Sepuluh kamera saku superzoom baru di 2010

Berapa kemampuan lensa zoom pada kamera saku anda? Tiga, empat, atau lima kali zoom optik? Apakah anda merasa kemampuan tele dari kamera anda masih kurang? Bayangkan bila anda memiliki sebuah kamera saku yang mungil namun memiliki lensa yang zoomnya panjang. Berkat kemampuan manufaktur lensa modern, kini sebuah kamera saku bisa memiliki lensa yang sangat fleksibel yang mampu menjangkau area wide (sekitar 25mm) hingga ekstra tele (250mm bahkan lebih) atau bisa dibilang lensa superzoom (10x zoom optikal, bahkan lebih).

Pada awalnya, kamera saku memiliki lensa zoom yang umumnya amat standar, berkisar dari 35mm hingga 105mm (setara dengan 3x zoom optik) yang dianggap sudah cukup untuk pemakaian normal. Guna menjauhkan diri dari tekanan ponsel berkamera yang semakin canggih, lambat laun produsen kamera mulai menambah jangkauan baik dalam urusan wide hingga tele, hingga mulai ada kamera yang mampu menjangkau misalnya 35-200mm (setara dengan 5x zoom optik) bahkan ada yang punya lensa 28-200mm (setara dengan 7x zoom optik). Dengan semakin lebarnya rentang fokal lensa kamera saku tentu akan semakin memudahkan pemakainya untuk bermain berbagai komposisi dan perspektif, dari wideangle hingga telephoto. Tentu saja dengan rentang fokal sepanjang ini, semua kamera super zoom sudah dilengkapi dengan fitur stabilizer untuk meredam getaran tangan.

Ilustrasi fokal wide (28mm) dan tele (300mm) credit : Ricoh
Ilustrasi fokal lensa wide (28mm) dan lensa tele (300mm), sumber : Ricoh

Kini tren di tahun 2010 semakin menunjukkan fakta yang menggembirakan. Banyak kamera saku generasi baru yang memiliki lensa sangat panjang, dengan perbesaran optik sekitar 10x hingga 12x zoom. Sebagian kamera modern kini bahkan menambahkan kemampuan geotagging dan kompas digital berkat adanya antena penerima sinyal satelit GPS. Keren kan? Namun tanpa mengenali lebih jauh seputar fitur dan lensanya, bukan tidak mungkin kita akan kebingungan dalam memilihnya. Bila anda berhasrat untuk memiliki kamera saku semacam ini, inilah panduan lengkap memilih kamera saku superzoom, sekaligus saya sajikan memakai sistem ranking, urut dari peringkat pertama hingga sepuluh, tentunya menurut pendapat saya pribadi :

# 1 : Panasonic Lumix DMC-TZ10 (12x zoom plus GPS)

Kamera seri TZ (Traveller Zoom) dari Lumix ini menjadi kamera saku favorit banyak orang, sejak kehadiran seri pertama TZ1 hingga kini TZ10 yang memang memiliki keistimewaan dalam lensa Leicanya yang tajam. Lumix TZ10 dengan sensor 12 MP, punya lensa amat fleksibel dengan 25-300mm f/3.3-4.9 atau 12x zoom optik, yang sangat ideal untuk foto landscape dan tamasya. Kamera ini dilengkapi dengan fitur manual P/A/S/M untuk kebebasan berkreasi, meski untuk pemula masih tersedia fitur intelligent Auto (iA) yang akan menentukan setting terbaik untuk tiap kondisi. Sebagai bonus, tersedia fitur HD movie AVCHD untuk merekam perjalanan wisata anda, plus kemampuan geotagging dengan penerima GPS terintegrasi.

Rentang fokal dan kualitas lensa Leica DC vario Elmar 25-300mm yang luar biasa efektif, ditambah dengan kelengkapan fiturnya menjadikan TZ10 (ditempat lain dikenal sebagai Lumix ZS7) berada di peringkat pertama dari rekomendasi saya.

