Lensa cepat, untuk siapa?

Lensa prime 50mm f/1.4

Adakah diantara pembaca yang masih bingung saat mendengar tentang lensa cepat? Yang saya maksud dengan lensa cepat adalah lensa pada kamera (khususnya DSLR) yang mempunyai bukaan (diafragma) besar. Dengan bukaan yang besar, kamera bisa memasukkan cahaya lebih banyak, dan memungkinkan pemakaian shutter yang lebih cepat. Bagaimana dengan lensa pada kamera saku? Dengan ukuran sensor yang kecil, mendesain lensa cepat pada kamera saku jauh lebih mudah. Oleh karena itu sebagian besar kamera saku memakai lensa yang bukaannya besar, semisal f/2.8 hingga f/3.5 pada posisi panjang fokal terdekatnya (zoom-out atau posisi wide). Maka itu pembahasan lensa cepat (bukaan besar) kali ini lebih saya fokuskan pada lensa DSLR saja.

Lensa pada DSLR terbagi dua jenis : fix (prime) dan zoom. Lensa zoom juga terbagi dua, lensa zoom bukaan konstan dan lensa zoom bukaan variabel. Contoh bukaan diafragma pada lensa DSLR adalah seperti dibawah ini :

  • pada lensa prime : f/1.2, f/1.4, f/1.8, f/2.0, f/2.8
  • pada lensa zoom bukaan konstan : f/2.8, f/4
  • pada lensa zoom bukaan variabel  :f/2.8-4.5, f/3.5-5.6, f/4.5-6.3

Pada lensa prime, bahkan bukaan f/1.8 pun belum bisa dianggap cukup cepat karena ada lensa favorit para juru foto yang mampu membuka lebih besar seperti f/1.4 atau f/1.2 (harganya cukup mahal). Maka itu lensa f/1.8 ini cenderung laris dan banyak dicari karena harganya terjangkau, dan bukaan f/1.8 masih dianggap cepat (setidaknya bila dibanding dengan lensa prime f/2.0 atau f/2.8).

Lensa zoom bukaan konstan f/2.8
Lensa zoom bukaan konstan f/2.8

Perhatikan pada lensa zoom bukaan konstan, bila bukaan maksimal di f/2.8 pada seluruh panjang fokal akan membuat desain lensa yang rumit, besar dan berat. Oleh karena itu lensa zoom bukaan konstan f/2.8 punya bandrol harga tinggi, seperti lensa 17-55mm f/2.8, 24-70mm f/2.8 atau 70-200mm f/2.8. Sebagai solusi lensa bukaan besar namun harga cukup terjangkau, tersedia pilihan lensa alternatif seperti contoh foto diatas : Tamron 17-50mm f/2.8 atau Sigma 18-50mm f/2.8. Sedangkan lensa zoom bukaan konstan f/4 tergolong lensa lambat namun memiliki kelebihan dalam bentuknya yang kecil dan lebih ringan, punya bukaan maksimum konstan dan  harganya lebih terjangkau.

Lensa zoom bukaan variabel f/3.5-4.5
Lensa zoom bukaan variabel f/3.5-4.5

Lensa zoom bukaan variabel adalah lensa zoom paling umum digunakan pada kamera DSLR, bahkan pada sebagian besar kamera saku. Lensa semacam ini lebih mudah didesain, dengan karakteristik memiliki bukaan maksimal yang semakin mengecil saat lensa di zoom dari posisi wide hingga tele. Nilai bukaan maksimal pada posisi zoom out hingga zoom in tertulis di spesifikasi lensanya, misal lensa 17-70mm f/2.8-4.5 menunjukkan bukaan maksimal di f/2.8 posisi wide 17mm dan bukaan maksimal mengecil hingga f/4.5 di posisi tele 70mm. Karena lensa seperti ini tidak memiliki bukaan maksimal yang konstan, saat dibutuhkan bukaan maksimal besar tentu hanya bisa didapat saat posisi fokal wide saja. Untuk pemakai kamera saku : hindari melakukan zoom-in saat kondisi cahaya kurang mencukupi, kecuali anda memakai lampu kilat.

