RAW vs JPG?

Kalau kita bertanya kepada fotografer profesional, hampir semua menyarankan untuk mengambil foto dalam format RAW, terutama yang memiliki dSLR atau kamera kompak yang memiliki kemampuan merekam file jenis RAW.

Memang tidak bisa dipungkiri bahwa RAW adalah raja. Bahkan kamera digital yang mampu merekam RAW seperti Canon G9, G10, Panasonic LX3,  laris manis meski di bandrol dengan harga jauh lebih tinggi dari kamera kompak yang tidak bisa merekam dalam bentuk RAW.

Lalu, apakah sih RAW itu? dan mengapa begitu digandrungi?
Sederhananya, RAW adalah jenis file foto yang belum diproses oleh software khusus di dalam kamera. Jadinya, RAW file berisi semua yang ditangkap oleh sensor kamera.

Sedangkan file foto jenis JPG adalah hasil proses dalam kamera yang meliputi  optimisasi kontras, warna, ketajaman gambar, proses untuk mengurangi noise, kompresi ukuran file dan proses lainnya yang bertujuan untuk mengoptimalisasikan gambar sesuai setting kamera.

Lalu kelebihannya RAW itu apa?
Kelebihan RAW yaitu file ini berisi banyak informasi tentang foto tersebut seperti warna, dynamic range, dan sebagainya. Dengan memiliki foto RAW maka kita bisa leluasa memproses gambar sesuai dengan apa yang kita kehendaki tanpa mengurangi kualitas foto.

Menurut pengalaman saya, memotret RAW, memiliki beberapa kelebihan penting: Kalau kita salah setting dan berakibat foto terlalu gelap, maka dengan mengedit RAW, maka kita bisa mengkoreksi foto tersebut dengan meningkatkan exposure dan brightness, tanpa mengurangi kualitas foto secara signifikan. Kalau kita mengolah foto JPG/JPEG, tentunya kualitas foto menjadi lebih buruk, ditandai dengan banyaknya noise atau hilangnya detail.

Selain itu, kita juga bisa mengubah setting white balance (WB) misalnya mengubah foto yang berwarna terlalu dingin (kebiruan) menjadi lebih hangat (kuning kemerahan). Di foto berjenis JPG, kualitas foto akan menurun cukup drastis bila kita mengubah white balance.

Dan masih banyak yang lain, maka dari itu para profesional atau amatir yang serius selalu foto dengan setting RAW.

Tapi, sekarang ini semakin banyak yang mungkin akan berpindah mengambil foto bertipe JPG. Kenapa?

Pertama, RAW mengambil tempat penyimpanan yang besar baik di memory card maupun di harddisk. Contohnya 1 card berkapasitas 4GB, bisa menampung sekitar 500+ foto JPG tapi hanya bisa menampung sekitar 150+ foto RAW. Hal ini diperparah dengan adu megapiksel antar merek kamera terutama tahun-tahun terakhir ini. Canon 50D dan 500D misalnya, bisa merekam 15 megapiksel, Sony A900 = 24 megapiksel. WHOAA.. 10 tahun lalu 3 megapiksel saja sudah tergolong besar.

Kedua, RAW memperlambat proses kamera karena ukurannya yang besar. Otomatis bila Anda mengambil foto olahraga atau fauna liar dengan continuous burst (mengambil foto berturut-turut) maka dalam beberapa detik saja, kamera Anda akan menjadi macet karena besarnya data yang masuk membuat penyimpanan kamera dan memory card menjadi penuh.

Ketiga, Adanya software seperti Adobe Photoshop dan Adobe Lightroom yang menyediakan fasilitas edit RAW untuk file tipe JPG. software dengan algoritma yang semakin mantap ini tidak hanya membuat pengeditan file JPG menjadi lebih mudah, tapi juga kualitas foto tidak menurun secara signifikan.

Keempat, kamera digital yang dirilis 1 tahun belakangan memiliki fasilitas pemrosesan JPG yang lebih baik dan komprehensif. Kita juga memiliki sedikit kontrol atas pemrosesan tersebut, contohnya picture style atau picture control memungkinkan pengguna untuk mengganti setting sesuai dengan selera masing-masing. Setting tersebut antara lain ketajaman foto, saturasi warna dan sebagainya.

Selain itu juga tidak kalah penting adalah kemampuan pemrosesan kamera untuk mengurangi noise (noise reduction atau NR) yang semakin baik. Noise bisa menjadi sangat mengganggu bila kita mengambil gambar dengan ISO tinggi ditempat yang gelap

Bila kita mengambil foto secara RAW, kita harus mengurangi noise dengan software tertentu seperti Noise Ninja atau software lainnya. Software pihak ketiga ini belum tentu bisa mengurangi noise foto secara optimal, sebaik proses dalam kamera.

Dengan berkembangnya kemampuan prosesor dan fitur kamera, tidak heran bahwa semakin banyak orang yang tadinya mengambil foto secara RAW kembali atau pindah ke JPG. Tapi tentunya RAW tetap saja suatu fitur yang penting.

Saran saya adalah ambillah foto secara RAW bila:

  • Anda adalah seorang control freak, selalu ingin mengolah foto sendiri, terutama warna dan eksposur.
  • Anda memotret di dalam situasi dimana intensitas cahaya dan warna sangat bervariasi. Situasi ni biasanya terjadi seperti pada konser musik, pesta, tari, teater dan sebagainya. Dengan mengambil RAW, kita bisa mengoreksi bila setting AWB pada kamera gagal menerjemahkan warna dan intensitas cahaya dengan benar.
  • Kamera dSLR Anda sudah cukup tua, sekitar 3-7 tahun yang lalu yang mana algoritma pemrosesan JPG masih kurang baik dan terbatas.
  • Anda memiliki media penyimpanan yang besar.

