Perbandingan ISO : sensor kecil vs SuperCCD vs APS-C

Salah satu faktor utama yang menjadi pembeda antara kamera kelas sensor kecil (kamera saku, kamera super zoom dan kamera prosumer) dan kamera sensor besar (DSLR baik Four thirds, APS-C atau Full-frame) adalah kemampuan memebrikan hasil foto yang lebih bersih pada ISO tinggi. Meski kini semua kamera baru mampu memberikan ISO tinggi, namun bila hasil fotonya dipenuhi noise tentu apalah artinya. Perhatikan kalau noise disini bukan hanya seperti grain layaknya kamera film ASA tinggi, tapi campuran antara luminance noise, chroma noise dan noise reduction yang berlebihan. Hasilnya, selain foto akan tampak berbintik, warna pun menjadi terganggu, plus ketajamaan turun karena noise reduction. Bayangkan, tiga kerugian sekaligus yang didapat saat memakai ISO tinggi.

Pada kesempatan kali ini saya ingin membandingkan contoh hasil foto yang diambil pada beberapa nilai ISO, yang saya kutip dari situs dpreview. Tujuannya adalah supaya pembaca dapat membandingkan pada ISO berapa sensor kamera mulai menunjukkan kelemahannya. Mengingat banyak jenis kamera dan sensor di pasaran saat ini, saya batasi kali ini hanya tiga sampel kamera saja, yang uniknya ketiganya mewakili tiga macam sensor yang punya karakteristik tersendiri, yaitu sensor kecil, sensor SuperCCD dan sensor APS-C.

Sensor kecil : Canon G10

Sensor berukuran antara 1/3 inci hingga 1/1.6 inci dianggap berukuran kecil. Canon G10 sebagai wakil dari kamera bersensor kecil (1/1.7 inci atau 7.6 x 5.7 mm) menjadi kamera prosumer saku yang punya resolusi tertinggi (dan termahal) saat ini, dengan 14.7 MP sehingga menghasilkan kerapatan piksel yang luar biasa rapat dengan 34 juta piksel pada tiap centimeter persegi. Dapat dibayangkan, sensor seperti ini akan mengalami penurunan kinerja piksel yang signifikan, sehingga berdampak pada naiknya noise dan turunnya sensitivitas.

Sensor SuperCCD : Fuji Finepix S100FS

Betul kalau sensor SuperCCD hanya dibuat dan dipakai untuk kamera Fuji. Tapi desain penyusunan piksel secara heksagonal yang terbukti mampu meningkatkan sensitivitas membuat banyak pihak yang mengakui bahwa sensor SuperCCD punya kualitas ISO tinggi yang lebih baik dari kamera saku sejenis. Keping sensor SuperCCD tidak berbeda dengan sensor CCD lain dengan ukuran 1/1.6 hingga 2/3 inci, dan Fuji S100FS menjadi wakil dari beberapa kamera Fuji SCCD dan kebetulan S100FS ini juga disebut-sebut adalah kamera terbaik di kelas prosumer dan/atau super zoom. Hadir dengan sensor SCCD HR berukuran 2/3 inci (atau 8.8 x 6.6 mm), Fuji S100FS ini membatasi dirinya dengan memakai resolusi ‘hanya’ 11 MP, sehingga kerapatan pikselnya cukup fair dengan 19 juta piksel per centimeter persegi. Perbandingan antara ukuran sensor dan resolusi yang cukup berimbang, diiringi dengan struktur piksel heksagonal, membawa harapan bahwa S100FS ini bisa memberi hasil foto yang mendekati kualitas DSLR.

Sensor APS-C : Nikon D80

Sebagai wakil dari kelas DSLR bersensor APS-C, saya sengaja pilihkan DSLR lawas Nikon D80 dengan resolusi 10 MP. Faktanya, Nikon D80 memakai sensor berukuran APS-C dengan dimensi 23.6 x 15.8mm dengan kerapatan piksel 2.7 juta piksel per centimeter persegi. Dengan kerapatan ini, ukuran tiap pikselnya dapat dibuat lebih besar untuk sensitivitas yang jauh lebih baik. Dibanding DSLR modern, Nikon D80 masih mengalami noise yang cukup banyak pada ISO tinggi, karena penerapan noise reduction yang konservatif. Maka itu saya pilihkan D80 ini sebagai pembanding terhadap sensor lainnya. Sekedar info, Nikon D80 masih tetap dijual hingga saat ini dengan harga dibawah sepuluh juta plus lensa kit.

g10-s100-d80

Pada contoh foto berikut ini saya mengambil hasil tes yang dilakukan oleh dpreview.com, dengan tujuan memberi gambaran seberapa tinggi noise yang dialami oleh sensor pada tiap nilai ISO. Terdapat tiga bidang uji pada tiap foto, yaitu area abu-abu (grey), area gelap (hitam) dan area objek berwarna hijau. Noise memang lebih mudah dijumpai pada bidang foto yang gelap (luminance noise) dan noise berupa titik-titik warna (chrominance noise) bisa diamati pada bidang foto berwarna abu-abu, serta bidang hijau untuk mengamati seberapa parah efek dari noise reduction terhadap detail sebuah foto.

