HSPA+ is coming, apakah kita memerlukannya?

Setelah berhasil mendapatkan tambahan kanal 5 MHz untuk jalur 3G, baik Telkomsel dan Indosat kini mulai memperkenalkan kehadiran teknologi HSPA+ atau akses internet nirkabel berkecepatan ekstra tinggi hingga 21 Mbps. Perkembangan teknologi internet berbasis jaringan selular ini memang sudah diprediksi sebelumnya dan kecepatan akses data masih akan terus meningkat ke arah Long Term Evolution (LTE) yang biasa dipopulerkan dengan istilah 4G (kecepatan 100 Mbps). Anggaplah HSPA+ ini nantinya adalah bakal jadi standar untuk teknologi internet nirkabel, pertanyaan sederhana muncul di benak saya, apakah kita benar-benar memerlukan HSPA+ ini (setidaknya untuk saat ini) ?

Telkomsel melalui siaran persnya menyatakan bahwa :

Dengan tambahan frekuensi 3G yang baru, Telkomsel mampu menambah kapasitas jaringan untuk layanan data serta melakukan evolusi dengan melanjutkan roadmap ke teknologi HSPA dan HSPA+, di mana kini pengguna layanan mobile broadband dapat merasakan pengalaman baru memanfaatkan kecepatan akses data hingga 21 Mbps.

Tampak jelas kalau roadmap ini didasarkan pada ketersediaan tambahan kanal 3G yang didapatkan seharga 160 miliar itu. Jujur awalnya saat saya mengetahui kalau Telkomsel (dan Indosat) berhasil mendapat kanal tambahan itu, saya tidak menyangka kalau HSPA+ akan hadir secepat ini. Kenapa? Karena tadinya saya kira Telkomsel (dan Indosat) akan fokus untuk memperbaiki kualitas koneksi data 3G mereka yang sudah dikenal cukup mengecewakan.

HSPA

Sepintas mengenal istilah pada koneksi internet melalui jaringan seluler, berikut gambaran umum kondisi aktual saat ini :

  • GPRS (2G) : teknologi tertua dan menjadi pilihan terakhir bila tidak tersedia layanan 3G, biasanya BTS di daerah terpencil hanya memiliki sinyal GPRS. Koneksi GPRS di kisaran 40 kbps sebenarnya  sudah cukup bila dipakai untuk mengakses data melalui ponsel, namun terasa lambat bila dipakai untuk internetan pakai komputer.
  • EDGE (2.5G) :  punya kecepatan yang lebih baik daripada GPRS yaitu di kisaran 150 kbps dan  menjadi pilihan mereka yang ponselnya belum 3G, meski kadang operator tidak menyediakan layanan EDGE pada tiap BTS-nya.
  • UMTS (3G) :  menjadi tonggak sejarah hadirnya internet nirkabel berbasis jaringan seluler dengan kecepatan tinggi maksimum 384 kbps. Istilah 3G akhirnya lebih populer dibanding nama UMTS atau WCDMA, dan berbarengan dengan hadirnya 3G muncul pula perangkat baik ponsel atau modem untuk mengakses internet melalui komputer. Kebanyakan BTS di kota besar sudah mendukung sinyal 3G ini.
  • HSDPA (3.5G) : menjadi kelanjutan dari teknologi 3G dengan meningkatkan kecepatan akses data hingga 3,6 Mbps bahkan 7,2 Mbps. Teknologi 3.5 ini semestinya sudah sangat ideal untuk kebutuhan internet masa kini yang banyak mengandung data jumlah besar, asalkan didukung dengan perangkat yang memadai (modem atau ponsel 3.5G).

Khusus untuk HSDPA, saat ini pun tidak semua orang bisa merasakan kecepatan data yang cepat itu. Pertama, operator yang sudah memancarkan sinyal HSDPA secara luas tampaknya masih didominasi oleh operator papan atas saja. Kedua, untuk menikmati akses kecepatan tinggi ini diperlukan biaya yang tidak sedikit. Anda yang memakai paket internet unlimited seharga 100 ribu sebulan seperti saya tentu hanya bisa gigit jari karena kecepatan datanya dibatasi hanya 256 -384 kbps saja.

Oke, kembali ke judul. Apakah anda merasa sudah waktunya teknologi 21 Mbps ini hadir di tanah air? Sebagai seorang yang berharap bahwa teknologi di tanah air bisa berkembang pesat, saya tentu mendukung kehadiran si HSPA+ ini. Tapi melihat kenyataan masih belum optimalnya jaringan 3G dan HSDPA yang ada, saya berharap kalau tambahan kanal ini sebaiknya buat memperbaiki kekurangan yang ada pada kualitas 3G dan HSDPA saja.

Advertisements

Published by

Erwin M.

Saya suka mengikuti perkembangan teknologi digital, senang jalan-jalan, memotret, menulis dan minum kopi. Pernah bekerja sebagai engineer di industri TV broadcasting, namun kini saya lebih banyak aktif di bidang fotografi khususnya mengajar kursus dan tur fotografi bersama infofotografi.com.

8 thoughts on “HSPA+ is coming, apakah kita memerlukannya?”

  1. Bila boleh memilih, makin kenceng makin oke dong, kita kan butuh video confrence ma bayer, bisa kirim foto hi rez, bahkan HD video atau file2 konstruksi 3D….

    Buat dunia hiburan pasti juga masih menunggu2 internet yang kenceng…. banyak sekali manfaatnya bagi mereka….

    Bisa nonton sepak bola realtime n’ hi rez…

    Sayang… 1000 sayang di indonesia masih theory n’ slogan belaka…

  2. LHA ITU KOK PERSIS PUNYA SAYA YANG HANYA 256 AJA, BAHKAN KADANG KALA MACET PADAHAL DI DIKOTA BESAR LHO (SURABAYA)

  3. Kalau mayoritas pemakai akses internet 3G cuma bisa merasakan speed 256 kbps, artinya mereka bahkan belum merasakan 3G yg semestinya (384 kbps). Gimana mau jualan yg 3,6 Mbps, 7,2 Mbps bahkan 21 Mbps? Mestinya speed terendah yg ditawarkan operator adalah 384 kbps, lihat saja polling diatas tidak ada yg klik 256 kbps kan?

  4. Akses mobile kecepatan tinggi akan membuka industri baru dan menciptakan kesempatan2 baru. Contohnya internet TV, dan yg skrg ada di fren tp tidak laku, seperti monitor traffic, etc, semuanya ini akan feasible bila akses kecepatan tinggi tersedia dengan harga yg terjangkau

Comments are closed.