Seputar lensa kit Nikon 18-55mm DX

Saya tergerak ingin menulis soal lensa kit dari Nikon D40 yang meski sering dipandang sebelah mata oleh banyak kalangan, namun justru dinobatkan oleh Ken Rockwell sebagai sepuluh lensa Nikon terbaik versi dia. Apakah ini tidak terlalu berlebihan? Inilah opini saya seputar lensa kit yang kebetulan selalu setia mendampingi Nikon D40 saya sejak setahun lalu.

NK1855AFSDXVRG

Mari sejenak flash-back ke masa dimana Nikon membuat lensa kit 18-55mm generasi pertama yang dibuat untuk DSLR Nikon D50. Lensa generasi pertama ini sudah memakai motor SWM meski Nikon D50 masih memiliki motor fokus pada bodi. Setelah sukses dalam penjualan Nikon D50, akhirnya Nikon membuat generasi penggantinya yaitu Nikon D40 dan lensa kit 18-55mm yang disempurnakan (generasi II). Hadir sebagai paket bundel dengan kamera DSLR Nikon D40, lensa kit Nikon AF-S 18-55mm generasi ke-2 (dan yang versi VR sebagai kit dari Nikon D60), sepintas memang tampil kurang meyakinkan. Berbalut bodi dan mounting plastik, dengan diameter lensa yang kecil di 52mm dan bagian depan lensa yang berputar saat proses auto fokus, membuat lensa zoom termurah dari Nikon ini bukanlah menjadi pilihan para profesional.

Satu paket Nikon D40 plus lensa awalnya dijual seharga 5 juta, suatu penawaran yang waktu itu sangat menggiurkan (bandingkan dengan harga paket Nikon D70 dengan lensa kit 18-70mm atau Nikon D80 dengan lensa kit 18-135mm). Lensa kit ini termasuk lensa wide dengan jangkauan standar yaitu 18-55mm (setara dengan 28-85mm) dan kecepatan relatif lambat dengan bukaan diafragma maksimal f/3.5 sampai f/5.6 dan minimal f/22 sampai f/38 dengan 7-blade. Didalamnya, tersusun atas 7 elemen lensa termasuk sebuah lensa ED dan lensa aspherical. Lensa berkode AF-S ini telah memiliki Silent Wave Motor untuk menggerakkan elemen fokus didalam lensa, dan motor ini menjadi satu-satunya cara untuk auto fokus pada kamera Nikon D40/D40x/D60.

Oke, saya kutip terlebih dahulu apa yang dikatakan oleh bung Ken :

Even as a cheap, plastic lens, the 18-55mm is sharp, sharp, sharp, and focuses so close that few people will need a dedicated macro lens. Included as a kit lens with Nikon’s cheapest cameras, lenses this good and this cheap ask us what would happen if Nikon put some of this same mojo into its more expensive lenses. It only covers DX digital; it can’t cover film or FX.

Ken mengulang kata ‘sharp’ sebanyak tiga kali tentu bukannya tanpa dasar. Lensa ini tajam baik pada saat bukaan maksimal, tajam pada seluruh panjang fokal lensa, dan tajam meski pada area dekat sudut (biasanya lensa hanya tajam pada bagian tengah foto dan tampak blur pada bagian sudutnya / corner blurriness). Selain itu, lensa ini juga memiliki distorsi yang rendah meski pada saat wide maksimum. Untuk urusan makro juga lensa ini cukup mumpuni karena memiliki MFD (minimum focus distance) pada 28 cm sehingga memiliki rasio-reproduksi maksimum 1 banding 3,2. Sebuah lensa buatan Nikon yang memiliki rentang fokal 18-55mm dengan ketajaman yang tinggi, distorsi yang rendah, reproduksi warna yang baik, memiliki motor fokus, dan kemampuan makronya juga baik, bukan cuma ringan dalam bobotnya tapi juga ringan dalam harganya, rupanya telah membuat Ken Rockwell menobatkan lensa ini sebagai 1 dari 10 lensa Nikon terbaik versi dia.

