Mengapa fotografer profesional memakai DSLR Full Frame

Pertama, ijinkan saya mengabarkan kehadiran DSLR Full frame pertama dari Sony yang bernama Alpha A900. Hadir menjadi kamera DSLR dengan resolusi tertinggi saat ini yaitu  24 MP (atau 6000 x 4000 piksel, wow!), Sony tampak tidak main-main dalam berkecimpung di dunia profesional. Mengusung harga 30 jutaan, kamera tercanggih dari Sony ini (meski tanpa fitur live-view dan flash internal) siap bersaing dengan DSLR Full Frame mapan seperti Canon EOS 5D mark II dan Nikon D700.

Anda yang mungkin pemula dalam dunia fotografi seperti saya, bisa jadi akan bertanya-tanya : ‘mengapa para fotografer profesional harus mengeluarkan dana besar untuk memiliki kamera DSLR Full frame yang mahal ini?’ Atau mungkin diantara pembaca blog ini ada yang telah memakai DSLR Full frame dan ingin menambahkan, silahkan menulis di kolom komentar di bagian bawah.

Perbandingan sensor DSLR
Perbandingan sensor DSLR (FF vs APS-C)

Saya yang cuma bisa membayangkan sebuah kamera DSLR Full frame hanya bisa menerka saja, kira-kira apa sih yang membuat para profesional memilih Full frame. Barangkali inilah dia jawabannya :

  • Noise yang lebih bersih di ISO tinggi. Meski DSLR biasa pun mampu memberi hasil foto yang baik di ISO tinggi, bukan berarti lantas tanpa noise. Sebagai perbandingan di kelas Nikon DX , kasta terendah (Nikon D40) dan kasta tertinggi (Nikon D300) memakai sensor yang berukuran sama sehingga kasus noise di ISO tinggi pun akan sama. Bisa jadi pada ISO tinggi, D300 memakai pendekatan noise reduction yang lebih baik sehingga nampak lebih bersih dibanding D40. Tapi saat diadu dengan D700 misalnya, tampak D300 ini masih kedodoran di ISO tinggi. Profesional tidak kompromi dengan noise.
  • Tanpa crop factor. Musuh utama lensa wide adalah crop factor dari sensor, sehingga lensa yang seharusnya amat wide di 18mm akan menjadi 28mm bila dipasang di kamera DSLR biasa. Crop factor mungkin bisa jadi sahabat lensa tele, tapi untuk produsen lensa wide harus berpikir ekstra keras membuat lensa wide yang tetap wide saat terkena crop factor. Oleh karena itu lensa wide masa kini bermula dari 10mm hingga 14mm untuk mendapat angle of view yang diinginkan. Dengan DSLR Full frame, lensa 24mm akan tetap 24mm. Lensa 18mm pun akan tetap 18mm, sehingga amat cocok untuk fotografi landscape.
  • Dynamic range yang lebih baik. Dengan ukuran sensor besar, pixel density dan pixel size pun semakin besar sehingga kemampuan sensor dalam menangkap cahaya pun semakin baik. Sensor Full frame dapat terhindar dari kemungkinan blown-highlight ataupun shadow yang gelap. Untuk menjaga dynamic range disaat kontras tinggi, profesional memerlukan DSLR Full frame.
  • Viewfinder ekstra besar. Bayangkan melakukan manual fokus memakai viewfinder yang kecil dan sempit. Pasti membuat frustasi kan? Untuk itu DSLR Full frame hadir dengan viewfinder besar untuk kenyamanan membidik objek foto.

Tentu saja banyak jawaban lainnya, tapi secara teknik keempat faktor diatas rasanya pantas menjadi alasan utama. Bila anda merasa memang keempat faktor diatas tidak bisa dikompromikan, berarti anda memerlukan DSLR Full frame. Namun yang perlu diingat, DSLR Full frame tidak berarti lebih unggul dalam hal kecepatan auto fokus, metering dan performa keseluruhan (fps, shutter lag dsb) dibanding DSLR biasa. Dan saat dipakai di ISO rendah, hasil foto kedua jenis kamera DSLR ini amat sulit dibedakan. So, ingin bermain DSLR Full frame atau DSLR biasa (sensor APS-C atau sensor Four Thirds) ? Terserah anda ( dan budget anda tentunya 🙂 )

Published by

Erwin M.

Saya suka mengikuti perkembangan teknologi digital, senang jalan-jalan, memotret, menulis dan minum kopi. Pernah bekerja sebagai engineer di industri TV broadcasting, namun kini saya lebih banyak aktif di bidang fotografi khususnya mengajar kursus dan tur fotografi bersama infofotografi.com.

2 thoughts on “Mengapa fotografer profesional memakai DSLR Full Frame”

  1. Noise.. hmm… A900 yang saya coba masih sangat noisy.. Jadi rasanya gak tepat juga kalo noise sebagai satu-satunya alasan orang pilih kamera Full Frame 36 x 24mm

    Dynamic range lebih baik… tergantung kepiawaian designer kamera untuk memilih saluran warna yang tepat dan pemilihan lensa. Ini terbukti dari parameter “color accuracy” yang menjadi dambaan setiap fotografer.

    Kadang sering muncul komentar “WBnya lari”. padahal kalau diset pada WB yang tepat sekalipun, warnanya tidak seperti yang dikehendaki. Itu yang saya katakan reproduksi warnanya tidak 100% akurat.
    Lensa … kenapa banyak yang memilih Zeiss 85 mm f/1.4 ketimbang AF 85 mm f/1.4 Nik ? karena reproduksi tonal yang tidak terputus di lensa jerman dibanding jepun yang seringkali membuat kadang terkesan perpindahan terang dan gelapnya terlalu tajem alias bolong…

    Wah, trims atas pencerahannya… Bisa buat nambah wawasan buat saya dan pembaca yang lain. Salam…

  2. alasan lain adalah gengsi……………..
    kadang unsur teknis sama sekali tidak mengerti tapi faktor gengsi yang membuat orang memaksakan membeli.

    He..he.., kalo udah bicara gengsi memang sulit. Selama duitnya ada, ego akan terus dijaga. Btw, bidang usaha anda mantap juga, semoga bisnis di bidang foto/videonya sukses mas. Salam..

Comments are closed.