Dilema skema tarif akses data 3.5G di tanah air

Dunia internet di tanah air semakin bergairah sejak dibukanya akses layanan data melalui jaringan 3G. Koneksi internet yang dulunya harus mengandalkan jaringan kabel (telkom) kini sudah beralih ke era nirkabel yang menawarkan kemudahan akses dimanapun. Seiring dengan matangnya teknologi selular yang mampu memberikan kecepatan akses data 3G, penggunaan internet memakai jaringan selular pun semakin meningkat pesat. Berbekal sebuah ponsel atau modem, plus sebuah SIM card, sudah bisa menghubungkan kita pada dunia luar untuk sekedar browsing baik memakai ponsel ataupun PC/laptop. Sebagai kompensasi atas layanan ini, pengguna tentu dikenai konsekuensi berupa sejumlah biaya yang harus dibayar kepada penyedia jaringan untuk tiap data yang diaksesnya.

Awalnya, saat konektivitas data GPRS masih menjadi barang yang mewah, tarif akses data ini dihitung per kilobyte pemakaian. Tarif tertinggi sempat dipegang oleh Telkomsel dengan 25 rupiah per kB. Dengan mengandalkan ponsel sebagai sarana akses data, memang umumnya biaya yang dibayar tidaklah besar. Namun seiring banyaknya pihak yang mulai memakai layanan data ini sebagai sarana mengakses internet melalui komputer, maka akhirnya disusunlah skema tarif yang lebih bersahabat dan sesuai dengan kebutuhan. Ada tiga skema pentarifan akses data internet yang kini umum digunakan oleh para operator selular, baik mereka yang menerapkan metoda pra-bayar ataupun pasca-bayar. Pilihan skema tarif tersebut yaitu sistem kuota, sistem durasi dan sistem unlimited. Menurut saya, ketiga pilihan skema tarif ini merupakan dilema tersendiri baik bagi operator maupun konsumen, karena kondisi ideal yang diinginkan kedua belah pihak sulit terwujud. Pihak operator tentu ingin mendapat profit tinggi sebisa mungkin dengan modal yang tidak besar. Di lain pihak konsumen tentu ingin yang terbaik, namun dengan tarif termurah.

Sistem skema tarif berdasarkan kuota dan dilemanya

Skema tarif konvensional memakai sistem volume, atau penghitungan berdasar jumlah data yang diakses oleh pemakai. Sistem ini sejak awal teknologi GPRS diperkenalkan, masih berlaku hingga kini. Setiap data yang dipakai (gabungan sent dan receive) dikalikan sejumlah nilai nominal tertentu. Sistem ini tak ubahnya kita naik taxi di kota besar, semakin jauh kita pergi maka semakin habis isi dompet kita. Inilah sistem tarif yang amat disukai oleh para operator, sebuah skema yang amat cepat meningkatkan pundi-pundi keuangan mereka; dan inilah skema yang amat dihindari oleh kebanyakan konsumen, karena tanpa kendali yang bijak, maka bisa-bisa tagihan anda langsung membengkak.

Dari skema volume ini berkembanglah sistem kuota dimana kita diberi pilihan sejumlah paket dengan volume tertentu, yang akan mendapat masa aktif tertentu. Bila kuota yang ditetapkan terlampaui, pengguna dibebankan biaya kelebihan kuota. Sistem kuota ini tersedia baik untuk pelanggan pra-bayar (Simpati, As, Mentari, IM3, IM2 Broom) dan pasca-bayar (Telkomsel Flash, Indosat 3.5G, IM2 Prime). Baik mengusung sistem pra-bayar maupun pasca-bayar, para operator umumnya menerapkan tarif  sekitar 0.5 hingga 1 rupiah per kilobyte data yang tampaknya murah dan membuat orang terlena (lihat contoh tabel dibawah ini : excess usage Rp.1/kb). Umumnya untuk skema kuota ini operator berani memberikan prioritas tertinggi kecepatan akses data bahkan hingga7 Mbps (untuk perangkat berteknologi HSDPA). Adalah hal yang konyol saat mengetahui fakta ini, karena tentu saja akses data tinggi akan membuat volume data yang diakses menjadi amat besar dan dari sinilah operator mengambil keuntungannya.

Contoh tarif kuota Telkomsel pra-bayar
Contoh skema tarif kuota Telkomsel (pra-bayar)

Skema ini bukannya tidak bermanfaat. Untuk sekedar membuka situs dari ponsel, skema kuota ini masih memadai. Saya memakai sistem volume untuk sekedar mengakses internet dari ponsel (flat Rp. 5 / kB untuk kartu Halo) dan  untuk internet memakai komputer saya pun sesekali masih memakai IM2 Broom pra-bayar sistem kuota (untuk kondisi kepepet), semisal membeli voucher 50 ribu didapat kuota 100 MB yang bisa dipakai selama 30 hari. Nyatanya kuota 100 MB itu bisa saya habiskan hanya dalam semalam saja 🙂

Intinya, bijaklah bila anda memakai sistem kuota. Jangan gunakan sistem kuota untuk mendownload file besar, melihat You Tube atau mengakses internet berlama-lama. Gunakan hanya bila perlu, atau dari ponsel saja memakai opera mini.

