Membenahi bisnis SMS premium penyedot pulsa, mungkinkah?

Uang seribu dua ribu, terkesan remeh dan tak berarti. Kalau hilang pun kita mungkin tak terlalu peduli. Tapi kalo uang seribu dua ribu ini raib dari jutaan pemilik nomor ponsel, yang terjadi bukan lagi kasus sepele. Modusnya beragam, mulai dari konten premium yang dikemas dalam sebuah kuis, RBT gratis yang jadi berbayar setelah sekian waktu, pop screen yang kalau diikuti akan menguras pulsa hingga pulsa berkurang tiba-tiba setelah menerima SMS tak dikenal (biasanya dikirim dari nomor 4 digit). Praktik ini terjadi sudah sejak lama, tapi terkesan dibiarkan entah karena yang dirugikan merasa malas mengadu (karena nominalnya kecil) dan yang punya kewenangan mengawasi regulasi pura-pura tak tahu. Lengkaplah sudah, toh kisah seperti itu negeri ini selalu begitu dari dulu, sudah bukan hal baru.

Bisnis yang ideal itu melibatkan tiga aspek, yaitu pemodal kuat (investor), ada penyusun (dan pengawas) aturan main yang ketat, dan ada konsumen yang loyal. Uniknya negeri ini, dengan 240 juta penduduknya, konsumen masih selalu dalam posisi yang lemah. Kisah tersedotnya pulsa yang ramai dibahas saat ini (kok baru sekarang ya?) adalah contoh nyata betapa mudahnya mengeruk keuntungan sesaat dari melimpahnya penduduk negeri ini. Kecurigaan lantas tertuju pada tiga pihak : penyedia layanan SMS premium, operator seluler dan tentunya pembuat kebijakan alias pemerintah.

Masyarakat sekarang mulai berani bersuara, alasan paling jelas adalah karena akumulasi kekesalan yang sudah sangat memuncak. Serangan SMS premium seperti mimpi buruk, datang menyedot pulsa dan tak bisa ditolak, sampai orang harus berganti nomor lain. Entah berapa jumlah kerugian akumulatif, meski menteri hanya memprediksi tidak sampai Rp. 100 M, saya yakin kerugian aktualnya 1000x lebih besar dari itu. Ini bisnis besar, anggap setengah penduduk Indonesia punya ponsel, anggap 10% dari yang punya ponsel itu pulsanya disedot seribu sehari, hitung sendiri saja lah..

Saya sih tidak butuh adanya layanan SMS premium, sekarang sudah era BB dan smartphone. Alasan adanya Content Provider (CP) SMS premium hanyalah agar operator bisa mereguk untung setelah pendapatan dari sektor voice dan SMS menurun drastis akibat kompetisi dari BBM dan meluasnya akses internet. Serangan RBT pun jelas adalah trik operator untuk tetap menjaga profit meski caranya yang kadang mengesalkan. Belakangan ada juga SMS yang mengiming-imingi hadiah atau bonus pulsa bila kita mau mengetik kode tertentu, yang ujung-ujungnya malah pulsa disedot tiap hari tanpa bisa berhenti. Saya penasaran kenapa tidak pernah diumumkan siapa orangnya yang dapat hadiah seperti yang ditulis lewat SMS itu..

Operator kalau mau semestinya sangat bisa untuk membantu konsumen berhenti dari aneka jebakan batman seperti ini. Tapi prinsip lama masih dipakai : kalau enak dan tidak ada yang teriak, ya biarkan saja.. Begitu kasusnya ramai seperti sekarang, sampai DPR pun turun tangan, sampai ada gerakan sosial untuk mematikan ponsel selama dua jam, barulah (seolah-olah) semua pihak menjadi peduli. Kalau di luar negeri, tak perlu dibuat heboh pun, CP nakal langsung kena denda bila melanggar.

Tapi okelah, lumayan ada sedikit kabar baik. Paling tidak perkembangan terakhir yang saya tahu adalah seluruh layanan SMS premium dan sejenisnya diberhentikan sementara oleh BRTI. Cukup melegakan sih, semoga bukan cuma pepesan kosong ya..

Cuplikan surat yang dikirim BRTI kepada 10 operator di tanah air adalah seperti ini :

BRTI menginstrusikan kepada seluruh Penyelenggara Telekomunikasi Jaringan Bergerak Selular dan Jaringan Tetap Lokal dengan Mobilitas Terbatas untuk:

  1.  Menghentikan penawaran konten melalui SMS broadcast/pop screen/ voice broadcast sampai dengan batas waktu yang akan ditentukan kemudian.
  2. Melakukan deaktivasi/unregistrasi paling lambat Selasa, 18 Oktober 2011 pukul 00.00 WIB untuk semua layanan Jasa Pesan Premium (termasuk namun tidak terbatas pada SMS/MMS Premium berlangganan, nada dering, games atau wallpaper) kecuali untuk layanan publik dan fasilitas jasa keuangan serta pasar modal yang sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan, dengan memberikan notifikasi deaktivasi dan informasi cara registrasi ulang bagi pengguna yang berminat tanpa dikenakan biaya tambahan.
  3. Menyediakan data rekapitulasi pulsa pengguna yang terpotong akibat layanan Jasa Pesan Premium yang diaktifkan melalui SMS broadcasting/ pop screen.
  4. Mengembalikan pulsa pengguna yang pernah diaktifkan dan dirugikan akibat layanan Jasa Pesan Premium.
  5. Pelaksanaan butir 1 sampai 4 di atas wajib dilaporkan secara tertulis dan berkala kepada BRTI dimulai hari Rabu, 19 Oktober 2011 dan setiap hari Rabu pada tiap minggunya sampai dengan tanggal 31 Desember 2011.

Tak adil memang, barangkali ada CP yang jujur pun ikut jadi korban. Tapi memang tak ada cara lain yang lebih ampuh untuk memberi efek jera bagi pelaku modus sedot-menyedot pulsa ini selain pembekuan sementara sambil kembali berbenah. Dibutuhkan good will dari operator untuk menata lagi bisnis ini, mulai dari transparansi tarif SMS premium, cara berhenti yang mudah, dan informasi layanan premium apa yang sedang aktif.

Sambil menunggu perkembangan dari instruksi BRTI di atas, sebagai info saat ini beberapa operator mulai menyediakan cara untuk melihat paket yang sedang aktif. Untuk  Telkomsel tekan *111# untuk kartuHALO dan *116# untuk simPATI/As lalu tekan 3 untuk cek konten SMS Premium yang aktif. Apabila ingin berhenti berlangganan tekan Angka 2. Bagi pengguna XL, untuk program yang memotong pulsa cek saja di *123*572# dan bisa juga untuk menghentikan layanan tersebut.

Ada info lain? Punya pendapat? Tulis di kolom komentar di bawah ini ya..

Published by

Erwin M.

Saya suka mengikuti perkembangan teknologi digital, senang jalan-jalan, memotret, menulis dan minum kopi. Pernah bekerja sebagai engineer di industri TV broadcasting, namun kini saya lebih banyak aktif di bidang fotografi khususnya mengajar kursus dan tur fotografi bersama infofotografi.com.

3 thoughts on “Membenahi bisnis SMS premium penyedot pulsa, mungkinkah?”

Comments are closed.