Masa depan kamera digital, ditengah stagnasi teknologi dan resesi global

Waduh, judulnya kok serius amat mas? Seperti judul sebuah skripsi saja 🙂

Tenaaang, kali ini saya hanya ingin menuangkan uneg-uneg saya soal seperti apa sih perkembangan kamera digital itu nantinya. Judul diatas memang tampak serius, tapi tulisan ini diupayakan tetap ringan dan tidak membuat pembaca bingung kok.

Tahun 2009 ini diawali dengan situasi ekonomi yang kurang bersahabat, dengan lesunya daya beli dan melambungnya harga akibat resesi global. Fakta ini saja bisa memberi gambaran betapa beratnya tantangan bagi produsen kamera supaya bisa terus bertahan, sementara di lain pihak konsumen juga dituntut untuk dapat bijak dalam menyiasati kondisi ekonomi ini. Produsen kamera tidak bisa lagi mengandalkan strategi lama sebelum resesi dengan menjual produk ‘biasa’ dengan harga mahal, atau berlomba-lomba dalam menaikkan resolusi (mega piksel) dengan harapan pembeli akan memilih kamera yang resolusinya lebih tinggi. Konsumen masa kini harus semakin teliti, semakin cermat dan harus sudah bisa memahami kebutuhan fotografinya sehingga tidak lagi mau membeli kamera yang ‘biasa-biasa saja’.

Di sisi lain perkembangan teknologi kamera juga semakin stagnan (mandeg). Perkembangan resolusi sensor kamera sudah jenuh di kisaran 12 mega piksel. Lensa sudah dibuat terlalu ambisius dengan kemampuan menjangkau fokal amat wide (sekitar 24-26mm) hingga sangat tele (sekitar 500-600mm). Fitur beraneka rupa sudah dibenamkan (face detection, mode AUTO yang cerdas, peningkat dynamic range, smile shutter, dsb) hingga kemampuan movie pun sudah menyamai camcorder sungguhan dengan kemampuan merekam video full HD 1080i dengan suara stereo dan kompresi H.264 yang efisien.

Bahkan akhirnya salah satu produsen kamera yaitu Olympus mengakui kalau kamera digital itu sebenarnya cukup dengan 12 MP saja. Mengutip uraian dari Mr. Akira Watanabe, manajer departemen Planning Olympus Imaging SLR :

Twelve megapixels is, I think, enough for covering most applications most customers need. We have no intention to compete in the megapixel wars for E-System (Olympus line of SLR cameras). Instead, Olympus will focus on other characteristics such as dynamic range, colour reproduction and a better ISO range for low-light shooting. We don’t think 20 megapixels is necessary for everybody. If a customer wants more than 12 megapixels, he should go to the full-frame models.

Selain itu, dampak dari resesi telah membelokkan target bisnis produsen hingga lebih fokus ke kamera kelas ekonomis (yang meski keuntungannya paling kecil tapi pembelinya paling banyak). Kamera kelas ekonomis tidak hanya di kelas kamera saku, tapi juga kamera prosumer hingga kamera DSLR. Simaklah betapa para produsen belakangan ini makin gencar berlomba meluncurkan kamera DSLR ekonomis seperti Canon 1000D dan Pentax K-m. Saat persaingan akan semakin ketat, bisa jadi pemain kelas ‘teri’ akan berguguran dan pemain kelas ‘kakap’ akan berebut share yang tidak banyak.

Mengutip dari Thom Hogan :

It seems to me that every camera company has turned their attention on the middle ground between compacts and DSLRs. The basic compact cameras are now commodities, require updating every year, have extremely low price (and profit) points, and are selling in lower numbers now than last year. There’s not enough room for everyone to play in that market. I expect long term we’ll see only six viable makers in that arena (Sony, Canon, Panasonic, Nikon, Fujifilm, and Samsung), and only two or three of them will be profitable.

In the traditional DSLR realm, the barrier to entry is now high and the volume growth is all gone. Sales outlets are disappearing and prices (and thus profit) are under extreme pressure. I expect we’ll end up with four viable DSLR makers long term: Canon, Nikon, Sony, and Panasonic/Olympus.

