Finepix F200EXR : kamera Fuji pertama bersensor SuperCCD EXR

sccd-exr-logoAkhirnya diluncurkan juga, kamera digital dari Fuji dengan sensor SuperCCD generasi EXR. Kamera yang bernama Finepix F200EXR ini sepintas mirip dengan pendahulunya, F100fd namun dengan layar yang lebih besar. Kamera ini menjadi kamera pertama dalam jajaran Finepix yang mengadopsi sensor baru EXR, dan diharapkan di bulan-bulan mendatang sensor EXR juga akan dipasangkan pada kamera semi-pro sekelas Finepix S100fs dan kamera super zoom sekelas S8100fd.

Bagi yang belum menyimak info soal sensor baru ini, intinya saya sampaikan secara singkat bahwa sensor EXR merupakan hasil riset Fuji yang menggabungkan sensor SuperCCD tipe HR dan tipe SR. Tipe HR mampu memberi resolusi tinggi dengan noise yang rendah, biasa dipakai di kamera saku hingga kamera semi-pro, sementara tipe SR adalah jawaranya dynamic-range, digunakan di kamera DSLR Fuji S series. Dengan bersatunya kedua teknologi sensor ini, bisa dibayangkan cukup dengan sebuah sensor bisa didapat kemampuan fotografi digital resolusi tinggi yang noisenya rendah dan punya dynamic range yang lebih baik.

Sebagai pembuka, berikut kutipan fitur utamanya :

  • 12 Megapixel SuperCCD EXR sensor (1/1.6 inch)
  • F3.3-5.1, 5X optical zoom lens, equivalent to 28 – 140 mm
  • Sensor-shift image stabilization
  • 3-inch LCD display with 230,000 pixels
  • Full manual controls + numerous scene modes
  • ISO range of 100 – 12,800
  • Super Intelligent Flash
  • Face Detection 3.0
  • Records movies at 640 x 480 (30 fps) with sound
  • 48MB onboard memory + xD/SD/SDHC card slot
  • Uses NP-50 lithium-ion battery

Di atas kertas memang tidak nampak ada yang menonjol dari deretan fitur diatas (kecuali ISOnya yang bisa mencapai ISO 12.800, wow!) bahkan merk pesaing bisa mengungguli Fuji ini khususnya dalam fitur movie yang rata-rata sudah memakai resolusi HD. Bahkan bila disimak spesifikasi lensanya, meski rentang fokalnya amat efektif (28-140mm), namun tidak demikian halnya dengan bukaan maksimalnya. Ya, Fuji ini layaknya kamera saku generasi sekarang, lebih memilih desain lensa ekonomis yang tidak bisa membuka hingga f/2.8 seperti kamera-kamera generasi sebelum ini. Tapi saya tidak sedang membahas itu, saya ingin ceritakan soal bagaimana sensor EXR ini bisa diandalkan dalam berbagai kondisi pemotretan.

Baik dipilih secara manual ataupun otomatis, sensor EXR seolah bisa berperan sebagai tiga sensor berbeda. Bila mode EXR diset ke auto, kamera akan menentukan sensor EXR harus berperan sebagai apa, tergantung kondisi pemotretan. Peran yang bisa dipilih pada sensor EXR adalah :

  • Fine Capture (resolusi tinggi), artinya sensor berfungsi normal dengan resolusi maksimal 12 MP, cocok untuk pemotretan sehari-hari dengan kondisi cahaya normal (mencukupi). Dengan kata lain, mode ini persis sama seperti memakai kamera digital manapun.
  • Pixel Fusion (sensitivitas tinggi, noise rendah), artinya dengan memilih mode ini setiap piksel yang berdampingan akan digabungkan untuk memberikan sensitivitas 2x lebih tinggi, sehingga noise bisa ditekan lebih rendah. Perhatikan kalau dengan metoda gabungan dua piksel bertetangga ini maka resolusi efektif sensor EXR menjadi 6 MP.
  • Dual Capture (dynamic Range yang lebar), prinsipnya sama seperti fotografi HDR yaitu menggabung dua foto yang berbeda eksposure. Namun bedanya dengan teknik HDR, kita tidak perlu memotret beberapa foto untuk digabung di komputer, cukup sistem internal sensor EXR yang melakukannya. Prinsipnya, setengah dari jumlah piksel di sensor EXR akan menangkap foto dengan eskposure yang lebih tinggi (terang), sementara setengahnya lagi bertugas mengambil foto dengan eksposure lebih rendah (gelap). Kedua foto yang berbeda eksposure tersebut digabung oleh prosesor internal kamera dan hasil akhirnya adalah sebuah foto 6 MP yang punya jangkauan dinamik yang lebar.

