Micro Four Thirds : Kompromi DSLR dan kamera saku?

Tahun ini nyaris tidak ada berita besar dalam dunia fotografi digital, sampai kemudian tiba-tiba Olympus mengumumkan rencana besarnya untuk membuat format kamera baru yang bernama Micro Four Thirds, dimana hal ini bisa jadi berita paling menghebohkan dalam dunia fotografi digital tahun ini. Seperti apakah format Micro Four Thirds ini dan bagaimana pendapat saya mengenai format ini, simak terus artikel berikut.

Semua bermula dari sistem format Four Thirds yang dipelopori oleh produsen kamera DSLR Olympus dan Panasonic, dengan memakai aspek rasio bidang foto 4 banding 3 (4/3), yang  berbeda dengan standar aspek rasio DSLR lain yang umumnya 3 banding 2 (3/2). Sensor yang dipakai pada kamera DSLR Four Thirds ini sedikit lebih kecil dari sensor APS-C pada kamera DSLR lain, sehingga lensa Olympus akan mengalami crop factor sampai dengan 2x. Dengan format ini, Olympus telah menghasilkan bermacam seri kamera DSLR dan lensa Zuiko yang cukup populer di kalangan fotografer, terutama bagi pecinta telephoto yang diuntungkan dengan crop factor 2x tadi. Tahun ini Olympus telah memperkenalkan satu lagi format baru yang dinamai Micro Four Thirds, yaitu format 4:3 yang dibuat lebih kecil dan ringkas, namun tetap memiliki ukuran/dimensi sensor yang sama seperti format Four Third biasa. Artinya untuk mewujudkan format baru ini, Olympus dan Panasonic akan menciptakan jajaran kamera baru dan tentu lensa-lensa baru dengan format Micro Four Thirds. Baiklah, untuk lebih jelasnya kita lihat lebih jauh mengenai format baru ini.

Struktur Micro Four Thirds
Struktur Micro Four Thirds

Pertama, bayangkan mekanisme kerja sebuah kamera DSLR yang umum kita pakai. Ciri utama dalam sebuah kamera SLR adalah adanya cermin (mirror reflex) dan adanya lensa yang bisa dilepas. Saat teknologi digital mulai berkonvergensi dengan dunia fotografi, ada beberapa kompromi yang harus diterima produsen kamera dalam mendesain kamera DSLR-nya. Kompromi utamanya adalah, pada kamera DSLR tetaplah harus mempertahankan kehadiran cermin untuk mengirim gambar dari lensa ke jendela bidik optik, dan cermin akan naik sesaat saat foto diambil (sehingga sensor mendapat gambar dari lensa). Saat kemudian teknologi berkembang ke arah live-view (gambar dari lensa bisa ditampilkan di layar LCD), kehadiran cermin ini justru malah merepotkan dan membuat mekanisme live-view jadi sulit. Berangkat dari masalah itu, Olympus membuat format Micro Four Thirds, yang meniadakan cermin di dalam kamera sehingga proses live-view menjadi mudah. Layar LCD pada kamera Micro Four Thirds dapat terus menampilkan gambar yang diterima dari lensa seperti layaknya pada kamera digital saku, tanpa harus mengalami blank sesaat saat proses auto-fokus, seperti yang terjadi saat proses live-view pada kamera DSLR.

Selain mempermudah proses live-view, ketiadaan cermin pada format Micro ini, jarak antara dudukan lensa (lens mount) dan sensor bisa dibuat jadi lebih dekat (sekitar 20mm). Maka dari itu ukuran kamera Micro Four Thirds bisa dibuat lebih kecil dan ringan daripada kamera DSLR. Selain memperkecil ukuran kamera, format baru ini juga memperkecil diameter dudukan lensa hingga 6mm lebih kecil, namun dengan contact-pin yang ditambah (lihat gambar dibawah). Dengan dudukan lensa baru ini, Micro Four Thirds akan menghadirkan jajaran lensa-lensa baru yang akan menjadi pasangan kamera Micro Four Thirds, dengan ukuran yang sedikit lebih kecil daripada lensa Four Thirds biasa. Semestinya Olympus akan menjual lensa-lensa ini dengan harga lebih terjangkau dibanding lensa Four Thirds yang sudah ada. Sebagai catatan, lensa Four Thirds biasa akan tetap bisa dipasang di kamera Micro Four Thirds namun dengan bantuan sebuah adapter khusus.

