Mini review : Lensa Nikkor AF-S 24-70mm f/2.8G ED

Kali ini saya akan menyajikan sebuah review untuk lensa Nikon yang bernama Nikkor AF-S 24-70mm f/2.8G ED. Lensa ini adalah lensa zoom non DX (Full frame) yang punya rentang fokal standar dengan wide di 24mm hingga medium tele di 70mm. Diluncurkan berbarengan dengan Nikon D3 pada Agustus 2007 silam, lensa ini bisa dianggap sebagai lensa kitnya Nikon D3 (meski kenyataannya tidak ada istilah Nikon D3 kit). Yang menjadikan kekuatan utama dari lensa ini adalah bukaan diafragmanya yang konstan dan besar dengan f/2.8 di seluruh panjang fokal, atau biasa disebut dengan lensa cepat. Oleh karenanya, lensa ini biasa digunakan oleh para profesional yang perlu memakai shutter cepat atau yang sering memotret dalam kondisi kurang cahaya. Tercatat lensa ini menjadi lensa profesional dengan rentang zoom standar generasi terakhir, sejak hadirnya lensa Nikon generasi pertama yaitu 35-70mm f/3.5 buatan tahun 1977 silam. Untuk mendapat rentang fokal yang lebih wide dari lensa ini, para profesional juga dapat menambah lensa AF-S 14-24mm f/2.8G dan sebagai pelengkap telenya telah tersedia lensa AF-S 70-200 f/2.8G VR. Kombinasi ketiga lensa full-frame ini akan memberi rentang keseluruhan 14mm hingga 200mm dengan kemampuan bukaan f/2.8 yang serba bisa dalam berbagai kondisi pemotretan.

d40-2470b
Kombinasi yang tidak umum : D40 plus lensa 24-70mm

Sebelum saya mulai, perlu diketahui bahwa pengujian ini saya lakukan dengan memakai kamera DSLR Nikon D40 yang berformat DX. Dengan memasang lensa ini di D40 (atau DSLR Nikon DX lainnya), adanya crop factor karena sensor APS-C yang lebih kecil dari diameter lensa menyebabkan rentang fokal lensa ini berubah menjadi 35-105mm, dimana otomatis lensa ini akan kehilangan kemampuan wide 24mm-nya (meski mendapat keuntungan mampu mencapai tele 105mm). Konsekuensi dari pengujian memakai kamera DX adalah ada dua karakteristik lensa yang tidak dapat diuji maksimal, yaitu masalah distorsi dan fall-off.

afs-2470Lensa AF-S 24-70mm ini berfungsi baik di D40. Hanya saja secara proporsional menjadi tampak tidak seimbang karena D40 adalah kamera yang kecil dan ringan, sementara  AF-S 24-70mm adalah lensa besar dan berat. Ya, lensa ini layaknya sebuah tank, terasa solid dan mantap plus adanya seal anti debu dan kelembaban, cukup berbeda dibanding lensa Nikon lain yang berjenis DX. Terdapat dua putaran (ring) pada lensa ini, yaitu zoom ring dan focus ring. Berkat teknologi AF-S, proses manual fokus dapat dilakukan secara langsung dengan memutar focus ring, tak peduli apakah mode fokus yang dipakai adalah auto atau manual. Sistem AF-S dengan motor SWM juga menghasilkan putaran motor fokus yang cepat dan halus tanpa suara. Terdapat jendela informasi untuk pengukur jarak dan sebuah tuas selektor fokus (M/A atau M). Lensa dengan dudukan filter berdiameter 77mm ini memiliki minimum focus distance yang amat dekat yaitu hanya 0.38m saja, sehingga masih amat baik untuk makro. Apalagi kemampuan rasio reproduksi makronya juga bisa sampai 1:3.7 yang tergolong amat baik. Terdapat 15 elemen (termasuk elemen lensa aspherical dan lensa ED) yang tersusun dalam 11 grup di lensa ini. Diafragma memakai jenis round dengan 9-blade dengan bukaan terkecil di f/22. Bicara soal diafragma, tidak ada ring pengatur bukaan diafragma di lensa ini, dan semua lensa Nikon modern dengan kode G memang tidak ada setelan diafragma, jadi hanya mengandalkan bukaan diafragma melalui kamera saja (oleh karenanya kamera SLR Nikon film tidak semuanya bisa kompatibel dengan lensa ini). Ingin tahu fitur yang tidak ada dari lensa profesional ini? Terimalah kenyataan kalau lensa terbaik Nikon di kelas standar zoom ini ternyata tidak memiliki sistem stabilizer VR (padahal lensa kit D60 yaitu 18-55mm seharga 1 jutaan saja sudah memiliki VR!). Untungnya para pemakai Nikon full-frame dapat mengatasi blur akibat hand-shake dengan kombinasi bukaan besar dan ISO tinggi yang bersih dari noise, sehingga kebutuhan akan VR dirasa tidak terlalu perlu.