Mengapa lensa ini dipandang sebelah mata oleh banyak pemakai Nikon? Bahkan para pemakai D40 banyak yang menjual lensa ini dan membeli lensa lain. Mereka tidak mempermasalahkan ketajaman atau distorsi lensa ini, melainkan mereka tidak bisa kompromi dengan keterbatasan lensa ini. Apa saja hal-hal yang menjadi keterbatasan dari lensa ini ? Inilah beberapa faktornya  :

  • Rentang fokal. Saat 18mm dianggap sudah mencukupi untuk sebagian fotografi wideangle, namun tidak demikian halnya dengan 55mm. Kebanyakan orang menginginkan lensa zoom yang memiliki tele maksimal yang lebih dari sekedar 55mm. Untuk itulah mengapa sebagian mereka menukar lensa kit 18-55mm ini dengan lensa 18-70mm, 18-135mm atau 18-200mm.
  • Diafragma. Umumnya lensa ekonomis memiliki diafragma terbatas sekitar f/3.5 hingga f/5.6 dan bagi penggemar foto low-light tentu bukaan ini kurang maksimal. Belum lagi bukaan lensa yang kurang besar tidak optimal untuk membuat bokeh yang baik. Bisa jadi pemakai Nikon D40 ingin mengganti lensa kit 18-55mm f/3.5-5.6 ini dengan lensa Sigma 18-50mm f/2.8 HSM yang punya bukaan konstan pada semua jarak fokal. Atau bila mereka benar-benar pecinta Nikon sejati, akan membeli 17-55mm f/2.8 yang harganya sekitar 12 juta rupiah!
  • Fokus. Kecepatan motor SWM pada lensa kit ini tidak semantap lensa AF-S yang lebih mahal, sehingga saat memakai mode fokus continuous AF pada objek yang bergerak, lensa ini kadang kedodoran. Belum lagi untuk manual fokusnya yang sulit, tidak seperti lensa AF-S lain yang mudah, instan dan presisi.

Lantas, untuk siapakah lensa ini ditujukan? Tentu saja lensa ini tetap layak untuk mendampingi Nikon D40 setiap saat, selama pemakainya bisa berkompromi dengan kinerjanya (ingat : bukan kompromi akan kualitas optiknya). Inilah opini saya seputar lensa kit 18-55mm ini :

  • Untuk ekstra tele, belilah satu lagi lensa ekonomis 55-200mm VR yang harganya sekitar 2 juta. Dengan begitu, jangkauan dari lensa kit ditambah lensa tele setara dengan 18-200mm (sama seperti panjang fokal lensa 18-200mm VR yang harganya 7 juta).
  • Untuk kondisi low-light, gunakan ISO tinggi. Mengingat Nikon D40 punya kinerja yang baik pada ISO tinggi, inilah cara terbaik untuk menyiasati diafragmanya yang relatif kecil. Akan lebih baik lagi, hindari rentang fokal tele pada lensa ini (sekitar 35-55mm) karena akan semakin memperkecil diafragma maksimalnya.
  • Lensa ini bukan untuk memotret action sport, ataupun portait yang background-nya blur, atau memotret tele saat low-light. Selain keperluan tadi, lensa ini bisa dipakai untuk bermacam kegiatan lain. Travelling, wedding, candid, landscape, go for it!
  • Untuk pemakaian filter CPL, terpaksa harus dengan sedikit usaha ektra karena elemen lensa yang berputar pada bagian depan akan mengganggu posisi dari filter CPL yang terpasang. Tapi lensa kit ini punya diameter 52mm, akan amat sayang untuk berinvestasi filter mahal yang berukuran 52mm (bila suatu saat kita berganti lensa yang diameternya lebih besar maka filter ini jadi tidak terpakai lagi). Tapi filter UV dan ND tidak akan menemui masalah bila digunakan pada lensa kit.

Singkatnya, inilah lensa zoom terbaik yang bisa didapat dengan harga dibawah 1 juta rupiah. Wajar bila kemudian Ken Rockwell (dan banyak Nikonian lainnya) mengagumi lensa ini, bukan karena kinerjanya, tapi karena Nikon ternyata tidak pandang bulu pada semua lensa buatannya, terbukti lensa kit ini memiliki kualitas optik yang amat baik, setara dengan lensa Nikon lain yang jauh lebih mahal. Untuk mendapat foto yang bagus, warna yang alami, ketajaman yang baik dan distorsi yang rendah, ternyata tidak perlu harus membeli lensa yang mahal kan?

So, pake lensa kit? Siapa takut 🙂

Published by

Erwin M.

