Adu cepat prosumer HD bersensor CMOS

Istilah HD kini jadi tren tersendiri di dunia kamera digital. HD yang merupakan singkatan High Definition, mengacu pada standar resolusi video (dan foto) yang berformat lebar sehingga bisa ditampilkan dengan pas di monitor LCD HD. Standar HD memiliki dua macam resolusi yaitu 1280 x 720 piksel dan 1920 x 1080 piksel, lebih tinggi dari resolusi yang diusung oleh format DVD yang biasa kita kenal. Dengan video berformat HD, kualitas dan ketajaman video yang dibuat oleh sebuah kamera digital bisa menyamai kualiatas dari camcorder. Sebagai konsekuensi, video HD memiliki data rate yang tinggi sehingga dapat membuat sekeping memori 2 GB penuh hanya dalam hitungan menit.

Istilah CMOS pun kini jadi tren tersendiri di dunia kamera digital, khususnya kamera DSLR. Meski secara hasil foto sensor CCD dan CMOS hampir sama, namun secara teknis, desain dan cara kerja keduanya berbeda. Kini beberapa produsen kamera telah menerapkan sensor CMOS pada kamera digital non DSLR untuk efisiensi biaya, menekan noise dan meningkatkan kecepatan continuous shooting.

Saat sebuah kamera prosumer tidak lagi bisa berbuat banyak dalam memperbesar ukuran sensornya, langkah penting selanjutnya tampaknya adalah berlomba dalam hal kecepatan continuous shooting (dinyatakan dalam frame-per-second/fps) dan dalam hal fitur video HD. Setidaknya tercatat ada beberapa kamera saku dan prosumer yang kini telah mampu merekam video HD, salah satunya adalah Canon Powershot SX1 IS dan Casio EX-FH20. Yang unik, kedua prosumer ini mengusung sensor baru berjenis CMOS, dan diluncurkan pada tanggal yang (hampir) bersamaan, yaitu di bulan Sepember 2008 lalu. Penasaran akan kinerja keduanya? Simak saja terus artikel berikut…

Canon Powershot SX1 IS (dan kembarannya SX10 IS) adalah kelanjutan Powershot seri-S yang menggantikan S5 IS, namun dengan perubahan radikal pada lensanya. Kini SX1 IS mengikuti tren lensa panjang dan lebar, yaitu dengan 20x zoom dan wide di 28mm. Berita baikkah? Ya, meski sayangnya pada tele maksimum bukaan diafragmanya akan mengecil di f/5.7, sayang sekali. Masih mengikuti tren, SX1 IS mengusung resolusi 10 MP yang dijejali pada sensor CMOS berukuran mini, 1/2.3 inci. Bicara soal HD, Canon SX1 ini tampil mengejutkan dengan format HD 1920 x 1080 yang tampaknya terlalu berlebihan untuk sebuah kamera digital (apalagi tampaknya tidak bisa dirubah ke resolusi 1280 x 720 piksel). Soal harganya, SX1dijual di kisaran 5,4 juta, sementara SX10 di kisaran 4,5 juta.

Casio EX-FH20 merupakan kamera yang penuh kejutan. Selain nama Casio cukup jarang didengar di peta persaingan prosumer super zoom, Casio EX-FH20 ini juga memiliki spesifikasi yang mirip dengan Canon SX1 seperti lensa zoom 20x, sensor CMOS, fitur movie HD dan ditenagai 4 baterai jenis AA. Soal stabilizer, tampaknya Casio lebih suka memakai metoda sensor shift, bukannya lens-shift seperti Canon. Dengan bandrol harga sekitar 6 juta, praktis kamera prosumer ini harus bersaing keras dengan kamera DSLR entry level.

Bicara soal adu kecepatan, sensor CMOS plus DIGIC IV pada Canon SX1 sudah amat baik dengan kemampuan memotret sampai 4 fps pada resolusi penuh. Namun Casio mematahkan kehebatan Canon dengan kemampuan hingga 40 fps (ya, empat puluh) pada resolusi 7 MP. Kecepatan ini bahkan lebih cepat dari rekaman normal sebuah video (dengan 30 fps), luar biasa. Lebih hebat lagi, bahkan saat shutter belum ditekan, kamera bisa mengambil 40 foto sekaligus sehingga resiko kehilangan momen karena terlambat menekan shutter dapat dihindari. Bisa jadi inilah alasan dibalik harga Casio EX-FH20 yang tergolong lumayan tinggi itu.