Setelah puas mengenal lensa ini dari luar, masuklah kita pada tahap pengujian lensa. Tes yang paling awal tentunya adalah ketajaman. Pengujian pertama dilakukan di rentang ekstrim 24mm dan di 70mm dengan bukaan tetap di f/8. Tujuannya tentu adalah melihat bagaiman perbedaan ketajaman lensa di posisi wide dan tele, bila dilihat dari 100% crop gambar.

Gambar berikut menunjukkan posisi lensa wide 24mm :

dsc_9210-small

dan inilah 100% crop dari area tengah foto diatas :

dsc_9210crop

Tampak ketajaman dan detil yang amat baik bisa direproduksi oleh lensa ini pada posisi wide 24mm.

Pada saat lensa dizoom-in hingga 70mm akan memberikan hasil seperti ini :

dsc_9211-small

dan inilah 100% crop dari area tengah foto diatas :

dsc_9211crop

Tampak ketajaman dan detil yang amat baik juga bisa direproduksi oleh lensa ini pada posisi tele 70mm.

Pengujian selanjutnya dilakukan dengan panjang fokal tetap  namun dengan variasi berbagai nilai bukaan mulai dari yang terbesar, kemudian diperkecil ke titik ideal f/8 dan seterusnya hingga suatu titik dimana efek difraksi lensa mulai terasa. Tujuannya adalah mengetahui perbedaan ketajaman lensa di bukaan besar, sedang dan kecil.

Gambar berikut menunjukkan 100% crop, posisi lensa di 38mm pada bukaan maksimum :

a-f28

Tampak ketajaman dan detil yang baik bisa direproduksi oleh lensa ini pada posisi f/2.8.

Gambar berikut menunjukkan 100% crop, posisi lensa di 38mm pada bukaan ideal f/8 :

b-f8

Tampak ketajaman dan detil yang amat baik bisa direproduksi oleh lensa ini pada posisi f/8.

Gambar berikut menunjukkan 100% crop, posisi lensa di 38mm pada f/16 :

c-f16

Tampak ketajaman dan detil yang baik bisa direproduksi oleh lensa ini pada f/16.

Gambar berikut menunjukkan 100% crop, posisi lensa di 38mm pada bukaan minimum :

d-f22

Tampak ketajaman dan detil yang cukup baik masih bisa direproduksi oleh lensa ini pada posisi f/22, meski bila dibanding dengan foto sebelumnya tampak adanya penurunan ketajaman akibat efek difraksi lensa.

Kesimpulan yang bisa ditarik dari aspek ketajaman lensa adalah bahwa lensa ini tajam baik pada posisi wide 24mm hingga 70mm, tanpa adanya penurunan ketajaman pada posisi tele yang biasa dijumpai di lensa pada umumnya. Selain itu, lensa ini tajam pada bukaan maksimal f/2.8, amat tajam di bukaan f/8, tajam di f/16 dan agak soft di f/22 (akibat difraksi).