Cukup menarik kan? Bahkan Thom Hogan berani meramal ke depan hanya sedikit pemain kamera yang masih bisa bertahan. Mungkin salah satu alasannya, untuk berinovasi secara teknologi memang perlu biaya besar, dan belum tentu ada kepastian akan mendatangkan return yang sepadan. Hanya waktu yang bisa mengatakan kalau kamera Micro Four Thirds dari Panasonic yang bernama Lumix GH1 (yang kabarnya akan dijual 13 juta plus lensa kit 14-140mm) akan laris di pasaran. Riset besar-besaran yang dilakukan oleh duo Panasonic Olympus untuk teknologi Micro 4/3 ini belum tentu (dalam jangka pendek) akan memberi keuntungan yang sepadan. Hal yang sama mungkin berlaku juga untuk Fuji yang telah bersusah payah membuat sensor Super CCD EXR. Tapi konsumen yang cerdas akan terus menantikan terobosan dalam hal teknologi fotografi, bukan sekedar face-lift, ganti desain bodi, atau perubahan minor dari tahun ke tahun.

Tapi selalu ada ruang untuk penyempurnaan teknologi. Yang dibutuhkan oleh konsumen saat ini adalah kejelasan segmentasi produk dan terobosan teknologi baru dengan harga yang tetap terjangkau. Saat konsumen semakin kritis dalam memilih, produsen seharusnya lebih tanggap dalam meluncurkan produk barunya. Konsumen yang dananya terbatas tentu akan mengejar kamera yang murah tapi berkualitas. Namun yang terjadi adalah, saat ini tren produk kamera baru cenderung ‘begitu-begitu lagi’ alias tidak banyak peningkatan dalam fitur dan performa, padahal harganya cukup mahal. Simaklah kekecewaan Thom Hogan berikut ini :

Thus, I, too, am somber and subdued about the camera market. But not because of the economy like most of those attending PMA. Instead, I’m saddened to see that the camera market is getting more and more like the car market and less and less like the high tech industry that revolutionized things in my working life and which I was proud to be part of.

Namun dalam sudut pandang yang lain bisa juga dikatakan kalau saat ini adalah saat yang tepat untuk membeli kamera. Anda tidak lagi perlu menunggu dipakainya sensor 24 MP dalam sebuah kamera saku. Anda juga tidak perlu menantikan hadirnya kamera dengan lensa 50x optical zoom. Anda juga tidak mungkin mengharapkan kamera saku bisa merekam video dengan resolusi diatas resolusi HD (mata kita sudah tidak bisa membedakannya lagi). Anda juga mungkin tidak perlu berharap kamera-kamera masa depan dijual lebih murah lagi (mengingat resesi global yang sedang melanda saat ini). Tapi bila anda masih menunda membeli kamera karena menantikan hadirnya kamera masa depan yang mungkin akan lebih canggih lagi, tentukan dulu faktor mana yang paling perlu untuk ditunggu-tunggu. Saya pribadi sudah membuat wish-list tentang penyempurnaan kamera digital di tahun mendatang.

Beberapa hal yang saya harapkan bisa disempurnakan oleh produsen kamera digital antara lain :