Saya menyarankan untuk mengambil foto secara JPG bila:

  • Anda tidak memiliki media penyimpanan dengan kapasitas besar (harddisk dan memory card)
  • Anda memiliki kamera dSLR terbaru (keluaran 1 tahun belakangan), yang mana algoritma pemrosesan kamera sangat baik dan Anda juga bisa mengatur bagaimana kamera memproses foto.
  • Anda mengambil foto dengan continuous burst 3 foto per detik atau lebih cepat lagi.

Semoga tips tips ini membantu saudara saudari sekalian.

Salam,

Enche
editor http://www.radiantlite.com

Published by

Enche Tjin

Enche Tjin adalah pendiri Infofotografi, seorang fotografer, instruktur fotografi, penulis buku dan tour photography organizer. Saat ini, ia bertempat tinggal di Jakarta.

17 thoughts on “RAW vs JPG?”

  1. maaf saya nyela ini saya copy paste dari udara maya ” Apabila anda menggunakan sebuah kamera digital Canon, anda memiliki sebuah alat elektronik yang mampu menggunakan fitur – fitur yang jauh lebih canggih dari apa yang anda bayangkan. Dengan bantuan proyek open source bernama CHDK, anda dapat menggunakan fitur – fitur seperti pemotretan dalam mode RAW, histogram RGB, deteksi gerakan dan bahkan memainkan game di kamera anda.

    Apa itu CHDK?

    Singkatan dari Canon Hacker’s Development Kit, CHDK adalah sebuah firmware tambahan yang dapat dipakai di berbagai model kamera digital Canon (lihat di bagian “Supported Cameras” di Wiki CHDK). Saya menekankan aspek “tambahan” karena CHDK adalah alat yang bersifat non permanen dan tidak akan merusak kamera anda.

    Untuk memakai CHDK, anda hanya perlu meyalin beberapa file ke memory card kamera anda, dan untuk menghilangkannya, cukup hapus file – file tersebut. Untuk instruksi yang lebih mendetil, lihatlah panduan ini.

    Fitur – fitur CHDK

    Setelah anda yakin kemudahan instal firmware ini, tentunya anda bertanya – tanya apa yang akan anda dapat dengan menggunakan perangkat lunak ini. Langsung diambil dari wiki CHDK:
    Fitur gambar yang lebih baik: CHDK mendukung pengambilan gambar dalam format RAW (selain JPEG), dapat merekam video dengan durasi lebih lama (hingga 1 jam atau 2GB) dan beberapa opsi kompresi.
    Tambahan informasi di layar: dengan CHDK, anda dapat mengubah tampilan layar kamera anda sesukanya dengan informasi-informasi berguna seperti sisa baterai, histogram, fokus dan lain-lain.
    Konfigurasi fotografi tambahan: CHDK mengambil banyak fitur yang sudah tersedia di kamera anda dan memberikan anda jauh lebih banyak lagi, termasuk exposure time yang lebih tinggi (hingga 65 detik), shutter speed yang lebih cepat (1/25.000 detik atau bahkan lebih cepat lagi), automatic bracketing dan lain-lain.
    Mendukung pemakaian program/skrip kecil: CHDK dapat mengoperasikan skrip-skrip kecil yang memungkinkan kamera anda untuk melakukan beberapa hal tergantung dari skrip yang anda tulis. Sudah banyak skrip yang tersedia, dan mereka memberikan fungsionalitas seperti pengambilan gambar motion sensing (digosipkan dapat dipakai untuk memotret sambaran kilat) dan fotografi periodik”

  2. Wha, baru denger ada program seperti itu,
    liat2 di wiki sepertinya ok.
    Sudah banyak yang pake?? ada komunitasnya ngga?
    Soalnya mau install agak takut2 salah.
    Nanti kameranya malah eror.. hehehe

    Thx

  3. Untuk mempercepat pemotretan RAW file, bisa digunakan memory card yg lebi cepat (spt yg Class 6), cthnya Sandisk SD Extreme III transfer rate 30MB/Sec. Perbedaan antara Class 4 dan Class 6 jauh banget terutama dalam hal merekam file. Hanya saja, Memory Card Class 6 spt begini, harganya bisa 2-5x dari memory card Class 4 (dengan kapasitas sama).

  4. cuma gak semua kamera canon dapat gunain fitur yang sama di CHDK, contohnya di IXUS series gak bisa dapetin fitur Aperture.

  5. Kalau dikamera saku canon bisa nggak dipakai ?Misal seri ixus lama seperti ixus60 atau seperti a590 ! Alamat web downloadnya dimana

  6. wow keren juga y CHDK..yg buat nikon ada g y??canon 500D g bisa diputer sih y screennya..padahal uda mantep bgt tu

  7. Mau tanya mas,
    firmware chdk bisa nggak dipakai canon a470 ?Kalau bisa bagaimana ya cara masangnya ?Terima kasih

  8. Ohh itu toh Raw jenis file foto, kayanya klo mo pro mesti belajaar ambil yang Raw nii hehehe jadi tau niii aku amatir masih di fotografi, salam kenal yaa, klo mau tukeran link silahkan datang ke blog ku yaa,

  9. numpang nanya ni bang radiantlite n’ bang gaptek.. saya biasa pake jpg. setelah baca artikel du atas, saya coba pake format raw di canon 50d saya. setelah coba jeprat – jepret sana sini lalu saya masukin ke PS kok gak bisa ya? “could not complete your requeste because it is not the right kind of document” muncul di layar PS CS3 saya. mohon pencerahannya gimana caranya biar raw saya bisa masuk CS3 saya. maklum saya pemula baru pegang camera n PS. terimakasih..

Comments are closed.