Untung rugi fitur movie pada kamera DSLR

Sejak Nikon D90 memperkenalkan fitur movie pada tahun 2008 silam, kini tren fasilitas perekam video pada kamera  DSLR tampaknya menjadi hal yang wajib. Mulai dari DSLR termurah seperti Pentax K-x hingga Nikon D3s dan Canon EOS 1D mark IV, semuanya kini berlomba-lomba menambah fitur HD movie. Padahal di masa lalu, fungsi kamera DSLR sebagai kamera serius hanya ditujukan untuk memotret tanpa pernah terbayang akan menjadi perekam video. Jangankan untuk video, bahkan DSLR era tahun 2007 pun belum bisa live-view sehingga LCD hanya bisa dipakai untuk menampilkan setting dan hasil foto saja. Dengan kenyataan saat ini dimana konvergensi teknologi sudah tak terelakkan lagi, haruskah kita bertahan pada opini lama yang menentang fitur movie pada DSLR? Paling tidak, inilah analisa saya mengenai untung rugi adanya fitur movie pada DSLR.

Keuntungan :

  • Kesempatan membuat video berkualitas tinggi. Resolusi video yang ditawarkan DSLR adalah High Definition (HD) sehingga punya detail yang tinggi dan bisa dilihat di layar TV HD seperti LCD widescreen.
  • Keleluasaan memakai bermacam lensa untuk variasi perspektif dan bebas bermain zoom secara manual.
  • Dapat membuat blur pada background layaknya film bioskop, hal ini karena ukuran sensor DSLR yang amat besar.

Kerugian :

  • Fitur movie membuat harga kamera sedikit naik, simaklah contoh EOS 450D ke EOS 500D atau Nikon D300 ke D300s.
  • Fitur movie belum matang secara teknologi. Contohnya, untuk mengatur fokus masih perlu dilakukan secara manual (bayangkan bila memakai lensa kit murah).
  • Sensor yang dipakai untuk movie berpotensi menjadi panas karena terus dipakai dan beresiko membuat umurnya pendek.
  • Perlu memori kapasitas ekstra besar dan kecepatan tinggi, karena data rate video HD sangat besar, meski memakai teknik kompresi modern sekalipun.

Harapan saya :

  • Produsen DSLR harus menemukan cara supaya fungsi auto fokus dapat bekerja saat merekam movie (seperti inovasi HD lens dari Lumix GH1).
  • Produsen DSLR semestinya mendesain LCD lipat untuk fleksibilitas perekaman video (seperti pada Nikon D5000, meski saya lebih suka LCD lipat putar seperti pada Olympus E-620).
  • Fitur movie tidak semestinya membuat harga kamera naik terlalu tinggi, setidaknya Pentax K-x telah membuat hal yang tepat dengan mematok harga jual 6 jutaan untuk DSLR HD movie termurah saat ini.
  • Fitur movie perlu didukung dengan banyak hal-hal kecil namun prinsip, seperti dedicated movie button, HDMI out, stereo mic input, wind filter dan picture control layaknya pengaturan foto.

Share

Advertisements

Published by

Erwin M.

Saya suka mengikuti perkembangan teknologi digital, senang jalan-jalan, memotret, menulis dan minum kopi. Pernah bekerja sebagai engineer di industri TV broadcasting, namun kini saya lebih banyak aktif di bidang fotografi khususnya mengajar kursus dan tur fotografi bersama infofotografi.com.

6 thoughts on “Untung rugi fitur movie pada kamera DSLR”

  1. masih bertanya mengapa membuat sensor panas? brarti jgn buat movie? pdhl sy kdg” pk buat video berdurasi 2 menit.. klo membuat kerusakan pada sensor. saya jadi takut.. tolong pencerahan dari mas gaptek..

    1. Berpotensi membuat sensor panas, tentu karena dipakai terus-menerus. Belum ada studi akan kenaikan suhu sensor terhadap waktu, jadi kita hanya bisa menduga saja. Saran saya, batasi durasi pemakaian video jangan terlalu lama saat merekam.

  2. denger2 D5000 kl buat merekam video panas sekali yah. jd kadang2 malah smpe mati sndr kamera nya. tp setelah agak adem bs di hidupin lg sih cm kan ga enak gt. mengganggu bggt

  3. lha itulah karenanya saya juga tidak begitu suka dengan dslr yang pake fitur movie karena di tread yang lain dengar-dengar d5000 sering rewel karena fitur ini, tapi juga karena teknologinya sudah seperti itu mungkin nantinya tidak ada dslr yang tidak pake fitur ini.

Comments are closed.