Kamera kecil bersensor besar, ketika perang megapiksel mencapai titik jenuh

Perang megapiksel sudah mulai mencapai titik jenuhnya. Saya mengamati ‘peperangan’ ini sejak kehadiran kamera digital Kodak di tahun 2001 dengan 1 MP hingga kini tahun 2010 yang sudah mencapai resolusi 14 MP. Ada satu hal yang tidak berubah dari dulu, yaitu ukuran sensor yang dipakai. Anda bisa bayangkan, peningkatan dari 1 MP ke 14 MP pada keping sensor yang sama, bagaikan dulu biasa naik sedan berdua kini naik sedan diisi sepuluh orang. Persaingan memaksa produsen kamera bertindak seperti itu, meski kini mereka tengah kebingungan karena sudah tidak mungkin lagi menaikkan resolusi diatas 14 MP apabila ukuran sensor tidak berubah.

Satu hal yang pasti dari kekonyolan ini adalah turunnya kualitas foto karena ukuran piksel yang terlalu kecil membuat tiap piksel tidak mampu menangkap dynamic range dengan optimal, plus tidak mampu menangkap cahaya dengan baik dikala low light. Bisa dipastikan, noise di ISO tinggi akan menghiasi foto-foto yang diambil memakai kamera resolusi tinggi dengan sensor kecil (ukuran sensor kecil itu kira-kira 1/1.8 inci atau lebih kecil lagi). Maka itu belakangan ini mulai dimunculkan format kamera kecil (atau kamera saku) dengan sensor besar (milik DSLR) dengan harapan akan bisa mendapat kualitas foto terbaik dari kamera kecil.

Tahun 2009 tren ini semakin bergairah sejak kehadiran kamera EVIL (Electronic Viewfinder with Interchangeable Lenses). Istilah EVIL ini cuma sebutan saja, karena belum ada nama standar untuk jenis kamera baru yang memakai sensor DSLR tapi meniadakan cermin yang biasa ditemui di kamera SLR/DSLR. Format kamera EVIL diawali dengan hadirnya format Micro 4/3 lalu menyusul Samsung NX yang keduanya menawarkan lensa khusus. Bila anda menantikan kamera saku yang bersensor besar, nantikan kehadiran Nikon Coolpix dan Canon G dengan sensor APS-C yang gencar dirumorkan. Belum lagi merk besar lain juga tentu tak mau kalah, sebutlah Canon atau Fuji.

Dengan sensor besar, resolusi 12-15 MP masih memberi hasil yang memuaskan. Namun konsekuensi dari pemakaian sensor besar adalah harga kamera yang naik, ukuran kamera yang lebih besar dan diameter lensa yang juga lebih besar. Untuk kamera EVIL sendiri, karena lensanya yang bisa dilepas, membuat sebagian orang tetap menganggap kamera EVIL adalah kamera DSLR. Mereka baru menyadari perbedaannya saat tidak dijumpai viewfinder optik ataupun auto fokus berbasis phase-detect pada kamera EVIL. Bagi sebagian orang, ketiadaan finder optik menjadi masalah utama, bagi sebagian lain keterbatasan pilihan lensa membuat mereka menahan diri untuk membeli kamera EVIL.

Saya pribadi menyukai kamera EVIL seperti Lumix GH1, Olympus EP-2 atau Samsung NX10. Saya juga menantikan Nikon Coolpix atau Canon G(12?) dengan sensor APS-C. Tapi saya sadar kalau dari kamera diatas tidak ada satupun yang harganya terjangkau. Padahal harapan awalnya kan ingin membuat kamera kecil yang berkualitas. Kalau mahal mendingan sekalian beli DSLR saja kan? Maka itu saya masih berharap kalau produsen kamera kecil tidak harus merubah sensornya menjadi lebih besar, namun mencoba dulu menyempurnakan teknologi sensor sehingga meski ukurannya kecil tapi hasilnya mendekati sensor besar. Contohlah Fuji yang membuat sensor Super CCD EXR dengan pixel binning yang cerdas, atau Sony yang membuat sensor CMOS Exmor-R dengan back-illuminated structure. Masih banyak harapan untuk menemukan teknologi sensor baru, sehingga bukan tidak mungkin esok nanti, sebuah kamera ponsel bisa memberi hasil foto yang memuaskan.

Advertisements

Published by

Erwin M.

Saya suka mengikuti perkembangan teknologi digital, senang jalan-jalan, memotret, menulis dan minum kopi. Pernah bekerja sebagai engineer di industri TV broadcasting, namun kini saya lebih banyak aktif di bidang fotografi khususnya mengajar kursus dan tur fotografi bersama infofotografi.com.

