Active D-Lighting pada DSLR Nikon

Kamera DSLR generasi baru kini dijejali banyak fitur baru. Katakanlah adanya fitur sistem anti debu hingga sistem live view (yang kemudian dioptimalkan dengan sistem face-detection). Namun bila dicermati kamera DSLR generasi baru dari Nikon, yang paling membuat saya kagum adalah fitur Active D-Lightingnya. Fitur ini mulai diperkenalkan pada generasi Nikon D3 dan D300, selanjutnya juga diadopsi oleh si adik kecil D60. Pada kamera DSLR Nikon lama, fitur ini tidak tersedia. Sebagai cikal bakalnya, dahulu ada satu fitur image retouch yang bernama D-lighting saja. Apa saja perbedaannya?

Awal mula ini semua bermula dari yang namanya dynamic range. Istilah satu ini menyatakan seberapa mampu sang sensor pada kamera membedakan tingkat terang gelap cahaya yang ditangkapnya. Faktanya, daya tangkap sensor tidak sebaik mata manusia. Saat mata kita memandang suatu objek yang memiliki kontras tinggi, mata kita masih mampu membedakan terang gelap itu dengan baik. Sedangkan pada sensor, ada keterbatasan yang harus diterima, sehingga saat memotret objek yang amat kontras (terang gelapnya), akan ada bagian yang terlalu gelap (shadow) dan terlalu terang (highlight). Sialnya, saat suatu bagian dalam foto memiliki shadow atau highlight yang terlalu tinggi (over) maka detil foto pada bagian itu akan hilang (blown). Keterbatasan ini disiasati dengan memperbaiki kemampuan pengukuran cahaya pada kamera (metering) dan penambahan fitur kompensasi pencahayaan (Ev-exposure compensation) sehingga sang fotografer bisa memilih apakah fotonya akan dibuat lebih gelap atau lebih terang. Namun tetap saja kedua pilihan itu sama-sama sulit. Saat metering kamera cenderung membuat blown-highlight, misalnya, setting Ev terpaksa diturunkan, namun resikonya akan ada bagian yang akan menjadi terlalu gelap (dan sebaliknya).

Solusi lebih baik tentunya adalah membuat sensor yang lebih baik, dengan resolusi analog-to-digital converter yang ditingkatkan. Namun solusi ini dirasa masih mahal dan sulit, sehingga para produsen kamera berpikir keras mencari solusi lebih mudah namun efektif. Nikon misalnya, awalnya memperkenalkan fitur D-lighting (digital lighting) yang mampu mencari bagian gelap pada foto kemudian membuatnya lebih terang. Fitur yang bertujuan memperbaiki eksposure ini diperkenalkan pada jajaran kamera saku Coolpix dan DSLR seperti D40. Masalahnya, fitur ini harus diterapkan satu persatu pada setiap foto yang perlu dikoreksi, sungguh tidak praktis.

Teknik memperbaiki eksposure secara otomatis akhirnya menjadi solusi paling praktis (setidaknya) untuk saat ini. Entah produsen mana yang memulai, meski istilahnya berbeda-beda tapi prinsip kerjanya sama. Sony misalnya, menyebutnya dengan istilah Dynamic Range Optimizer dan Nikon memperkenalkan Active/Adaptive D-Lighting. Khusus untuk Nikon, awalnya saya mengira fitur ini sama saja dengan melakukan proses D-lighting biasa, hanya saja kini otomatis setelah foto diambil. Namun setelah membaca review dan penjelasan dari para pakar, saya baru memahami bahwa fitur ini tidak hanya memperbaiki daerah gelap (shadow) namun juga mencegah bagian terang (highlight) menjadi terlalu terang (blown). Pada pengujian yang dilakukan oleh DCRP pada review Nikon D60, dicontohkan foto yang diambil dengan dan tanpa fitur Active D-lighting pada foto dibawah. Tampak bahwa bila fitur tersebut tidak aktif, pada foto yang diambil terdapat bagian yang terlalu gelap (di sekitar meja) dan terlalu terang (di jendela). Namun saat foto diambil dengan fitur ADL, maka bukan hanya daerah gelap pada sekitar meja saja yang menjadi lebih baik, namun detil pada jendela juga dapat diselamatkan. Luar biasa…

From DCRP

Bung Ken Rockwell juga melakukan pengujian yang serupa. Kali ini foto (diambil dengan D300) perbandingan suatu bangunan hotel dijadikan bukti betapa fitur ADL ini mampu menerangi bagian gelap dan membuat bagian terang tampak lebih alami. Meski perbedaannya tidak sejelas perbandingan yang dibuat oleh DCRP review, namun bila dicermati tetap saja foto yang diambil dengan fitur ADL akan nampak lebih baik dalam hal eksposure dan dynamic rangenya.

From Ken Rockwell

Ah, seandainya saja fitur Active D-Lighting ini sudah ada pada Nikon D40 milikku…

<images taken from DC resource and KenRockwell, my apologize for taking them without permission>

Published by

Erwin M.

Saya suka mengikuti perkembangan teknologi digital, senang jalan-jalan, memotret, menulis dan minum kopi. Pernah bekerja sebagai engineer di industri TV broadcasting, namun kini saya lebih banyak aktif di bidang fotografi khususnya mengajar kursus dan tur fotografi bersama infofotografi.com.

3 thoughts on “Active D-Lighting pada DSLR Nikon”

  1. waks.. itu sampel dari bang Ken koq dangduts banget ya birunya ?
    foto ato lukisan oi ? 🙂

    Doi kan emang penggila saturasi. Tapi setidaknya wawasan dia soal lensa Nikon oke lah buat dibaca-baca.

  2. @ nikkorku

    om ken rockwell memakai custom picture control buatannya sendiri
    jd tone nya laen sm D300 standar…

Comments are closed.