Meski kamera ini bisa menentukan secara otomatis mode EXR mana yang cocok untuk situasi pemotretan saat itu, namun tentu sebaiknya sang pemakai kameralah yang menentukan kapan harus memakai mode Fine Capture, kapan harus memakai Pixel Fusion dan kapan harus memakai Dual Capture. Berikut ini adalah beberapa skenario pemotretan yang memungkinkan kita secara spesifik memilih mode sensor EXR secara manual :

  • Mode Fine Capture tentu dipakai bila perlu resolusi tinggi 12 MP, seperti foto yang sarat dengan detail (landscape) atau bila akan dilakukan cropping nantinya. Di mode ini diperlukan cahaya yang mencukupi dan merata, artinya tidak ada perbedaan area yang terlalu gelap atau terang pada satu bidang gambar.
  • Mode Pixel Fusion akan menunjukkan kehebatannya bila dipakai di tempat kurang cahaya. Bilamana diperlukan memotret memakai ISO tinggi dan tanpa lampu kilat,  seperti foto indoor, memotret konser musik, atau di tempat yang penggunaan lampu kilat tidak diijinkan, gunakan saja mode ini.
  • Mode Dual Capture, adalah terobosan baru mendapat foto dengan dynamic range tinggi tanpa harus mengolah lewat software komputer. Mode ini bisa digunakan pada area pemotretan yang punya kontras tinggi, yaitu terdapat area amat terang dan amat gelap pada sebuah bidang foto. Tanpa mode ini, kita akan terpaksa memilih untuk mengorbankan daerah gelap (shadow) demi menyelamatkan daerah terang (highlight) atau sebaliknya. Meski belum ada reviewnya, saya yakin foto ‘HDR’ yang dibuat dari kamera ini bisa lebih baik dari kamera lain yang punya fitur peningkat dynamic range (yang bekerja berdasar algoritma software saja).

Saya pribadi tidak begitu antusias pada mode pertama, karena mode fine capture adalah mode standar semua kamera saku yang punya resolusi tinggi. Selain membuat ukuran foto jadi besar, resolusi tinggi juga membuat berat saat proses loading dan editing foto di komputer. Bila saya memakai kamera EXR ini, saya hanya memakai dua mode ‘khusus’ lainnya yaitu mode pixel fusion (anggap saja ini mode malam hari) dan mode dual capture (anggap saja mode siang hari). Betul kalau kedua mode ‘siang-malam’ ini akan menghasilkan foto beresolusi 6 MP saja, tapi buat saya 6 MP ini sudah amat mencukupi.

Sebagai penutup, singkatnya Fuji F200EXR mampu memberi terobosan besar dalam dunia fotografi digital yang selama ini ‘mentok’  saat mendesain sensor kecil yang selalu bermasalah dengan noise yang tinggi dan rendahnya dynamic range. Dalam dimensi yang kecil, kamera berlensa 5x zoom ini bisa berperan banyak yaitu sebagai kamera normal beresolusi tinggi, kamera yang juga handal di ISO tinggi layaknya DSLR, dan kamera HDR yang sanggup memberi dynamic range tinggi tanpa perlu menguasai teknik HDR di komputer. Salah satu calon kamera favorit saya di 2009 nih…

sampel foto lihat disini : fuji.jp

Berhubung contoh diatas memakai bahasa Jepang, inilah urutan foto pada link diatas :

1. High Resolution Priority
2. Dynamic Range Priority
3. High ISO Noise Priority (ISO 400)
4. High Resolution Priority
5. High Resolution Priority
6. Dynamic Range Priority
7. High Resolution Priority

Advertisements

Published by

Erwin M.

