Fitur baru pada kamera digital : seberapa perlukah?

Yang membedakan kamera generasi baru dengan yang lama adalah banyaknya fitur modern yang dibenamkan kedalamnya. Fitur baru ditujukan untuk memudahkan pemakaian, memperbaiki hasil foto atau sekedar saling tiru antar produsen demi menjaga persaingan. Terkadang saat akan membeli kamera, seseorang terjebak dengan deretan istilah baru yang membuatnya bingung dan tulisan ini mencoba menelaah satu persatu fitur modern yang kini sering dijumpai di kamera digital keluaran baru dan seberapa perlukah kita terhadap fitur tersebut.

Dasar fotografi digital tetap saja tiga hal : shutter, aperture dan ISO. Dengan kombinasi ketiganya, berbagai variasi foto yang baik bisa dihasilkan. Namun setiap kehadiran fitur baru yang bisa memudahkan pemakaian dan mampu memperbaiki hasil foto tentu perlu direspon positif. Yang perlu dihindari, penambahan fitur yang belum tentu diperlukan tapi membuat harga kamera justru jadi lebih mahal. Dengan mengetahui fitur apa saja yang diperlukan, dan mana yang tidak, bisa mencegah kita dari memboroskan anggaran dengan membayar mahal akan sebuah kamera yang dijejali fitur yang sebenarnya tidak kita perlukan.

Inilah fitur baru yang saya temui belakangan ini beserta opini pribadi saya seputar perlu tidaknya fitur tersebut :

Live view (DSLR)

live-iewBila anda terbiasa memakai kamera digital non DSLR tentu sudah terbiasa mengandalkan layar LCD untuk mengatur framing dan komposisi. Begitu beralih ke (sebagian) DSLR, anda mungkin akan terkejut saat menyadari tidak bisa preview gambar di LCD saat akan memotret, karena LCD di DSLR hanya untuk menampilkan hasil foto SETELAH foto diambil. Menyadari banyak pemula yang kini beralih ke DSLR, produsen mulai menerapkan konsep live-view pada kamera DSLR sehingga gambar yang akan difoto bisa ditampilkan di layar LCD layaknya kamera digital biasa.

Kamera DSLR modern umumnya sudah dilengkapi dengan fitur live view. Bila anda masih bingung bagaimana mengoptimalkan fitur ini, setidaknya ada dua hal yang perlu diingat : live view itu menguras baterai, dan live view melambatkan proses auto fokus (kecuali pada DSLR Sony). Live view tetap berguna meski hanya pada saat-saat tertentu saja, misal saat memotret dengan angle sulit (sambil jongkok atau mengangkat kamera diatas kerumunan orang). Meski tidak semua setuju, live view juga bermanfaat saat memotret makro, khususnya bila perluΒ  memperbesar tampilan objek foto di layar untuk memastikan fokusnya. Sebagian orang juga perlu memastikan histogram atau bahkan white balance sebelum memotret, dan ini hanya bisa diwujudkan berkat live view.

Jadi, fitur ini menurut saya perlu, meski tidak mutlak. Masalahnya teknologi ini masih belum sempurna, karena masih ada issue soal auto fokus yang lambat saat live view. Bila anda perlu memeriksa histogram dan white balance sebelum memotret, sering mengambil posisi motret dengan angle sulit dan sering memotret makro, fitur ini mungkin berguna.

Face Detection

face-detectFitur pengenal wajah ini awalnya disambut dingin (termasuk oleh saya), karena terdengar sangat dibuat-buat. Namun dalam perkembangannya, fitur yang sudah semakin disempurnakan ini lama kelamaan mulai tampak kegunaannya. Yang penting adalah, apa yang bisa dilakukan oleh kamera setelah dia bisa mengenali wajah?

Berkat fitur ini, kamera modern kini dapat dengan otomatis mengoptimalkan eksposure pada daerah wajah, dan menjaga wajah tetap menjadi target utama auto fokus, meski si objek berpindah posisi (AF tracking). Generasi kamera terbaru bahkan bisa mengidentifikasi dan menghafal wajah yang sering difoto sehingga mendapat prioritas utama. Lebih hebatnya, database wajah yang diingat oleh kamera ini bisa digabungkan dengan self timer, sehingga kamera hanya akan memotret bila si empunya wajah sudah terdeteksi oleh kamera.