  • penemuan sensor baru (bisa CCD, CMOS atau yang lain) yang lebih sensitif dan lebih lebar dynamic range-nya (sudah dipelopori oleh Fuji dengan sensor EXR)
  • penggunaan metoda interpolasi baru menggantikan metoda Beyer Interpolation yang kuno (sedang diriset oleh Kodak)
  • penerapan standar file format baru pengganti JPEG yang memberikan kompresi lebih baik dan kualitas foto yang tinggi (sudah dicoba oleh Microsoft tapi belum terdengar lagi gaungnya)
  • peningkatan kinerja auto fokus lebih baik dimana meski masih memakai prinsip contrast-detect AF namun dapat memberi kecepatan lebih dalam penguncian fokus, penambahan titik AF, kemampuan face detect dan tracking AF (yang terakhir ini sudah diperkenalkan di kamera Canon terbaru)
  • penerapan prosesor kinerja tinggi untuk AD conversion yang lebih tinggi, proses data JPEG/TIFF/RAW yang lebih cepat, dan proses HD video yang juga cepat (Panasonic sudah membuat prosesor inti ganda pada Venus Engine HD di kamera Lumix GH1)
  • in-camera image editing, termasuk setting curve dan level adjustment (seperti Picture Control di DSLR Nikon terbaru)
  • in-camera panorama maker dengan menggabung beberapa foto panorama otomatis (diperkenalkan oleh Sony di kamera DSC-HX1)
  • pemakaian teknologi infra red sehingga bisa membuat foto yang mampu menembus baju
  • membuat foto bisa berkesan tiga dimensi (sudah dipelopori oleh Fuji)
  • pemakaian layar LCD baru yang lebih tajam, kontras tinggi, bisa dilihat dari berbagai sudut dan tidak gelap saat dipakai dibawah sinar matahari (sudah dibuat LCD berteknologi Amoled pada kamera Samsung TL-320)
  • dan yang paling utama tentu lensa yang lebih berkualitas untuk ketajaman dan ketepatan warna

Anda mau menambahkan wish-list saya diatas? Siapa tahu tulisan ini dibaca oleh CEO Nikon atau Panasonic lho 🙂

Published by

Erwin M.

Saya suka mengikuti perkembangan teknologi digital, senang jalan-jalan, memotret, menulis dan minum kopi. Pernah bekerja sebagai engineer di industri TV broadcasting, namun kini saya lebih banyak aktif di bidang fotografi khususnya mengajar kursus dan tur fotografi bersama infofotografi.com.

12 thoughts on “Masa depan kamera digital, ditengah stagnasi teknologi dan resesi global”

  1. tenang gimana to mas, lha saya tahun kemaren lum sempat beli, n sekarang dslr bwt pemula harganya naik e

  2. Mengenai statement dari Olympus bahwa 12 megapixel cukup:

    He original post at CNet was changed/corrected at the request of Olympus, and the 12-megapixels have now become 20-megapixels and some conditionals were added to refer to “most”, not “all” cameras.

  3. ya itu tadi yang paling saya tunggu kapan ya ada kamera kaya gini,pemakaian teknologi infra red sehingga bisa membuat foto yang mampu menembus baju…
    hahahahhahahah……….

  4. kalo sayamah malah prihatin soalnya kasihan buat para photographers-photographers comersil yang lbih tua and masih pake manual soalnya mau ga mau mereka harus ngikutin permintaan pasar,,,, trus yang pasti mereka juga harus beradaptasi lagi dan tentunya ngluarin modal lagi.

    1. Kalau mereka konsisten pake sistem analog/film, selama masih didukung oleh produsen sih fine-fine aja. Nah, kalau suatu saat era film nanti berakhir, dan hanya ada SLR digital, mau tidak mau memang harus invest lagi.

  5. akan ada batasnya teknologi yang diterapkan pada kamera.
    terutama dari segi resolusi.
    Megapixels yang gila-gilaan walau memang trend.. namun sudah mulai terbayangkan berapa besar media penyimpan baik memory card maupun komputer yang harus dipakai.

    sudah saatnya produsen kamera mulai mengarah pada kualitas foto yang lebih baik (chip image processor yang lebih cepat, hemat energi, reproduksi warna dahsyat)

  6. waduhhhh..masih newbie neh,msh jd fotogrfer amatiran dgn kamera pinjaman hehehe.Mas,artikelnya bagus banget…lengkap banget wlo blm baca semua isi blognya..tapi aq sendiri masih bingung dengan istilah2 pada camdig,exposure,diafragma,aperture,focal lenght,f/8 dll,metering..dan sebagainya…harapannya c mog makin murah aja kalo dah mentok teknologinya (hrga camdignya) sapa tau DSLR dah tembus 3 juta hehehehehe eh iya mas klo misale ada kamus ttg yang aq bingungkan tadi tolong kasih tau ya mas…matur nuwun

Comments are closed.