Lumix baru dengan Power OIS : DMC-FZ35, DMC-ZR1 dan DMC-FP8

Hari ini Panasonic meluncurkan kamera Lumix baru sebagai andalannya untuk terus bersaing dengan merk lain. Jajaran kamera Lumix dikenal punya kualitas lensa Leica, spesifikasi tinggi dan inovasi yang menjadi trendsetter. Dalam mendesain kameranya, Lumix pun punya kekhasan dengan tiap produk yang punya ciri dan keunikan tersendiri. Seperti halnya tiga kamera yang hari ini diluncurkan, semuanya punya kekhasan yang ditujukan untuk segmentasi pasar yang berbeda. Ada kamera yang berjenis prosumer hybrid, ada kamera saku berlensa sangat wide 25mm dan ada kamera saku berlensa folded-optic. Panasonic menjanjikan kinerja Auto Focus yang lebih cepat di jajaran kamera terbarunya ini. Fitur lain yang jadi andalan Lumix di kamera barunya adalah Power OIS dengan kemampuan dua kali lebih handal dari Mega OIS dalam mengatasi handshake/getaran tangan yang membuat foto jadi blur.

Lumix DMC-FZ35

Kita kupas yang pertama, yaitu Lumix DMC FZ35 (atau FZ38 di Eropa). Meski berkode FZ3x namun jangan sangka kalau kamera ini adalah penerus seri FZ30 yang sempat jadi primadona di tahun 2005. Kalau di masa lalu FZ30 adalah kamera kelas prosumer high-end dari Lumix yang lensanya bisa dizoom manual/putar, maka FZ35 ini justru penerus dari FZ28 yang jadi super zoom favorit dari Lumix.

Lumix FZ35 (credit : DCRP)
Lumix FZ35 (credit : DCRP)

Supaya tidak bingung, saya sampaikan sedikit sejarah prosumer Lumix berseri FZ :

  • super zoom biasa : DMC-FZ3 ->  FZ5 -> FZ7 -> FZ8 (lensa 12x zoom, setelah FZ8 tidak ada kelanjutannya)
  • super zoom 18x : DMC-FZ18 -> FZ28 -> FZ35 (yang sedang kita bahas ini)
  • high-end : DMC-FZ 10 -> FZ 20 -> FZ 30 -> FZ 50 (tidak dilanjut ke FZ 60, seri high-end selanjutnya diambil alih oleh Lumix G1/GH1)

Nah, di generasi FZ35 ini, kamera yang tergolong kelas super zoom ini masih mempertahankan pemakaian lensa Leica 18x zoom optik (27 – 486 mm, f/2.8-4.4) layaknya pendahulunya FZ18 dan FZ28. Secara umum pada Lumix baru ini tidak banyak berbeda dengan FZ28 dengan tetap memakai desain yang mirip, sensor sama dan fitur yang sama. Lalu apa kelebihan yang ditawarkan Panasonic pada kamera beresolusi 12 MP ini? Ternyata cukup banyak hal baru yang menarik seperti :

  • konsep kamera hybrid, bisa dipakai untuk merekam video dengan lebih baik : HD 720p, AVCHD, Dolby  stereo, bisa zoom saat merekam video, tombol khusus video
  • Power OIS dengan kemampuan dua kali lebih handal dari Mega OIS
  • prosesor inti ganda : Venus Engine HD
  • High Dynamic (range) mode
  • HDMI port dan RAW file format

Adapun hal-hal yang sayangnya masih tidak berubah adalah layarnya yang tidak bisa dilipat dan tanpa dudukan lampu kilat. Kamera ini rencana akan dijual sekitar 4 juta rupiah, bisa jadi kamera dan camcorder yang sama baiknya untuk liburan anda.