Jadi, fitur ini menurut saya perlu, bila anda tidak ingin repot mengatur setting kamera untuk mendapat foto potret yang baik. Di kamera DSLR, face detection tidak begitu perlu karena kelebihan DSLR adalah keleluasaan bermain dengan berbagai setting manual yang bisa diatur untuk mendapat eksposure yang tepat pada foto wajah.

Peningkat Dynamic Range (DR)

Idealnya, kita ingin memindahkan semua yang kita lihat ke dalam sebuah foto. Baik warna, detail hingga jangkauan dinamik/dynamic range. Soal warna, teknologi kamera masa kini memang sudah mampu mereproduksi foto seindah aslinya. Soal detail, hanya masalah waktu hingga nanti muncul kamera ratusan mega piksel yang detailnya mendekati aslinya. Tapi soal dynamic range, atau jangkauan terang gelap foto, itu soal lain. Beragam upaya kini ditempuh untuk meningkatkan dynamic range dari kamera digital. Istilahnya bisa macam-macam dan bisa bikin orang keder : Dynamic Range Optimizer, Active D-lighting, Shadow Adjustment Technology, dan masih banyak lagi. Intinya, fitur semacam ini ingin memperbaiki keterbatasan dynamic range kamera dengan memberikan gradasi dari terang ke gelap yang lebih halus. Kita tentu paham kalau intensitas cahaya di alam ini amat lebar dari amat terang hingga gelap, dan kita dianugerahi Tuhan sepasang mata yang mampu menangkap rentang yang amat lebar itu dengan baik. Namun tidak demikian halnya dengan kamera digital, yang dibatasi oleh keterbatasan sensor dan juga resolusi dari proses ADC-nya, yang menghasilkan sebuah foto dengan dynamic range yang terbatas.

Prinsip kerja sistem ini (sementara ini) hanyalah mencegah area terang/highlight foto menjadi over eksposure (sehingga detilnya hilang) dan sedapat mungkin mempertahankan detil yang ada di area gelap/shadow. Artinya si kamera dengan algoritmanya tersendiri akan mencari eksposure yang ‘aman’ di area terang dan ‘mengakali’ gelapnya area shadow dengan menaikkan ISO di area gelap (perkecualian untuk sensor EXR dari kamera Fuji terbaru yang meningkatkan Dynamic Range dengan menggabungkan dua piksel bertetangga di keping sensornya).

Jadi, fitur ini menurut saya perlu, hanya bila anda sering memotret siang hari dengan cahaya yang kompleks (kontras tinggi). Dengan menaikkan ISO, detil di area shadow akan sedikit noise, suatu harga yang harus dibayar atas fitur ini. Untuk mendapatkan dynamic range sesungguhnya yang dramatis, teknik HDR di Photoshop CS2 rasanya tetaplah yang utama.

Smile shutter

Jangan hiraukan fitur ini. Salah satu pengembangan dari teknologi face detection yang akan memotret saat objek tersenyum. Totally useless, apakah anda harus berkata “cheeeeese” setiap kali anda difoto?

Blink detection

Fitur ini juga akal-akalan dari kamera masa kini. Ceritanya, kamera bisa mendeteksi bila mata si objek kebetulan berkedip saat difoto. Kurang kerjaan, kalau berkedip ya difoto saja lagi. Beres.

Layar sentuh

Beberapa kamera high-end menyediakan fitur ini. Anda bisa mengakses menu dan mengatur setting kamera dengan menyentuh layar, bahkan bisa menentukan titik fokus juga dengan menyentuh layar. Harga yang harus anda bayar untuk fitur ini tidak murah, pertimbangkan lagi apakah anda perlu memiliki fitur ini. Ditambah lagi dengan kenyataan bahwa reaksi atau responsiveness dari menu berbasis layar sentuh tidak secepat seperti menekan tombol.

HD movie

Ambisi selanjutnya dari kamera digital adalah menggantikan fungsi camcorder. Sadar kalau resolusi movie VGA saja tidak cukup untuk menggantikan fungsi camcorder, produsen kini beralih menjadikan fitur HD movie sebagai spesifikasi wajib mereka. Untuk kelas ‘dasar’ disediakan HD 1280 x 720 piksel dan kelas ‘atas’ disediakan 1920 x 1080 piksel widescreen. Apakah ini tidak terlalu berlebihan? Untungnya berkat kompresi MPEG-4 AVC atau H.264 codec, resolusi video HD tidak terlalu membebani memory card karena sudah dibuat efisien hingga 3 kali lebih kecil daripada memakai MPEG-2. Menurut saya fitur ini perlu, toh harga sekeping memori 4 GB sudah semakin murah. Membuat tayangan video berkualitas HD dari sebuah kamera digital tentu merupakan suatu kemajuan yang positif.