Saya suka mengikuti perkembangan teknologi digital, senang jalan-jalan, memotret, menulis dan minum kopi. Pernah bekerja sebagai engineer di industri TV broadcasting, namun kini saya lebih banyak aktif di bidang fotografi khususnya mengajar kursus dan tur fotografi bersama infofotografi.com.

20 thoughts on “Seputar lensa kit Nikon 18-55mm DX”

  1. Saya malah ingin tahu bagaimana cara mengurangi distorsi. Karena saya mempunyai pengalaman menangkap gambar datar yang diterima oleh kamera CCTV dengan sensor datar, obyek yang lurus tertangkap pada layar monitor melengkung keluar/distorsi. Mungkin akalu ada yang tahu tolong saya dikasih solusi.
    Terima ksih.

    1. Lensanya masih ada kang? Buah batunya dimana? saya ingin lihat dan coba dulu barangnya. Kebetulan saya juga di buahbatu dekat Pizza Hut

  2. Mohon penjelasan lagi dengan kalimat di bawah ini (aku nangkapnya kedua lensa kit 18-55mm bisa “disambung” dengan lensa 55-200mm… maaf). Maklum aku gaptek banget… trims sebelumnya

    Untuk ekstra tele, belilah satu lagi lensa ekonomis 55-200mm VR yang harganya sekitar 2 juta. Dengan begitu, jangkauan dari lensa kit ditambah lensa tele setara dengan 18-200mm (sama seperti panjang fokal lensa 18-200mm VR yang harganya 7 juta).

    Asik juga kalo lensa bisa disambung…. sayangnya nggak bisa tuh.
    Maksud saya, kedua lensa ini (istilahnya combo), adalah pasangan lensa yang panjang fokalnya saling melengkapi. Untuk keperluan wide/normal, (DSLR Nikon dan Pentax) pake aja lensa kit yang 18-55mm, bila perlu tele, lensanya diganti dengan 55-200mm. jadi punya dua lensa, trus dilepas pasang sesuai kondisi pemotretan. Tapi dengan punya dua lensa ini (total seharga 2,5 juta) jangkauannya sudah bisa menyamai jangkauan yg didapat dari lensa 18-200mm seharga 6,5 juta (meski yang terakhir ini enaknya cukup satu lensa nggak perlu lepas pasang).

    Ada juga yang pake kombinasi : 18-70mm plus 70-300mm, ini lebih dahsyat lagi jangkauannya.

    Pemakai Olympus biasanya pake : 14-45mm plus 45-200mm.

    Pemakai Canon biasanya pake : 18-55mm plus 55-250mm.

    Semoga lebih jelas..

  3. Hehe, setuju mas.. 18-55 emang top, baru sebulan nih punya d40, saya tambah lagi lensa 55-200 VR, tapi begitu poto2, yg kepake tetep aja yg 18-55, soale males buka-pasang lensanya si, takut kemasukan debu ( 🙂 kalo ini sih keliatannya suma masalah willing aja kali ye?)

    salam

  4. Saya baru beli D40X kit sama lensa 18-55DX VR, tetapi setelah saya foto, saya agak kecewa dengan ketajaman lensanya, saya bandingkan dengan kamera lama saya CP5400 kok hasilnya lebih tajam walaupun noisenya agak banyak, memang secara kasat mata tidak begitu terlihat, tetapi setelah diperbesar dikomputer baru kelihatan agak buram jika dibandingkan dengan CP5400, dengan pemotretan pakai tripot, semua kondisi sama persis. saya coba memotret berulang-ulang pakai D40X cuma ketemu 2x yang hasilnya setara dengan CP5400. Tolong solusinya, Terima kasih.

    Aneh juga. Kemungkinan lensanya soft atau di kamera ada masalah back focus. Bisa coba dites pake lensa lain utk mengujinya. Bisa kasih link fotonya? Coba diupload aja ke photobucket atau sejenisnya. Saya penasaran nih..

  5. Mas numpang tanya nih ? kalo utk nikon d90 flash apa yang dipasang ya ? setiap flash tentu punya keunggulan masing2, mas bisa bantu penjelasannya sedikit soal ini. Thanks banyak mas !

    Bisa mulai dari SB400 hingga SB900.