Dari uraian diatas, disimpulkan kalau untuk mendapat bukaan amat besar dibutuhkan lensa fix, dan bila perlu lensa zoom tentu yang jenis bukaan konstan f/2.8 yang harganya amat mahal. Kalau harga jadi masalah, lebih baik pilih lensa bukaan maksimal variabel, namun yang bisa membuka besar (f/2.8 ) pada posisi wide-end.

Sesuai judul tulisan ini, pertanyaannya, apakah semua orang membutuhkan lensa cepat (pada DSLR)? Simak beberapa alasan mengapa lensa cepat ini disukai banyak fotografer (khususnya profesional) :

  • memungkinkan memakai shutter cepat
  • menghindarkan memakai ISO tinggi
  • tampilan di viewfinder lebih terang
  • auto fokus lebih cepat
  • memungkinkan pemakaian tele-converter
  • bokeh yang lebih ouf-of-focus

Meski demikian, kebanyakan fotografer justru memakai lensa zoom biasa (termasuk lensa kit) yang tidak cepat untuk keperluan fotografi sehari-hari. Lensa begini harganya ekonomis namun kualitas dan ketajaman optiknya tidak kalah hampir sama dengan lensa zoom cepat yang dijual dengan harga lebih mahal. Adapun beberapa keuntungan dari lensa ekonomis diantaranya :

  • ukuran lebih kecil, meski kemampuan zoomnya besar (misal 55-200mm)
  • ringan, cocok untuk travelling (misal 18-200mm)
  • punya diameter filter lebih kecil (yang ini keuntungan atau kerugian ya???)

Bila dana jadi masalah, cukuplah seorang fotografer memiliki sebuah (atau beberapa) lensa zoom ekonomis, dan bila perlu lensa cepat bisa membeli satu lensa prime yang ringan dan terjangkau. Namun bila ingin memiliki lensa untuk kebutuhan profesional, lensa zoom bukaan besar dan/atau lensa prime kelas elit tentu mutlak diperlukan. Pilih yang mana, anda yang tentukan.

Artikel lebih lengkap simak di sini.

Published by

Erwin M.

Saya suka mengikuti perkembangan teknologi digital, senang jalan-jalan, memotret, menulis dan minum kopi. Pernah bekerja sebagai engineer di industri TV broadcasting, namun kini saya lebih banyak aktif di bidang fotografi khususnya mengajar kursus dan tur fotografi bersama infofotografi.com.

30 thoughts on “Lensa cepat, untuk siapa?”

  1. aduh mas, sampeyan emang luar biasa hehe….
    saya emang lg nyari artikel tentang lensa cepat
    (saya pernah mbatin mas gaptek nulis gak ya…) ee….. ternyata udah nongol di blognya sampeyan haha…..
    saya lumayan sering baca artikel2 sampeyan mas…. smoga berguna bagi yg membutuhkannya…
    tetap berkarya mas….
    salam

  2. Yth Mas Gaptek,
    Setelah punya D300 dengan lensa awal 18-200mm,
    saran Mas untuk lensa cepat yang agak murah apa Ya ?
    Plus mungkin saran mas yang lain yang mengkin utk saya.
    Tks berat .
    Aboe basyeban

    1. Lensa cepat itu bisa prime bisa zoom. Kalau prime, bahkan bukaan f/2.0 belum dianggap cukup cepat. Lain halnya kalo lensa zoom, bukaan konstan f/2.8 sudah dianggap amat baik.

