Mini review : Ponsel GSM Samsung SGH-J200

Kali ini saya menyajikan sebuah review singkat dari ponsel GSM Samsung SGH-J200 yang saya beli minggu lalu di pusat penjualan ponsel di Jakarta Barat. Bagi yang ingin menyimak lebih jauh seputar ponsel ini, inilah reviewnya.

samsung-j200

belakang

Samsung SGH-J200 adalah ponsel GSM ekonomis yang punya keunggulan di kemampuan 3G dan desainnya yang simpel. Ponsel ini menjadi incaran banyak orang karena mampu memberikan banyak fitur yang umumnya dimiliki ponsel yang berharga setingkat diatasnya. Dengan banderol harga 1,2 juta, pembeli J200 sudah bisa menikmati ponsel multimedia sekaligus ponsel yang bisa dipakai akses internet berkat kemampuan mengakses data 3G (bisa jadi ada yang membeli J200 ini hanya untuk sekedar dijadikan modem 3G). Sebagai pesaing terdekat, di pasaran juga ada LG KU250 yang punya desain mirip dengan J200 yaitu berbentuk kotak (candy bar), meski harga LG memang agak lebih murah yaitu pas 1 juta.

Sebelum mulai lebih jauh, saya ingatkan di awal kalau ponsel J200 ini memakai joystick sebagai kendali navigasinya. Saya masih ingat terakhir memakai ponsel dengan kendali joystick adalah ponsel Sony Ericsson T630 yang memang harus diakui memakai joystick cukup membuat repot dan dalam jangka panjang joystick bisa mengalami kerusakan. Bila anda tidak suka ponsel yang memakai joystick, tampaknya J200 ini bukan untuk anda.

Unpacking :

Jangan harap mendapat CD, memory card ataupun kabel data dalam paket penjualannya. Cukuplah sebuah charger dan handsfree serta buku petunjuk yang tipis dan isinyapun tidak lengkap. Untuk mendapat kabel data, anda harus membeli secara terpisah seharga 40 ribu ke perwakilan Samsung (untuk daerah Jakarta di Tomang). Bila anda ingin membeli ponsel yang dilengkapi CD dan kabel data, pertimbangkan Samsung Z170 atau LG KU250 (dua-duanya sudah 3G).

Kesan pertama :

Ponsel berbobot 79 gram ini didominasi oleh material plastik (namun tidak terkesan murahan), dengan tombol keypad yang cukup nyaman dipakai plus ukurannya yang rasional. Tombol joystick terasa agak keras, dan yang paling perlu banyak adaptasi adalah tombol YES dan NO yang sulit dibedakan dengan tombol soft-key diatasnya. Saya benar-benar komplain untuk desain tombol YES NO yang aneh ini, bahkan warnanya pun tidak dibuat HIJAU dan MERAH seperti yang dipakai pada ponsel merk lain.

Layar TFT LCD seperti yang sudah saya duga, amat tajam dan kontrasnya tinggi. Warna pun tampak cerah dan nyaman dilihat berkat kedalaman warnanya yang mencapai 256 ribu warna. Meski ukuran layar ponsel ini tergolong rata-rata yaitu 1.8 inci, namun untuk membaca teks yang kecil masih tampak jelas karena LCD ini telah beresolusi 176 x 220 piksel.

Tampak ada sebuah kamera VGA diatas LCD untuk video-call, dan sebuah kamera 1,3 MP di bagian belakang yang tidak disertai cermin ataupun lampu LED. Pada bagian samping kiri terdapat tombol UP dan DOWN serta sebuah slot MicroSD yang dilengkapi penutup dan berjenis hot-swappable. Tak ada port apapun di bagian bawah, sebagai gantinya kini port disediakan di sebelah kanan atas, dan berfungsi triple yaitu sebagai port charger, port data dan port handsfree! Terakhir, sebuah tombol tombol shutter kamera disediakan di sebelah kanan bawah. Karena kamera J200 ini bukan tipe auto fokus, untuk mengambil gambar cukup menekan tombol shutter ini sekali tekan saja (tidak seperti ponsel yang kameranya auto fokus, tombol shutternya bisa ditekan setengah dan ditekan penuh).

Keunggulan utama :

Jaringan UMTS 2100 (up to 384 kbps), EDGE, Bluetooth 2.0 A2DP, Polyphonic 64, kamera 1,3 MP plus kamera video-call VGA, JAVA enabled, 40 MB internal memory, slot Micro SD eksternal (hot swap), Email, Google app. built-in, Netfront Browser.

Kekurangan utama :

Memakai navigasi joystick, tanpa radio, tombol YES-NO yang aneh, resolusi video cuma QCIF (176 x 144 piksel), Media Player tanpa equalizer, tidak bisa ganti themes, install Java harus download (bukan memakai file mentah yang diinstall), tanpa lampu LED untuk kamera, tidak mendapat kabel data.

Pesaing utama (3G ekonomis) :

Samsung Z170 / LG KU250 : Sekitar 1 juta, plus kabel data. Bluetooth versi 1.2, tanpa EDGE, memory internal 10 MB.

Sony Ericsson K530 : Sekitar 1,4 juta, plus kabel data (?). Ada FM radio, kamera 2 MP, tanpa EDGE, memory internal cuma 16 MB dan layar LCD 2 inci yang lega.

Nokia 3120 Classic : Sekitar 1,5 juta. Ada FM radio, EDGE, kamera 2 MP, Bluetooth 2.0, memory internal 24 MP, layar LCD QVGA 2 inci untuk membaca teks ukuran kecil dengan nyaman.

