Obsesi saya dalam memilih kamera saku

Banyak pertanyaan yang ditujukan oleh pembaca setia blog ini yang ditulis pada kolom komentar, umumnya seputar kamera saku apa yang terbaik untuk dipilih, atau seperti “pilih mana merk A atau B”. Kebanyakan pertanyaan itu amat melebar, tidak spesifik kepada keinginan si penanya. Meski saya sudah membuat halaman khusus seputar tips membeli kamera digital, namun tampaknya kebimbangan dalam memutuskan membeli kamera masih terbaca dari redaksi pertanyaan yang masuk di blog ini.

Kamera (digital) saku adalah kamera sederhana yang berukuran kecil, dengan lensa yang umumnya punya rentang zoom 3x, ditujukan untuk kebutuhan fotografi sehari-hari, dan dijual dengan harga dan spesifikasi yang berbeda-beda. Beragam jenis dan model muncul di pasaran, dari yang keren dan gagah hingga yang cantik dan anggun. Pernahkan anda mendengar nasihat : ‘jangan memilih kamera hanya dari luarnya?’ Model yang bagus, desain yang apik, sebetulnya cenderung relatif/subjektif dan erat kaitannya dengan selera personal. Pernahkah anda mengalami sampai tidak bisa tidur karena terus terbayang akan model kamera yang baru saja anda lihat di sebuah toko? Bila sudah begini, menyukai sebuah kamera ternyata lebih diutamakan kepada model/desain sehingga apapun spesifikasi yang diusung didalamnya tak lagi jadi soal. Salahkah? Tidak juga. Anggaplah kamera apapun memiliki spesifikasi yang hampir sama, toh hasil fotonya juga begitu-begitu juga. Lantas, selanjutnya pilihlah kamera manapun yang bentuknya anda sukai. Namun tentu akan lebih bijak kalau spesifikasi yang dikandungnya juga dicermati dan apabila ditemui satu (atau lebih) kekurangan yang kita anggap fatal, belajarlah legowo untuk berkata : I don’t want this camera.

Banyak kamera saku yang modelnya bagus yang saya temui di pasaran yang membuat saya langsung suka pada pandangan pertama (namun tentu saya tidak akan membeli semuanya, untuk apa?). Tapi setiap saya temui satu kamera yang menurut saya modelnya bagus, saya selalu telusuri spesifikasinya. Bila ternyata diatas kertas spesifikasinya juga bagus, saya akan telusuri review dan downloaad sample photonya di internet (bila ada). Bila semuanya menurut saya positif, saya tanpa ragu akan merekomendasikan kamera tersebut baik di blog ini atau kepada kawan-kawan di kantor. Sebaliknya, bila saya temui ada kamera yang desainnya aneh, tidak menarik dan membosankan, saya cenderung tidak antusias mencari tahu lebih jauh. Kalaupun ternyata spesifikasinya mengagumkan, saya hanya bergumam : ‘Andaikan saja kamera ini punya bentuk yang lebih menarik.’

7x wide zoom !
7x wide zoom !

Jangan tertawa, sah-sah saja kalau seseorang menempatkan bentuk/desain/model sebagai kriteria utama. Ini semua tentang selera yang amat personal. Saat anda tidak lagi bisa membedakan kinerja mesin Honda Jazz atau Suzuki Swift, desain mobil itulah yang selanjutnya akan jadi faktor penentu pilihan anda. Selain melihat dari bentuknya yang menarik, faktor apa lagi yang membuat saya secara personal tertarik pada sebuah kamera saku ? Inilah beberapa hal yang menjadi obesesi saya :

