Lumix DMC-G1, kamera Micro Four Thirds pertama di dunia

Kiprah Panasonic di dunia fotografi yang memakai nama Lumix awalnya cukup asing di telinga. Bukan hanya karena Panasonic tidak punya pengalaman sama sekali soal fotografi di masa lalu, tapi juga karena Panasonic lebih identik dengan perangkat elektronik rumah tangga semisal AC dan mesin cuci. Tapi Lumix yang dari awal kehadirannya konsisten untuk terus berinovasi dan terus memproduksi bermacam kamera baru terbukti mampu meramaikan pasaran kamera digital, bahkan dapat menggoyang penjualan dari para pemain lama.

Satu hal yang saya sukai dari produsen kamera Lumix ini adalah keseriusannya dalam melakukan terobosan dan inovasi teknologi yang lantas diikuti oleh pesaingnya. Masih ingat betapa istilah stabilizer terasa asing di telinga pada masa lalu? Lumix-lah yang konsisten mempromosikan teknologi OIS-nya yang diimplementasikan pada semua jajaran kameranya. Pernah dengar nama Leica? Menyadari bahwa soal membuat lensa tentu bukan hal yang mudah, Lumix menggandeng produsen lensa kelas dunia, Leica, untuk digunakan di hampir seluruh kamera Lumix. Konsistensi Lumix terus berlanjut hingga puncaknya Panasonic memutuskan bergabung dengan Olympus untuk mewujudkan standar baru bernama Micro Four Thirds. Hebatnya, generasi kamera pertama berformat micro ini justru lebih dahulu diperkenalkan oleh Panasonic dengan produk anyarnya, Lumix DMC-G1, yang menjadi kamera pertama di dunia yang berformat Micro Four Thirds!

Setelah puas membaca preview lengkap dari DPreview, saya tergerak ingin menuliskan opini dan fakta yang ada seputar Lumix G1 ini. Baiklah, kita berangkat saja dari definisi apakah format Micro Four Thirds ini. Jangan terkecoh, format baru ini bukanlah format untuk kamera DSLR. Format ini akan menjadi open standard untuk manufaktur kamera kecil bersensor Four Thirds / DSLR (crop factor 2x) yang lensanya bisa dilepas. Kalau lensanya bisa dilepas, mengapa kamera ini bukan tergolong kamera DSLR? Karena di kamera ini tidak ada cermin yang bergerak turun naik, sehingga tidak ada jendela bidik optik dan tidak ada modul auto fokus berbasis phase-detect. Dengan meniadakan cermin, jendela bidik optik dan modul AF, ukuran kamera bisa dibuat jadi lebih kecil dan ringkas. Soal lensa, meski semua lensa Four Thirds biasa bisa dipasang di kamera format micro (dengan sebuah adapter), tetap saja ada lensa khusus yang ditujukan untuk pendamping kamera micro ini. Lensa format micro memiliki diameter yang lebih kecil namun tetap memiliki kemampuan optik yang sama, bahkan memiliki contact-pin yang lebih banyak. Sementara ini telah tersedia lensa Lumix G vario 14-45mm (setara 28-90mm) f/3.5-5.6 OIS dan pasangannya 45-200 (setara 90-400mm) f/4-5.6 OIS yang sudah mencukupi untuk memulai hobi fotografi. Kedepannya akan diluncurkan lensa sapujagad 14-140mm (setara 28-280mm) f/4-5.6 OIS, lensa super wide 7-14mm (setara 14-28mm) f/4 dan lensa prime 20mm (setara 40mm) f/1.7 yang kesemuanya berformat Micro Four Thirds.

