Ada apa dengan Sony Ericsson?

Apa sih yang sedang terjadi pada kondisi internal sang produsen ponsel hasil merger dua nama besar : Sony dan Ericsson belakangan ini? Mungkin inilah pertanyaan yang sering mencuat di benak saya saat saya melihat banyak kekecewaan pengguna akan produk-produk baru mereka ataupun melihat kondisi keuangan mereka tahun terakhir ini yang terus melorot. Belum lagi ditambah terpaan kabar tak sedap akan keretakan dalam tubuh Sony Ericsson yang mana kabarnya Sony akan hengkang dan kembali seperti dulu lagi : ponsel Sony ada, ponsel Ericsson juga ada. Kabar ini segera dibantah oleh Minako Nakatsuma Olofzon, juru bicara Ericsson di Swedia.

“We are committed to the joint venture…we haven’t changed our view on that.”

Sony Ericsson sebenarnya sukses dalam menelurkan produk yang jadi trendsetter seperti seri Cybershot dan Walkman phone. Terlepas dari keterbatasan fungsi kamera dalam sebuah ponsel, Cybershot berhasil menggiring opini publik kalau sebuah ponsel Cybershot bisa menggatikan kamera digital pada saat-saat tertentu. Demikian juga halnya dengan ponsel Walkman yang bisa menggantikan fungsi MP3 player untuk memutar musik dan video. Namun dibalik sukses mereka, terdapat beberapa situasi yang sulit terkait inovasi dan persaingan ketat dan resesi global.

Simaklah situasi serba tidak mengenakkan yang dialami oleh Sony Ericsson saat ini. Peta persaingan ponsel high-end kelas smartphone terasa berat dialami oleh SE. Produk andalan seperti Xperia dan Idou dianggap belum mampu untuk bersaing dengan iPhone, HTC, Nokia atau bahkan dengan Samsung sekalipun. Bisa dibilang, di kelas smartphone SE telah gagal. Di kelas menangah, SE tampak ragu dengan inovasi desain produk sehingga tampak jelas tiap generasi punya bentuk yang ‘begitu-begitu lagi’ (bandingkan dengan inovasi desain dari Nokia). Belum lagi kendala pemakaian operating system yang serba salah, terlebih saat pemakaian UIQ sebagai jantung OS ponsel kelas menengah SE dinyatakan telah dihentikan. Di kelas bawah, kabar tak sedap kalau SE menyerahkan produksi ponsel low-endnya pada Sagem dkk membuat gerah para fans SE di seluruh dunia. Artinya, meski dijual dengan nama Sony Ericsson, jeroan ponsel ini (termasuk OSnya) adalah buatan Sagem dkk. Diantara ponsel low-end ini adalah F305, S302/W302, K330, T303/T250/T280, J132, R306, dan Z250/Z320. Ya, anda yang kadung jatuh cinta pada W302 mungkin akan kecewa mendengar berita ini…

Tentu konsumen (termasuk saya) tidak ingin produsen ponsel SE ini mati suri. Banyak hal yang bisa dilakukan oleh mereka (selain membuat menu dalam bahasa Jawa atau Sunda). Inovasi Cybershot sudah bagus, namun daripada berlomba di resolusi/mega piksel, semestinya SE memperbaiki kualitas lensa yang dipakainya. Penerapan teknologi 3G pada ponsel low-end juga semestinya dilakukan, karena cukup mengecewakan saat mengetahui fitur 3G hanya disediakan pada ponsel menengah saja (bandingkan dengan LG dan Samsung). Keputusan untuk pemakaian OS yang tepat untuk seri smartphone juga perlu segera dibuat. Segmentasi kelas pun harus dibuat lebih jelas mengingat rancu dan overlapnya seri-seri baru seperti seri S (overlap sengan seri T) dan seri K (overlap dengan seri G). O ya, satu lagi, berhentilah menggandeng Sagem untuk membuat ponsel low-end

Update : sebuah surat dari seorang fan untuk Sony Ericsson

Published by

Erwin M.

Saya suka mengikuti perkembangan teknologi digital, senang jalan-jalan, memotret, menulis dan minum kopi. Pernah bekerja sebagai engineer di industri TV broadcasting, namun kini saya lebih banyak aktif di bidang fotografi khususnya mengajar kursus dan tur fotografi bersama infofotografi.com.

16 thoughts on “Ada apa dengan Sony Ericsson?”

  1. gw juga pengemar SE, semoga tetep eksis dan semakin berkembang dalam teknologi dan design…

  2. Gue sejak 99 udah pake sony & ericsson
    T10, T18, T28, T20, A3618, T29, T65, T68, T230, J200, T610, K608, M600, G502.

    Gak rela hal ini terjadi pada SE….

  3. Aq akn sngt2 kcwa jika berita tsb benar2 terjadi. Untuk Soner, ayo berjuanglah! Jangan Putus asa!

  4. Gw juga SE fan, Ericsson768, EricssonT10, T100, T230, T610, J200, J110, K500, K700, K508, K510, K750, W550, W800, W810, T250, W200, W300, W610, K550, K530, K618, K800, sekarang lg pengen K770 atau G502.
    Sagem = sucks!

    1. SE G502 asli buatan SE, bukan sagem, arima, foxconn dsb. G502 kurang sukses dalam desain tapi menjadi ponsel HSDPA termurah dari SE dgn bandrol saat ini 1,3jt (dulu sempat 1,7jt).

  5. gw pengguna ericson dr thn lumayan jebod di indonesia… GF 388 thn ’94 atau ’95 kurang lbh n setelah ericson gabung ma sony, gw tetep pake… sony ericson…

  6. ayoo donk sE q syg,bgkit lgi.q ykin, swtu s’at nnti kmu bs jy kmbli n mnjdi monster multimedia di bumi ini. hidup se……

  7. Seandainya SE tidak ngotot mengembangkan UIQ tapi berjalan seiring S60, aq rasa pertarungan SE di smartphone gak akan berhenti secepat ini. Kenapa baru sekarang SE berani mencoba menggunakan S60, dan tentunya cukup mengecewakan karena kurangnya pengalaman di S60 jika harus melawan Nokia yg udah sejak awal berkutat di S60. Contoh nyata di produk SE Satio yg harus di hentikan produksinya karena masalah software, kita tunggu saja generasi penerus S60 dari SE. apakah mampu bersaing atau justru membuatnya semakin terpuruk.

Comments are closed.