Pengujian ketiga adalah menguji bokeh, atau seberapa baik lensa ini membuat objek bisa tampak tajam dengan latar yang out-of-focus (blur). Dari foto dibawah ini tampak bokeh yang dihasilkan lensa ini memang amat baik dan bisa membuat latar jadi out-of-focus dengan sempurna.

bokeh

Pengujian lainnya adalah mencoba mencari cacat lensa yang mungkin ada (anda bercanda? lensa semahal ini sulit untuk mencari cacatnya). Masalah umum lensa zoom adalah adanya distorsi pada posisi wide, dan posisi 24mm pada lensa ini harus diakui sudah memasuki wilayah rentan terhadap distorsi. Berhubung pengujian dilakukan memakai kamera DX, maka distorsi yang mungkin terjadi pada posisi fokal 24mm ini sulit untuk didapati. Foto berikut menunjukkan betapa pada kamera DX, distorsi tampak amat minim.

distorsi

Masalah lain yang biasa dialami oleh lensa zoom adalah purple fringing dan flare. Lensa 24-70mm ini telah dilengkapi dengan 3 elemen lensa ED (wow) dan dilapisi lapisan khusus anti flare (Nano Crystal Coat, lagi-lagi wow). Saya berusaha susah payah untuk menemukan flare dari lensa ini, dan sepintas sempat tampak adanya flare di viewfinder, namun begitu foto diambil tidak tampak adanya flare di hasil foto. Bicara soal purple fringing, lensa ini impresif. Tidak dijumpai adanya warna keunguan pada area high-contrast yang biasanya dialami oleh kebanyakan lensa zoom.

Saya tidak menguji soal fall-off, vignetting, dark corner atau semacamnya. Pertama, saya kesulitan melakukan pengujian tersebut dengan kamera DX. Kedua, setiap lensa cenderung lebih soft pada bagian tepinya. Kecuali anda memotret objek yang seragam pada seluruh bidang foto (seperti tembok batu bata), soal fall-off ini relatif bisa diabaikan.

Sebagai penutup, berikut kesimpulan yang bisa saya buat dari pengujian lensa 24-70mm ini.

Plus :

  • tajam, baik di posisi wide hingga tele
  • tajam, baik pada bukaan f/2.8 hingga f/16
  • warna, kontras dan bokeh yang bagus
  • mampu memberi bukaan konstan f/2.8 pada semua rentang fokal
  • putaran / ring manual fokus amat presisi, halus dan bisa manual override
  • kecepatan fokus luar biasa (berkat SWM), plus tidak berisik
  • putaran motor fokus didalam lensa (Inner Focus)
  • material lensa dari logam, kokoh dan solid, plus anti debu
  • memberi efek bokeh yang mantap, berkat diafragma 9-blade rounded
  • mampu mengatasi purple-fringing dan flare dengan amat baik
  • relatif aman dari distorsi pada posisi 24mm (di DX format)
  • kemampuan makro yang amat baik

Minus :

  • panjang, berat dan mahal (mahal bila dibandingkan lensa sejenis : Canon 24-70mm f/2.8)
  • pada posisi 24mm ada bagian lensa yang agak maju/menonjol keluar
  • tanpa stabilizer VR
  • penempatan ring manual fokus terlalu dekat dengan posisi tangan, kadang tidak sengaja terputar (dan tidak ada tombol fokus lock)
  • rentang 24-70mm banyak overlap dengan lensa lain (spt 17-35mm, 28-70mm, 24-120mm)
  • di format DX, rentang 35-105mm jadi serba salah
  • tidak kompatibel dengan beberapa kamera SLR Nikon film (tanpa ring pengatur diafragma)

Demikian review singkat ini, meski masih jauh dari memuaskan tapi semoga dapat menjadi alternatif artikel review lokal yang dirasa belum banyak tersedia di negeri ini. Penulis berterima kasih kepada sewakamera atas kesempatannya meminjamkan lensa ini kepada saya secara cuma-cuma untuk dibuatkan reviewnya.