Diameter lensa
Diameter lensa

Meniadakan cermin bukan berarti segala urusan menjadi beres. Sebagai konsekuensi dari dihilangkannya cermin dalam format baru ini, kinerja kamera berformat Micro Four Thirds ini nantinya akan sedikit dibawah kamera DSLR biasa. Pertama, tanpa adanya cermin berarti tidak ada lagi jendela bidik optik (optical viewfinder). Tidak semua orang bisa menerima ketiadaan jendela bidik ini, apalagi harus mengandalkan gambar di layar LCD yang tidak sebagus gambar aslinya. Kedua, sistem auto fokus pada kamera Micro Four Thirds tidak lagi memakai sistem phase-detect yang superior, tapi memakai contrast-detect yang lambat dan kurang akurat. Tanpa jendela bidik optik dan tanpa auto fokus phase-detect, sebuah kamera Micro Four Thirds tidak bisa disebut sebagai kamera DSLR. Cukuplah nantinya disebut sebagai “kamera digital dengan lensa yang bisa dilepas”. Panjang sekali namanya….

Kompatibilas format Four Thirds
Kompatibilas format Four Thirds

Menurut saya, format baru ini adalah kompromi antara kamera DSLR dan kamera saku, dimana dalam beberapa aspek, format ini masih menyamai prinsip kamera DSLR berkat lensanya yang bisa dilepas dan nantinya akan tersedia bermacam pilihan lensa yang beragam jenisnya. Belum lagi ukuran sensor format baru ini persis sama seperti format Four Thirds yang sudah ada seperti pada Olympus E520 atau E3. Namun format ini juga sama seperti kamera saku karena ukuran kameranya yang kecil (saya prediksi akan seukuran dengan prosumer Canon G9) dan memakai fitur live-view lewat LCD, memakai auto fokus berbasis contrast-detect, dan akan ada fitur movie (akhirnya….).

Olympus telah menggandeng Panasonic untuk mewujudkan format baru ini (sambil tentu tetap memproduksi kamera/lensa dengan format Four Thirds lama), seraya berharap pasar akan merespon format baru ini secara positif. Berbicara masalah pasar, untuk siapakah format baru ini ditujukan? Utamanya tentu, kepada para fotografer amatir/pemula, yang tidak memerlukan kamera DSLR kelas berat, tidak sanggup membeli lensa-lensa besar nan mahal, namun juga tidak puas dengan kinerja kamera saku atau prosumer yang pas-pasan. Mereka akan tetap dapat menikmati kualitas hasil foto yang dihasilkan kamera berformat Micro Four Thirds berkat penggunaan sensor besar dan memiliki kesempatan mengoleksi lensa Micro Four Thirds yang berukuran kecil namun berkualitas (dan lebih murah). Namun format ini jelas bukan untuk para fotografer profesional, karena para pro dibidang foto tentu perlu kinerja auto fokus yang prima, perlu membidik melalui jendela bidik optik, dan perlu banyak pilihan lensa profesional yang mendukung kerjanya.

Harapan saya, Olympus dan Panasonic dapat konsisten dalam mewujudkan format baru ini. Saya teringat beberapa tahun lalu ketika Nikon menyatakan akan fokus di kelas DX dengan membuat jajaran lensa Nikkor DX (yang lebih kecil dari lensa Nikon biasa). Saat itu banyak pecinta Nikon yang merespon dengan antusias dan mulai membeli beberapa lensa DX. Tapi kini Nikon mendesain format FX dan para pecinta Nikon yang terlanjur memakai lensa DX pun was-was akan nasib format DX ke depan. Semestinya Olympus bisa bercermin dari kisah tersebut, karena format Micro ini tampaknya akan direspon pasar dengan sangat baik. Kamera digital berukuran kecil, bersensor besar, dengan lensa kecil yang bisa diganti-ganti, dengan harga terjangkau, siapa sih yang tidak mau?

Opini lain soal format baru ini simak disini dan disini.

Update :

Sebulan setelah format ini diumumkan, Panasonic akhirnya meluncurkan Lumix pertama berformat Micro Four Thirds. Simak previewnya oleh DPreview, DC resource dan Camera Labs.

Published by

Erwin M.

Saya suka mengikuti perkembangan teknologi digital, senang jalan-jalan, memotret, menulis dan minum kopi. Pernah bekerja sebagai engineer di industri TV broadcasting, namun kini saya lebih banyak aktif di bidang fotografi khususnya mengajar kursus dan tur fotografi bersama infofotografi.com.