Kamera digital favorit saya di 2008

Masih ingat blog saya berjudul : Kamera digital favorit saya di 2007? Sangat menyenangkan saat mengetahui antusiasme pembaca yang begitu tinggi terhadap blog tersebut. Dengan hadirnya bermacam kamera baru di tahun 2008 ini, rasanya saya perlu menulis lanjutan blog terdahulu supaya dapat tetap update dan informatif bagi pembaca. Pada kesempatan kali ini, katagori kamera saku dan kamera wide saya lebur menjadi satu supaya lebih praktis. Selamat membaca…

Katagori kamera DSLR :

  1. Nikon D300 masih menjadi kamera DSLR favorit pertama saya dengan sensor CMOS 12 MP dengan format DX, live-view dan weather sealed body. Hingga kini Nikon D300 masih menjadi kamera DSLR tercanggih dan termahal di kelas DSLR bersensor APS-C. D300 dinobatkan sebagai baby-D3 karena secara desain dan fitur memang seperti versi ‘kecil’ dari kamera DSLR profesional Nikon D3 Full Frame. Keunggulan Nikon D300 lainnya adalah memiliki 51 titik fokus yang fleksibel dan kualitas hasil foto yang baik pada ISO tinggi.
  2. Canon EOS-40D pun masih menempati posisi kedua kamera DSLR favorit saya dengan sensor CMOS 10.1 MP dan didukung fitur andalannya seperti Digic III engine, Live view, dust reduction, weatherproof body, 9 titik AF, 6.5 fps burst mode dan layar LCD 3 inci. EOS-40D sebagai kamera mid-level/semi-pro harus bersaing ketat dengan kamera DSLR lain yang lebih baru dan sarat fitur, seperti Pentax K20D, Sony A350 dan Olympus 520. Namun saya merasa 40D masih lebih baik dari para pesaingnya, meski pesaing tadi pun tak kalah baiknya. Update : Canon telah meluncurkan EOS-50D sebagai penerus EOS-40D.

Katagori kamera prosumer :

  1. Fuji Finepix S100FS menjadi prosumer terbaik yang pernah dibuat oleh Fujifilm. Hadir dengan sensor khas Fuji SuperCCD 2/3 inci beresolusi 11 MP, kamera ini diyakini dapat menghasilkan gambar berkualitas meski pada ISO tinggi. Kehebatan S100FS terletak pada lensa 14.3x zoom (28-400mm) yang zoomnya manual persis seperti lensa SLR, plus layar LCDnya yang bisa dilipat. Terdapat pula mode Film Simulation (FS), format file RAW, serta fitur untuk menaikkan dynamic range secara otomatis. Fuji menyediakan flash hot-shoe untuk memasang lampu kilat eksternal kian meneguhkan posisinya sebagai kamera prosumer. Fuji S100FS menjadi favorit pertama saya di katagori prosumer, meski produk pesaing DSLR pemula ini berharga diatas 7 juta rupiah.
  2. Olympus SP570 dengan resolusi 10 MP memakai sensor CCD berukuran 1/2.33 inci, hadir sebagai prosumer dengan lensa wide yang memiliki jangkauan terpanjang dalam sejarah kamera prosumer yaitu 20 kali zoom optik (26-520mm) dengan diafragma yang relatif cepat. Inilah yang menjadikan kamera mega-zoom ini sebagai prosumer favorit saya di tempat kedua. Layar LCDnya juga lumayan besar dengan ukuran 2,7 inci. Sebagai kamera prosumer, SP570 tidak hanya mengandalkan fitur manual yang berlimpah, namun juga telah menyediakan file format RAW. Prosumer satu ini cukup berbeda dalam urusan baterai dibandingkan kebanyakan prosumer lain karena menggunakan baterai AA sebanyak 4 buah. Sebagai tambahan, Olympus menyediakan flash hot-shoe untuk memasang lampu kilat eksternal. Dengan semakin murahnya harga memori, jenis memori xD yang digunakan Olympus rasanya tidak menjadi masalah.
  3. Canon Powershot G9 dengan sensor CCD berukuran 1/1.7 inci beresolusi 12 MP dan 6x zoom optik masih menjadi prosumer favorit ketiga saya berkat desainnya yang keren dan fitur yang lengkap seperti stabilizer, file format RAW, flash hotshoe dan sebuah optical viewfinder. Mengusung layar LCD 3 inci beresolusi 230 ribu piksel, tampilan layar G9 memang amat tajam dan baik. Kemampuan movie modenya pun amat baik dengan resolusi maksimum di 1024×768 piksel. Hanya saja prosumer yang satu ini bukan masuk ke kelas kamera super-zoom, sehingga lebih cocok diposisikan sebagai kamera prosumer saku yang berkualitas tinggi. Update : Canon telah meluncurkan G10 sebagai penerus G9.