14 thoughts on “Kamera kecil bersensor besar, ketika perang megapiksel mencapai titik jenuh”

  1. Gak cuman masih mahal, tapi kamera jenis m43/EVIL ini belum bisa menggantikan DSLR terutama dalam taktil dan kecepatan.

    Ukurannya juga masih tanggung, saya sendiri lebih suka bawa kamera sakukalau memang mau bawa kamera yang ringan dan bisa dikantongin. Sedangkan DSLR buat yang lebih serius.

  2. SEKARANG INI MEMANG MASIH BELUM ADA AKAN TETAPI NANTINYA ADA TEHNOLOGI YANG MEMBUAT SENSOR KECIL TAPI HASIL YANG SANGAT MEMADAI SEPERTI MEMAKAI DSLR WALAU MUNGKIN HARGANYA JUGA TIDAK LEBIH MURAH DARIPADA DSLR.
    KITA NANTIKAN SAJA TAPI SEKARANG YANG PENTING KEMAMPUAN ORANGNYA YANG HARUS DI PERBAIKI TERUS MENERUS, KAMERA BAGUS TAPI YANG MEMAKAINYA TIDAK BAGUS YA MUBADZIR DONG

    1. Semua berpulang kepada pemakaiannya itu sendiri.
      Kalau sering untuk percetakan besar, akan sangat terasa memakai sensor kecil dan subjek foto yang sangat detil seperti lansekap ataupun keperluan komersial lainnya.

      menurut pendapat pribadi, ukuran sensor 4/3 sudah mencapai limitnya yang disesuaikan dengan resolusi MPnya (12 MP)
      Karena kalau lebih dari itu, selain noise yang semakin nyata menghadang di ISO tinggi. Juga dimensi foto yang dihasilkan akan berpengaruh.

  3. Ya… format Micro 4/3 mungkin baru tahap awal…. jadi semuanya masih nanggung….
    harga masih terlalu mahal… n’ kemampuannya nampaknya belum bisa di sejajarkan dengan DSLR, meskipun harganya sejajar denganDSLR.

    So…. nanggung ya…..

    1. Hasil foto untuk kondisi tertentu sudah sangat sulit dibedakan dengan SLR Digital koq.
      Cukup baik 🙂

      Memang kalau bicara performa kameranya baik itu dari response kamera, ISO tinggi nya masih di bawah SLR mid grade.

  4. Apa sih perbedaan format 4/3 yang diusung Olympus dengan format 3/2 yang diusung Canon, Nikon, dan Sony ? Apakah berpengaruh pada hasil pemotretan, kualitas gambar, umur komponen/baterai, lensa, harga, dsb ? Apakah perlu dipertimbangkan saat kita mau membeli DSLR ? Bagaimana dengan format Micro 4/3 ?

    1. perbedaannya ? Ukuran sensor dan ratio panjang lebarnya (4/3 dan 3/2)
      Pengaruh ke hasil foto nyaris tidak ada kecuali dengan lensa yang dipergunakan.

      Karena lensa 4/3 yang kualitasnya di atas rata-rata, itu sangat berpengaruh kepada harga jualnya yang memang premium di kelasnya 😦

  5. Assalamu’alikum,
    slam knal mas saya pnguna canon 1000d mo ganti lens zoom, q tetarik pd tamron 18-250 mm f/3.5-6.3 DI II macro, yg q tnyakan apkh sdh ad “stabilizer” pd lens tsb, sprt IS pd canon n VR pd nikon, atas jwbny saya ucpkan terimakasih!

    1. Zoom lens 18-250 mm, wow….. tampaknya begitu dasyat….
      apalagi tampilannya akan nampak semakin keren!!

      Sayang harus dibayar dengan turunnya performa…
      Semakin lebar range zoomnya tentunya semakin turun performanya

  6. kalo pake tamron lebih oke jika pake yang ada VC setara dengan IS untuk mereduksi getaran, kalo tidak ada pada range 200 mm tidak akan maksimal karena akan goyang, mungkin itu yang bisa dibantu contoh : Tamron for Canon AF 18-270mm f/3.5-6.3 Di II VC LD Aspherical IF Macro

  7. Wuaah…lo Tamron Af 18-270 mm f/3.5-6.3 Di II Vc Aspherical If macro, memang top, tp jg hrga jg top muahal, mending bli canon 18-200mm aj, targetny sich harga 4jt an, tp btw lo Tamron Af 18-200mm f/3.5-6.3 XR Di II LD Aspherical (if) bgus ndk? Dh ad stabilizer?

  8. Hampir semua produsen kamera tidak mau membuat kamera prosumer dengan sensor sebesar APSC, generasi itu hanya pernah ada pada kamera SONY R1. Mereka takut produk DSLR nya tidak laku kalau membuat kamera seperti itu,,,

Comments are closed.