Sepenggal kisah dari tur ke Vietnam (Hanoi, Tam Coc dan Halong Bay)

Fotografi, traveling dan internet bagaikan perpaduan yang dahsyat. Dari internet kita bisa mengenali destinasi wisata yang unik, dari hobi fotografi juga kita bisa ditantang untuk mempraktekkan teori dan semakin mengenali kamera yang kita punya. Traveling adalah solusi jitu untuk tamasya, melupakan sejenak kepenatan hidup dan sekaligus mengasah kemampuan fotografi kita. Disini saya akan berbagi sepenggal kisah tur saya minggu lalu yang mungkin ada gunanya buat pembaca sekalian.

Saya beserta infofotografi.com rutin menggelar trip fotografi baik dalam maupun luar negeri. Waktunya bervariasi antara 2 hari (Sabtu-Minggu) atau lebih lama (7 hari) tergantung lokasinya. Untuk yang luar negeri sendiri ditargetkan ada 1 atau 2 kali dalam setahun. Pada Tur Vietnam kali ini kami menyambangi daerah Hanoi di Vietnam Utara yang terkenal akan keindahan alam dan budayanya, plus mengunjungi destinasi wisata gugusan pulau karang yang diklaim terindah di Asia dan dilindungi oleh Unesco, yaitu Halong Bay.

Peserta tur ini umumnya adalah alumni kursus fotografi yang diadakan oleh infofotografi.com dan tercatat sebanyak 21 orang yang ikut mendaftar. Karena belum pernah ada dari kami yang kesana, kami bekerja sama dengan agen travel yang bonafid dan direkomendasikan fotografer kelas dunia. Pihak merekalah yang mengatur dari akomodasi dan itenerary selama di Vietnam. Kami hanya mengatur jadwal pesawat yaitu dengan Lion ke Singapura dan lanjut pakai Tiger ke Hanoi, pp.

Ada sedikit kabar tidak enak 2 minggu sebelum hari H karena tiba-tiba pihak Tiger merubah jadwal yang membuat jadwal pesawat jadi bentrok. Hal ini berakibat jadwal Lion pp harus dirubah 1 hari sehingga kena biaya administrasi, adapun kabar baiknya (atau kabar buruknya) adalah kami harus menginap 1 malam di Singapura sebelum ke Vietnam, dan 1 malam lagi setelah dari Vietnam. Akhirnya dibuatlah rencana tambahan seperti mencari penginapan yang strategis dan terjangkau di Singapura, serta mencari lokasi fotografi yang oke dan menarik di Singapura.

Siap membaca seluruh ringkasan perjalanan saya? Inilah dia kisahnya..

Hari ke-1 : Singapura

Perjalanan dimulai dengan berkumpul jam 4 pagi di Terminal 2D CGK, untuk mengejar flight paling pagi jam 6 tepat.

Sunrise dari jendela
Sunrise dari jendela

 

Tiba di bandara Changi sekitar jam 9 pagi waktu setempat, kami bergegas menuju imigrasi lalu mengambil bagasi masing-masing.

Tiba di Changi
Tiba di Changi
Imigrasi terminal 1
Imigrasi terminal 1

 

Dari Changi kami menaiki 4 buah taxi menuju penginapan, dengan tarif taxi sekitar 25 dolar.

Lucky Plaza
Lucky Plaza
View dari penginapan
View dari penginapan

 

Sorenya kami kembali menaiki taxi ke destinasi fotografi hari pertama yaitu Gardens by the Bay. Lokasinya dekat dengan Marina Bay Sands, cukup 11 dolar dengan taxi atau bisa naik MRT. Disini ada dua kubah raksasa yang tiket masuknya 28 dolar, atau bagi yang tidak mau masuk kubahnya masih bisa jalan-jalan di sekitar lokasi sambil menikmati megahnya super tree secara gratis. Disekitar kubah juga kerap dimanfaatkan warga untuk berolah raga (jogging, bersepeda dll).