  • Jarak fokal lensa. Saya terobsesi akan lensa wide. Semakin wide sebuah kamera saku, semakin saya jatuh cinta kepadanya. Tidak mudah membuat lensa yang lebar pada sebuah kamera mungil. Leica berhasil membuat lensa ekstra lebar pada kamera Lumix FX-500 hingga mencapai 25mm. Umumnya kamera wide memiliki panjang fokal 28mm, sebagian ada yang 30mm hingga 33mm. Lupakan kamera yang bermula dari 37mm, anda akan kesulitan untuk memotret grup dan landscape.
  • Kecepatan lensa (aperture). saya benci lensa lambat pada kamera saku. Ini akan membuat kamera sering menaikan ISO walaupun sebenarnya cahaya sekitar masih cukup memadai. Lensa yang relatif cepat ditandai dengan bukaan maksimal saat wide adalah f/2.8 (Lumix LX-3 memiliki bukaan ekstra besar di f/2.0). Hindari lensa yang dimulai dari f/3.0, apalagi f/3.5. Waspadalah, akhir-akhir ini banyak kamera baru yang lensanya lambat, itulah mengapa saya menuliskan keluhan saya dalam bahasa Inggris di sini.
  • Stabilizer. Empat kali memakai kamera saku tanpa stabilizer membuat saya tersadar bahwa fitur yang satu ini amat penting. Tanpa stabilizer, memotret dengan speed rendah menjadi hal yang membuat frustasi. Tanpa stabilizer, saya kesulitan memotret memakai panjang fokal yang tele saat cahaya mulai redup. So, sebuah kamera saku tanpa stabilizer tidak akan bisa maksimal digunakan di segala situasi.
  • Ukuran sensor. Jujur saja, semua kamera saku punya sensor kecil (kecuali Sigma DP-1 dengan sensor Foveon). Tapi diantara sensor kecil ini ada yang benar-benar kecil (1/3 inci), ada yang agak besar (1/2.5 inci), ada yang lumayan lebih besar (1/1.8 inci) dan ada yang benar-benar besar untuk kamera saku /prosumer (2/3 inci). Saya tentu menginginkan sensor yang besar pada kamera saku. Andai Sigma DP-1 tidak mendapat banyak kritikan dari reviewer profesional, saya tentu sudah mengagumi kamera tersebut karena sensornya yang seukuran sensor kamera DSLR. Tapi untuk lebih realistis, sebuah kamera dengan sensor 1/1.8 inci sudah mencukupi menurut saya.
  • Zoom lensa. Umumnya kamera punya rentang zoom 3x (35-105mm). saya berharap sebuah kamera yang jangkauan zoomnya lebih dari sekedar 3x zoom, tapi tanpa mengorbankan ukuran kamera. Bagaimana cara produsen melakukannya? Itu urusan mereka. Buktinya, kini semakin banyak kamera saku berlensa wide yang mampu melakukan zoom optik bahkan hingga 7 kali dalam desain yang ringkas (lihat gambar di atas). Betul bahwa resiko dari lensa zoom yang panjang adalah adanya penyimpangan warna, penurunan kontras dan sebagainya. Namun kini produsen lensa kelas dunia mampu melakukannya tanpa banyak mengorbankan kualitas hasil foto.
  • Fitur manual. Betul bahwa kamera saku bukanlah kamera profesional, namun bukan berarti kamera saku tidak memerlukan fitur manual mode. Fitur manual yang saya perlukan pada kamera saku bukanlah untuk menyamai kemampuan manual mode pda kamera kelas pro. Saya hanya perlu fitur ini sebagai ajang untuk berkreasi, dan sebagai pengambil alih kendali manual bila eksposure melalui mode AUTO ternyata tidak sesuai keinginan saya.
  • Fitur movie. Saya memimpikan sebuah kamera yang dalam beberapa situasi bisa menggantikan perekam video dalam arti yang sesungguhnya. Resolusi video yang layak (VGA, Wide VGA, atau bahkan HD 720p), frame rate yang layak (25 atau 30 fps), stabilizer yang aktif  dan kemampuan zoom optik saat merekam video. Salah satu kemera yang saya kagumi dalam urusan merekam video adalah Casio EX-V8, yang mampu merekam video dalam format MPEG-4 AVC.
  • Lainnya : untuk baterai saya lebih suka yang memakai jenis AA untuk kepraktisan, layar LCD saya suka yang bisa dilipat dan diputar (lebih memudahkan pemotretan), dan kamera yang memakai slot memori SD (dan mendukung memori jenis SDHC) akan lebih baik.

Bagaimana dengan resolusi? Tidak masalah, bahkan bila ada kamera masa kini yang resolusinya hanya 4 mega piksel pun, saya bersedia membelinya (tapi resolusi 3 MP ke bawah memang sudah tidak memadai). Jangan jadikan faktor satu ini penentu dalam membeli kamera, kecuali anda bersedia mengeluarkan dana lebih untuk membeli kamera beresolusi 12, 13, atau 14 MP padahal hasil fotonya sama saja dengan yang 7 atau 8 MP!

Published by

Erwin M.

Saya suka mengikuti perkembangan teknologi digital, senang jalan-jalan, memotret, menulis dan minum kopi. Pernah bekerja sebagai engineer di industri TV broadcasting, namun kini saya lebih banyak aktif di bidang fotografi khususnya mengajar kursus dan tur fotografi bersama infofotografi.com.

23 thoughts on “Obsesi saya dalam memilih kamera saku”

  1. Mas Yang Baik,
    Saya selama ini pake Digicam Sony DSC W1, tp udah tewas bbrp bulan yang lalu. Sekarang sih pengennya beli yg sekalian bisa rekam video. Dari yg mas rekomendasi disini Casio EX-V8 dan Lumix FX 500 (yg Xacti kemahalan…), kira2 mana yg lebih OK. Atau saat ini sudah ada merk lain yang fungsi Camera dan videonya OK?
    Thx ya mas…

    Sekarang Lumix generasi baru sudah bagus dalam urusan rekam video. Saya suka Casio EX-V8 karena speknya lengkap dan tidak umum/pasaran. Yang perlu diingat, lensa Casio (dan semua kamera saku sistem folded-optic seperti itu) punya bukaan diafragma yang kecil (lensa lambat) sehingga kurang asyik kalo dipake di low-light. Untuk low-light, cari lensa cepat yang dimulai dari f/2.8. Saya sih recommend Lumix FX500 kalau dana tidak jadi masalah. Salam..