Intelligent Auto mode

Fitur ini adalah fitur mode auto yang semakin disempurnakan, dengan harapan bahkan mereka yang nol besar dalam dunia fotografi bisa menghasilkan foto yang baik. Terlalu muluk memang, karena seberapa baik komputer bisa menentukan setting optimal pada tiap kondisi pemotretan masih patut dipertanyakan. Konsepnya, kamera akan mengenali suasana pemotretan (siang/malam), ada tidaknya orang (memakai face detect) dan apakah ada yang bergerak (untuk menentukan ISO). Dari data-data itu kamera akan menentukan shutter, diafragma, ISO dan white balance secara otomatis. Efektif tidaknya mode ini tentu bergantung pada banyak faktor, tapi fotografer sesungguhnya tidak akan bergantung pada fitur ini dalam menghasilkan sebuah foto.

Menurut saya, fitur ini lebih indah didengar daripada dalam kenyataan. Meski tidak ada yang salah dengan fitur ini, namun anda tidak ingin terus-terusan mengandalkan kamera sebagai penentu hasil foto anda kan? Practice makes perfect.

Itulah beberapa fitur baru yang sering digembar-gemborkan produsen kamera digital yang mungkin membuat kita silau, dan menganggap kalau kamera masa kini akan mampu memberi hasil foto yang lebih baik dari kamera lama. Prinsipnya, selagi berpegang pada konsep trio eksposure : shutter, aperture dan ISO, maka fitur modern hanyalah pelengkap dan boleh ada boleh tidak. Bila ada, syukur… kalau tidak ada, PD aja lagi, keep jepret man…

Advertisements

Published by

Erwin M.

Saya suka mengikuti perkembangan teknologi digital, senang jalan-jalan, memotret, menulis dan minum kopi. Pernah bekerja sebagai engineer di industri TV broadcasting, namun kini saya lebih banyak aktif di bidang fotografi khususnya mengajar kursus dan tur fotografi bersama infofotografi.com.

7 thoughts on “Fitur baru pada kamera digital : seberapa perlukah?”

  1. Jangan sampe tertipu produsen….
    Sekarang ini banyak produsen menambahkan fitur baru,
    tapi dengan mengorbankan performa…

    Contohnya banyak produsen berlomba-lomba membuat super zoom atau super wide
    tapi cari poket yang F2.8 makin susah…

    Fasilitas PASM juga makin sulit dicari

    1. soal IA make nya untung2an kadang hasil nya bener kadang engga, enakkkan manual. IA di pake klo butuh cepet2 moto nya, klo manual kan lama setting aperture, shutter ama iso nya…. yg di foto bisa kelamaan nunggu nya πŸ˜€

      kmrn aq nyari kamera compact yg ada fitur p/a/s/m aja susye bener, soal nya budget cuma 1.5jt-an akhir nya pilihan jatuh ke antara a590is atau lumix dmc-lz8, ya akhir nya jatuh ke lz8, sama2 bisa manual, tp ada bonus recorder video widescreen wvga + lebih baik utk foto yg agak gelap atau butuh iso agak tinggi, lz8 lebih bagus, ditebus 1.55jt dech itu barang πŸ™‚ tp puas jg lah harga segitu bisa p/a/s/m. kapan ya dslr bisa compact & value tentunya 😦

      penjual camdig biasa, klo ga ada barang, suka nawarin sony mulu, cape dech…. blom tau dia klo yg bagus itu antara canon & nikon πŸ˜€

  2. nah kalau saya malah lebih kepada memperhatikan berapa kemampuan pixel dari kamera tersebut, memang sih ga ada pengaruhnya karena tergantung kemampuan siapa yang motret…

    infonya ok juga, soalnya saya lagi nyari referensi nih..nuhun pisan

    1. Tergantung seberapa anda terlanjur terbiasa memotret memakai LCD pada kamera saku. Live-view memanjakan kita saat memotret dengan angle sulit, tanpa live view mungkin kita harus jongkok, harus tiduran di tanah bahkan..

Comments are closed.