Published by

Erwin M.

Saya suka mengikuti perkembangan teknologi digital, senang jalan-jalan, memotret, menulis dan minum kopi. Pernah bekerja sebagai engineer di industri TV broadcasting, namun kini saya lebih banyak aktif di bidang fotografi khususnya mengajar kursus dan tur fotografi bersama infofotografi.com.

19 thoughts on “Mini review : Lensa Nikkor AF-S 24-70mm f/2.8G ED”

  1. aku mau bertanya
    1. apa bedanya lensa AF-S VR Zoom-NIKKOR 70-300mm
    f4.5-5.6G IF-ED dengan AF-S Nikkor 24-70mm f/2.8G ED?
    2. untuk newbe, lensa apa yang bagus d gunakan (kecuali 18-55)?
    3. kalau soal main diafragma sama speed itu bagaimana? tentang
    speed harus ada speedlight ya?

    Tolong d jawab d emailku abetz19@*********.com
    tolong jawabannya. kami sangat membutuhkan.

    Come and see our blog at ourphotoplus.blogspot.com
    thx b4.

    Jawab ya :
    1. 70-300 adalah rentang lensa tele, dan f/4.5-5.6 menunjukkan bukaan
    kecil/lensa lambat. 24-70 masuknya rentang standar zoom, dan f/2.8
    menunjukkan bukaan besar dan konstan (mahal).
    2. Newbie bisa tambah 55-200.
    3. Soal diafragma dan shutter speed sudah banyak dibahas, dan tidak
    ada hubungannya dgn speedlight (istilah utk lampu kilat).

  2. kalo buat nikon d70s bagus ga ?
    Kalo buat d70s lensa tele yg ok apa yah(pastinya ga mahal mahal amat)

    tolong bales ke email juga yah. thanks.

    D70s punya crop factor 1.5x, jadi lensa ini akan punya rentang 35-105mm. Kalo tidak keberatan dgn widenya yg 35mm sih tidak masalah. Soal bagus nggaknya sih pasti bagus lah.

    Tele utk D70s sih mendingan 55-200mm VR (reviewnya sedang saya garap) atau kalo ada duit sekalian 70-300mm VR. KAlo bener-bener banyak duit, ambil aja 70-200mm VR.

    1. D70s + AF-S Nikkor 24-70mm f/2.8G ED??? mbanting bangettt…lensa semahal ituuu (17jeti)…klo 70-200 VR ..lha ini..lensa idamanku…tapi kapan yahhh…soalnya …MUUUAHALLL…1 unit yamaha VIXION boo…

  3. hallo mas..
    thx jawabannya y!…

    oya.. satu lagi yg mau aku tanya,,
    lebih bagus mana lensa 24-70mm ato 70-300mm??..
    klok yg second, kira2 bro harga keduanya??..
    bales k email ku lagi y!…=)
    thx……..

    Bagus dua-duanya, mereka itu lensa kombo idaman pemakai full frame.

    Misalnya, pemakai Nikon D700 atau D3 akan suka 24-70mm utk pemakaian normal, dan 70-300mm utk tele yang ringan (daripada bawa 70-200mm yang berat).

    Harga second tidak banyak turun, karena lensa itu bekas pun masih mahal. Itulah kenapa lebih baik investasi di lensa daripada di kamera.

  4. mas…klok kegunaan dari hood itu apa??..
    pengaruh banyak ga dengan hasil foto??

    Buat nggak kena sinar dari samping (bikin flare), trus bisa juga buat lindungin depan lensa biar nggak kebentur.

  5. mas.. saya memakai kamera d80.. knp org2 menyarankan saya membeli lensa yg f2.8 ? lalu apakah lensa tamron,tokina dan sigma sama aja dgn lensa nikkon? semua fungsinya dpt berjalan sama jg seperti di nikkon ?