Katagori kamera pocket :

  1. Canon Powershot A650IS masih menjadi kamera saku favorit pertama saya dengan resolusi 12 MP, image stabilizer dan lensa dengan zoom optik 6x. Setahun telah berlalu, namun sulit bagi saya untuk mencari kamera saku lain yang lebih baik dari A650IS ini. Dia memiliki fitur manual P/A/S/M yang lengkap, layar LCD yang bisa diputar, masih ada optical viewfinder, ergonomi yang baik dan ditenagai baterai AA sebanyak 4 buah yang cukup bertenaga. Kualitas hasil foto kamera ini juga relatif lebih baik dibanding kamera sejenis, berkat penggunaan sensor CCD berukuran 1/1.7 inci. Canon A650IS ini kadang disejajarkan dengan Canon G9 karena kemiripan fitur dan spesifikasi, terutama dalam hal lensanya, meski A650IS tidak dilengkapi file format RAW dan flash hot-shoe (namun layar LCD Canon G9 tidak dapat diputar).
  2. Panasonic Lumix FX500 menempati posisi kedua kamera saku favorit saya dengan keunggulan pada layar LCD touch-screen 3 incinya yang interaktif. Untuk menentukan titik auto fokus, pemakai tinggal menyentuh layarnya saja. namun bukan itu saja kehebatannya. Simak saja lensa Leicanya yang sangat wide di 25mm, 5x zoom optik, stabilizer, manual mode P/A/S/M dan kemampuan merekam video berkualitas HD/High-Definition. Kamera beresolusi 10.1 MP inipun diklaim lebih baik dalam menangani noise pada ISO tinggi berkat engine baru Venus IV engine.
  3. Panasonic Lumix TZ5 dengan resolusi 9 MP menjadi kamera yang memiliki keunikan pada lensa Leica 10x zoom (28-280mm) dengan image stabilizer yang dikemas dalam bodi yang ringkas. Kemampuan kamera ini semakin baik dengan dukungan Venus IV engine, layar LCD 3 inci dan kemampuan merekam video berkualitas HD/High-Definition. Bahkan terdapat varian khusus dari TZ5 ini yang dilengkapi dengan fitur WiFi. Meski tanpa dukungan fitur manual, kamera ini berhasil merebut hati saya untuk dinobatkan sebagai kamera saku favorit saya di tempat ketiga.

Katagori kamera value :

