Review singkat dua lensa ultrawide zoom dari Nikon

Kalau ditanya saat ini apa lensa wide dari Nikon yang paling populer, jawabannya bisa terbagi dua kelompok : lensa full frame atau lensa DX. Lensa full frame (tanpa ada tulisan DX di bodinya) bisa dipakai di kamera FX (misal D800) tanpa ada crop factor, maupun dipakai di kamera DX (misal D300) dengan adanya crop factor 1,5x. Sebaliknya kalau lensa DX selalu mengalami crop factor 1,5x bila dipasang di bodi Nikon apapun, FX atau DX. Anda ingin tahu kemampuan dua lensa wide Nikon yang saya uji kali ini? Simak selengkapnya.

AF-S 10-24mm f/3.5-4.5 DX – harga sekitar 9 juta

Lensa pertama yang saya jajal ini adalah lensa wide zoom seharga 9 jutaan, pengganti lensa sebelumnya AF-S 12-24mm f/4 DX. Kalau dicermati, lensa buatan 2009 ini lebih wide 2mm dari pendahulunya, tapi kini dengan bukaan variabel. Lensa DX ini dibuat untuk dipakai di Nikon DX seperti D40-D3100, D5100, D90-D7000 dan D300s dengan crop factor 1,5x. Maka itu secara fokal efektif lensa ini akan memberikan fokal setara dengan 15-36mm di kamera full frame.

Nama :

AF-S Nikkor 10-24mm f/3.5-4.5G ED DX (fokal setara dengan 15-36mm di kamera film atau FX)

Bodi :

Bodi plastik, mount logam, 460 gram, ada jendela distance scale, filter 77mm, tuas M/A-M untuk manual fokus.

Optik :

14 elemen, 9 grup, 2 ED, 3 asph., macro 1:5 (jarak fokus minimum 24 cm dari focal plane).

Diafragma :

Ada 7 blade, bukaan variabel, di 10mm maksimum f/3.5 minimum f/22, di 24mm maksimum f/4.5 minimum f/29.

Fitur :

Inner focus, bisa manual fokus override.

Distorsi :

Sangat terasa di 10mm, semakin di zoom semakin berkurang.

Ketajaman :

  • pada fokal 10mm : tajam
  • pada fokal 24mm : tajam
  • pada bukaan maksimum : tajam
  • bukaan di stop down sedikit : semakin tajam
  • pojok-pojok : agak soft di 10mm, agak tajam di 24mm

Bokeh :

Untuk apa mengejar bokeh pada lensa wide? Tapi bokeh lensa ini cukup baik.

Plus :

  • tajam bahkan di bukaan terbesar
  • kontras dan warna sangat baik
  • bisa mengunci fokus dari jarak sangat dekat
  • manual fokus override

Minus :

  • masih ada purple fringing di area kontras tinggi
  • distorsinya agak sulit dikoreksi
  • bukaan variabel, mengecil saat di zoom

Pesaing :

  • Tokina 11-16mm f/2.8 dengan bodi yang lebih kekar serta bukaan besar dan konstan, tapi tanpa motor fokus
  • Sigma 10-20mm f/4-5.6 EX DC HSM dengan harga 5 juta (best buy-harga dan kualitas berimbang)
  • Tamron 10-24mm f/3.5-4.5 Di (rentang fokal sama persis !!) harga hanya 4,2 juta tapi kualitas optik kurang baik

Sampel foto :

Foto dibawah ini diambil memakai fokal 10mm, klik untuk ukuran aslinya (16 MP).

AF-S 16-35mm f/4 VR – harga sekitar 12 juta

Lensa wide kedua yang saya jajal kali ini adalah pelengkap jajaran lensa Nikon kelas profesional bukaan konstan seperti AF-S 14-24mm f/2.8 (buatan 2007) atau AF-S 17-35mm f/2.8 (buatan 1999). Lensa AF-S 16-35mm f/4 ini cukup unik karena meski bukaan konstan tapi tidak begitu besar, alias hanya f/4 saja. Lensa FX ini dibuat tentu untuk dipakai di Nikon FX seperti D700/D800 dan D3/D4, tanpa ada crop factor. Memakai lensa ini di kamera FX akan menghasilkan sudut gambar yang sama dengan memakai lensa 10-24mm di kamera DX. Tapi lensa 16-35mm f/4 ini juga boleh-boleh saja dipakai oleh pemilik Nikon DX. Bila dipasang di DSLR Nikon DX (misal D300 atau D7000) maka lensa ini akan memberikan fokal setara dengan 24-52mm yang sudah meninggalkan kemampuan ultra wideangle-nya.