Pintu masuknya
Pintu masuknya
Super tree dengan latar Marina Bay
Super tree dengan latar Marina Bay
Building of the year
World Building of the year
Kubah tampak luar
Kubah tampak luar
Suasana didalam Flower Dome
Suasana didalam Flower Dome
Bunga aneka warna
Bunga aneka warna
Koleksi bunga
Bunga lagi
Menuju air terjun
Menuju air terjun

 

Di kubah kedua, kita akan menemukan air terjun dan hutan tropis buatan. Itulah Singapura, segalanya buatan sampai air terjun juga harus dibuat dan untuk menikmatinya harus bayar 😦

Pintu masuk hutan buatan
Pintu masuk hutan buatan
Air terjun buatan
Air terjun buatan

 

Kedinginan dan basah, kamipun keluar kubah untuk memotret super tree di waktu yang ideal yaitu sore hingga malam. Beruntung sekali cuaca cerah sehingga warna langit bakal terekam dengan baik.

Sisi luar the dome
Sisi luar the dome
Super Tree sore hari
Super Tree sore hari
Super Tree senja
Super Tree senja
Super Tree malam
Super Tree malam

 

Pulangnya kami cukup kecewa karena tidak jelasnya antrian taxi disana. Tidak ada taxi terlihat, sementara pengunjung yang mau pulang cukup banyak. Akhirnya kami harus berjalan kaki jauh sekali untuk menemui akses ke MRT, mendekati Marina Bay. Sambil berjalan, saya sempatkan memotret gedung unik ini memakai kamera saku :

Marina Bay
Marina Bay
Menuju MRT
Menuju MRT

 

Hari ke-2 : Hanoi

Singapura masih gelap saat jam disana menunjukkan jam 7 pagi, dan sulit juga mencari taxi untuk kami ke bandara. Syukurlah semua peserta bisa tiba di terminal 2 Changi tepat waktu, setelah check-in kamipun menyempatkan menyantap nasi lemak di bandara yang cukup murah, hanya 4 dolar.

Sarapan nasi lemak dulu di Changi

 

Jelang jam 10 pagi, kami bersiap boarding ke Hanoi. Mayoritas peserta belum pernah kesana, sehingga proses boarding ini membuat kami antusias dan tak sabar ingin segera naik pesawat. Penerbangan dari Singapura ke Hanoi memakan waktu 3,5 jam atau setara dengan dari Jakarta ke Manado.

Bersiap untuk boarding
Bersiap untuk boarding

 

Pesawat Tiger cukup ketat dalam hal makan dan minum. Kita tidak dibolehkan makan kecuali apa yang dibeli di pesawat. Maka itu saya mesti lirik kiri kanan sebelum menyantap burger yang saya bawa di tas, daripada beli di pesawat yang relatif mahal 🙂

Menu makan di pesawat
Menu makan di pesawat

 

Saat jam menunjukkan jam 1 siang, pesawat bersiap mendarat di Hanoi. Tak diduga, dari atas Hanoi tampak luas dan penuh dengan bangunan tinggi. Jauh dari prediksi saya yang menyangka kalau Hanoi adalah kota kecil yang tidak luas.

Saat hendak landing di Hanoi
Saat hendak landing di Hanoi

 

Senangnya saat akhirnya kami bisa menginjakkan kaki di Vietnam.  Sebagai sesama negara Asean, kami bisa langsung menuju imigrasi tanpa harus mengurus Visa kedatangan. Setelah mengambil bagasi, kami bergerak keluar bandara untuk mencari orang travel yang akan menjemput kami di pintu keluar.

Menuju imigrasi bandara Hanoi
Menuju imigrasi bandara Hanoi

 

Semuanya berjalan lancar. Kamipun sudah berada di bus wisata yang mengantar kami ke hotel Marigold (21 2′ 23″ LU dan 105 50′ 44″ BT). Sepanjang perjalanan si pemandu wisata kami menjelaskan dalam bahasa Inggris tentang Hanoi, penduduknya, bahasanya dan cuacanya. Sambil menyimak kami tentu juga memotret dari dalam bis.

Ciri rumah di Hanoi yang rapat
Ciri rumah di Hanoi yang rapat
Rumah-rumah di Hanoi
Rumah-rumah di Hanoi

 

Setiba di kamar, kamipun menyegarkan badan sejenak untuk lalu bersiap city tour di sore hari.

Dalam kamar hotel
Dalam kamar hotel

 

Sebagai info, mata uang disana adalah Dong, yang mana 1 Rupiah kita setara dengan 2 Dong. Mata uang terbesarnya adalah 500.000 VND, dan tidak ada uang koin disana. Sebaiknya tukarkan uang US dolar anda di bandara Hanoi untuk dapat nilai terbaik. Saya menyiapkan uang 100rb VND untuk beli SIM card supaya bisa SMS dan telepon sebentar ke keluarga di Jakarta.

