Mencari metoda Live-View terbaik untuk kamera DSLR

Live-view pada kamera DSLR saat ini memang sudah semakin umum, berbeda dengan tiga atau empat tahun lalu dimana tidak ada satupun kamera DSLR yang bisa menampilkan gambar yang akan diambil pada layar LCD (istilahnya preview atau live-view). Pemakai DSLR kala itu hanya bisa mengintip gambar melalui jendela bidik optik dan hal itu adalah hal yang lumrah sejak jaman kamera film. Masalahnya adalah, banyak orang yang baru mengenal kamera sejak era digital dengan melihat langsung gambar melalui layar LCD dan terheran-heran mengapa kamera DSLR yang mahal justru tidak bisa live-view.

Alasan utama mengapa kamera DSLR tidak bisa live-view (kala itu) adalah rumitnya sistem internal didalam kamera. Kamera DSLR memakai cermin (mirror) yang menghalangi masuknya gambar ke sensor SEBELUM foto diambil. Jadi yang bertugas mengukur cahaya (metering) maupun mengatur fokus adalah modul-modul khusus yang berada di bawah cermin, sedang kita melihat gambar melalui prisma yang ada di atas cermin (lihat ilustrasi di atas – yang berwarna kuning adalah si cermin). Saat tombol rana ditekan, cermin terangkat sesaat sehingga sensor menerima gambar dan merekamnya, sementara modul dan prisma gantian mengalami blackout (akibat terhalang cermin). Jadi live-view kala itu memang terkesan mustahil karena sensor terhalang oleh cermin.

Konsep live-view sederhana (dan konvensional) lantas diperkenalkan oleh produsen kamera DSLR seperti Canon dan Nikon dengan teknik mengangkat cermin SEBELUM foto diambil. Artinya gambar dari lensa langsung menuju sensor tanpa dihalangi oleh cermin sehingga bisa langsung ditampilkan di layar LCD. Namun konsekuensi dari teknik ini adalah tertutupnya modul metering dan modul AF saat live-view. Padahal kehebatan dari kamera DSLR ada di auto fokusnya yang cepat (berbasis deteksi fasa) dan bila modul AF tertutup artinya saat live-view kita kehilangan kemampuan AF yang cepat. Sebagai gantinya, auto fokus saat live-view memakai sistem deteksi kontras yang lambat, tak ubahnya seperti sistem AF pada kamera non DSLR, bahkan sama seperti kamera ponsel.

Terobosan berbeda diusung oleh Olympus (E-330) dan Sony (A300/350 dan A500/550) yang menawarkan sistem dual sensor. Sensor pertama adalah sensor utama untuk merekam gambar, sedang sensor kedua adalah sensor khusus live-view (lihat ilustrasi di atas). Tujuannya adalah supaya auto fokus berbasis deteksi fasa tetap bisa dipakai saat live-view. Untuk mengaktifkan live-view, tersedia tuas geser yang merubah posisi cermin sedemikian rupa sehingga arah gambar dari lensa mengenai sensor live-view. Pemakai dapat beralih dari mode live-view ke mode biasa (memotret melalui viewfinder) dan sebaliknya dengan mudah, cukup menggeser tuas tadi.

Kekurangan sistem seperti ini adalah sensor live-view sebagai sensor tambahan hanya menampilkan sekitar 90 %coverage, memang amat kurang bahkan masih kurang dari coverage viewfinder optiknya. Karena ukuran dan kualitas sensor tambahan ini tidak sebaik sensor utamanya, maka beberapa hal penting tidak dapat dilakukan saat live-view, seperti asistensi gambar yang diperbesar untuk manual fokus, tanpa overlay grafik (histogram atau grid), dan bahkan tidak dapat melakukan preview kerja stabilizernya yang terpasang di sensor utama. Belum lagi biaya produksi meningkat karena memakai dua sensor sekaligus.

Harapan kedepan semakin cerah saat Sony lagi-lagi dikabarkan akan membuat terobosan live-view yang revolusioner dengan rencana menghadirkan DSLR pellix yang konon akan dinamai Alpha A55 dan A33. Apa itu DSLR pellix (pellicle mirror)? Istilah ini tak lain menyatakan penggunaan cermin (mirror) yang semi-transparan (translucent) sehingga pada saat yang sama, gambar yang diteruskan dari lensa bisa langsung mengenai sensor dan sekaligus bisa dipantulkan ke modul metering dan modul AF. Satu-satunya yang hilang dari DSLR pellix adalah prisma, sehingga jendela bidik untuk kamera jenis ini memakai viewfinder elektronik layaknya kamera EVIL (Electronic Viewfinder Interchangeable Lenses) atau kamera mirrorless. Cermin semi-transparan sebenarnya bukanlah hal yang baru mengingat cermin semacam ini digunakan juga di dunia intelijen (mata-mata) seperti pada film-film Hollywood.

Keuntungan live-view dengan cermin yang transparan adalah kamera DSLR bisa melakukan live-view (menampilkan gambar yang akan difoto atau direkam video melalui layar LCD) sementara kamera tetap mengandalkan sistem auto fokus deteksi fasa melalui modul AF. Hal ini sangat praktis, tanpa perlu memakai dua sensor, namun tetap bisa menghindarkan pemakaian auto fokus berbasis deteksi kontras saat live-view yang lambat seperti semua prinsip kerja live-view konvensional. Bahkan auto fokus saat merekam video juga tetap bisa dibuat cepat dan belum pernah terbayangkan sebelumnya.

Published by

Erwin M.

Saya suka mengikuti perkembangan teknologi digital, senang jalan-jalan, memotret, menulis dan minum kopi. Pernah bekerja sebagai engineer di industri TV broadcasting, namun kini saya lebih banyak aktif di bidang fotografi khususnya mengajar kursus dan tur fotografi bersama infofotografi.com.

5 thoughts on “Mencari metoda Live-View terbaik untuk kamera DSLR”

  1. Tinggal tunggu saja pemunculan body ini di pasar dan apakah pasar bisa menerima inovasi Sony seperti itu bukan ?

  2. salah kenal mas,

    saya bingung, bukankah hilangnya prisma pada DSLR pellix membuat kamera DSLR menjadi sama saja dengan kamera seperti prosumer yg menggunakan electronic viewfinder?

    1. Maka itu akhirnya Sony menamai kamera ini dgn sebutan SLT : Single Lens Translucent Mirror dan bukan lagi DSLR. Tapi karena A55/A33 memakai sensor APS-C, modul AF berbasis deteksi fasa dan mount lensa yg sama maka secara umum masih bisa dikatakan DSLR juga.

      Kamera mirrorless dan kamera prosumer tidak punya cermin, jadi auto fokus berbasis deteksi kontras saja. Jadi meski sama2 pake EVF, tapi kamera SLT masih lebih unggul dalam urusan auto fokus.

Comments are closed.