Contoh foto ISO 100

iso100

Cukup mudah dilihat kalau pada ISO 100 hasil foto ketiganya sama-sama bersih.

Contoh foto ISO 200

iso200

Begitu sensitivitas naik 1 stop ke ISO 200, noise mulai tampak  pada Canon G10. Saya rasa pemakaian ISO tertinggi pada kamera dengan sensor kecil cukuplah dibatasi pada ISO 200, meski kamera tersebut mampu mencapai ISO diatas 200.

Contoh foto ISO 400

iso400

Tampak kalau di ISO 400 sensor SuperCCD pun mulai menampakkan adanya noise, sementara pada G10 noisenya sudah lebih banyak, meski masih dapat diterima. Saya rasa pemakaian sehari-hari kamera Fuji bersensor SCCD cukuplah dibatasi hingga ISO 400 saja, kecuali untuk alasan tertentu.

Contoh foto ISO 800

iso800

Pada ISO 800, hasil foto dari G10 sudah tidak bersih dan tampak noise reduction membuat ketajaman pada gambar berwarna hijau mulai turun. Perhatikan kalau sensor SuperCCD dari Fuji meski tampak lebih bersih dalam mengatasi luminance noise, namun justru terganggu oleh chroma noise (lihat area warna abu-abu yang menjadi kehijauan). Di ISO 800 Nikon D80 masih stabil dengan hanya mengalami sedikit saja noise, dan menurut saya untuk pemakaian sehari-hari kamera DSLR semacam Nikon D80 ini dibatasi hingga ISO 800 saja.

Contoh foto ISO 1600

iso1600

ISO tertinggi dari G10 yaitu ISO 1600 sudah mengaburkan ketajaman dan tampak noise yang nyata. Hal yang sama dialami oleh kamera S100FS dengan penyimpangan warna kehijauan meski masih mampu menjaga ketajaman objek foto. Pada Nikon D80 noise di ISO 1600 sudah terasa baik di area grey ataupun hitam.

Contoh foto ISO 3200

iso3200

Menaikkan satu leveldiatas ISO 1600 membawa kita pada ISO 3200 yang mana tidak tersedia pada G10. Tak diragukan lagi, noise pada S100 dan D80 sama-sama tinggi, meski dalam hal menjaga detail foto tentu D80 lebih unggul. Gunakan ISO 3200 hanya untuk emergency saja.

Demikian perbandingan ISO yang saya susun. Tampaknya kamera dengan sensor kecil yang dijejali banyak piksel membuat banyak kompromi dalam hal ISO, sementara pemakaian sensor Super CCD dari Fuji dapat jadi alternatif bila ingin hasil pada ISO tinggi yang lebih bersih. Namun baik sensor CCD biasa atau SuperCCD tentu bukan tandingan dari kamera DSLR yang punya ukuran sensor lebih besar.

Thanks to dpreview for the tests, my apologize for copy-paste without permission.

Published by

Erwin M.

Saya suka mengikuti perkembangan teknologi digital, senang jalan-jalan, memotret, menulis dan minum kopi. Pernah bekerja sebagai engineer di industri TV broadcasting, namun kini saya lebih banyak aktif di bidang fotografi khususnya mengajar kursus dan tur fotografi bersama infofotografi.com.

3 thoughts on “Perbandingan ISO : sensor kecil vs SuperCCD vs APS-C”

  1. Mas Gaptek,

    Ukuran sensor 1/1.7 inci = 7.6 x 5.7 mm itu gimana ya cara menghitungnya?
    1/1.7 inci itu kan = 0.59 inci = 1.49 cm = 14.9 mm. Apa itu diagonalnya? Tapi kalo 7.6 x 5.7 mm itu diagonalnya 9.5 mm.

    He2 bingung juga mas…

    1. Anda teliti sekali..
      Memang betul kalo diagonal sensor 1/1.7 inci itu semestinya 9.5 mm, di wikipedia juga ditulis begitu.

      Masalahnya, kenapa ditulisnya sensor 1/1.7 inci, saya juga tidak tahu persis. Mestinya sih 1/1.7 inci (atau 14.9 mm) itu merefer kepada diagonal sensor juga, atau mungkin bisa jadi menyatakan image circle yg lebih besar dari ukuran sensor.

      Ada pembaca yg tahu? Mas Enche mungkin?

  2. mas aku mau tanya nih,,,aku khan masih baru,,pengen beli kamera buat belajar,,,nah bagusnya apa ya mas yang harganya murah aja 1 jutaan misalnya,,,aku udah lihat 2 merk sih samsung ES15 sama fujifilm A100,,,harga sama 1,100.000,,,
    bagusan mana ya mas,,,coz katanya lensa fujinon lebih bagus daripada samsung,,,,
    atau ada rekomendasi lain dari mas dengan rentang harga itu??

Comments are closed.