# 2 : Fuji FinePix F80 EXR (10x zoom)

Inilah kamera saku seri F terbaru dari Fuji (penerus F70 EXR) yang tetap memakai sensor Super CCD EXR  yang kini resolusinya ditingkatkan menjadi 12 MP. Finepix F80 EXR punya lensa lumayan panjang, atau 27-270mm f/3.3-5.6 atau10x zoom optik. Terlepas dari lensanya yang sudah baik, sensor pada kamera ini pun sangat efektif untuk berbagai keperluan pemotretan, yaitu memotret foto resolusi tinggi 12 MP (EXR mode : HR), atau foto low-light dengan noise rendah pada resolusi 6 MP (EXR mode : SN) atau foto dengan jangkauan dinamis yang lebar pada resolusi 6 MP (EXR mode : DR). Sayangnya, fitur manual di kamera ini cukup terbatas yaitu hanya menyediakan Program mode (P) dan Manual mode (M), meskipun penambahan fitur HD movie mode di kamera ini sangat diapresiasi.

Gabungan dari sensor yang efektif,  fiturnya yang lengkap dan harganya yang terjangkau, menjadikan Fuji F80 EXR sanggup berada di tempat kedua daftar saya.

# 3 : Canon Powershot SX210 IS (14x zoom)

Sebagai pesaing langsung dari Lumix TZ series, Canon menghadirkan kamera saku premium dengan kode SX series. Sebelumnya Canon cukup sukses menjual SX200 IS dengan sensor 12 MP. Kini Canon meluncurkan penerusnya yang lebih mantap, yaitu Canon Powershot SX210 IS. Peningkatan yang dilakukan tidak tanggung-tanggung, Canon menaikkan resolusi kamera menjadi 14 MP dan menambah kemampuan zoomnya menjadi 14x zoom ( 28-392 mm f/3.1-5.9 yang tergolong sangat panjang untuk ukuran kamera saku. Anda mungkin kurang cocok dengan desain lampu kilatnya yang masih harus sering dibuka tutup bila ingin digunakan. Masih seperti sebelumnya, Canon juga menyediakan fitur kendali manual P/A/S/M dan HD movie mode.

Serba lengkap plus lensa super panjang membuat berhasil menjadikan SX210 IS berada di tiga besar daftar saya.

# 4 : Samsung HZ35W (15x zoom plus GPS)

Keseriusan Samsung dalam bermain di dunia digital imaging tampak dari si hitam Samsung HZ35W ini. Kamera bersensor 12 MP dan memiliki lensa sangat panjang (15x zoom, terpanjang di daftar kali ini) dengan fokal 24-360 mm f/3.2-5.8 ini punya posisi wide yang impresif yaitu 24 mm yang pasti berguna saat memotret landscape. HZ35W sendiri merupakan penyempurnaan dari kamera seri sebelumnya dengan penambahan kemampuan zoom dan fitur geotagging. Ya, pada Samsung HZ35W ini ada penerima sinyal GPS terintegrasi yangt agak menonjol di bagian kiri atas. Tersedia juga fitur manual P/A/S/M dan HD movie H.264 untuk liburan anda yang seru.

Kehebatan lensa Schneider berkekuatan 15x zoom, fitur manual mode dan kemampuan geotaggingnya, menjadikan HZ35W ini semestinya bisa ada di posisi pertama daftar saya, namun sementara ini dia hanya bisa berada di tempat keempat daftar saya.

# 5 : Sony Cybershot DSC-HX5V (10x zoom plus GPS)

Sony akhirnya tertarik untuk bermain di segmen kamera saku superzoom ini. Produk andalannya adalah Cybershot DSC-HX5V yang sudah memakai sensor back illuminated Exmor-R CMOS beresolusi 10 MP yang sanggup memotret sampai 10 gambar per detik (wow). Sebagai lensanya, Sony memakai lensa buatan sendiri (bukan lensa Zeiss) dengan fokal 25-250mm (10x zoom) f/3.-5.5 yang sudah cukup untuk urusan wide hingga tele. Sony HX5V ini juga memiliki fitur geotagging dengan penerima GPS terintegrasi. Satu hal yang menarik adalah fitur High Dynamic Range yang akan memotret tiga frame lalu diolah jadi satu gambar HDR. Fitur manual di kamera ini agak terbatas, tapi soal HD movie sangat baik dengan 1080i 60 fps. Inilah kamera Sony pertama yang bisa dipasang keping memori berjenis SD/SDHC ataupun memory stick (Sony mulai melunak?).