      Utk D300, lensa prime bisa dicoba AF-S 50mm f/1.4 (5 jt) dan lensa zoom tergantung kebutuhan :
      – wide : AF-S 14-24mm f/2.8
      -standar : AF-S 17-55mm f/2.8 DX
      -tele : AF-S 70-200mm f/2.8

  3. tambahan neh…

    klo AF-S 70-200 f/2.8 kemahalan, bisa cari AF-D 80-200 f/2.8 ED N w/ TC

    termos yg sering dipake oleh fotografer sport…

  4. ass.wr.wb mas gaptek, kayaknya mo nanya lagi neh mas, kalo antara lensa nikkor AF 50 D f1.4 sama nikkor AFS 50 f1.4 G sama nikkor AF 50 f1.8D, dengan asumsi “man behind the gun” nya sama, kualitas gambarnya bagus mana ya mas? katanya lensa third party yang hampir sama ada yaitu sigma 50 f1.4 DG HSM, gimana mas kualitas gambar lensa ini? gitu aja mas thx be4..wassalam

    1. Walaikum salam.

      Optik sih sama, tinggal seberapa perlu kita pakai bukaan maks f/1.4. Saya sih kalo pake f/1.8 aja udah senang 🙂

      Sigma itu 30mm f/1.4, optik sih bagus dan ada plus HSM, layak jadi alternatif 35mm f/1.8 AF-S utk D40/D60/D5000 karena harga hampir sama.

  5. ass.wr wb mas gaptek, nyambung kmaren ya mas, kalo lensa 18-70 AF-S DX f3.5-4.5 masih ada engga ya mas? trus menurut mas gaptek gimana kualitas gambar antara lensa 18-70 AF-S DX f3.5-4.5 (lensa kitnya D200 katanya) dibanding sama lensa 18-55 VR f3.5-5.6 (mana yang dipilih)? oh iya, kalo kita ambil lensa fix AF-D 50 f1.4 dipasan di D60, kan pake manual fokus, gimana caranya kalo gambar yang mo kita ambil fokusnya udah pas, apa pake feeling ato pake cara apalah gitu mas gaptek? sorry oot mas, pas bulan puasa entar akhir agustus, mas gaptek ulang taun yaaaa….? wah.. virgo boy donk mas……

    1. He..he… kok tahu ultah saya?

      18-70 itu kitnya D70, punya tiga kenggulan : distance scale windows, metal mount dan bukaan maks di saat tele f/4.5 (dariapda f/5.6). Stoknya masih ada beberapa toko yg jual, dan lensa ini favorit banyak orang.

      Utk mengetahui fokus tidaknya saat manual fokus pakai D40, selain metoda kira-kira (pakai mata) juga ada alat bantu berupa titik hijau di dalam viewfinder (pojok kiri bawah) yang menyala saat fokus didapat. Coba deh putar2 manual fokus di lensa dan lihat saat gambar tertajam / fokus maka lampu hijau itu akan berkedip.

  6. pastinya 28 agustus ya mas…….huehuehuehuehue… usually virgo is perfectionist…isn’t it?? hehehehehe kalo taunnya … ng..ng.. rahasia ah…ntar yang lain tau….hohohohhohoho (ngomong2 kembarannya mas adjie masaid mirip seh, yaaa….hehehehe…deeee…langsung dehh…ehem.ehem..)
    jadi kesimpulannya kalo saya mo ambil lensa 50 f1.4 di d60 tetep bisa dipake ya mas, kalo di d60 ada petunjuk engga kalo gambar yang dah di ambil udah pas fokusnya? eh iya, once more, ng..mending ambil 50 f1.4 ato 85 f1.8, katanya lensa 85 bokehnya lebih mantep euy…
    menurut mas gaptek gimana, …
    Kalo gera..eh..salah gear ding.. saya D60 pake 18-105VR plus lensa fix (apa donk mas antara lensa 50 f1.4 ato lensa 85 f1.8) dah optimalkah mas gaptek????