Lumix DMC-ZR1

Di kelas kamera saku, Panasonic juga meluncurkan Lumix DMC-ZR1, sebuah kamera saku dengan lensa buatan Leica yang sangat wide 25mm dan desain tipis nan elegan. Kamera ini mungkin ditujukan menjadi kamera versi murah dari DMC-TZ7 (yang punya lensa zoom 12x), karena di ZR1 ini lensanya ‘cuma’ 8x zoom dengan rentang efektif 25 – 200mm f/3.3-5.9.

Lumix ZR1 (credit : DCRP)
Lumix ZR1 (credit : DCRP)

Inilah fitur andalan dari kamera tipis seharga 3 juta ini :

  • resolusi 12 MP
  • Venus V engine
  • Power OIS
  • HD movie
  • LCD berukuran 2,7 inci
  • High Dynamic (range) mode

Lumix DMC-FP8

Terakhir, Panasonic meluncurkan kamera berjenis folded-optic atau lensa zoom yang tidak menonjol keluar, alias pergerakan lensa sepenuhnya di dalam kamera. Kamera Lumix DMC-FP8 ini cukup menarik karena tidak ada elemen lensa Leica DC yang menonjol ke depan yang beresiko terbentur atau terkena debu.

Lumix FP-8 (credit : DCRP)
Lumix FP-8 (credit : DCRP)

Bagi mereka yang menyukai kamera jenis ini, inilah spesifikasi dasar dari kamera seharga 3 juta ini :

  • resolusi 12 MP
  • lensa 28-128mm f/3.3-5.9
  • Venus V engine
  • Power OIS
  • HD movie
  • LCD berukuran 2,7 inci
  • High Dynamic (range) mode
  • tombol dengan backlight biru
Lensa 4.6x zoom pada FT8
Lensa 4.6x zoom pada FT8

Published by

Erwin M.

Saya suka mengikuti perkembangan teknologi digital, senang jalan-jalan, memotret, menulis dan minum kopi. Pernah bekerja sebagai engineer di industri TV broadcasting, namun kini saya lebih banyak aktif di bidang fotografi khususnya mengajar kursus dan tur fotografi bersama infofotografi.com.

16 thoughts on “Lumix baru dengan Power OIS : DMC-FZ35, DMC-ZR1 dan DMC-FP8”

  1. keren nih kamera… btw mz gaptek , saya mo jual kamera panasonix lumix fz18, kondisi 99%, memori 2 gb, dah ada vilter UV, baru di pake 150 kurang jepretan, dan daya beli April 2009… x aja ada yg baerminat bisa hubuungi saya mz… 085881297585

  2. saya punya panasonix limux fz18 … kondisi 99%

    kl ada yg tertarik silahkan hubungi saya 085881297585

    mz gaptek , permisi yah, mo naroh iklan…

  3. Maz Gaptek,
    Saya baru saja beli LUMIX FZ35. Isi paket: kamera + tas plastiknya + memory 4GB + mini triport.
    Saat ini saya baru belajar menggunakannya:
    – Kesan awal; kamera ini sangat terasa “plastik” nya.
    – Untuk video, tidak perlu diragukan. Mulus sekali.
    – Sayangnya hasil foto masih kurang memuaskan. Saya baru mencoba2 settingan sendiri karena kalau pakai full auto, warna memang terlihat alami tapi saya suka yang sedikit lebih vivid seperti setelan umum kamera sony.
    – Maximum gambar bisa dinikmati pada ISO 800. Itupun detail gambar sudah berkurang banyak. Kalau pada ISO rendah (85-100) detail gambar terasa padat.
    – Setelan penyimpanan RAW memberikan hasil yang lebih baik, tapi makan memory 2x lipat.
    – Zoom 18x memang sangat menyenangkan. Juga focus bisa jalan cepat, tapi kalau suasana agak gelap jadi lambat.
    – Ada 3 macam IS, yaitu auto, mode 1 dan mode 2. Bagaimanapun juga, pada zoom tinggi getaran masih gampang terekam.