    SB 400 : murah, kecil, cukup 2 baterai AA. sayangnya dia tidak bisa geleng kiri kanan.
    SB 600 : bertenaga, ada infra red AF-asist, 4 baterai
    SB 800 : segala kehebatan SB 600 ada disini, plus wireless commander
    SB 900 : versi terhebat dari flash nikon, harga hampir 5 juta

  6. Mas gaptek, saya mau tanya, sebelumnya saya belum pernah mempunyai kamera DSLR, dan ada niatan membeli Nikon D90 (setelah berbagai pertimbangan). namun saya bingung, apakah yg saya beli nanti Body Only, atau dengan Kit 18-105mm bawaan D90 itu sendiri.
    kalau BO, saya inginnya lensa 18-55mm & 55-200mm. kalau lensa 18-200mm harganya masih terlalu mahal buat saya.
    jadi, apakah 2 lensa itu cukup baik jika dipasang di nikon D90?
    ataukah ada alternatif lain?

    terimakasih sebelumnya.

  7. saya punya d3000 + kit 18-55 karena jangkauanya saya rasa kurang jauh saya tertarik buat beli 18-105 kitnya d90. menurut mas gaptek apa beda lensa 18-55 dengan 18-105 dari selain jangkauannya yang lebih panjang. dari segi ketajaman, distorsi pada tiap rentang fokus, kualitas optik dan material bodinya dll. mas gaptek tolong dibantu?.

    1. Keunggulan 18-105 dibanding 18-55 : lebih panjang (pastinya), diameter filter lbh besar (67mm vs 52mm), manual fokus bisa langsung putar ring, bagian depan lensa tidak berputar saat mencari fokus.

      Tapi 18-105 kalah dari 18-55 dalam hal distorsi lensa, karena 18-105 tergolong lensa yg distorsinya paling parah dibanding lensa murah dari nikon lainnya.

      Kesamaaan keduanya : material mounting plastik, VR (kalau 18-55 versi VR), ketajamaan dianggap sama, bokeh sama-sama kurang, sama-sama lensa laambat (bukaan kecil).

      Utk lebih jelasnya baca review saya soal lensa 18-105mm VR.

  8. Hasil foto D50 (terutama menggunakan flash atau kondisi langit cerah) selalu ada noda titik hitam dan seperti helai rambut, bagian lensa, cermin sudah dibersihkan pakai kit kamera tapi tetap ada. Karena kesal saya bersihkan dengan tenaga kuli sehingga pada cermin atas dekat flash membekas cairan kit ada goresan, apakah ada pengaruh pada hasil gambar? Ada saran untuk membersihkannya? Apakah ada jarak ideal berapa untuk menggunakan lensa 18-55 mm per step putaran lensa sehingga menghasilkan gambar yang bagus?.Thanks berat sarannya.

  9. sama dengan mas akbar, saya baru beli D70 2nd, lensanya pake 18-55mm, setiap hasil foto selalu ada titik hitam, lalu saya pakai lensa 55-200mm hasilnya titik hitam itu tidak ada di hasil foto, berarti salah di lensa yg 18-55mm itu, bukan dari ruang optik atau body. membersihkannya bagai mana caranya ya?

  10. pengalamanku dengan lensa kit ini baik-baik saja kok tapi yang jelas tanpa VR (D40 kit) agak susah untuk bidik dengan baik harus benar-benar steady untuk ambil gambar hanya saja dibanding dengan 18-105 VR, lensa ini lebih dekat untuk mengambil foto macro.

  11. mohon wejangan mas…saya punya D3000…antara 55-200,55-300,70-300 pilih mn klo diliat dr segi indoor ato outdoor,apakah k3 lensa itu cukup buat kondisi yg saya sebutkan td…apakah k 3 lensa itu bisa autofocus di D3000 saya…makasih mas

    1. Indoor pake lensa tele? Maksudnya mau dipake di ajang konser musik atau panggung ya? Kendala utama ketiga lensa tsb ada di bukaannya yg kecil sehingga kurang cocok utk indoor, kecuali pakai ISO tinggi meski resikonya noisenya naik. Tapi kalo utk outdoor siang, dijamin tajam.

      1. makasih mas wejangannya…mo tanya lg .. D5000 sama NIKON AF-S 18-105MM F/3.5-5.6G ED DX VR cukup buat pemula mas…suwunn

Comments are closed.