Uang setara Rp 50.000
Uang setara Rp 50.000

 

The trip begin…

Lokasi trip yang berdekatan
Lokasi trip yang berdekatan

 

Destinasi fotografi pertama adalah sebuah gedung bersejarah dan dekat dengan Ho Chi Minh mausoleum. Disana juga ada Citadel dengan lapangan luas (semacam alun-alun) dan ada One Pillar Pagoda. Semuanya relatif berdekatan dan bisa dikunjungi dalam satu kali trip.

Gereja Katholik Cua Bac
Gedung pemerintahan
Makam Ho Chi Minh
Makam Ho Chi Minh
Bendera di 'Alun-Alun' Hanoi
Bendera di ‘Alun-Alun’ Hanoi
Aneka kartu pos
Aneka kartu pos
One Pillar Pagoda
One Pillar Pagoda
Turis dan refleksinya di air
Turis dan refleksinya di air
Bule self portrait
Bule pun melakukan self portrait

 

Lanjut..

Hoan Kiem dan Olq Quarter
Hoan Kiem dan Old Quarter

 

Dari sana kami kembali naik bis untuk menuju danau terkenal di Hanoi yaitu Hoan Kiem, sekaligus menuju Old Quarter melakukan street photography.

Bangunan bersejarah
Bangunan bersejarah Cua Bac Chruch
Miring
Opera building
Nha Hat Lon
Opera Building tampak dari kejauhan
Pintu masuk hotel Metropole
Pintu masuk hotel Metropole
Becak di Hotel Metropole
Becak di Hotel Metropole
Monumen tokoh besar di Hanoi
Monumen tokoh besar di Hanoi Ly Thai To
Hiasan terbuat dari bunga
Hiasan yang terbuat dari bunga
Sunset di City Lake
Sunset di Hoan Kiem Lake
Toilet umum, pipis 2000 Dong
Toilet umum, pipis 2000 Dong
Para Bhiksu sedang berkumpul
Para Bhiksu sedang berkumpul untuk berfoto
Street photo di Old Quarter
Street photo di Old Quarter
Blue hour di Old Quarter
Blue hour di Old Quarter

 

Lelah memotret dari siang, kami santap malam di sebuah restoran melayu disana. Malamnya kami harus cukup istirahat karena besok paginya harus mengejar foto sunrise di jembatan Long Bien, lalu berangkat ke Tam Coc yang jaraknya sekitar 100 km ke selatan Hanoi.

 

Hari ke-3 : Long Bien bridge (Hanoi) dan ke Tam Coc, Provinsi Ninh Binh

Jam 5 pagi kami sudah harus siap mengejar sunrise di jembatan Long Bien. Jembatan ini didesain oleh orang yang sama dengan yang mendesain menara Eiffel. Sayangnya jembatan ini rusak parah jaman perang Vietnam, walau akhirnya bisa dipugar oleh pemerintah Hanoi.

Jembatan Long Bien in BW
Jembatan Long Bien in BW

 

Langit pagi itu tidak mendukung untuk kami memotret sunrise. Mendung membuat matahari tak tampak, sehingga kami akhirnya mencari cara untuk mengeksplor keunikan jembatan ini (termasuk membuat foto BW), dan memotret semua yang lewat diatasnya.

Human interest
Human interest
Human interest
Human interest
Jembatan Long Bien
Jembatan Long Bien
Mural unik
Mural unik
Motor polisi di Hanoi
Motor polisi di Hanoi

 

Puas memotret, kami bergegas kembali ke hotel untuk sarapan. Tak lama kami harus naik bis untuk menuju Tam Coc, provinsi Ninh Bihn. Untungnya sebagian tas koper kami boleh dititipkan di hotel Marigold, karena nantinya kami akan kembali ke hotel ini lagi. Di perjalanan kami mampir sebuah tempat yang menjual lukisan bordir yang dibuat oleh anak-anak penyandang cacat, yang disebabkan karena perang Vietnam. Bila kita belanja disini, sebagian dari uang yang kita bayar akan disumbangkan untuk negara untuk kembali mendanai anak-anak cacat ini.

