Maukah anda membayar lebih untuk fitur yang tidak anda butuhkan?

Sebagian besar mungkin akan menjawab : tidak mau. Untuk itulah kita dihadapkan pada banyak pilihan dalam mencari suatu produk digital yang saat ini jumlahnya semakin banyak. Itulah mengapa tiap produk punya penggolongan kelas, segmentasi pembeli, dan berujung pada perbedaan fitur dan spesifikasi. Makin banyak fitur, makin tinggi spesifikasi, tentu makin mahal harganya. Untuk menekan harga, produsen mengurangi spesifikasi dari sebuah produk (down spec) dan menghilangkan fitur tertentu lalu menjualnya sebagai varian baru yang lebih terjangkau.

Banyaknya pilihan seperti ini bisa membawa dua sisi yang berbeda, dimana satu sisi konsumen sebetulnya dimudahkan untuk memilih produk yang sesuai dengan kebutuhan dan dana. Di sisi lain justru beragamnya pilihan akan membingungkan konsumen apalagi kalau sepintas tampilan luar tak nampak beda jeroannya. Ditambah lagi tidak banyak orang yang mau meluangkan waktu untuk mempelajari bedanya (entah karena sibuk atau karena secara ekonomi sudah mapan), bagi mereka cukup lihat harganya saja. Bahayanya, hal-hal begini akan jadi celah yang dimanfaatkan penjual untuk menggiring opini pembeli kalau barang yang lebih mahal itu otomatis lebih bagus.

Lihat saja, mana kita tahu bedanya laptop harga 20 juta dengan harga 8 juta, bila dilihat sepintas dari luar saja? Atau bedanya Nikon D300 dengan D3000 yang buat orang awam tampak mirip? Oke, kembali ke laptop topik. Bicara soal fitur, kebutuhan tiap orang tidak sama. Ambil contoh dalam kamera DSLR modern, beberapa fitur yang ditawarkan bisa jadi belum tentu dibutuhkan oleh sang fotografer. Sebut saja misal HD movie, live-view, mirror lock-up, wireless flash commander dsb. Dalam forum diskusi sering terlontar komentar miring mengenai sebuah produk yang fiturnya dikurangi, padahal yang komentar belum tentu memerlukan fitur tersebut.

Produsen dalam hal menentukan fitur dan segmentasi ini kadang sulit dimengerti. Mereka terkesan ingin menyulitkan para konsumen dalam menentukan pilihan. Meniadakan fitur HD movie pada Nikon D3000 (ada di D5000) adalah strategi segmentasi yang cerdas, tapi tidak memberikan fitur live-view disana, tentu soal lain. Tengok lagi ketiadaan fitur bracketing yang absen dari D40-D60-D3000, padahal fitur penting ini nyaris tanpa biaya produksi, tapi dihilangkan untuk alasan tertentu. Haruskah seseorang yang tadinya akan membeli Nikon D3000 akhirnya terpaksa harus membeli D5000 hanya karena ingin merasakan live-view dan bracketing? Padahal dia tidak ingin membayar lebih untuk fitur HD movie pada D5000. Atau seseorang yang tadinya sudah mantap ingin membeli D5000 akhirnya terpaksa harus membeli D90 hanya karena dia perlu motor AF di bodi (yang tidak ada di D5000 ke bawah). Atau seseorang yang tadinya merasa cukup bila bisa memiliki EOS 1000D terpaksa harus membeli EOS 500D hanya karena dia perlu spot metering?

Anda mungkin akan berangapan : “Sudahlah, itukan keluh kesah orang yang dananya terbatas. Beli saja produk yang fiturnya lengkap, agak mahal juga tidak mengapa.” Tapi apakah semudah itu? Betulkah tidak ada lagi keberpihakan pada yang dananya terbatas? Tidak selalu. Contohnya, produsen lain bisa kok membuat DSLR sarat fitur dengan harga terjangkau seperti Pentax K-x, Sony A500 atau Olympus E-620. Ah, sudahlah.. Pagi-pagi kok saya malah curhat nggak tentu arah..

Kembali ke judul diatas, isi poll ini dong.

Share

Advertisements

Published by

Erwin M.

Saya suka mengikuti perkembangan teknologi digital, senang jalan-jalan, memotret, menulis dan minum kopi. Pernah bekerja sebagai engineer di industri TV broadcasting, namun kini saya lebih banyak aktif di bidang fotografi khususnya mengajar kursus dan tur fotografi bersama infofotografi.com.

16 thoughts on “Maukah anda membayar lebih untuk fitur yang tidak anda butuhkan?”

