Saat teknologi dikendalikan oleh ekonomi (kapitalis)

Salah satu mimpi saya : teknologi digital untuk semua…. dapat dimaknai dengan impian saya bahwa semestinya setiap orang bisa menikmati teknologi digital yang amat menyenangkan dan memudahkan itu. Tapi simaklah kenyataannya, apakah teknologi digital yang dimanifestasikan dalam bentuk peranti digital sehari-hari (gadget) sudah menjadi hal yang dapat dinikmati semua orang? Apakah menjinjing laptop, memakai iPhone, memotret memakai DSLR, menikmati kinerja prosesor empat inti ataupun berselancar di dunia maya dengan kecepatan data HSDPA sudah menjadi keseharian kita? Saya tidak sedang membahas soal gaya hidup (yang disalah-artikan sebagai ajang gengsi) tapi saya menyoal akan ironi betapa ekonomi (kapitalis) telah membuat teknologi yang memudahkan justru menjadi sesuatu yang mewah yang hanya bisa dijangkau oleh mereka yang mampu saja.

Resesi yang terjadi membawa hikmah buat semua. Betapa prinsip kapitalis yang menyuburkan perlombaan semu seputar target, profit, earning, revenue dan sederet istilah bisnis ambisius lainnya bisa berubah hilang dalam sekejap akibat resesi. Dampaknya juga mengimbas pada perusahaan teknologi, TI, consumer electronics dan juga digital imaging, dengan anjloknya omzet dan mereka lantas berlomba-lomba merevisi proyeksi pertumbuhan dan menurunkan target penjualannya. Ini jadi semacam cerminan akibat komersialisasi teknologi yang semakin irrasional dan tidak diimbangi dengan daya beli yang kuat dari sisi konsumen.

Saya coba soroti fenomena komersialisasi teknologi yang semakin nyata di dekade terakhir ini. Betul kalau saat ini kita sudah semakin dimanjakan oleh hadirnya teknologi canggih yang memudahkan hidup kita, tapi itu bukanlah sesuatu yang didapat dengan mudah. Setiap produk harus diukur secara kuantitatif, harus punya angka-angka yang bisa dijual, yang selanjutnya menjadi pembenaran atas harga jualnya yang tinggi. Dogma yang ingin ditanamkan produsen seolah berkata : “more is better” sehingga membuat konsumen terjebak untuk memilih sesuatu diluar kebutuhan.

Tentu saja ada batas untuk segalanya. Andai saja tidak terkendala panas, produsen chip komputer mungkin akan terus membuat prosesor diatas 3 GHz. Andai saja tidak semakin merusak gambar, produsen kamera digital akan terus membuat sensor kamera saku diatas 15 MP dan seterusnya. Konsumen digiring pada angka-angka dan dibuat lupa akan esensi dari teknologi itu sendiri. Seakan mereka yang punya komputer ‘hanya’ 1 GHz tidak bisa produktif dalam bekerja, seakan mereka yang punya kamera ‘hanya’ 6 MP tidak bisa membuat foto yang baik.

Angka-angka juga tak selamanya memiliki makna kuantitatif. Apa artinya ISO 1600 pada kamera saku? Bila hanya untuk menghasilkan foto yang ‘hancur oleh noise‘ lantas mengapa ada ISO 1600 pada kamera saku? Lagi-lagi karena komersialisasi teknologi. Anda tidak akan memenangkan persaingan dengan menjual kamera saku yang ‘hanya’ mampu mencapai ISO 400. Singkatnya, kita ditipu. Apa artinya lensa 26x zoom optik pada kamera super zoom masa kini? Bayangkan tekanan yang harus dihadapi engineer kamera saat bosnya menuntut mereka untuk mampu membuat lensa 26x zoom optik dalam sebuah kamera mungil. Yang terjadi selanjutnya, batasan fisika optik dilanggar – lupakan soal distorsi, vigentting, softness, dan blur karena handshake. Yang penting dengan membuat kamera dengan lensa zoom 26x, orang akan berlomba untuk membelinya.