Sistem skema tarif berdasarkan durasi dan dilemanya

Layaknya mengakses internet dari warnet, skema durasi menghitung biaya akses berdasarkan waktu akses yang kita gunakan. Tak peduli berapa besarnya data yang diakses, skema durasi akan mematok tarif yang sama per menit atau per jamnya. Skema ini tampak lebih fair dan lebih murah daripada skema kuota, namun sudah jadi rahasia umum kalau operator cenderung menganak-tirikan skema ini, dengan memberi prioritas  kedua dalam urusan kecepatan data. Dilematis memang, saat tarif dihitung per jam, akses data justru jadi lambat sehingga kita perlu berjam-jam terkoneksi ke internet untuk sesuatu yang semestinya bisa dibuat lebih cepat.

Belum banyak operator selular yang menawarkan skema durasi ini. Dahulu awalnya Telkom dengan layanan Telkomnet instan sempat jadi favorit dengan skema tarif durasinya yang flat 150 rupiah per menit. Kini sebut saja Telkomsel Flash dan Indosat (Mentari, IM3, dan Indosat pasca-bayar/Matrix) adalah dua nama besar dengan pilihan paket durasi. Misalnya Telkomsel Flash menawarkan akses data 3 jam sebesar 30 ribu rupiah atau Indosat dengan tarif Rp. 10 per 30 detik.

Contoh skema durasi Telkomsel
Contoh skema tarif durasi Telkomsel

Meski skema durasi ini tampak fair, pemakai pun harus bijak saat memilih sistem tarif ini. Hindari koneksi bertarif per menit untuk membaca email atau menyapa teman melalui Facebook, karena saat anda lupa waktu, biaya sudah terlanjur membengkak. Hindari juga paket durasi yang diakses dari perangkat kuno seperti ponsel non 3G (GPRS atau EDGE) yang membuat laju akses data amat lambat.

Sistem skema tarif unlimited dan dilemanya

Inilah skema yang menjadi favorit hampir semua kalaangan masyarakat pemakai internet (namun justru skema yang tidak disukai oleh para operator). Skema ini menawarkan tarif yang tetap per bulan sehingga terhindar dari biaya kelebihan pemakaian yang kadang tidak disangka-sangka. Meski unlimited, namun ada batasan kuota pemakaian wajar sebulan yang harus diterima, yaitu sekitar 2 – 3 GB dan bila mencapai kuota tersebut kecepatan datanya akan diturunkan. Hadirnya paket unlimited di tanah air bukan cuma dominasi dari operator seluler, namun juga dari operator broadband seperti Fastnet.

Paket internet tanpa batas ini tentu direspon amat tinggi oleh masyarakat. Akibatnya bisa ditebak, banyak orang mendaftar paket ini (pendaftaran Telkomsel Flash unlimited sempat ditutup beberapa bulan) ataupun menyerbu perdana pra-bayar (saat ini sangat sulit mencari perdana XL pra-bayar unlimiited). Karena murah dan tanpa batasan pemakaian, ribuan orang lalu terkoneksi secara bersamaan, membuat lonjakan traffic yang tinggi dan membuat akses internet jadi sangat lambat, sulit konek dan mudah diskonek. Lonjakan traffic ini memaksa operator untuk menawar lagi kanal 3G selebar 5 MHz ke pemerintah (seharga 160 milyar), menambah ribuan BTS baru atau sibuk merespon keluhan pelanggan yang kesal dan kecewa.

Sebenarnya skema tarif unlimited tidak selalu murah. Contohnya, Indosat IM2 Broom pra-bayar menawarkan paket pra-bayar seratus ribu sebulan, kecepatan (up-to) 256 kbps. Murah tentu, namun konsekuensinya anjloknya kualitas layanan data dari IM2 beberapa bulan belakangan ini yang kemudian membuat orang berseloroh : “murah kok mau enak….”. Di lain pihak, Telkomsel Flash, Indosat 3.5G dan IM2 Prime (pasca-bayar) menawarkan beberapa opsi pada paket unlimited dengan kecepatan yang berbeda : termurah sekitar 100 ribu (256 kbps) dan tertinggi sekitar 400 ribu (up to 3,6 Mbps). Saya lantas teringat skema tarif dari Fastnet dengan paket 384 kbps, 512 kbps dst dengan tarif mulai dari 100 ribu dst, sepintas tampak sama dengan skema tarif unlimited dari operator seluler diatas. Namun jangan salah, reliability data di jaringan kabel broadband jauh lebih stabil sehingga saat anda berlanggaanaan Fastnet 512 kbps misalnya, maka anda memang mendapat apa yang anda bayar. Masalahnya, tidak semua wilayah di Jakarta tercover jaringan kabel Fastnet.