Lumix G1
Lumix G1

Lumix G1 memiliki sensor LiveMOS 12 MP yang mampu memberi hasil foto dalam 3 aspek rasio, yaitu 4:3, 3:2 dan 16:9. Sensor ini persis sama seperti yang dipakai di kamera DSLR Olympus mulai dari E410 hingga E3, oleh karenanya sensitivitasnya bisa mencapai hingga ISO 3200 (dengan noise level yang masih dapat diterima). Meski sedikit lebih kecil dibanding sensor DSLR Nikon atau Canon (APS-C), sensor ini masih jauh lebih besar daripada sensor prosumer manapun (yang  umumnya berukuran 2/3 inci atau 1/1,8 inci). Kinerja shutternya juga lumayan cepat dengan maksimal hingga 1/4000 detik, flash sync hingga 1/160 detik dan continuous mode hingga 3 fps (unlimited JPEG) atau 7 file RAW. Tersedia lampu kilat yang memiliki guide number 10.5 dan tersedia flash hot shoe yang mendukung mode TTL (tidak ada info apakah mendukung wireless flash atau tidak). Layar LCD di bagian belakang bisa diputar, memiliki ukuran 3 inci yang hebatnya dengan aspek rasio 3:2 (lebih lebar dari LCD kamera lain). Satu hal yang ‘hilang’ dari kamera ini adalah kemampuan merekam video, agak aneh memang, karena kini kamera DSLR pun sudah mulai memperkenalkan fitur movie beresolusi HD. Padahal dengan sensor besar, sistem contrast detect AF dan lensa yang baik, fitur movie pada Lumix G1 ini pasti akan sangat berguna.

Lumix G1 tampak atas
Lumix G1 tampak atas

Inovasi Panasonic yang paling luar biasa dalam membuat Lumix G1 adalah bagaimana Lumix harus mendekati kamera DSLR dalam dua hal : jendela bidik dan kinerja auto fokus. Kita kupas yang pertama terlebih dahulu. Jendela bidik optik (OVF), apalagi dari kamera DSLR Full frame, memiliki keistimewaan tersendiri yang tidak bisa digantikan oleh layar LCD. Fotografer profesional mengandalkan ketepatan fokus dan komposisi melalui jendela ini. Mereka bahkan bisa mengganti lapisan focusing screen pada jendela bidik sesuai kebutuhan. Lumix dalam hal ini berupaya membuat jendela bidik elektronik (EVF) yang sedapat mungkin memberi kenyamanan saat memotret sehingga diharapkan para pemakai DSLR tidak harus banyak beradaptasi saat beralih dari OVF ke EVF. Menurut preview yang saya baca, teknologi jendela bidik ini adalah seperti ini :

“According Panasonic LCOS technology can produce much higher resolution images than liquid crystal display or plasma display technologies. Compared to conventional LCDs in which the back light is projected through RGB filters and into the eye, in LCOS, liquid crystals are applied directly to the surface of a silicon chip coated with a highly reflective aluminized layer. RGB light is then reflected off this surface and into the eye, therefore minimizing overall color loss often associated with the low quality of color filters in conventional LCDs. This allows the G1’s Live Viewfinder to achieve over 90% of the NTSC color gamut (this, apparently, is unusually high). The G1’s single panel display chip shows the red, green and blue components in succession (field sequential display) – your brain does the combining to produce the full color image. This means you can’t see the individual pixels – there’s no gap between them (there’s no mesh surrounding the color filters such as in conventional LCD displays). The viewfinder is able to refresh the three RGB colors at a rate of 60Hz, therefore achieving the 60fps Full-Time Live View.

Artinya, refresh-rate nya sudah mencapai 60 fps, sehingga akan tampak halus dan nyaman di mata. Disamping itu, batas antara piksel RGB tidak tampak lagi sehingga gambar yang dilihat di layar EVF tidak tampak terkotak-kotak (pixelated). Menurut saya, meski sistem EVF masih punya kelemahan dibanding OVF, tapi tetap saja ada juga keuntungannya. Dengan EVF, kita bisa melihat preview sesungguhnya dari exposure dan setting white balance yang dipilih saat itu, suatu hal yang mustahil saat memakai OVF pada kamera DSLR.