Saya suka mengikuti perkembangan teknologi digital, senang jalan-jalan, memotret, menulis dan minum kopi. Pernah bekerja sebagai engineer di industri TV broadcasting, namun kini saya lebih banyak aktif di bidang fotografi khususnya mengajar kursus dan tur fotografi bersama infofotografi.com.

42 thoughts on “Finepix F200EXR : kamera Fuji pertama bersensor SuperCCD EXR”

  1. lihat hasil2 fotonya mantep ya, cantik, hehehe
    mas, aku kalo ga beli ini ya beli seri lumix zr1 atau tz7? perbandingannya gmn sih?
    pilih mana ya?

  2. mas gaptek mau tanya nih….
    saya bingung banget mau pilih kamera pocket yang mana?harga maks 2,5 jutaan
    jika dibanding kemampuan pocket nikon,canon,fuji,sony,samsung dll
    kamera mana sih yg overall baik dan dapat diandelin pas sy males bw dslr
    apakah dr penjelasan diatas sebaiknya saya pilih fuji f200 exr saja?apa tidak ada yg lebih baik?apakah fuji memiliki layanan service yang mudah jika rusak?
    mohon pencerahannya mohon dibantu….maaf jika banyak nanya hehehe

    1. Canon punya fitur bagus, cuma entah apa karena banyak yg punya canon, saya lebih sering lihat orang yg mengeluhkan kamera saku canon rusak/bermasalah. Untuk pocket saya tidak suka coolpix nikon karena kalah fitur dan kualitas dibanding pesaing. Untuk teknologi sensor saya suka fuji, tapi overall saya suka lumix. Ke depannya sony bakal semakin jadi pesaing pemain lama karena produknya juga sekarang semakin murah. Jadi…. tambah bingung kan???

      Gini aja, kalo sering pake ISO tinggi cocoknya Fuji F200/F70 EXR. Kalo mau yg imbang tapi bagus ya merk papan atas spt canon dan lumix. Kalo mau coba2 merk lain boleh aja, kan selera masing2 orang beda. Soal after sales selama dlm masa garansi sih mestinya aman, repotnya diluar masa garansi biasanya partsnya susah dan disaranin ganti baru 😦

      1. wah…kyknya kalo beli Fuji F200/F70 EXR ga bakal nyesel yah?ya pasti bakalan sering pake iso tinggi yah?soalnya kalo motret dlm ruangan aja misalnya perlu banget iso tinggi kn?wah makasih banget ya mas….^^

  3. mas au tanya nih,,,kalo mau beli kamera saku rentang harga 2.5 sampai 3.5 juta yang paling bagus apa ya mas,,,cara lihatnya dari mana?pengennya sih yang hasilnya bisa natural,bisa untuk indoor or outdoor,zoom lumayan,n movie nya bagus, ada gak ya mas,,

  4. Mas mau tanya, kira – kira menurut mas gaptek lebih pilih yang mana ya diantara Fuji Pinepix 80EXR dan Fuji Pinepix S2500HD? makasih banget ya…

  5. mas mau nanya kalo buat motret orang2,dan situasi di ruangan ,mall atau rmh..mendingan Fuji F200 Exr atau Tz7 nya Panasonic..juga hasil cetaknya bagus yg mana?.Makasih

  6. mas mau nanya ni.buat pemula mending pilih kamera yang mana ya?
    pilihannya canon powershot 200is ato Fujifilm Finepix F200 EXR ato Canon PS D10 ato canon ixus 210 ato Samsung DualView TL225.terimakasih atas pencerahan nya.

    1. Wow, banyak sekali pilihannya..Sesuaikan aja dgn kebutuhan dan dana, saya lihat pilihannya kok tdk terfokus (ada kamera underwater?)

  7. Apakah kamera digital Finepix F200EXR cocok digunakan untuk memotret objek dengan jarak 30 meter, tolong balasannya.

    1. Masih bingung sama maksud pertanyaannya nih. Obyek yg jauh ya kalo masih bisa coba didekati dulu, kalo gak bisa baru pake lensa tele. Jadi bukan soal merk apalagi tipe kamera tapi lensanya.

Comments are closed.