Sony ini semestinya bisa ada di posisi empat (yang sekarang diisi oleh Samsung HZ35W) tapi kalah dalam hal zoom lensa sehingga terpaksa ditempatkan di peringkat 5 besar daftar ini.

#6 : Casio Exilim EX-H10 (10x zoom)

Casio EX-H10

Casio mencoba peruntungannya di jajaran kamera saku berlensa panjang dengan menghadirkan Exilim EX-H10 dengan sensor 12 MP dan lensa sangat wide 24-240mm f/3.2-5.7 atau 10x zoom optik. Bila anda menyukai lensa wide 24mm, Casio ini juga layak dipilih karena bakal mendukung hobi landscape anda. Sebagai bonus, tersedia juga fitur HD movie sebagai tanda bahwa kamera ini tergolong kamera saku kelas menengah ke atas.

Karena tanpa fitur manual dan harganya yang mahal, maka Casio ini kalah satu tempat dari Sony alias berada di posisi enam.

#7 : Ricoh CX3 (10.7x zoom)

Jangan meremehkan sensornya yang cuma 10 MP pada kamera keren ini, karena sensor jenis CMOS berteknologi back illuminated yang dipakai pada Ricoh CX3 ini sanggup bekerja cepat hingga 5 fps pada resolusi penuh. Lensa Ricoh CX3 pun amat efektif dengan rentang 28-300mm f/3.5-5.6 atau 10.7x zoom optik. Ricoh dari dulu punya fitur andalan pre-AF yang terus mencari fokus sebelum tombol rana ditekan. Tidak seperti pendahulunya (Ricoh CX2), pada CX3 ini sudah dilengkapi dengan fitur HD movie.

Meski memakai sensor CMOS, namun sayangnya CX3 belum dilengkapi fitur P/A/S/M, sehingga membuat Ricoh CX3 ini harus berada di tempat ke tujuh di daftar saya.

# 8 : Nikon Coolpix S8000 (10x zoom)

Nikon lagi-lagi membuktikan kalau dalam kancah kompetisi kamera saku memang selalu ketinggalan. Kali ini Nikon akhirnya membuat satu kamera saku superzoom yang semoga bisa bersaing dengan para seniornya (padahal Nikon sudah senior di dunia SLR). Sambutlah Coolpix S8000 yang punya sensor 14 MP dan lensa wide yang tanggung, 30-300mm f/3.5-5.6 ED. Kamera ini memang tipis untuk ukuran kamera super zoom, dengan ketebalan kurang dari 3 cm saja. Fitur HD movie sudah ada, tapi hanya itu.

Tidak ada GPS, tidak ada manual mode, lensa wide yang cuma 30mm dan lampu kilatnya harus dibuka tutup, membuat Nikon hanya bisa ditempatkan di posisi tiga dari bawah. Memalukan..

# 9 : Olympus Stylus 9000 (10x zoom)

Stylus 9000

Olympus bergabung di kompetisi kamera saku berlensa panjang dengan produknya Stylus 9000 dengan sensor 12 MP dan lensa Olympus wide zoom, 28-280mm f/3.2-5.9 atau 10x zoom (rentang lensa 28-280mm seperti ini mengingatkan kita pada Lumix TZ2 dan TZ3 di masa lalu). Tidak ada fitur manual P/A/S/M pada Stylus 9000, bahkan kamera ini hanya mampu merekam video beresolusi VGA saja.

Selain dari lensa dan desainnya yang keren, Olympus ini tergolong biasa saja, sehingga cukuplah berada di tempat ke sembilan dari daftar saya.