  1. Panasonic Lumix LZ10 menjadi favorit pertama saya di kelas kamera saku ekonomis. Tidak mudah untuk menempati posisi pertama di kelas ini. Syarat pertama adalah harganya harus terjangkau, dan kedua kualitasnya jangan dikorbankan. Bicara soal kualitas, LZ10 dibekali lensa Leica dengan zoom optik 5x. LZ10 inipun telah didukung oleh Venus IV engine yang bertenaga, telah terdapat fitur manual P/A/S/M, dan fitur video beresolusi 848 x 480 piksel. O ya, saya tidak perlu menulis kalau kamera ini telah dilengkapi stabilizer, karena faktanya semua kamera digital Lumix memang memiliki fitur ini. Layar LCDnya amat baik untuk ukuran kamera ekonomis dengan ukuran 2.5 inci beresolusi 230 ribu piksel. Bandrol harga sekitar 2 jutaan, cukup pantas mengingat fitur kamera beresolusi 10.1 MP ini memang terbilang lengkap.
  2. Canon Powershot A590IS dengan resolusi 8 MP dan zoom optik 4x menjadi andalan kedua saya di kelas kamera murah meriah. Kamera penerus A570IS ini tetap dilengkapi fitur image stabilizer. Terdapat pilihan manual mode P/A/S/M layaknya kamera saku kelas menangah, juga terdapat fitur face detection, serta (yang unik) masih terdapat fasilitas optical viewfinder. Inilah kamera yang berkualitas baik, berfitur lengkap dan memiliki ergonomi yang baik, yang dijual dengan harga dibawah 2 juta rupiah. Sulit dipercaya…

Sampai jumpa nanti di artikel berikutnya : Kamera favorit saya di 2009Β  …. πŸ™‚

Published by

Erwin M.

Saya suka mengikuti perkembangan teknologi digital, senang jalan-jalan, memotret, menulis dan minum kopi. Pernah bekerja sebagai engineer di industri TV broadcasting, namun kini saya lebih banyak aktif di bidang fotografi khususnya mengajar kursus dan tur fotografi bersama infofotografi.com.

131 thoughts on “Kamera digital favorit saya di 2008”

  1. Mas, saya lg bingung banget nih..
    Sebenarnya sy msh newbie dlm hal DSLR, biasanya cm yg analog.. tp dah dak mau lg skrg!
    Saat ini sy tertarik ama 3 kamera (serakah amat yaa..?!) EOS 450 D, 40 D dan 50 D
    Kira2 yang paling baik yang mana yaa..?
    Saya tipikal org-nya, “mendingan keluar duit dikit dan nabung dulu drpd nyesel belakangan”..
    Mohon pencerahan dr masing2 kamera dgn bhs yg awam aja, biar sy bs ngerti.. (he.. he.. he..)

    Terimakasih atas pencerahannya..

    Yang dua digit (40D, 50D) tentu kelasnya diatas tiga digit (450D) apalagi empat digit (1000D). Kelas dua digit menandakan kelas semi-pro, dgn spek kamera diatas keals entry-level. Saya kurang paham artinya : “mendingan keluar duit dikit dan nabung dulu drpd nyesel belakangan”
    Apa maksudnya mending beli yg terjangkau atau mau nabung dulu terus sekalian beli yg mahal (supaya tidak menyesal)?

    Saya suka 40D, apalagi 50D tidak mampu memberi hasil ISO tinggi yg lbh bersih dari 40D. Tapi untuk price/performance yg berimbang, 450D sudah amat baik (apalagi untuk DSLR pertama).

  2. 1. oh iya mas, katanya ada beberapa lensa yang compatible dengan
    nikon D60 tapi ga kompatible dengan D40, kalo boleh tau apa
    ciri-cirinya ya mas mana yang compatible dengan D60 mana yang
    kompatible yang D40?
    2.lensa Tamron AF 18-250mm F/3.5-6.3 XR Di II LD Aspherical (IF)
    (13,8 x optical zoom booo..)udah ada peredam getarannya ga ya
    mas, trus compatible dimana di D40 ato D60?
    3. menurut mas mending mana?
    a. D40 kit plus lensa nikkor 55-200
    b. D60 kit (katanya lebih tajam drpd lensa D40 bener ga mas?)
    plus lensa nikkor 55-200
    c. D40 ato D60 dengan lensa Tamron AF 18-250mm F/3.5-6.3 XR
    Di II LD Aspherical (IF) ato lensa Sigma 18-200mm f3.5-6.3 DC OS
    (ng.ng.ng.. kalo kompatible…)
    d. D40 ato D60 dengan lensa Nikon AF-S DX 18-105mm
    f/3.5-5.6G ED VR (“eh iya mas, lensa nikkon AF-S DX
    18-135mm ada ga yang ED VR, kalo ada harganya brp skrg
    mas”)?
    4. thx banget for the answer…piiiissss…oh iya boleh liat hasil
    jepretan D40-nya mas gaptek engga, …….hehehehe..