  1. Mas Gaptek, saya lihat di CHIP Foto Video bulan Des 09, cover belakang ada iklan Olympus E620. Di situ juga ditampilkan E450. Tapi dari milis2 Olympus, katanya E450 ga akan beredar di Indo. Apa mas Gaptek punya bocoran, kenapa Olympus berani iklan, tapi ternyata ga dijual (kalau emang gosip2 di milis benar adanya) ?

    1. Saya tdk tahu kabar ttg itu, tapi kalau perwakilan resmi Oly berani beriklan di majalah artinya mereka sudah siap utk menyediakan produknya. Saya kurang berminat dgn Oly seri E4xx (termasuk E450) karena gripnya yg kecil dan tidak ada IS di bodi.

        1. Saya kutip dari pendapat Alpha One (penulis komentar di blog ini juga) :

          A230 lebih diperbarui enginenya.
          Selain AFnya yang lebih cepat di low light , juga struktur menunya diperbaiki dan juga lebih responsif.
          A200 lebih unggul dalam hal ergonomiknya saja.

        2. A230 ? harga barunya sangat ajaib… 4.25 juta kit garansi resmi.
          Menurut saya sangat worthy sekali bahkan hasilnya bisa dibandingkan dengan sekelasnya.

  2. Sony/Pentax/Olympus/Panasonic/Samsung sebagai kamera non-leader di SLR, tentunya harus mencari peluang baru untuk mendapatkan konsumen.
    Jadi jangan heran kenapa fitur yang diberikan bagi kamera di kelasnya cukup berlimpah ruah.

    @ Budhi Kristianto >> kalau OCCI sampai berani naik cetak iklan, artinya E-450 ada barang koq di Indonesia 🙂

    1. Wah, berarti A230 kit adalah DSLR entry level termurah di Indo ya ? Cuma sayangnya tombol shutternya kok posisinya kurang nyaman ya. Di tengah atas. Jari telunjuk musti agak tegak untuk mencet shutternya.

    2. BTW, di oktagon.co.id dan camera.co.id A230 kit dijual 4,95 juta. Sedangkan di tokocamzone.com cuma 4,15 juta. Klaimnya sama2 garansi resmi. Tapi kok selisihnya jauh sekali ya ? Apa ada yang dikurangi dalam paket penjualannya ?

      1. harga baru per 1 Februari 2010.
        Saya sendiri baru tahu 3 hari lalu..
        So far saya pakai A230 seh oke saja koq walau pake lensa yang agak gede seperti 55-250 mm nya

  3. Ada beberapa fotografer yang mendorong manufaktur untuk membuat kamera yang modular seperti komputer, sehingga konsumen bisa memilih sendiri komponen yang dibutuhkan.

    Sekarang ini kamera yang modular cuma RED, tapi mahalnya minta ampun. Sewaktu Ricoh GXR diluncurkan, banyak yang berharap berkembangannya akan ke arah modulariti, tapi sayangnya sampai sekarang belum ada tanda-tanda Ricoh akan mengeluarkan modul sensor, kamera dan lensa yang terpisah.

    btw.. e-mail bahasa indonya surel haha.. saya baru tau, setelah beberapa detik berpikir gue baru tau bahwa surel = surat elektronik! 😀

  4. 1. Baca paragraf no 2 dari bawah jadi miris. Kok ternyata kayak gitu ya, fitur-fitur ada dan menghilang enggak jelas. Jadi harus makin teliti dong risetnya sebelum beli. Apalagi kalo dananya cekak banget.

    2. Saya suka bingung kalo lihat kode nomor kamera. Harusnya nomor besar itu kan lebih baru dan lebih lengkap daripada nomor kecil. Contohnya Nikon D40, D50, D80, D90. Saya masih bingung itu mana yang baru, mana yang lama, mana yang lengkap, mana yang mana… Demikian juga dengan Canon. Saya nggak tahu mana yang lebih bagus/mahal, 1000D ato 500D. Bukankah seharusnya nomor besar itu paling baru/lengkap/mahal?

    3. Kalo lihat paragraf terakhir, berarti Pentax K-x, Sony A500 atau Olympus E-620 recommended dong. Apakah memang sarat fitur untuk harganya?

    Thanks.

    1. Ketiga produk yg saya sebut cuma mewakili kekaguman saya sama ‘kebaikan’ produsen yg memberi fitur lebih dgn harga yg masih wajar. Silahkan google sendiri atau cari tulisan saya di daftar isi. Tapi soal kualitas hasil foto, utk DSLR modern, apapun merknya sih relatif sama.

    2. Kalau canon, digitnya makin sedikit, berarti semakin baik dan semakin mahal, jadi antara 5D, 50D dan 500D pasti lebih bagus 5D.
      kalo Sony makin besar kepalanya makin mahal, a200, a300, a500, a700 a900.
      Nikon… bingung menjelaskannya… gak konsisten

Comments are closed.