# 10 : Kodak Z950 (10x zoom)

Kodak Z950

Kodak mungkin bukanlah merk pertama yang terbersit di benak anda saat membayangkan kamera digital, tapi mungkin saja kali ini akan berbeda karena Kodak telah mendesain sebuah kamera saku Kodak Z950 yang punya sensor 12 MP dan lensa zoom Schneider 35-350mm f/3.5-4.8 atau 10x zoom. Memang rentang fokalnya yang bermula dari 35mm tergolong kurang wide namun kamera ini tergolong cukup lengkap dengan adanya fitur manul P/A/S/M dan HD movie MPEG-4.

Sayangnya dengan lensa yang wide-nya cuma 35mm, sulit bagi Kodak ini untuk berada di posisi elit daftar saya (meskipun fiturnya cukup lengkap) sehingga hanya mampu menempati peringkat buncit saja.

Itulah tadi sepuluh kamera saku superzoom di tahun 2010 yang sudah saya kompilasi dan saya urutkan berdasarkan selera pribadi. Perlu diingat kalau kompromi utama dari desain lensa se-ekstrim ini adalah kecilnya bukaan lensa maksimal di posisi wide. Maka itu perhatikan kalau semua kamera ditas tidak ada yang bisa membuka sebesar f/2.8 sehingga hindari memakai kamera semacam ini disaat kurang cahaya. Untuk pertanyaan dan diskusi, seperti biasa dengan menulis komentar di bawah ini.


Published by

Erwin M.

Saya suka mengikuti perkembangan teknologi digital, senang jalan-jalan, memotret, menulis dan minum kopi. Pernah bekerja sebagai engineer di industri TV broadcasting, namun kini saya lebih banyak aktif di bidang fotografi khususnya mengajar kursus dan tur fotografi bersama infofotografi.com.

97 thoughts on “Sepuluh kamera saku superzoom baru di 2010”

  1. 1. Untuk Fuji Finepix F80 kok mode manualnya tanggung amat. Cuma P dan M. Kenapa gak sekalian A dan S nya juga. Nyebelin banget nih strategi marketingnya..
    2. Untuk Sony Cybershot DSC-HX5V, penasarn juga dengan fitur HDR internalnya. Apakah akan mampu mengatasi warna langit yang sering putih ya. Kemudian dengan HD sampai 60 fps? Wow serius amat. Emang Sony udah nggak bikin handycam lagi ya?

  2. Mr. Gaptek,, mau tanya duunk…. itu Kamera Lumix TZ10-nya uda launching di Indonesia belum yaaa… pas aku liat di website Panasonic indonesia kok belum ada yaa… adanya seri yg lain… kalo di panasonic global sich memang ada…. sama mau tanya itu harganya berapa ya…

    terimakasih untuk jawabanya…..

    1. Lumix TZ10 ini di beberapa web namanya ZS7. Harga dan ketersediaan barang sampai februari ini belum ada info. Utk versi non GPS ada Lumix TZ8 yg punya spek hampir sama dgn TZ10.

      1. hemmmm,,,, ya ya ya…. sepertinya emank belum di-launch di indonesia kali ya…. masih baru soalnya…. ^__^ beda GPS doang ya…. g’ perlu2 banget sich sama GPSnya, mendingan yg TZ8 x ya… hehehhe,,, Naksir antara Canon Powershot SX210 IS ato Lumix yg TZ (tp kayaknya lebih condong ke TZ)… Ok Mr Gaptek, tenkyu ats jawabannnya,,, oIya,, ilmu fotografinya dibanyakin dunk, sekalian buat belajar2… hehhee,, baru mau belajar soalnya jadi masih suka asing dengan istilah2 fotografi…

  3. mas,
    secara fitur samsung hz35w lebih unggul dari panasonic lumix tz10. apa yg menjadi pertimbangan sehingga lumix lebih direkomendasikan?
    terima kasih.

    1. Itulah dia, diatas saya sudah tulis kalau semestinya Samsung bisa di posisi pertama. Tapi kan daftar saya ini sifatnya personal, dan saya punya pertimbangan sendiri kenapa kok samsung ada dibawah Lumix, Fuji dan Canon. Faktor subjektif tsb antara lain seperti desain bodi, harga, sampai ‘nama besar’ dari masing2 merk.