    1. Belum pernah tau, rasanya sih tidak ada lensa semacam itu deh.
    2. Tamron 18-250 tanpa stabilizer, untuk yg kompatibel dgn D40 hanya versi A18N II.
    3.a. Oke.
    b. Kit D60 sama dgn D40, cuma udah kit D60 VR.
    c. Saya suka D40 dgn Sigma 18-200 OS.
    d. Ini lebih mantap, D40 plus AF-S 18-105 (meski bukan super zoom tapi harga murah mutu oke). Lensa kit D80 (18-135) tidak ada yg VR.
    4. Wah, saya gak punya foto yg bagus. Saya kan blogger, bukan photographer πŸ™‚

  3. so, kesimpulan nya :
    1. spt yg saya duga, mas gaptek pasti condong ke nikon D40
    2. pasangannya :
    kalo realistis : a.Nikon AF-S DX 18-105mm
    f/3.5-5.6G ED VR
    b. mepet-mepet nya lensa Sigma 18-200mm
    f/3.5-6.3 DC OS (Optical Stabilizer)
    kalo mo ngimpi : Nikon AF-S DX VR 18-200mm/f3.5-5.6G IF-ED ( heheheheh…kalo ini mantap kan massss??)
    betul ga mass….???

    1. Ya, atau kalo ada dana ambil D90 (skip D60 deh).
    2. Soal harga masih mahalan sigma 18-200 daripada AFS 18-105 lho. Kalo ngimpinya saya :
    – 18-55 (kit) tetap dipake untuk range standar
    – tambah 12-24 buat widenya (4 jt)
    – tambah 70-300 buat telenya (5 jt)
    – tambah 50 f/1.4 buat potretnya (4 jt)
    – tambah 105 buat makro
    puas dah….

  4. mas, saya ingin membeli kamera kompak dan tertarik dengan Nikon coolpix P 80. mohon ulasannnya atau kalo ada rekomendasi lainnya seperti canon G10 atau sony H50.
    makasi banyak mas^^

    Nikon Coolpix P80 adalah upaya Nikon utk punya produk yg bisa bersaing di pasaran kamera super zoom, yg sebelumnya sudah jadi makanan empuk Lumix, Canon dan Olympus. Dari segi selling point, P80 ini relatif tidak ada yg istimewa dibanding pesaing. Artinya spek dan fiturnya stndar, dan hasil fotonya pun biasa saja. Bila anda tidak punya persyaratan khusus dlm memilih kamera super zoom, P80 ini sebenarnya sudah cukup baik utk dipilih.

    Masalahnya, ada juga orang yg mencari super zoom dgn ’embel-embel’ tertentu, misal : ingin cari yg murah, ingin cari yg layarnya bisa diputar, ingin yg lensa nya zoom manual, ingin yg ada file RAW dll. Maka itu sebaiknya matangkan dulu kebutuhan fotografi anda. Apalagi antara Nikon P80 dan Canon G10 itu udah beda bentuk, yg satu seperti DSLR kecil, yg satu lagi seperti kamera saku yg gemuk. Utk dibandingkan saja sudah sulit.

  5. thanks infonya mas
    maklum masih newbie bgt
    biasa pake kamera kompak tertarik superzoom

    nanya lagi mas, kalo milih superzoom kriteria utama yg musti diperhatiin apa aja?