    1. Adjie Masaid?? Walah…

      D60 pake 18-105 VR udah asik banget, tambah satu lagi lensa fix udah klop. Soal milih mana, kayanya emang udah siap manual fokus ya? Gak melirik si murah meriah 50 f/1.8? Kalo antara 50 f/1.4 dan 85 f/1.8 sih beda tujuan, seberapa perlu kita pakai bukaan besar atau fokal panjang. Pake 85 itu kena crop factor jadi diatas 100 lho, ntar motret orang harus dari jarak 3 meter tuh..

      Soal focus confirmation di D60 ada juga, sama spt D40 (saya sudah coba pake lensa lawas dan it works).

  7. waduh berarti yang lensa 85 itu udah buat tele ya mas……ng..eh iya kalo ngembat AF-S 35 f1.8 gimana mas ? mas gaptek lebih prefer ato worth kemana, AF-S 35 f1.8 ato yang AF 50 f1.8? emang kalo make yang AF-S 35 f1.8 perlu jarak berapa meter antara obyek sama kamera?oh iya kalo mo foto pemandangan pake lensa fix (baik pake lensa 50mm ato lensa 35mm) tapi posisi kamera diubah 90 derajat (jadi yang tadinya portrait jadinya landscape position), hasilnya sama engga kalo pake lensa wide? (supaya dapet tajemnya sih mas maksudnya) and the last, mas gaptek pernah bilang kalo VR-nya lensa 55-200 pas-pasan, kalo VR-nya lensa 18-105 ini gimana mas, bisa engga untuk ngunci obyek yang lagi gerak rada cepet? (kayak panning gitu..emang skarang saya nyubie bange,t cuma buat kedepannya, supaya ga kebuang dananya mas..hahahaha) thx a lot mas…. smile always pliiisss… hihihihi

    1. One of my favourite lens : AF-S 35mm f/1.8 DX. Kalo soal dana sih tetap 50 f/1.8 tapi manual fokus kan..

      VR 55-200 pas-pasan, bukan VR II. Di 18-105 juga pas-pasan. Cirinya tidak ada switch VR mode : active, normal ,off. Buat panning lebih asik VR II, dan bisa hingga 4 stop. Saya pake 55-200 kadang pake speed agak tinggi aja masih shake padahal VR on (mungkin sayanya aja yg salah..)

  8. met pagi mas gaptek, nyambung lagi ya mas, kalo gitu lensa VR yang VR II apa aja donk mas….?? Mosok cuman ada 18-200, yang laen ga ada ya mas?

  9. saya tertarik tentang lensa2 “nyeleneh” super cepat seperti LEICA NOCTILUX-M 50mm F/0.95 ASPH dan Canon 50mm F/0.95
    serta Zoomlen super speed Sigma 200-500 f/2.8 EX DG

    kapan nih mau di bahas…? saya tunggu lho

    1. Waduh, berat nih… Anda punya info soal lensa ini? Tertarik sih sama f/0.95-nya sambil membayangkan kemampuannya di low-light. Collector series pastinya…

  10. mas nanya, mas gaptek pernah nyebutin filter CPL, ND sama UV, buat apa aja ya mas ketiga filter tersebut? terus ini lagi, mas gaptek juga pernah bilang kalo mo dipasang filter2 tadi, cari lensa yang bagian depannya engga muter, wah lensa yang apa aja ya mas yang bisa dipasang filter jenis tadi?

    1. CPL : circular polarizing filter, ND : neutral density, UV ya ultara violet. Yang lensa tidak muter utk filter CPL, atau gradual ND. Kalo ND biasa atau UV sih diputer2 juga gak papa.

  11. Pengen nanya nih mas,
    Anda bilang desain lensa cepat pada kamera saku lebih mudah.
    Apakah hanya berdasar pada f-number yg tercatat pada exifnya menunjukkan angka yg lebih kecil (kebanyakan bisa f2.8) daripada lensa DSLR standard (kebanyakan cuman f3.5)?
    Jadi maksudnya lebih mudah mendesain ini dari sisi apa mas?
    Ukuran material yg dibutuhkan untuk membuat lensanya yg lebih ngirit? Atau mudah membuat lensa dengan asupan cahaya yg lebih optimal?

