D700, DSLR Full Frame baru dari Nikon

Akhirnya, setelah lama dirumorkan, Nikon benar-benar meluncurkan produk baru di jajaran kamera DSLR kelas profesionalnya yang diberi nama D700. Produk baru ini melengkapi daftar kamera DSLR Nikon dengan format Full Frame (FX) yang telah diawali dengan munculnya D3 sebagai DSLR FX pertama dari Nikon (bagaimana posisi D700 dalam jajaran sejarah DSLR Nikon bisa dilihat disini). Keduanya sama-sama memiliki keunggulan dalam hal pemakaian sensor CMOS berukuran 24 x 36mm (mendekati ukuran film 35mm), sehingga kinerja sensor dalam meningkatkan kualitas hasil foto meningkat tajam. Apalagi dengan sensor FX, tidak lagi dikenal adanya istilah crop-factor 1,5x pada lensa yang dipasang, sehingga bila kamera FX dipasangi lensa 14-24mm maka akan memberikan panjang fokal apa adanya, bukan dikali 1,5 menjadi 21-36mm (layaknya bila dipasang di kamera berformat DX). Oleh karena itu kamera FX amat cocok untuk memotret landscape (bila memakai lensa ultra wide tentunya).

D700 dan D3

Sebagai kamera berformat FX, D700 memiliki ‘jantung’ yang sama dengan D3.Tapi tidak demikian dalam hal ukurannya. Bandingkan antara D700 dan si kakak, D3. Meski memiliki ukuran sensor yang sama, keduanya berbeda dalam hal desain dan dimensinya. Hal ini karena pada D700 penggunaan vertical-grip adalah optional, sehingga ukuran D700 jauh lebih kecil dari sang kakak D3, dan justru hampir seukuran dengan kamera flagship di kelas DX, Nikon D300 (dan D700 punya built-in flash layaknya D300, yang mana tidak tersedia di D3). Justru disinilah selling-point dari D700, bagaimana Nikon akhirnya sukses mendesain sebuah kamera profesional namun tidak harus berukuran besar dan juga tidak semahal D3 (yang dijual sekitar 50 jutaan) sehingga diyakini inilah jawaban Nikon untuk bersaing dengan DSLR Full Frame dari Canon yaitu EOS-5D (yang segera dilanjutkan dengan EOS-5D mark II dalam waktu dekat).

Berikut saya kutip fitur utama dari D700 (males ngetik lagi, trims Dans) :

  • Reflex digital compact format FX
  • Full-format (24mm x 36mm) 12.1 megapixel sensor sensor
  • EXPEED image processor with 14-bit A/D conversion and 16-bit image processing
  • Active D-Lighting for better image contrast by applying tone compensation at the time of the capture
  • Able to shoot 5fps, or 8fps when using optional MB-D10 battery pack with lithium-ion battery  EN-EL4a or with 8 ‘AA’ batteries
  • Multi-CAM3500FX AF system with 51 autofocus points (15 cross-type sensor), individually selectable or configurable in 9, 21 or 51-point settings
  • 3-inch LCD with 920k dots and 170-degree viewing angle
  • LiveView support with autofocus and two modes: handheld or tripod
  • Dust removal system (same as the D300)
  • Sensitivity from ISO 200 to 6,400 but extendable down to 100 (equivalent) and up to 25,600 (equivalent)
  • Shutter lag around 40ms
  • HDMI output for connecting to HD video systems
  • Moisture and dust resistant magnesium alloy body
  • Wi-Fi and Ethernet support via optional Wireless Transmitter WT-4

Oke, fitur diatas memang luar biasa lengkap dan sophisticated. Inilah yang membedakan kamera profesional dengan kamera DSLR entry-level. Untuk itu, harga yang harus ditebus atas berbagai fitur tadi adalah sekitar 30 jutaan belum termasuk lensa. O ya, omong-omong soal lensa, pastikan lensa yang akan digunakan sebagai pendamping D700 bukanlah lensa Nikkor-DX, karena ukuran image circle lensa DX telah disesuaikan dengan sensor DX yang lebih kecil dari FX. Akan lebih mantap lagi dan makin terkesan profesional bila D700 ini didampingi oleh lensa-lensa Nikkor profesional terbaru dengan bukaan konstan. Bagi yang sudah terlanjur mengkoleksi lensa-lensa Nikkor-DX, pilihannya adalah memakai mode ‘kompromi’ DX-mode yang akan menurunkan resolusi D700 ini menjadi 5 MP saja (dan terkena crop factor 1,5 kali). Sangat disayangkan, maka itu sebaiknya pemakai lensa DX memakai DSLR D300 saja sebagai the-best DSLR di kelas DX.

Bagi yang ingin membaca sebuah personal review dari D700 ini bisa dilihat disini, sementara review profesional untuk D700 bisa dibaca disini. Untuk urusan noise di ISO tinggi, resolusi D700 yang ‘hanya’ 12 MP sangat menolong dalam mengatasi noise dibanding yang memakai resolusi 24 MP. Buktinya, Canon EOS 5D mark II kedodoran di ISO tinggi, jauh menang D700 kemana-mana. Padahal keduanya sama-sama Full Frame lho…

Advertisements

Published by

Erwin M.

Saya suka mengikuti perkembangan teknologi digital, senang jalan-jalan, memotret, menulis dan minum kopi. Pernah bekerja sebagai engineer di industri TV broadcasting, namun kini saya lebih banyak aktif di bidang fotografi khususnya mengajar kursus dan tur fotografi bersama infofotografi.com.

22 thoughts on “D700, DSLR Full Frame baru dari Nikon”

  1. buat mas Agus.. beruntung lhoo sekali mau belajar fotografi, pakai langsung D300:). menurut saya sih.. jangan tukar body dulu mas.. tapi koleksi saja lensa dengan bukaan konstan, seperti 14-24, 24-70, 70-200. nah coba coba aja pakai lensa itu di body d300, liat beda hasil shootnya.. kalau sudah leverage features yang di d 300 baru deh pindah ke d700/ d3 atau sekalian d3x.. hehehe..

    kalau aku sih mending pindah body bertahap, tapi beli lensa sekaligus yang high level.. gt mas.. sekedar masukan lhoo.. abaikan jika tidak berkenan. salam
    yayuk

Comments are closed.