    Simpel, karena bukaannya konstan dan besar. Lensa begini serba bisa dipakai di cahaya yg kurang bersahabat. Anda pakai D80 ya? Lensa alternatif tetap bisa auto fokus di D80, demikian juga dgn fungsi lain spt metering dan distance meter. Masalahnya kan kualitas optik lensa beginian dirasakan tidak sebaik lensa aslinya, kecuali kalau dipakai sekedar utk sehari-hari/tidak utk komersil.

  6. mas saya pake nikon d70 & d40 apa cocok sama 2 kamera itu,

    Lensa 24-70mm sih cocok aja, tapi rentang fokal efektif jadi 35-105mm lho.

  7. Mas..mau nanya saya masih pemula..saya pakai D40, kalau sudah ada lensa 55-200, apa perlu lagi beli 18-105?

    tks mas..

    1. Punya lensa kit 18-55? Kalau punya, dan punya 55-200 juga, tidak perlu beli 18-105. Tapi kalau mau punya satu lensa, jual saja 18-55 dan 55-200 lalu beli 18-105 atau sukur2 18-200.

      1. tks mas gaptek..tpi saya sudah terlanjur beli 18-105 (baru aja beli), jadi skrg saya punya 18-55,55-200 dan 18-105..overlap ya mas 😦 ?padahal 55-200 baru beli seminggu, liat 18-105 jadi pengen..(maklum minim pengetahuan ttg lensa nih) klo boleh tau perbandingan kualitas ke tiganya apa ya mas..? signifikan ngga sih mas..? tks

        1. Anda sudah baca review saya soal lensa 18-105? Overlap sih jelas, tapi anda membeli kan ada dasarnya, toh tidak ada yg salah dgn punya byk lensa, bisa buat invest lho. Dijaga dari jamur dan debu ya…

  8. alo mas, sebelumnya permisi
    saya mau tanya nih, tolong review sama SIGMA 24-70mm F2.8 DG DF Aspherical FOR NIKON gmn kira2 klo dicompare sama punya nikkor

  9. Mas mau tanya, klo nikon 70-300mm VR ada mode makro nya gak ya? Kyk disigma dan tamron trus kelebihan lensa nikon jenis ini apa aja ya?

    1. Kayanya tidak ada deh, makro cuma ada di lensa 3rd party spt sigma/tamron. Kelebihan Nikon jelas di VR yg sangat diperlukan di lensa tele.

  10. mas saya win mau nanya beberapa hal yang saya kurang mengerti mohon masukan dan infonya
    1. soal perbedaan lensa Nikkor ED dan DX, saya membaca beberapa artikel tentang penggunaan Lensa DX pada camera yang full frame ada yang mengatakan tidak cocok untuk camera yang format FX akan lebih cocok atau lebih menghasilkan foto yang tajam ketika menggunakan lensa yang Nikor ED.
    2. untuk camera format FX kenapa harus menggunakan lensa yang nikkor ED? contoh camera D700 sangat cocok jika didampingi dengan Lensa Nikkor 12-24/2.8 ED ketimbang lensa Nikkor 17-55/2.8 yang juga Format DX tapi juga ED.. kalo dari segi Wide pada dasarnya lensa 12-24 lebih wide tapi bukankah lensa 17-55 juga wide dan kenapa pada lensa ini sepertinya kurang cocok jika didampingin dengan camera format FX? terimakasih. salam win

    1. Lensa DX akan menyebabkan vignetting bila dipasang di kamera FX. Soal ED itu bukan jenis lensa cuma ada elemen optik yg ditambahkan utk menaikkan ketajaman, tapi lensa tsb jadi lbh mahal.

      Di kamera full frame / FX ada yg namanya ‘DX mode’, artinya kalo kita memasang lensa DX maka lensa tsb bisa dipakai tapi bidang gambar akan disesuaikan dgn crop factor, sehingga lensa 17-55DX yg semestinya wide di 17mm jadi 24mm di kamera FX. Maka itu orang lebih senang membeli lensa non-DX dgn pertimbangan masih bisa dipakai bila nanti suatu saat punya kamera FX.

Comments are closed.