Ambisi membuat langkah yang diambil produsen sering tampak konyol. Masih ingat peluncuran Nikon D40, D40x dan D60 yang waktunya begitu berdekatan? Masih ingat EOS 5D mark II yang mengalami issue lalu segera direvisi dengan firmware update? Masih ingat penarikan produk laptop tertentu karena bermasalah pada baterai? Baru-baru ini Canon G10 serial number tertentu perlu diservis karena bermasalah. Simaklah betapa lucunya saat Intel kebakaran jenggot ketika Nvidia membuat chipset yang mendukung prosesor Intel Atom. Apakah anda hafal seluruh seri ponsel Nokia? Apakah anda memperhatikan kalau ponsel generasi sekarang semakin rentan rusak dan mudah sekali mampir ke service center untuk klaim garansi?

Satu hal yang menggelitik saya, mengapa kita selalu menantikan produk baru yang diharapkan akan membawa fitur yang lebih baru? Mengapa tidak ada satu produk yang lengkap tanpa harus mengalami ‘evolusi’ bertahun-tahun? Teknologi maju yang kita temui kini (misal pada kamera digital) sebenarnya sudah diproyeksikan oleh produsen jauh-jauh hari sebelumnya. Mereka bisa kok dulu membuat kamera DSLR dengan fitur movie, mengapa harus dikeluarkan saat ini? Trik mengulur waktu ini membuat sebagian dari kita terjebak pada penantian tanpa ujung, sambil berharap akan muncul produk ideal yang sesuai keinginan kita : lengkap, bagus dan murah. Sebagian dari mereka harus menerima kenyataan bahwa penantian mereka tak akan pernah kunjung tercapai (banyak yang menantikan penerus Lumix FZ50, banyak yang menantikan Nikon Coolpix dengan sensor APS-C dsb..)

Simak lagi soal lainnya. Mengapa netbook (laptop murah) harga jualnya membuat kita marah?  Mengapa menantikan tarif internet broadband unlimited murah bagaikan menegakkan benang basah? Mengapa juga untuk mendapat ponsel berteknologi 3G kita harus merogoh kocek amat dalam? Demikian sulitkah membuat teknologi digital menjadi milik semua?

Keserakahan buah ekonomi kapitalis bukannya tidak menjadi bumerang bagi produsen. Banyak produsen (terutama setelah krisis) yang kini mulai berpikir lebih rasional dengan membuat produk value dengan fitur layak. Tanpa lebih berpihak pada konsumen, bisa jadi mereka yang namanya besar suatu saat nanti hanya tinggal nama. Microsoft pun kini mengijinkan Windows 7 beta dan RC-1 untuk diunduh gratis (meski hanya untuk uji-coba), sesuatu yang amat mustahil dilakukannya di masa lalu. Intel dan AMD mulai mengarahkan prosesornya pada efisiensi kinerja, bukan performa clock semata. Apple pun akhirnya bersedia membuat ponsel premium bernama iPhone dengan harga terjangkau (setidaknya di luar negeri).

Masih banyak kesempatan bagi teknologi untuk terus berevolusi, berkembang dan semakin maju. Tak sepantasnya ekonomi yang rakus membungkam pesatnya kemajuan teknologi ini. Biarkan masyarakat menikmati kenyamanan hidup dalam kompensasi biaya yang wajar. Alangkah lucunya kalau WiFi gratis (lewat hot-spot), layanan GPS gratis, namun justru dinikmati oleh mereka yang mampu.

Uneg-uneg, keluhan, harapan, dan komentar anda, ayo sepuasnya kita diskusikan….

Advertisements

Published by

Erwin M.

Saya suka mengikuti perkembangan teknologi digital, senang jalan-jalan, memotret, menulis dan minum kopi. Pernah bekerja sebagai engineer di industri TV broadcasting, namun kini saya lebih banyak aktif di bidang fotografi khususnya mengajar kursus dan tur fotografi bersama infofotografi.com.

6 thoughts on “Saat teknologi dikendalikan oleh ekonomi (kapitalis)”

  1. hal yang sama sudah berlaku sejak ratusan tahun yang lalu mas,… sejak mulai diperkenalkannya kapitalisme. Namun saya rasa keberhasilan teknologi digital sampai disini juga buah keberhasilan kebebasan individu sebagai salah satu komponennya sementara yang menjerumuskan justru marketing dan keserakahan manusia itu sendiri.
    Merasa cukup (qanaah) bukan konsep yang disepakati bersama. Pembalikan piramida kebutuhan Abraham Maslow saja baru disadari akhir-akhir ini. Tulisan ini menurut saya sebuah jeritan kebutuhan kita akan ideologi yang tidak mempressure iptek tapi masih mampu membungkus manusia dengan sikap merasa cukup demi kemashlahatan bersama.