Lukisan dari penyandang cacat
Lukisan bordir dari penyandang cacat

 

Tiba di Tam Coc, kami tidak langsung ke hotel melainkan mampir di sebuah kuil wisata dulu di daerah Hoa Lu.

Gapura ke kuil di Tam Coc
Gapura ke kuil Hoa Lu
Pintu masuk kuilnya
Pintu masuk kuilnya
Nama kuilnya
Nama kuilnya
Bersepeda
Bersepeda

 

Selepas dari kuil Hoa Lu, kami pun melanjutkan perjalanan menuju hotel untuk makan dan menyimpan koper masing-masing. Nama hotelnya adalah The Long Hotel, viewnya strategis dan berhadapan langsung dengan dermaga Tam Coc.

Menginap dan makan disini
Menginap dan makan disini
'Dermaga' Tam Coc
‘Dermaga’ Tam Coc

 

Wisata utama di Tam Coc adalah menaiki sampan menyusuri sungai sejauh kira-kira 2km pp. Uniknya sampan ini kebanyakan didayung oleh seorang perempuan, dan mendayungnya umumnya memakai kaki. satu sampan bisa dinaiki oleh dua wisatawan. Menurut Wikipedia, Tam Coc sendiri artinya adalah tiga gua dan memang benar, ada tiga gua alami yang kami lalui sepanjang perjalanan mendayung di sini. Perjalanan sepanjang sungai sangat menakjubkan. View gunung karst di kiri kanan, sungai yang bersih dan tenang serta sensasi saat melewati gua cukup seru karena ketinggiannya yang pas dengan kepala kami.

Berangkat
Berangkat
Yang dayung sampan saya ibu dan anak
Yang dayung sampan saya ibu dan anak

 

Di dalam perjalanan kami menemukan sampan yang hanya berisi seorang wanita yang sedang mendayung. Uniknya dia membawa DSLR dan mengarahkan kameranya ke kami. Rupanya dia mencari uang dari menjual foto kami setelah selesai mendayung, per lembar dijual 20.000 Dong. Bila tidak ingin difoto, berilah sinyal untuk menolak dengan sopan.

Jelang masuk ke gua
Celah gua alami yang pas dengan tinggi kepala
Keluar dari gua
Keluar dari gua

 

Tiba di ujung perjalanan, kami harus berputar balik. Disana kami menemui sampan yang isinya jualan makanan dan minuman. Sampan tersebut kemudian memepet kami dan memaksa kami membeli minuman kaleng sebagai konsumsi untuk yang mendayung. Rupanya mereka sudah punya kerjasama yang kompak, karena konon kabarnya apa yang kami beli dan kami berikan ke si pendayung sampan rupanya tidak diminum tapi nantinya dijual lagi ke pedagang tadi. Begitu seterusnya berulang setiap harinya.

Pedagang yang jualannya maksa
Pedagang yang jualannya maksa

 

Bahkan di atas sampan, si pendayung memaksa kami membeli kaos atau cindera mata lain dengan harga lumayan mahal. Bila kami menolak, dia akan mendayung dengan pelan dan seakan berhenti sampai kami menyerah dan akhirnya membeli juga. Tricky ya..

View dari atas sampan
View dari atas sampan

 

Tiba kembali di dermaga, pendayung masih memainkan strategi bisnisnya dengan meminta tips. Cukup mengesalkan, walah akhirnya saya tetap memberi tips, tapi saya tidak memberi sebanyak yang dia minta. Di dermaga terlihat anak-anak Tam Coc asyik berenang sehingga membuat saya tertarik untuk memotretnya walau sedang cukup kesal akibat ulah pendayung sampan tadi.

Anak-anak Tam Coc berenang
Anak-anak Tam Coc berenang

 

Selepas mendayung, perjalanan dilanjutkan ke destinasi terakhir di hari itu yaitu menuju kuil Bich Dong, yaitu sebuah yang dibuat di atas gunung batu. Bila kita naik sampai puncaknya, bisa dijamin kita akan disodorkan pemandangan yang indah. Walau sudah lelah, tangga yang terlihat banyak itu tak menyurutkan semangat kami untuk menapakinya. Tapi perjalanan naik tangga semakin ke puncak jadi tidak mudah karena gelap total, untung lampu LED di ponsel saya bisa dijadikan lampu senter dadakan.