Nama :

AF-S Nikkor 16-35mm f/4G ED VR (fokal setara dengan 24-52mm bila dipakai di kamera DX)

Bodi :

Bodi plastik, mount logam, 680 gram, ada jendela distance scale, filter 77mm, tuas M/A-M untuk manual fokus dan tuas VR.

Optik :

17 elemen, 12 grup, 2 ED, 3 asph., Nano coating, macro 1:4 (jarak fokus minimum 29 cm dari focal plane).

Diafragma :

Ada 9 blade, bukaan fixed maksmimum f/4 minimum f/22 di seluruh rentang fokal.

Fitur :

Inner focus, bisa manual fokus override, VR generasi II.

VR test :

Saya coba memotret sampai selambat 1/4 detik dengan fokal 16mm dan hasilnya tetap tajam. Bravo..

Distorsi :

Terasa di 16mm, semakin di zoom semakin berkurang.

Ketajaman :

  • pada fokal 16mm : tajam
  • pada fokal 35mm : tajam
  • pada bukaan maksimum : tajam
  • bukaan di stop down sedikit : semakin tajam
  • pojok-pojok : tidak bisa dicek (karena pengujian memakai kamera DX)

Bokeh :

Untuk apa mengejar bokeh pada lensa wide? Tapi bokeh lensa ini cukup baik, lebih baik dari AF-S 10-24mm DX.

Plus :

  • tajam bahkan di bukaan f/4
  • kontras dan warna sangat baik
  • bisa mengunci fokus dari jarak sangat dekat
  • manual fokus override
  • VR generasi II
  • nano coating, bebas flare
  • bisa pasang filter
  • tidak ditemui purple fringing

Minus :

  • mahal (untuk ukuran lensa f/4)
  • bodi besar dan berat (untuk ukuran lensa f/4)
  • ring zoom terlalu dekat dengan bodi, memutarnya jadi perlu adaptasi lagi (ring manual fokus justru terlalu besar dan terlalu di depan)
  • lensa ini bukan pilihan menarik untuk pemakai kamera Nikon DX (rentang fokalnya justru mirip-mirip lensa kit 18-55mm f/3.5-5.6)
  • fokal 16mm belum terlalu wide untuk ultra wide angle photography (kalah sama AF-S 14-24mm f/2.8)

Pesaing :

  • Tokina 16-28mm f/2.8 dengan bukaan besar dan konstan, harga 8 jutaan
  • Sigma 12-24mm f/4.5-5.6 EX DG HSM dengan harga 8,6 juta

Sampel foto :

Foto berikut diambil dengan kamera DX, sehingga tidak mungkin mendapat fokal setara 16mm. Klik untuk ukuran aslinya (16 MP).

Bokeh test :

Untuk mendapat latar yang out of focus, diperlukan bukaan terbesar (f/4). Sebaliknya, bukaan terkecil (f/22) akan mendapat latar yang tajam. Foto-foto berikut ini sudah di resize karena hanya ingin memberi gambaran bokeh saja :

Pada 16mm f/4 :

Pada 16mm f/22 :

Pada 35mm f/4 :

Pada 35mm f/22 :

Advertisements

Published by

Erwin M.

Saya suka mengikuti perkembangan teknologi digital, senang jalan-jalan, memotret, menulis dan minum kopi. Pernah bekerja sebagai engineer di industri TV broadcasting, namun kini saya lebih banyak aktif di bidang fotografi khususnya mengajar kursus dan tur fotografi bersama infofotografi.com.

36 thoughts on “Review singkat dua lensa ultrawide zoom dari Nikon”

  1. tanya lagi mas gaptek (maklum pemula banget), kalo d200 saya dijual dan ganti dgn d3200, gimana menurut mas gaptek, sepadan nggak?. terima kasih lagi

    1. Depresiasi alat elektronik emang bikin kesel. Kamera semahal dan secanggih D200 kalo dijual harganya jatuh. Soal sepadan ya jelas tidak sepadan, tapi apa mau dikata, itulah resiko beli elektronik. Lain halnya kalo invest di lensa yg kalo dijual masih bisa lumayan.

Comments are closed.