Contoh skema tarif unlimited Indosat 3.5G
Contoh skema tarif unlimited Indosat 3.5G pasca-bayar

Kembali ke topik. Mengingat masih terbatasnya kapasitas BTS operator selular di tanah air, lonjakan peminat paket unlimited telah membuat dilema tersendiri bagi operator. IM2 misalnya akan menaikkan tarif paket unlimitednya akibat rendahnya profit dari paket ini (berita dari detik.com). Celakanya, tanpa dinakkan saja sudah banyak pelanggannya yang menyatakan akan kabur. Bicara soal pilihan kecepatan paket unlimited, saya pikir anda tidak perlu berlangganan paket unlimited yang high-speed, mengingat toh untuk saat ini masih sulit bagi operator untuk mewujudkan kecepatan tinggi dari layanan unlimited ini. Bayangkan kalau dengan membayar 500 ribu untuk yang unlimited 3,6 Mbps anda malah dapat kecepatan hanya 1 Mbps misalnya, tentu anda akan merasa dirugikan karena kecepatan yang anda rasakan sama dengan mereka yang membayar 300 ribu. Maka itu meski paket unlimited tampaknya murah, namun bijaklah dalam memilih pilihan kecepatan akses datanya.

Sebagai penutup, saya ingin operator juga merespon positif himbauan pemerintah untuk menurunkan tarif internet demi pencerdasan masyarakat. Bila tarif sulit untuk turun, setidaknya perbaikilah infrastruktur BTS dan jaringan anda (saya masih menantikan janji IM2 yang akan menambah ribuan BTS di bulan April ini). O ya, salut saya untuk Telkomsel yang telah resmi mendapat tambahan kaanal selebar 5 MHz dari pemerintah untuk peningkataan layanan 3G hingga 4Gnya. Saya nantikan keberanian pemain baru (AXIS dan Three) untuk bertarung di kancah unlimited pra-bayar, namun tentunya dengan mengambil pelajaran dari kesalahan IM2 Broom unlimited. O ya, XL unlimited apa kabar nih? Susah cari perdananya…

Bahas soal tarif dan keluh – kesah internet 3G, di kolom komentar dibawah ini ya….

Published by

Erwin M.

Saya suka mengikuti perkembangan teknologi digital, senang jalan-jalan, memotret, menulis dan minum kopi. Pernah bekerja sebagai engineer di industri TV broadcasting, namun kini saya lebih banyak aktif di bidang fotografi khususnya mengajar kursus dan tur fotografi bersama infofotografi.com.

8 thoughts on “Dilema skema tarif akses data 3.5G di tanah air”

  1. nih im2 broom xtra..yah itu tadi yah dpt 250-300 kbps tapi download file nya 20-30 kbps saja. sinyal hanya 2-3 bar pake modem, setelah lama memakai hape nokia.
    kira-kira rekomendasi ke depan apa ya? dengan modem 3g yang sudah kebeli? apa xl unlimited?

    1. Iya, IM2 broom memang ada paket baru yg lebih cepat : Extra.

      Saya pake yg broom biasa, sekitar 250 kbps (speedtest) dan 10 kbps (download).

      Soal saran pake apa, saya lihat telkomsel dgn total bandwidth 10 MHz saat ini punya harapan koneksi yg bagus. Sayangnya dia tiak ada paket pra-bayar unlimited.

  2. menantikan segera launcingnya wimax di indonesia. biar operator 3G kerja keras meningkatkan kualitasnya.

    ayo BRTI jangan dipersulit tendering wimaxnya.

  3. halo bang
    blognya bgs bgt
    saya cm mau tny modem hsdpa yang bagus (cpt & handal) merk apa?
    kalo hp hsdpa yg bagus buat modem apa?
    thank you..

    1. Saya cuma pake samsung j200 buat modem. Setahu saya sih modem HSDPA dari sony ericson bagus tapi mahal. Yang agak murah tapi handal kabarnya sih huawei dan sierra.

      Kalo ponsel HSDPA buat modem kan sayang, kecuali kalo yg murah meriah spt sony ericsson G502.

  4. Info tentang pemanfaatan IM2
    Solusi bagi pengguna IM2…
    manfaatkan IM2 anda dengan kasfiesta….
    Pokoknya cuma ngidupin viestabar…akan dapat dolar….
    Lumayan klo dirupiahkan…satu bulan mencapai 1 juta….
    Gak usah cari referal…gak usah klik-klik macem..macem…dolar secara otomatis bertambah terus…
    And sudah terbukti membayarnya….
    Tingal manfaatin aja IM2 mu dengan jalanin kasfiesta….
    moga bermanfaat….gak ada unsur paksaan/pemerkosaan…he…3x..

  5. Bukannya xl unlimited prabayar sama aja dgn kartu xl bebas biasa?di xl bebas biasa jg ada unlimitednya,sama dgn kuota xl unlimited prabayar.gmana seh.apa bedanya?berarti kt ketipu dong..ngapain kt beli xl unlimited prabayar yg dibundling ama modem xl.(sumatera).mahal.mending pake xl biasa aja,jg bisa unlimited.jd ga perlu pake modem.pake hp aja.mhn jwbnnya ke emailku ya bos.tx

Comments are closed.