Pintu masuk kuil
Pintu masuk kuil
Kuil ini dibuat didalam gunung batu
Kuil Bich Dong dibuat didalam gunung batu
Pelataran kuil, ada wadah spt kotak amal
Pelataran kuil, ada wadah spt kotak amal
Inside kuil
Inside kuil
View setiba di atas kuil
View setiba di atas kuil
Tau ah, gak ngerti maksudnya..
Tau ah, gak ngerti maksudnya..

 

Jelang senja kami kembali ke hotel untuk istirahat. Kamar saya di lantai 9 sehingga viewnya pasti indah. Karena lift hanya ada satu dan antri, saya memutuskan naik tangga ke lantai 9, lelah sekali. Untungnya penat ini terbayar saat melihat view dari dalam kamar yang indah, hingga saya terlelap sampai keesokan harinya 🙂

View dari kamar saya di lantai 9
View dari kamar saya di lantai 9

 

Hari ke-4 : Halong Bay, hore….

Hari yang paling ditunggu-tunggu itu akhirnya tiba. Cuaca cukup cerah, semuanya juga bersemangat untuk meninggalkan Tam Coc. Perjalanan ke Halong Bay diperkirakan akan ditempuh dalam waktu 3 jam lebih. Di perjalanan kami mampir toko camilan lokal sekalian membeli bekal untuk di kapal nanti.

Jajanan lokal
Jajanan lokal

 

Di Halong Bay rupanya sudah banyak hotel besar yang dibangun, sebagian masih dalam proses pembangunan. Rencana kami adalah menaiki kapal Helios Junks, makan siang dan malam di kapal, lalu menginap di kapal sampai esok harinya. Sayangnya tiba-tiba ada kabar dari BMG setempat bahwa akan ada badai malam harinya dan seluruh kapal dilarang menginap di laut karena alasan keamanan. Tentu saja kami kecewa dan bahkan tur guide kami panik mencari alternatif kedua untuk mencari hotel pengganti di Hanoi.

Tapi perjalanan ke kapal tetap harus dilakukan. Yang pertama dilakukan adalah menaiki kapal kecil untuk bisa diantar ke kapal Helios Junks yang tidak bisa merapat ke dermaga karena ukurannya yang cukup besar.

Kapal kecil untuk menuju kapal utama
Kapal kecil untuk menuju kapal utama

 

Tiba di kapal Helios Junks, kami disuguhi makan siang sea food yang segar. Puas santap siang, kami mulai naik ke atas dan bersiap memotret suasana Halong :

Petunjuk keselamatan kok tidak pake bahasa Inggris
Petunjuk keselamatan kok tidak pake bahasa Inggris
Dari samping kapal
Dari samping kapal
Kamar untuk menginap di kapal
Kamar untuk menginap di kapal

 

Halong Bay :

Halong Bay
Halong Bay
Lebih enak memotret dari atas kapal
Lebih enak memotret dari atas kapal
Salah satu kapal yang berpapasan
Salah satu kapal yang berpapasan
Halong Bay
Halong Bay

 

Setelah kapal berjalan sekitar 1 jam, tibalah kami di salah satu pulau yang punya gua terkenal yaitu gua Sung Sot. Kapal pun berhenti dan kami kembali harus pindah ke kapal kecil lagi.

Jelang merapat di gua Sung Sot
Jelang merapat di gua Sung Sot
Pintu masuk gua Sung Sot
Pintu masuk gua Sung Sot
Antri naik ke gua
Antri naik ke gua

 

Setelah naik tangga cukup tinggi, kami melirik ke samping dan ternyata viewnya bagus :

View dari pintu masuk gua
View dari pintu masuk gua

 

Suasana di dalam gua ternyata cukup terang dengan bantuan lampu sorot aneka warna. Hebatnya di dalam gua ini tidak pengap, udara terasa sejuk dan cukup oksigen. Di dalamnya, gua Sung Sot ini terlihat besar dan megah, foto-foto yang dihasilkan disini akan terkesan abstrak dan juga unik. Saya banyak pakai ISO 6400 bahkan lebih saat memotret di dalam gua :

Memasuki gua Sung Sot
Memasuki gua Sung Sot
Di dalam gua Sung Sot
Di dalam gua Sung Sot

 

Keluar dari gua, kami kembali menuruni tangga dan kembali ke kapal untuk kembali pulang :