  6. salam kenal bos!!!

    langsung aja ya…

    begini ceritanya…

    sebenernya saya belum punya camdig, tapi suka banget ngeliat hasil photography dan mau banget belajar…
    nah, saya ada rencana beli pocket camdig yang murah-an dulu aja 3jt, ntar nanggung kenapa ga beli yang prosumer sekalian…kalo mau beli yang prosemer ntar nanggung ga beli DSLR yang murah aja, mau beli DSLR yang murah ntar ngiler ngeliat temen2 yang DSLR canggih…
    (namanya juga manusia… sifat dasarnya suka mengeluh, jarang bersyukur, dst…)
    sedangkan saat ini masih pemula banget dan tingkat ketebalan dompetnya PUN rendah!!!

    tapi bingung mau beli pocket camdig merk & type apaan…
    hehehehe… kan enak juga bisa memaksimalkan pocket camdig ala profesional yang masih super amatir, yang camdignya bisa dibawa terus ke mana2, kan kecil…

    kalo saya sih rencananya beli Canon PS A590 IS, pas banget harga murah-meriah tapi dah ada P/S/A/M modenya (jadi bisa belajar utk jadi jago)… πŸ˜€

    atau kira2 ada ga rekomendasi camdig dari bos untuk manusia seperti saya ini??? mmm… tapi kalo bisa masih <2,5jt ya….

    alternatif lain saya:

    1. Lumix LZ8, tapi kata temen, “walau kita mulai dari prosumer atau compact, satu brand terkenal sebagai entry point akan membantu memahami “karakter dan menu” dari level berikutnya. Panasonic DSLR Panasonic tidak populer. beliau prefer ke A590 IS.
    Trus pilihan ini juga jadi saya menambah pertanyaan, apa beda ( +/- juga ) camdig yang pake “kekeran” (istilahnya lifeview ya???) dengan yang ga ada sama sekali kaya LZ8 ini.

    2. A720 IS, apa ini udah ada P/S/A/M mode??? apa +/- dibandingkan A590 IS. (mungkin lebih dari kemampuan record movie atau yang lain…)

    satu lagi, katanya ergonomi camdig juga penting utk kestabilan ya???
    kata temen saya, percuma punya optical zoom gede2 tapi ga nyaman ketika dipakai utk moto yg mengakibatkan goyang juga ketika dijepret!!

    sekian dulu deh, tolong bantu buat kesimpulan pilihannya bagusnya apa (termasuk ergonomi itu ya…)

    terimakasih banyak nih bos…

    Bales ya :
    1.Canon A590 IS udah oke, atau kalo mau nambah dikit ya A720 IS.
    2. Lumix LZ8 oke juga, meski lensanya sedikit lbh lambat.
    3. Viewfinder optik di kamera saku tidak langsung dari lensa (TTL), sehingga bisa ada kesalahan paralax. Gunanya buat menghemat baterai (dgn mematikan LCD).
    4. Menu DSLR dgn kamera saku kan beda, meski merknya sama. lagipula belajar (dan beradaptasi) menu kan tidak lama.
    5. Ergonomi penting? Ya. Kalau enak dan matap digenggam kan jadi tidak gampang goyang/shake. Lagian biara gak gampang lepas juga kalo lagi ditenteng-tenteng.
    6. Trims juga.

  7. makasih nih mas atas jawabannya…

    sekarang saya jadi fokus antara dua aja deh krn keterbatasan dana… antara PS A590is atau PS A720is…
    berdasarkan penerawangan saya di link ini…
    http://www.dpreview.com/reviews/compare_post.asp?method=sidebyside&cameras=canon_a590is%2Ccanon_a720is&show=all

    ada beberapa point yang akan saya tanyakan:
    1. aperture range A590is (f2.6-f5.5) lebih lebar rangenya dibanding A720is (f2.8-f4.8).
    Dengan selisih (paling rendah dan tinggi dipegang A590is) seperti itu seberapa besar pengaruhnya nih bos???
    2. continous drive itu utk apa ya??? unlimited-nya terhadap apa???
    3. macro focus itu utk jarak maksimal kemampuan camera mengambil objek atau seperti apa pengertiannya???
    4. auto focus A590is ada face detection, apa A720is ga ada???
    seberapa besar juga nih pengaruhnya…
    5. ISO rating yang “Hi Auto” seberapa besar juga nih pengaruhnya…
    6. white balance override ini utk apa, seberapa besar pengaruhnya…
    7. yg buat saya suka A720is krn macronya lebih bagus (1cm), trus rec.movie dah 30fps utk quality 640×480
    8. yang buat saya agak ragu juga utk milih A720is, karena comment dari link itu ga sebaik comment utk A590is!!!
    9. terakhir (saat ini) SDHC card itu macam mana ya??? baru denger soalnya…