  4. Mas Gaptek,
    Saya mohon bantuan penjelasan untuk pertanyaan dibawah
    1. Pada posisi tele antara 60 – 300 mm, dari segi kualitas gambar, kamera manakah yang paling baik menurut mas Gaptek. Saya sedang mempertimbangkan membeli salah satu kamera diatas sebagai teman Panasonic Lumix LX3 yang punya tele maksimum di 60 mm.
    2. Pada posisi wide, apakah ada salah satu kamera diatas yang bisa menghasilkan kualitas gambar setara Lumix LX3? Jika ada saya berencana menjual LX3 saya dan menggantinya dengan kamera tersebut.
    Saya cuma menggunakan kamera untuk kualitas gambar sehingga kemampuan GPS atau Video tidak menjadi pertimbangan saya

    Salam

      1. Saya sudah melihat link yang Mas Gaptek berikan dan juga gambar yang dihasilkan oleh beberapa kamera lainnya (googling) tetapi tetap tidak bisa membedakan mana yang lebih bagus, maklum saya ini hanya kelas pemula pada fotografi, apalagi pada masing masing review tidak dibarengi dengan gambar hasil kamera lain sehingga hanya kelihatan seperti iklan saja.
        Saya harap pada saatnya nanti Mas Gaptek mau menampilkan hasil perbandingan diantara beberapa kamera diatas.
        Salam

  5. Dari semua review singkat diatas kok ga ada yg punya bukaan diafragma besar ya seperti F2.8-4.5, terus itu yg punya focal length lebih dari 200mm kira2 “Bokeh” nya halus ga seperti untuk portrait photo? penasaran pengen liat samplenya di zoom terpanjang!

    menurut saya, kalo liat dari panjang zoomnya sepertinya bakal menghasilkan penyimpangan warna dan distorsi yg besar serta penurunan kualitas ketajaman…

    1. Coba baca lagi kalimat penutup artikel di atas. Kalo bokeh bisa juga lihat ilustrasi zoom pada gambar di atas, lihat di 300mm bokehnya juga biasa aja. Utk distorsi dan penyimpangan warna mungkin tidak begitu terasa, tapi utk penurunan ketajaman itu sudah pasti.

    1. O gitu ya? Nyoba pake theme baru nih. Kalo sebelumnya pake latar putih dan saya lagi pingin sesuatu yg lebih ‘berwarna’ dan menurut saya sih tidak ada yg aneh.

        1. Jadi bingung…. 😦 Tapi kayanya yg sekarang ini (monochrome) lumayan deh, kembali ke konsep hitam putih.. yang ijo kemarin kok agak berat scrollnya.

      1. tul mas yg ini lbh enteng & soft jg di mata. hehe…
        Sekalian tanya nih mas.
        Untuk AVCHD nya lumix or sony, hasil video nya bisa di puter di media player yg umum spt Windows media player, WinAmp, powerDVD, dll ga ya?? or harus pake player khusus Mas??
        File extention nya apa ya??
        klo bisa pake player yg umum itu kan jd enak jg klo mo share video ke temen2. 🙂
        klo dibanding handycam kelas menengah, kualitasnya kira2 berapa persenya ya?? ato sudah sama bagusnya Mas??
        Mohon dijelaskan Mas.
        Makasih

        1. AVCHD, atau metode kompresi modern MPEG-4 (H.264) punya plus minus sendiri dibanding rivalnya MJPEG. Plusnya ya ukuran file lebih kecil, tapi minusnya dia perlu codec khusus (tidak semua player bisa mainkan MPEG-4) dan sulit utk diedit. Ekstension AVCHD adalah .MTS sedangkan MJEPG seperti biasa .MOV yg bisa dibuka di quicktime.

          Salah satu player utk AVCHD bisa diunduh disini :
          http://www.videolan.org/vlc/

          Kualitas tentu belum sebagus handycam, tapi secara detail kalo pake format HD tentu sudah cukup tajam.