  2. waduh baru baca postingannya nih, kalo udah terlanjur Coolpix p5100VR gimana ya? biar kebih optimal gitu,bos..

  3. idem dito….udah terlanjur beli FE-310 karena ada penawaran harga murah (dibawah 1,5jt) plus bonus 1gb plus batt AA+charger nih.
    gimana caranya supaya FE-310 hasilnya lebih maksimal?
    soalnya aku gak tau fungsi dari fitur2x nya om..

    Pada dasarnya tidak ada istilah terlanjur beli, karena tiap kamera kan mestinya sama baiknya. Tinggal optimalkan fiturnya dan kenali keterbatasannya. Untuk semua kamera saku ya hindari ISO tinggi, kalau cahaya kurang ya diimbangi dengan flash saja. Bila ada fitur manual ya dicoba berkreasi dengan mode A atau S. Selebihnya kan tinggal belajar teknik, spt bagaimana yang namanya METERING untuk mendapat EKSPOSURE yang tepat, bagaimana menjaga wrna tetap alami dengan WHITE BALANCE yang tepat dsb.

    Satu lagi, coba optimalkan fitur EXPOSURE COMPENSATION (Ev) bila pada kamera tidak ada fitur manual yang tersedia. Dengan menaikkan Ev maka gambar bisa lebih terang dan sebaliknya.

  4. Mas Gaptek yang canggih,

    Untuk kamera yang tidak memiliki fitur Flexi Zone AF/AE, bagaimana ya caranya kalo objek yang akan difokuskan berada di pinggir frame?

    Makasih mas..

    1. Pake trik kuno : lock and recompose.

      Pertama, apa yg mau kita bikin fokus tempatkan dulu di tengah frame, lalu kunci fokusnya (tombol shutter tekan setengah) lalu atur komposisi sesuai keinginan dan barulah dijepret. Mudah kan..

      1. Jadi semua kamera bisa gitu mas? Nggak harus punya fitur ‘flexizone’ itu? Soalnya saya bandingkan brosur Canon PS A720IS dengan A590IS. Yang 720IS punya fitur flexizone, sedangkan yang 590IS nggak ditulis.
        Begitu mas…

  5. klo a590is , lumix lz8, lumix tz2 yg bagus mana ya buat foto wide, trus foto di tempat yg agak gelap, plus sedikit video 16:9
    lumix lz8 ama tz2 harga nya kisaran sama, tz2 video nya 30/10fps maksud nya apa ya? bisa ga 848×480 di 30fps?

    1. Ambil TZ2 aja kalo perlu wide.
      30/10 fps itu artinya bisa milih mau pake 30 fps utk video yg tidak terputus-putus atau 10 fps utk menjaga ukuran file video nantinya tidak terlalu besar.

  6. mau kamera saku tapi bingung mo pilih mana antara Panasonic Lumix FX 500, LX 3, TZ5, Canon Powershoot SX200IS, Canon G10, budgetnya cuman 4 jtaan,

    1. saya juga bingung, soalnya yg anda tulis semua kamera saku yg bagus dan keren. Budget cuma 4 juta? Lebih dari cukup utk sebuah kamera saku. Nggak nunggu Fuji F200EXR aja? 🙂

  7. Saya sekarang baru belajar memaksimalkan yang ada dulu.
    Masih setia dengan Powershot S5is
    Tapi pengen coba agama lain. CMIIW 😉

  8. mas gaptek, apa artikel mengenai CHDK sudah pernah dimuat di sini?

    Canon Hack Development Kit

    saya yakin akan sangat berguna buat canoners yg pake pocket camera

    1. Pernah dibahas di kolom komentar, tapi tidak dibuat satu artikel tersendiri karena saya juga tidak pernah mencobanya. Anda bersedia menyumbang artikel buat blog ini?

  9. Oya mas…satu lagi pengen tanya kamera saku yang punya :
    1. Harga Murah (lebih disukai)
    2. Fitur Lengkap P/A/S/M (lebih disukai)
    3. Batrenya harus AA (biar gampang nyarinya 🙂 )
    4. Kualitas Terbaik pada Hasil Akhir
    5. Merk Yang terbaik dikelasnya… 🙂
    Makasih bgt mas sebelumnya….mudah2an bisa ngasih masukkan terbaiknya…
    Chayoooo…..Mas……..

  10. Saya mau belajar lagi setelah lebih 10 tahun nggak pegang kamera manual SLR, mau coba dari digital pocket camera saja. Maunya Lumix DMC-F3. Ada saran nggak??

Comments are closed.