    nah kalo begini, di antara dua itu yang paling bos rekomendasikan apa nih??? point2 apa aja yang kira2 kelebihan dan kekurangannya bisa buat saya tergiur… (barang keluaran 2007 tapi harganya lebih mahal 700rb-an dengan +/- masing2…)

    tetep terbuka kalo bos mau rekomendasiin yang lain lho…

    maaf kalo terlalu detail, soalnya lagi belajar…

    lagi2 terimakasih banyak atas jawabannya…

    1. Aperture ideal itu konstan, spt lensa Lumix FZ20 : f/2.8 jadi dari posisi lensa zoom out (wide) hingga zoom in (tele), bukaan maksimal masih bisa di f/2.8. Tapi lensa semacam ini amat sulit disesain dan akan berukuran besar sehingga lebih mudah membuat lensa dgn bukaan variabel spt kamera yg biasa kita temui. Upayakan dapat lensa yg range nya sempit, dan berada di bukaan relatif besar (lensa cepat). Misal f/2.8-4.8 masih lebih baik (lebih besar, lebihcepat) daripada f/2.8-5.8. Dengan bukaan maksimal yg kecil, kamera akan kedodoran saat cahaya meredup, sehingga shutter terpaksa dilambatkan atau ISO dinaikkan.

    Ini ilustrasinya :
    f/2.8 -> bukaan konstan dari wide hingga tele -> best lens ever
    f/2.8-3.7 -> masih tergolong lensa lumayan cepat, saat tele masih bisa membuka sampai f/3.7, lumayan
    f/2.8-5.8 -> meski saat wide bisa membuka sampai f/2.8 tapi saat tele lensanya cuma membuka f/5.8 yang amat kecil (ingat : kamera saku umumnya bukaan terkecil f/8, bandingkan DSLR bisa f/32)
    f/3.5-5.5 -> ini yg paling konyol, baik saat wide atau tele bukaannya kecil (bahkan saat wide hanya f/3.5) tapi sialnya lensa model begini sekarang sudah mulai banyak lho, hati-hati.

    2. motret terus2 an secepat sekian frame per detik. Unlimited ya selama masih ada sisa memori kita bisa terus jepret tanpa henti. Kalo limited, biasanya kalau udah mencapai sekian gambar dia berenti motret dan mulai nulis ke memori.

    3. Macro focus utk mengubah lensa supaya bisa memgunci fokus pada benda yg amat dekat dgn lensa (1 cm- 10cm).

    4. Saya lupa, lagian saya jarang pake fitur face detection.

    5. Hi-ISO pada kamera saku? Lupakan saja. Bermainlah dari ISO rendah hingga maksimal di ISO 400 saja.

    6. Saya belum tahu fitur ini.

    7. Ya, sayangnya A590 IS tidak bisa record movie 30fps di resolusi VGA, padahal adiknya A570 IS bisa.

    8. Jgn terpengaruh omongan orang, termasuk saya πŸ™‚

    9. SD high capacity, bisa diatas 4 GB.

    10. Saya gak bisa rekomendasiin produk karena nanti disangka saya beriklan, utk kamera favorit saya bisa dilihat di blog ini. Cari aja beberapa kamera lain yg cocok sesuai budget dan kriteria anda, nanti kalau sudah dapat coba kita bahas aja lagi.

