saja, bila diperhatikan kini banyak AC buatan cina yang merknya cukup asing di telinga seperti Gree, Aux, Changhong dsb, yang kalau dibandingkan AC jepang/korea toh rasanya sama saja, dingin. Belum lagi kalau mau ditilik hingga ke produk lain dari televisi hingga mobil. Akhirnya toh konsumen juga yang diuntungkan, tentukan budgetnya, terus mau milih produk buatan mana (buatan dalam negeri-kalau ada, tentu lebih baik).

Topik ini saya angkat karena beberapa waktu silam seorang rekan kerja saya memamerkan ponsel barunya buatan cina bermerk My-G seri 800 yang membuat kami terkagum-kagum. Bagaimana tidak, ponsel dengan layar 3,2 inci ini juga bisa merangkap sebagai TV portabel (berkat TV/FM tuner buit-in), bisa dual SIM-card GSM, bisa layar sentuh, multimedia lengkap, plus bluetooth pula. Harganya bahkan ‘cuma’ sekitar 2 jutaan, cukup tidak masuk akal (tapi nyata). Agak sulit untuk mencari produk ponsel jepang/korea yang memiliki fitur yang menyamai produk ini, kalaupun ada toh sudah terbayang berapa harganya. Meski demikian, faktor harga yang murah mengindikasikan bahwa calon pembeli harus berhati-hati dan teliti sebelum membeli. Tampaknya produsen cina paham betul kekosongan yang harus dia isi, bukan semata-mata konsumen butuh produk murah namun juga murah dan sarat fitur. Apakah artinya kini cina menduhului membuat inovasi dan memaksa produsen jepang/korea mengikuti tren yang dia buat? Entah..

Sebelum ini saya memang pernah mendengar merk lain yang lebih duluan muncul seperti HTC, Eten, i-mobile, ZTE dsb, namun lebih cenderung menjadi produk ponsel/PDA yang biasa-biasa saja. Namun tren yang mulai banyak digemari sekarang adalah ponsel yang punya kekhasan seperti plus penerima siaran TV atau yang dual SIM (GSM-CDMA seperti Kozi & Coolpad atau GSM-GSM seperti My-G). Selain produk My-G, ada produsen lain yang juga menawarkan TV tuner, sebut saja Hi-Tech dan Mito. Tentu saja siaran televisi yang bisa diterima oleh ponsel model begini adalah siaran analog (bukan siaran DVB-H digital broadcast yang harus membayar untuk menikmati layanannya), tak ubahnya penerima TV layar LCD lain yang membutuhkan antena yang panjang untuk menagkap gelombang UHFnya.

Bagi anda yang mengharap akan menemukan daftar lengkap ponsel buatan cina disini mungkin akan kecewa, mohon maaf, saya memang tidak punya datanya. Tidak mudah untuk menyusun daftar ponsel cina yang beredar di pasaran Indonesia, selain karena jalur distribusinya yang agak berbeda, juga karena informasi soal produk cina ini amat terbatas. Tapi ada blog lain yang sudah membuat daftarnya dengan cukup lengkap dan barangkali bisa dijadikan referensi.

Artikel terkait : K-Touch D700, Ponsel Dual On GSM (by technomobile).

Advertisements

Published by

Erwin M.

Saya suka mengikuti perkembangan teknologi digital, senang jalan-jalan, memotret, menulis dan minum kopi. Pernah bekerja sebagai engineer di industri TV broadcasting, namun kini saya lebih banyak aktif di bidang fotografi khususnya mengajar kursus dan tur fotografi bersama infofotografi.com.