  6. Mas Gaptek, tny dunk! Saya br bbrp bulan ini seneng fotografi & skrg bingung. Nah lho! Saat ini sy pake kamera jadul Olympus C750uz yang berlensa 38-380mm trus sy jg berencana beli Nikon D3000 (lensa kit 18-55mm), nah apakah berarti kamera jadul sy lebih baik drpd Nikon D3000 berkaitan perbedaan focal length tsb di atas?
    Mohon diberi penjelasan…
    makasih mas!

    1. Lebih baik dalam arti fokal lensa lebih panjang, iya. Jadi kalo niatnya memang punya kamera yg bisa zoom dari wide banget sampai tele banget ya kamera non DSLR lebih cocok. Setelah anda beli D3000 kit, memang akan terasa kalau mau main zoom terasa terbatas, diputar dikit udah ‘habis’ atau mentok. Tapi DSLR kan mengejar ke kualitas hasil foto dan kecepatan (fokus, shutter, shot-to-shot, burst dsb) dan belum lagi keleluasaan memakai berbagai lensa yg berbeda-beda. Maka itu lensa DSLR umumnya zoomnya pendek, bahkan sebagian tidak bisa dizoom, tapi kualitas (dan harganya) yahud.

  7. Makasih bgt Mas Gaptek atas penjelasanya & link avchd player nya.
    Nambah nih Mas 🙂
    Klo ga salah nih, di TZ10 kita bisa rekam video dlm AVCHD & Motion JPEG pada resolusi yg sama 1280x720pixel (HD). Mas Gaptek lebih merecomendasikan format yang mana nih? (dari berbagai segi, kompatibilitas, kualitas, kapasitas memory, dll).
    Jujur nih Mas, aku pengen bgt tu kamera. Pocket dg zoom gede & video bs optic zoom (wah….)
    Kapan nih mo di bahas Khusus TZ10 nya??
    Makasih bgt Mas Gaptek.

    1. Untuk bahas detil satu satu produk tertentu saya terkendala waktu dan juga mempertimbangkan seberapa perlu tulisan itu utk para pembaca. Lagipula TZ10 ini cuma produk kelanjutan dari seri TZ yg memang terkenal bagus dan populer.

      Memilih format MPEG 4 atau MJPEG itu dasarnya ada di file size dan kemudahan editing. MJPEG sendiri kompresinya kurang efektif, kalo diadu sama kompresi MPEG 4 bedanya jauh (untuk durasi yg sama).Tapi utk diedit lebih mudah daripada MPEG 4.

      1. Makasih Mas Gaptek atas penjelasannya.
        Nambah lg nih Mas 🙂
        Untuk TZ10 ini kan emg lanjutan seri TZ, dr spec dan profile yg ada sih dah komplit bgt u/ kelas pocket dan saya bnr pngen bli. Adakah saran Mas Gaptek, langsung beli saat awal2 ini (klo ga slh 5maret dah kluar barangnya, toko online di jpn) ato lbh baik tunggu beberapa saat, mungkinkah ada saat yg tepat?
        trus Kualitas gambar foto & videonya apakah lbh baik dr TZ7 ya??
        Makasih bgt Mas Gaptek…

        1. Kalo gambarnya lebih baik dari TZ7 sih tidak, kan cuma resolusi aja naik trus tambah GPS. Karena lensanya sama, saya sih saranin ambil TZ7 aja kalau perlu beli saat ini. TZ10 baru masuk pasar bulan depan, itupun harganya mungkin masih agak tinggi.