  8. wah…nambah ilmu lagi nih…
    makasih ya bos!!!

    tapi ada lagi nih pertanyaannya… (jangan bosen ya…) πŸ˜€

    saya berasumsi kalo aperture range f/2.6-5.5 lebih baik, karena pada saat menggunakan aperture priority mode, kita punya banyak pilihannya mulai dari f/2.6 (bukaan besar) sampai ke f/5.5 (bukaan kecil). sedangkan f/2.8-4.8 pilihannya lebih sedikit, bener ga tuh asumsi saya???
    terus sebenarnya aperture range itu bisa kita gunakan HANYA dengan 2 range itu aja (yang tercantum di spek camera) dengan f/2.6 saja dan atau f/5.5 saja.
    atau kita bisa milih banyak asalkan masih di range itu, misalkan f/2.6; f/2.8; f/3.5; f/3.7; dst…???

    pertanyaannya kayanya nyambung ya…
    (pertanyaan masih seputar aperture range, di pocket camdig ya mas…)

    thanks.

    Soal range aperture saya tidak sependapat. Ingat kalau angka yg ditulis di lensa menunjukkan variabel aperture maksimum dari posisi wide hingga tele. Sebenarnya aperture range lebih tepat adalah dibandingkan dgn bukaan minimum (yg tidak ditulis di lensa) yaitu sekitar f/8 (kamera saku) dan f/32 (lensa DSLR). Jadi kalo ada lensa f/2.6-f/5.5 (asumsikan f minimum f/8) bacanya gini :
    -pas wide dia bisa membuka maks f/2.6 hingga min f/8
    -pas tele dia (hanya) bisa membuka maks f/5.5 hingga min f/8 (range yg amat sempit)

    Bandingkan kalau lensa yg lebih cepat, misal f/2.8-f/3.7 atau lensa Lumix LX-3 yang mengagumkan : f/2.0-f/2.8, beda banget kan?

    Soal step aperture dari kamera sepenuhnya tergantung desain lensa masing2 merk. Ada kamera yg cuma memberi step 1 stop saja, ada yg memberi step yg lebih halus (1/2 hingga 1/3 stop).

    Contoh lensa range f/2.8 hingga f/8 :
    pilihan f-number kelipatan 1/3 stop : f/3.3 f/4 f/4.5 f/5 f/5.6 f/6.3 f/7.1. kalo 1/2 stop : f/3.3 f/4 f/4.8 f/5.6 f/6.7
    Kalo cuma 1 stop lebih terbatas lagi pilihannya : f/4 dan f/5.6.

    Demikian, semoga tambah bingung πŸ™‚

  9. bos mas gaptek, haayyaaa..mo nanya lageee..neh
    1. merujuk jawaban mas jawaban-jawaban mas, berarti, lensa kode AF-S VR bisa dipasang di D40 yo massss???
    2. emang lensa 18-200mm bisa wide yo masss, ng..kalo buat makro bisa engga mas????
    3 tengkyu kamsiah..maaassss..gaptek…..

    1.Yang bisa dipasang di D40 adalah lensa Nikon berkode AF-S, jangan pusingin soal huruf yg lain spt VR, G, DX, IF, dll.
    2. 18-200mm kan zoom nya dimulai dari 18mm, ya wide dong. Buat makro kurang cocok, baiknya pake Nikkor micro 60mm atau 105mm.
    3. Sie-sie..

  10. Mas Gaptek…menyenangkan membaca blog anda…sangat membantu saya yang gak ngerti apa2 soal potret memotret ini. Saya gak mau (blom sih tepatnya) nanya macem-macem..masih belajar dari jawaban2 anda terdahulu….saya cuma ingin mengapresiasi blog anda….BAGUS DAN BERMANFAAT…makasih mas…

    Terima kasih atas dukungannya, semoga tulisan saya membawa manfaat buat pembaca.

  11. Artikel ‘kamera favorit saya 2008’ ini hingga hari ini telah mendapat 130 komentar dari pembaca, luar biasa. Namun sayangnya komentar yang terlalu banyak akan berdampak pada proses loading halaman ini sehingga menjadi berat dan lama.

    Demi kenyamanan anda membaca, dengan terpaksa kesempatan anda untuk menulis komentar di artikel ini saya tutup. Meski demikian, anda masih bisa menulis komentar di artikel lainnya di blog ini. Terima kasih.

Comments are closed.