Selayang pandang :

Address book : Bisa menerima v-card lewat Bluetooth ataupun SMS. Mampu menampung 1.000 data di telepon, sayangnya tidak ada fasilitas back-up data address book ke memory card.

Messaging : Standar, dengan inbox, outbox, draft dan sent items. Sudah dilengkapi juga dengan email client. Kita bisa melihat ukuran file (dalam satuan byte) dari tiap pesan, keren.

Media player : Layaknya sebuah pemutar musik, kita bisa memainkan lagu melalui playlist ataupun sesuai katagori (genre, artist, album dsb). Media player bisa diminimize sementara kita memakai ponsel untuk keperluan lain (multitasking).

Browser Netfront dan Google apps. : Lupakan saja, sebagai gantinya arahkan browser ke Operamini dan downloadlah versi terbarunya. File akan tersimpan di file explorer dan selanjutnya setelah diinstal, gunakan saja Opera Mini untuk browsing internet.

Konektivitas : Kinerja J200 sebagai modem 3G cukup stabil. Untuk review J200 dijadikan modem bisa dibaca di sini. Bluetooth berfungsi baik dengan kemampuan pairing dan bertukar data dengan ponsel Sony Ericsson tanpa masalah. Di area 3G, akan muncul icon 3G di bagian atas. Saat J200 dihubungkan ke PC lewat kabel USB, baterai pun otomatis di-charge.

Manajemen memori : Secara default, memori internal dialokasikan untuk menampung message, my files, phone book, memo, calendar dan tasks. Dengan memeriksa status memori, bisa dilihat kapasitas yang terpakai pada telepon, pada SIM card dan pada memory card (bila ada). Memori yang terpakai dinyatakan dalam satuan kilo byte, sementara alokasi untuk phone book adalah 1000 entry, 500 SMS dan 30 push mail. Sedangkan pemakaian My-files (semacam file explorer) dinyatakan dalam satuan kilo byte dan digambarkan memakai kode warna, yaitu biru untuk foto, merah untuk video, hijau untuk suara, ungu untuk games dan kuning untuk file lain. Cukup informatif dan detail.

Contoh foto J200
Contoh foto J200

Kamera : Resolusi 1,3 MP rasanya cukup fair untuk ponsel sekelas J200 ini. Foto yang diambil dengan resolusi 1280 x 1024 mampu memenuhi monitor  komputer secara full screen, dan bila perlu untuk dicetak tampaknya hingga ukuran 4R masih cukup layak. Fitur kamera cukup lengkap, seperti zoom digital, kompresi, white balance, burst mode (hingga 15 continuous shot), self timer, efek sephia/BW, brightness/Ev dan bahkan bisa memilih metering jenis matrix atau spot metering. Kualitas hasil foto memang pas-pasan, meski dengan cahaya yang cukup akan didapat foto yang cukup cerah, tajam dan warna yang natural. Performa auto white balance pun amat baik bahkan pada pemakaian di cahaya neon dalam ruangan.

Lain-lain :

Fitur mode offline : Akses cepat untuk mematikan sinyal RF saat di pesawat, di pom bensin atau diarea yang pemakaian ponsel dilarang. Cool

UMTS push : Memungkinkan kita memaksa J200 ini untuk mencari hanya sinyal 3G meski selemah apapun sinyalnya, sehingga ponsel tidak akan otomatis beralih ke GPRS saat sinyal 3G melemah. Fitur ini amat memudahkan saat sedang browsing data 3G di daerah yang sinyal 3Gnya mungkin tidak stabil. Bila tidak sedang dipakai untuk mengakses data 3G, untuk lebih amannya gunakan saja mode otomatis, atau biarkan pada mode GPRS untuk menghemat baterai.

Kalkulator : Dilengkapi scientific calculator, lengkap untuk menghitung akar, kuadrat, logaritma hingga derajat. Perlu banyak berlatih untuk membiasakan memakai kalkulator J200 yang rumit ini.

Kualitas speaker : Mediocre. Suara musik, MP3 ataupun ringtone melalui speaker semuanya keluar melalui speaker kecil pada ear-piece, bukan melalui speaker khusus musik yang biasanya terdapat di bagian belakang ponsel. Jangan harap kualitas musik yang baik kecuali melalui handsfree yang disertakan.

Bug : Ponsel ini sering me-reload status memory card saat sedang membuka My-files. Semestinya proses ini bisa dilakukan di background sehingga kita tidak harus menunggu proses refresh ini hingga hampir satu menit lamanya. Micro SD yang saya pakai : Kingston 1 GB.

Seputar asesori : Berhati-hatilah dengan kabel handsfree dan charger anda. Kalau sampai hilang, bisa jadi tidak mudah untuk mendapat gantinya. Pasang kabel ke ponsel melalui port dengan hati-hati, kalau sampai port rusak pada bagian konektornya, bisa jadi anda tidak bisa melakukan 3 hal berikut ini : charging baterai, pasang handsfree dan koneksi ke PC!

Published by

Erwin M.

Saya suka mengikuti perkembangan teknologi digital, senang jalan-jalan, memotret, menulis dan minum kopi. Pernah bekerja sebagai engineer di industri TV broadcasting, namun kini saya lebih banyak aktif di bidang fotografi khususnya mengajar kursus dan tur fotografi bersama infofotografi.com.

27 thoughts on “Mini review : Ponsel GSM Samsung SGH-J200”

Comments are closed.