Kita bahas soal yang paling penting, yaitu sistem kerja dari auto fokus kamera. Dalam dunia DSLR, auto fokus menjadi hal yang amat vital. Kecepatan dan ketepatan kamera dalam mengunci objek amat mempengaruhi reputasi dari kamera tersebut. Kunci dari kinerja AF yang cepat dari kamera DSLR adalah adanya perangkat khusus yang bernama modul AF berteknologi phase-detect, yang jauh lebih unggul dibanding prinsip auto fokus berbasis sensor (contrast-detect) yang biasa dipakai di kamera prosumer, kamera saku dan kamera ponsel. Tantangan bagaimana membuat auto fokus pada kamera non DSLR yang kecepatannya mendekati kamera DSLR membuat Panasonic berupaya habis-habisan membuat alogritma AF contrast-detect yang amat responsif dan cepat, dan tampaknya cukup berhasil. Berikut kutipannya :

“The good news is that – even in the prototypes we’ve tried – Panasonic’s engineers have kept true to their word; the focus is not only astonishingly fast for a contrast detect system; it’s easily as fast as any conventional SLR in this class. And unlike even most mid-range SLRs you get 23 area auto AF and the ability to place a single AF point almost anywhere in the frame – and that’s before you throw in Panasonic’s remarkable subject tracking AF and Face Detection. I’m not convinced it’s quite as good in continuous focus as it is in single shot, but until we’ve got a final production model I’ll just say that Panasonic seems to have overcome the main problem currently associated with using live view on an SLR; focus speed.

Artinya, kecepatan AF dari Lumix G1 bisa dibilang mendekati kamera DSLR entry-level, sehingga dengan kemampuan prosesor yang tinggi sebenarnya sistem contrast-detect bisa mendekati kecepatan phase-detect dari DSLR. Sistem AF dari Lumix G1 semakin mengagumkan dengan adanya 23 titik AF, AF tracking dan face-detection AF priority. O ya, karena memiliki lensa yang bisa dilepas, Lumix G1 juga mendukung manual fokus sepenuhnya dengan memutar lensa. Bahkan, preview di layar bisa diperbesar untuk memastikan ketepatan fokusnya. Satu hal yang (lagi-lagi) tidak mungkin dilakukan di kamera DSLR (kecuali yang telah memiliki fitur live-view).

Lumix G1 plus lensa kit
Lumix G1 plus lensa kit

Saya acungi jempol untuk Panasonic dalam usahanya menghadirkan solusi cerdas bagi pecinta fotografi dengan hadirnya Lumix G1 ini. Bagi mereka yang sudah jenuh mencari prosumer yang memiliki sensor besar, lupakanlah pencarian tersebut, G1 inilah jawaban terbaik buat anda. Bila anda mencari DSLR yang kecil, harganya murah (dan lensanya pun murah) dan mudah digunakan, mungkin anda bisa lupakan pencarian DSLR tersebut dan memilih G1 ini. Betul bahwa para profesional tentu akan terus berada di jalur DSLR, sementara para pemula akan tetap memakai kamera saku. Nah, bagi para pecinta fotografi, amatir, hobbyist, yang dananya terbatas tapi tidak ingin berkompromi dengan kualitas, bisa jadi inilah solusi terbaik yang ada saat ini.

Sebagai penutup, saya coba susun fitur andalan dari Lumix G1 yang membuat saya dan pastinya jutaan orang di dunia mengagumi kehebatan Lumix G1 ini :