    1. Ya karena bukaan f/2.8 itu kan relatif terhadap ukuran sensor, sehingga di lensa pada kamera ponsel pun bisa dibuat f/2.8 karena sensor kamera ponsel kecil. Untuk membuat lensa f/2.8 di kamera DSLR perlu lensa berdiameter besar, sehingga cost produksinya mahal. Lagipula lensa f/2.8 pada DSLR punya bokeh yg mantap tdk spt lensa f/2.8 di kamera saku yg tidak bisa bikin background blur.

  12. Brarti cuman ngejar angkanya aja ya mas?
    Padahal meskipun sama2 angka f/2.8, tapi hasil asupan cahaya dan DOF untuk sensor pocketcam, dslr crop, dslr fullframe, bahkan medium format tetep beda kan?

    So, kemudahan yg mas bilang tadi tak lebih dari sekedar kemudahan (ngirit) material, bukan ngejar DOF dan asupan cahaya.

    1. Kurang lebihnya sih begitu, nggak tau ya kalo persisnya gimana. Mungkin ada pembaca yang mau urun rembug? Mestinya sih lensa f/2.8 utk DSLR punya kemampuan asupan cahaya yg sama baik utk DSLR crop atau DSLR full.

  13. di pabrik saya ada kamera sony cuma 7mp modelnya sih jadul banget dan memorinya micrro stik khas sony tapi bentuknya besar sekali memorinya serta hnya 256mb saja.yang saya kagum adalah bukaan maksimalnya yg luar biasa yaitu f2,8.ya saya sih ga tau bedanya dengan f3,5 atau f5,6.kebetulan ada fitur manualnya lagi pas saya coba iseng2 pake mode manual,pada bukaan f2,8 gambar jadi lebih terang dan pada f5.6 gambar jadi lebih gelap sdikit.jadi apakah dengan bukaan yang lumayan besar ini walaupun pd kamera saku akan memberikan hasil yang lbh yah dibandingkan dengn f3,5 atau f5,6.

    1. Tentu saja, bahkan ada beberapa kamera saku (lawas ataupun baru) yg bisa membuka hingga f/2.0 sehingga akan handal bila dipakai utk memasukkan byk cahaya ke sensor.

  14. Mas Gaptek .. Yth,

    nanya lagi Mas , kalo lensa Micro saran Mas apaan yah untuk tahap awal ?
    kalo pengalaman mas sendiri untuk buat bokeh yang cantik pake lens yang mana ?
    Makasih banyak Mas.. :))

    1. Utk micro paling asyik 105mmVR, di urutan kedua ya 60mmVR (tapi saya belum coba). kalau mau selain merk nikon juga ada lensa micro coba cek di toko online deh.

  15. mas gaptek..tertarik juga neh ama lensa kenceng gni…
    diatas disinggung 50 1.8 ya? itu tu NIKON AF 50MM F/1.8D ya? dari kelompok2 nikkor AF-D?
    jika dipasang di D40 pasti manual fokus karena bukan tdk ada motor didalamnya, tapi yg jadi pertanyaan adalah apakah light metering, dll nya berfungsi normal (hanya manual fokusnya saja yang jadi pertimbangan)
    saya rasa kalau hanya manual fokus tidak jadi masalah karena mengingat untuk AFS 50 1.4 harganya 5 kali lipat

    oya kenapa pada lensa2 dulu banget, metering pun tidak jalan (lens not attached?ya kalo ga salah tulisannya) jadi musti pake feeling….

    1. Meski tidak selalu, landscape itu identik dgn lensa wide semacam tokina 11-16. Kalau diadu dgn lensa tele profesional ya tergantung anda sendiri perlu fokal berapa utk landscape.

Comments are closed.