  8. Makasih bgt Mas atas penjelasannya.
    Sebenernya sih ga buru2 amat, coz skr masih ada Sony DSC-W130 8M. Zoom 4x, cukuplah untuk sehari2 tapi klo pas lg jalan2 terasa kurang bgt zoom nya dan apalagi klo malam/kurang cahaya, rasanya susah bgt dpt gambar bgs (msh gaptek, blm bs dpt setting yg pas).
    Mungkin Mas Gaptek ada saran supaya W130 saya lbh optimal di malam/kurang cahaya???
    Makasih bgt Mas Gaptek

  9. Hi Mas, salam kenal ya.
    Mau nanya:
    Saya ingin beli kamera yg harganya 4 juta-an. Saya perlu kamera yg bisa digunakan untuk motret objek yg kecil banget, misalnya spora atau serbuk sari bunga yang ukuran kurang dari 1 mm. Kira2, kamera yg bagaimana ya. Beberapa kamera yang ada di pikiran saya adalah Lumix FZ35/38, Canon powershot SX20 IS dan Fujifilm S200EXR. Apakah kamera2 tsb cocok dengan kebutuhan saya? Apa bedanya kamera2 tsb dgn kamera2 saku yang Mas jabarkan di atas?

      1. thanks ya Mas. Antara Canon PS SX20IS dgn Lumix FZ35 ini lebih pilih yg mana ya. Canon dg super macro 0 cm, flash hotshoe tp tidak py RAW format atau Lumix yg tidak punya flash hotshoe, super macro 1 cm, tp py RAW??
        Beberapa reviewer bilang adanya NOISE pada lumix. Maksudnya hasil fotonya blur atau gimana ya? Cara mengatasinya gmn?

        1. Kalo tidak ada hotshoe, bisa diakali dgn flash eksternal yg sync dgn lampu kilat kamera. Kalo anda sangat perlu RAW, ambil lumix saja. Noisenya memang agak lebih tinggi tapi namanya sensor kecil mau nggak noise gimana? Soal noise rasanya sdh pernah saya bahas, jadi ada titik2 (grain) dan bintik warna (blotch) pada foto yg dihasilkan. Mengatasinya ya hindari ISO tinggi (400 keatas).

  10. Kamera superzoom Fuji S2500HD cukup murah, gimana kwalitasnya?, bahas donk, biar yg minat bisa beli, he2

    thank’s

  11. hampir aja aku hendak beli nikon s8000, untung stelah dpt pncerahan dari Mas gaptek jd pgn Panasonicnya.. thx bgt.

  12. Mas Gaptek,
    Saya mau tanya lagi nih, saya ingin membeli kamera superzoom untuk membuat foto foto satwa (kebanyakan burung). Nah, di kampung saya burungnya (ukurannya sebesar murai batu atau jalak) cuma bisa didekati kira kira 15-25 m.
    Dari data diatas saya ingin tahu seberapa besar kebutuhan zoom yang saya perlukan, apakah saya cukup dengan Canon Powershot SX210 IS (392 mm) atau perlu Fuji HS10 (720 mm).
    Note: wide tidak menjadi pertimbangan saya karena sudah mempunyai Lumix LX3

    Salam

  13. waduh mas sy perlu bantuan anda nih, kok gak ada yang komen soal canon S90 yah? kalau dibandingkan dg SX210is apa tidak lebih unggul yg S90 dilihat dari sisi wide anglenya?. sy lagi membutuhkan solusi utk membeli kamera poket yg all in 1 package dengan hasil yg memuaskan. tq mas.

    1. Utk all-in-one versi anda itu lensanya harus sanggup tele diatas 100mm atau tidak? Bila iya, ambil SX210. Tapi bila anda merasa cukup dgn rentang 28-105mm, maka S90 pilihan yg jauh lebih baik berkat desain aperture yg besar.

  14. Mas Gaptek, tanya lagi nih. Untuk video TZ10 ada PAL dan NTSC, pada tiap cameranya cuma tertanam salah satunya saja, tergantung wilayah pemasarannya. Untung Indonesia, modelnya yang mana ya Mas? sekalian minta penjelasan dari keduanya ya Mas Gaptek.
    Selain itu, untuk player di computer apakah bisa untuk kedua model PAL dan NTSC ini mas?
    Terimakasih Mas Gaptek.

    1. PAL atau NTSC itu kan cuma masalah beda standar untuk ditampilkan di layar TV aja (melalui port TV out), sedang utk ditampilkan di komputer sebagai file video sih tidak ada urusan dgn PAL/NTSC.

Comments are closed.