  • Sensor : Four thirds, live MOS, 12 MP, SSWF/anti debu, ISO 3200 (plus intelligent ISO)
  • Lensa : Lumix G vario Lens, 14-45mm f/3.5-5.6 OIS, bisa memakai lensa Four Thirds lain (seperti Leica dan Zuiko) dengan adapter
  • Prosesor : Venus HD engine, mampu melakukan auto fokus dengan cepat, face detection priority dan AF tracking (plus AF assist light beam), continuous mode bisa 7 file RAW atau unlimited JPEG 3 pfs
  • Layar : LCD 3 inci dengan resolusi 460 ribu piksel, aspek rasio 3:2, layar bisa diputar, EVF resolusi tinggi 60 fps
  • Exposure mode : P/A/S/M, intelligent Auto (iA)
  • Metering : 144 zone multi pattern : Intelligent Multiple (matrix), Center Weight, Spot
  • Lampu kilat : pop-up, GN 10,5, TTL hotshoe, sync max. 1/160 detik
  • Film mode : Standard, Dynamic, Natural, Smooth, Vibrant, Nostalgic, WB/Standard, WB/Dynamic, WB/Smooth, My Film1, MyFilm2, Multi Film
  • Bodi kecil dan ringan ( 124.5 x 83.8 x 45.7 mm, 385 gram), lebih kecil dari DSLR terkecil di dunia : Olympus E-420
  • Lainnya :baterai Lithium untuk 330 kali jepret, SDHC, HDMI out, USB 2.0
  • Harga : Oktober 2008 akan diumumkan, semoga dibawah 5 juta ya…. 8 juta kit 14-45mm

Catatan : Di Republika Online tanggal 24 Sep 2008 juga ada tulisan seputar format Micro Four Thirds ini, yang sepintas redaksinya mirip dengan artikel pada blog saya ini. Suatu kebetulan? 🙂

Update : Lumix G1 meraih DIWA Gold Award 2008, saya sih nggak heran….

Update : Review Lumix G1 oleh DPreview pada 19 Januari 2009.

Published by

Erwin M.

Saya suka mengikuti perkembangan teknologi digital, senang jalan-jalan, memotret, menulis dan minum kopi. Pernah bekerja sebagai engineer di industri TV broadcasting, namun kini saya lebih banyak aktif di bidang fotografi khususnya mengajar kursus dan tur fotografi bersama infofotografi.com.

8 thoughts on “Lumix DMC-G1, kamera Micro Four Thirds pertama di dunia”

  1. salam,

    Hari ini saya baru baca di koran ada Lumix DMC G1. Baru baca sebentar saya sudah tertarik. ditambah lagi pemaparan Anda yang lengkap. Semakin mantap niat saya membeli lumiX. BTW, kalo harga di bawah 5 juta gak mungkin kali. Hehe. Trims Anyway

    Mel’s

  2. Kamera ini masuk katagori apa ya? Prosumer bukan, karena lensanya bisa diganti-ganti. Disebut kamera SLR tapi kok ngga punya cermin.
    Kalau sistemnya kayak begini lama-lama nanti kamera poket yang kecil plus ramping bisa juga dibikin mount buat dudukan lensa biar bisa diganti-ganti. Paling yang bedain besarnya sensor aja buat kelas entry atau pro.
    Hemm… kalau udah begini body G1 jadi terasa gendut.

    Masuknya jenis kamera micro 4/3, atau consumer camera with interchangeable lenses. Nama yang lebih gampangnya belum ada, beberapa orang di forum luar nyebutnya kamera setan / EVIL (Electronic Viewfinder, Interchangeable Lenses). Lucu juga ya…

    Desain kamera micro 4/3 bisa dibuat gendut spt Lumix G1 atau juga dibuat ramping spt kamera saku. Yang penting dudukan lensanya tetap standar micro 4/3, dan contohnya Olympus memperkenalkan prototype kamera saku berformat micro 4/3 yang sepintas bodinya mirip kamera saku, hanya lensanya saja yang jadi tampak besar. Saya sih lebih suka kamera yg formatnya micro 4/3 ini mempertahankan desain bodi proporsional spt Lumix G1 ini, karena saat dipasangi lensa Four Thirds biasa (dengan adapter) masih tampak berimbang.

  3. bagaimana kabar dar olympus yg jg memakai format Micro FourThirds?

    apakah sudah ada kamera olympus yg memakai format ini?

  4. Saya berencana beli ini kamera tapi saya mau tahu dulu apa sudah ada yang jual lensa 45-200 (setara 90-400mm) f/4-5.6 OIS ? kalo ada bisa dipastikan agustus beli.

    Salam

    Duher
    ‘yang suka apa yg orang tidak suka’

Comments are closed.