Bicara soal kecepatan lensa, lagi-lagi Casio mengungguli Canon dengan lensanya yang lebih cepat. Keduanya memiliki lensa wide dengan jangkauan 20x zoom optik. Perbedaannya, Canon memiliki lensa yang bermula dari 28mm dan berakhir di 560mm, sementara Casio bermula dari 26mm hingga 520mm. Bagi saya, perbedaan 26 dan 28mm tidak terlalu signifikan, begitu juga 520 dan 560mm. So, saya anggap jangkauan lensa keduanya sama. Masalah yang lebih mendasar menurut saya adalah kecepatan lensanya. Meski keduanya bermula di f/2.8, Canon tampak memalukan dengan memiliki bukaan maksimum hanya f/5.7 di posisi 560mm, sementara Casio masih lumayan dengan f/4.5 di posisi 520mm. Meski demikian Canon masih unggul dalam kelengkapan lensa dengan adanya motor USM dan satu elemen lensa ultra-low dispersion (UD).

Bila tampaknya soal kecepatan Canon bisa dipermalukan oleh Casio, apakah lantas Casio layak disebut prosumer bersensor CMOS yang lebih baik? Sulit menjawabnya. Saya suka beberapa fitur penting dari Canon seperti stereo movie, layar LCD yang bisa diputar dan adanya flash hot-shoe. Namun satu kekurangan fatal dari Canon adalah absennya fitur file RAW format, yang amat diperlukan untuk fotografi profesional. Casio sendiri di lain pihak tidak lantas menjadi pilihan yang lebih baik, karena selain Casio juga mengusung harga terlalu tinggi, juga dia tidak dilengkapi dengan flash hot-shoe, dan juga saya masih menantikan review akan lensa EXILIM yang dipakai Casio (kamera Casio selama ini memakai dua jenis lensa, yaitu  Pentax dan Exilim). Belum lagi struktur menu Casio ini cukup aneh dengan membenamkan fitur manual P/A/S/M di dalam tombol MENU.

Advertisements

Published by

Erwin M.

Saya suka mengikuti perkembangan teknologi digital, senang jalan-jalan, memotret, menulis dan minum kopi. Pernah bekerja sebagai engineer di industri TV broadcasting, namun kini saya lebih banyak aktif di bidang fotografi khususnya mengajar kursus dan tur fotografi bersama infofotografi.com.

5 thoughts on “Adu cepat prosumer HD bersensor CMOS”

  1. Salam kenal Mas penulis,
    Saya berencana membeli kamera prosumer. Pilihan awal Panasonic FZ28, dan setelah membaca berbagai ulasan Canon SX1 menurut saya memiliki fitur lebih bagus. Tetapi ada sedikit gangguan di penggunaan battery AA yg tidak praktis, dan ukuran body yg lebih besar dan lebih berat dibandingkan FZ28. Mungkin bisa memberi sedikit pencerahan agar lebih mantap.
    Terima kasih,
    Amnu

    Baterai AA justru lebih praktis karena cukup bawa cadangan AA-alkaline, dan yg utamanya pake NiMH. Soal bodi yg besar, rasanya masih lebih kecil dari DSLR kok. Bodi besar kan lbh stabil dan gak gampang shake (goyang) saat motret. Yang jadi kekecewaan saya akan Canon SX1 ini adalah lensanya yg lambat di posisi tele (zoom in), dan tanpa fitur file RAW.

  2. saya berencana mau beli camera casio exfh20 karena saya bukan profesional tapi harga cukup tinggi.apakah pengeluaran yang dilakukan sebanding dengan kualitas barangnya. saya suka kecepatannya dan baterainya AA bukan litium. kalo panasonic fz28 bagaimana? saya tidak puas dengan layar monitor yang kecil dan penggunaan baterai litium.

    tks

    1. Kalo perlu speed fps tinggi dan baterai AA memang Casio ini pilihan tepat. Memang harganya cukup tinggi, mungkin pertimbangkan juga nanti Sony DSC-HX1.

  3. Salam mas gaptek. Saya Ardhi dari Tarakan. Tulisan2 mas gaptek sangat gampang dipahami dan kalo ngejawab pertanyaan begitu bijaksana. Begini mas gaptek saya ingin beli kamera saku yg bisa ambil gambar sangat cepat ( buat moto mobil balapan ato olahraga bola). mohon sarannya suhu. Terimakasih sebelumnya.

    1. Trims atas pujiannya. Utk ambil gambar cepat syaratnya adalah cahaya yang mencukupi, atau terang. kamera saku masa kini umumnya sudah bisa memotret hingga 1/1000 detik, dan itu sudah mencukupi utk motret olah raga. So, kamera saku mana aja sebenarnya bisa asal cahaya cukup. Namun yang jadi masalah, objek olah raga itu umumnya bergerak cepat dan untuk menjaga fokusnya perlu di’kunci’ dengan cepat juga, dan ini jelas bukan kelasnya kamera saku. Utk kecepatan auto fokus butuh kamera DSLR (dengan lensa yg sesuai).

Comments are closed.