  2. sebenarnya masalahnya ada pada kita terlalu bersifat konsumtif tanpa pernah berfikir bagaimana bisa menghasilkan barang untuk bersaing dengan mereka.misalnya dikorea semua masyarakatnya memakai produk dalam negri.yang memang kualitasnya hampir sama dgn produk luar.anehnya disini yang mahal justru makanan,sayuran .jajanan.dan sebaliknya untuk produk elektronik sangat murah sekali.misal bila dibandingkan dgn indonesia gajian sama 1500.000
    ,kerja relatif sama.akan tetapi dengan uang tsb bisa membeli ipod,komputer,dslr,dll.tanpa mereka mengalami masalah.dan saya pernah melihat sebuah taman rekreasi dimana ada begitu banyak orang yang menenteng dslr[misal nikon d3] dengan lensa yang semuanya bukaan konstan dan mahal2.itupun kebanyakan kaum anak muda dan cewe2.

  3. Wow…. lagi pada ngebahas masalah yang berat2 ya….. aku kagak kuat mikir susah2 kayak gitu om…. ngikutin aja dech… sambil nyante… terserah arahnya mo kemanain ngikut sopirnya doang….. zzzzzz…….

  4. setuju banget sama pendapat mas , seharusnya kita tuh jangan menggunakan sistem ekonomi kapitalis , karena dia sudah terbukti gagal dalam memimpin dunia , contoh liat krisis global sekarang .

    kita membutuhkan sistem ekonomi alternatif yaitu sistem ekonomi islam 🙂
    saya pernah membaca ada seseorang yang mengatakan 80 % uang di dunia dipegang oleh 15 % penduduk dunia .

    dan 20% uang dipegan oleh 85% penduduk , ini semua karena kapitalis !

  5. Inti dari kapitalis itu adalah tiap orang dijamin kebebasan untuk memiliki ide, memiliki usaha sendiri. Salah satu akibat penting dari sistem ini adalah adanya kompetisi dan inovasi. Selain itu, karena usaha dimiliki swasta dan dijamin oleh pemerintah, maka usaha tersebut berusaha keras untuk bisa efisien dan efektif, menciptakan produk atau layanan yang bernilai bagi masyarakat.

    Bila kompetisi tinggi, maka konsumen akan diuntungkan, contohnya ya seperti intel, gak ada saingan yang berarti, sehingga processor baru sangat mahal.

    Di pasar DSLR untunglah masih ada kompetisi, yang menurut saya cukup sengit terutama antara Canon, Nikon dan pendatang baru Sony. Akibatnya yaitu konsumen bisa menikmati teknologi yang cukup revolusioner dalam 2 tahun belakangan ini, misalnya live view, video dan juga resolusi gambar dan noise handling yang semakin baik. Harga kamera DSLR yang 10 tahun lalu minimal diatas 10 juta, kini tinggal setengahnya dengan fitur yang jauh lebih lengkap dan kualitas yang jauh lebih tinggi.

    “Satu hal yang menggelitik saya, mengapa kita selalu menantikan produk baru yang diharapkan akan membawa fitur yang lebih baru? ”

    dari ilmuwan antropologi, dijelaskan bahwa ini sifat dasar manusia, sewaktu belum mencapai atau mendapatkan sesuatu, gila2an berusaha, tapi setelah mendapatkan, lalu segera tidak puas, dan ingin sesuatu yang lebih.

    “Seharusnya kita tuh jangan menggunakan sistem ekonomi kapitalis , karena dia sudah terbukti gagal dalam memimpin dunia , contoh liat krisis global sekarang .”

    Saya kira kurang relevan, karena sistemnya bukan penyebab krisis, tapi lebih ke keserakahan manusia dan aturan/penegakan hukum yang lemah. Saya kira sistem apapun bila tanpa ada aturan main dan penegakan hukum, semuanya akan tumbang.

    Kalau kita liat lagi, justru sistem ekonomi kapitalis yang membuat kemajuan dalam bidang teknologi.

    Jadi menjawab kenapa begini, kenapa begitu terutama kenapa saat sekarang, masih banyak orang yang belum bisa menikmati kemajuan teknologi? salah satu jawabannya adalah tingkatkan kompetisi.*

    *meski ada beberapa hal yang memang lebih baik bidang usaha yang lebih efisien bila dilakukan secara monopolistik.

Comments are closed.