    Yang jadi pertanyaan saya:
    Jika kita perbesar foto kita di komputer, maka akan terlihat distorsi bintik2 kuning. Makin besar ISO nya, makin jelas bintik2 itu.
    1. Darimanakah distorsi itu berasal?
    2. Bagaimana menghilangkannya?

    Saya sangat berterimakasih jika maz gaptek bisa memberi saran, tips2 yang bermanfaat untuk menghandle kamera ini. Saya yakin kamera ini bisa memberikan hasil gambar yang istimewa.
    Terimakasih sebelumnya.

    1. Pertama selamat untuk FZ35 barunya, dan terima kasih sudah menulis review singkat disini. Sebelum jawab, saya cerita dikit soal zoom tinggi OIS kurang efektif itu wajar. Makin panjang lensa, makin tinggi shutter yg dibutuhkan utk mencegah goyang. Anggap lensa di posisi 400mm, maka perlu speed minimal 1/400 detik. Dengan OIS yg anggap bisa tolong sampai 3 stop, jadi anda masih perlu speed 1/50 detik atau OIS akan gagal.

      Nah soal bintik, saya anggap itu noise ya, kecuali kalo kamera anda bermasalah. Noise itu karena sensor kecil dijejali banyak piksel, sehingga sensitivitas sensor rendah. Dengan naiknya ISO maka output sensor ikut dinaikkan, dan noise juga ikut naik. Makin runyam deh..

      Saran saya, hindari ISO tinggi. Kalau mau kurangi noise pake aja software spt noise ninja atau neat image.

      1. Wah, terima kasih atas responnya yang cepat. Senang melihat situs Indonesia yang dikelola serius spt. ini.
        Saran mas gaptek baru saya jalankan nih, saya baru download noise ninja, nyoba yang gratisan saja … hehehe …

        Saya ini orang baru yang benar2 ‘gaptek’, jadinya malu sendiri kalau mas gaptek mengatakan tulisan saya diatas itu sebuah review. Kesannya gimana gitu.

        Saya baru lihat2 sekilas kok isinya muantab banget. Saya mohon ijin untuk muter2 dulu, numpang belajar dari para senior …

  4. Wah saya baru liat2 kamera, niat pengen beli lumix, coz udah lama jadi penggila LUMIX
    ….. kemaren liat FZ35,… sekilas otak-atik karena kamera’ny dah banyak yang ngatri buat
    diotak-atik….. walau cuma sebentar,.. gw jadi yakin nih kamera emang TOP markotop…..
    nunggu gajian ah,… buat beli…. Bravo LUMIX

  5. lg mau beli kamera prosumer nih..

    tp masih bingung milih antara lumix fz38 ini atau fuji S200EXR..

    ada saran ga dari mas gaptek?

    1. Kalo saya suka S200EXR, karena ISO tinggi jelas bagus (ISO 400-800), punya dynamic range diatas rata-rata, zoom lensa manual seperti lensa SLR, dan ada flash hot-shoe.

      Tapi kalo anda suka FZ38 karena rentang zoom lensanya, atau fitur2 lain yg tidak dimilik S200EXR, tentu FZ38 lebih cocok utk dipilih. Pertimbangkan juga FZ28 yg lebih murah dgn fitur mirip.

  6. mas nunpang jual ya..maaf
    dijual lumix fz35 baru gressss beli di sentra digital surabya tgl 31 desember 2009…buka harga 3,750,000
    dijual karena mau beli dslr ….
    hub 08563571915 /surabaya

      1. mas mending mana Lumix FZ35 apa fuji Finepix S1800/S2500HD? tolong mas lagi bingung milih nih..

  7. Saya mau beli Panasonic Lumix FZ-18 milik seorang temen,terus terang saya tertarik dengan kemampuan zoom optixnya yg lumayan 18x. Kira2 bagus ngak neh kamera,kebetulan saya dapat harga yg bersahabat. Mohon pencerahanya bos 🙂

Comments are closed.