Yang mau jajan di Halong
Yang mau jajan di Halong
Sunset di Halong
Sunset di Halong
Senjataku, D5100 dan AF-S 55-200mm VR
Nikon D5100 duduk manis di tripod
Jelang merapat kembali ke dermaga
Jelang merapat kembali ke dermaga

 

Kabar baiknya adalah, tur guide kami berhasil mendapat penginapan di Hanoi yaitu hotel yang sama : Marigold hotel. Dengan begitu, rencana menginap di kapal digantikan dengan perjalanan pulang ke Hanoi. Tiba di Hanoi jam 12 malam langsung masuk kamar dan… tidur.

 

Hari ke-5 : rencana dadakan (Duong Lam Ancient Village dan roof top city view)

Saya akui tur guide kami cukup hebat dalam hal mencari tujuan wisata alternatif. Batal menginap di Halong Bay, maka gantinya tak kalah seru. Mengunjungi desa tua di Duong Lam, satu-satunya desa tua yang tidak dihancurkan saat perang Vietnam. Perjalanan kesana berjarak 60km ke barat Hanoi, memakan waktu 40 menit, dan cuaca cukup panas apalagi kami harus jalan kaki menyusuri gang-gang yang ada di desa tersebut. Sebelum tiba di lokasi, seperti biasa saya sempatkan untuk memotret kiri kanan dari dalam bis 🙂

Entah bangunan apa
Entah bangunan apa, asal jepret aja
Gedung tinggi di Hanoi
Gedung tinggi di Hanoi
Mungkin markas TNI disana
Mungkin markas TNI disana

 

Ilustrasi rute ke Duong Lam Ancient Village :

A : Hanoi B : Duong Lam
A : Hanoi B : Duong Lam

 

Tidak banyak yang akan saya tulis tentang Duong Lam, cukup foto-foto saja saya pajang ya :

Penunjuk arah (untungnya ada bahasa Inggrisnya)
Penunjuk arah (untungnya ada bahasa Inggrisnya)
Pintu masuk Duong Lam
Pintu masuk Duong Lam
Gereja (in camera HDR mode)
Gereja tua (in camera HDR mode)
Seperti berada di Cina
Seperti berada di Cina
Menu makan siang di desa
Menu makan siang di desa
Bule pun asyik santap siang di desa
Bule pun asyik santap siang di desa
Keramahan bocah pedagang
Keramahan bocah pedagang
Semacam rumah adat
Semacam rumah adat disana
Sudut desa Duong Lam
Sudut desa Duong Lam
Rumah tradisional
Rumah tradisional
Pedagang buah
Pedagang buah
Duong Lam
Duong Lam
Sebuah candi di Duong Lam
Sebuah candi di Duong Lam
Human interest di Duong Lam
Human interest di Duong Lam
Tawa anak Duong Lam
Tawa anak Duong Lam

 

Acara di Duong Lam cukup melelahkan, selesai sekitar jam 3 sore. Kami kembali ke Hanoi untuk mampir melihat proses pembuatan Lacquerware, seperti kerajinan tangan yang prosesnya rumit. Disini dijelaskan bahwa satu lukisan dibuat dalam 15 layers, dan perlu waktu 3 bulan untuk pengerjaannya.

Aneka lacquerware siap untuk dipilih
Aneka lacquerware siap untuk dipilih
Aneka Lacquerware
Aneka produk Lacquerware
Membuat kerajinan Lacquerware
Proses membuat kerajinan Lacquerware

 

Dari sana kami lanjutkan perjalanan, sambil melakukan street foto dari dalam bis lagi :

Street of Hanoi
Street of Hanoi
Sudut kota
Sudut kota

 

Agenda terakhir hari itu adalah mendatangi lagi danau Hoan Kiem untuk memotret dari roof top cafe disana. Tujuannya adalah memotret danai Hoan Kiem dan juga sunset dari ketinggian. Di lantai 5 City View Cafe, ternyata betul-betul berkonsep roof top tanpa atap, cafe yang kami datangi ini menjual aneka kopi, bir dan kudapan. View indah terbentang dari samping kami duduk di sore itu, angin sejuk dan secangkir capucino menemani saya mempersiapkan tripod dan lensa-lensa yang dibutuhkan.

Boleh foto tapi beli kopi ya..
Boleh foto tapi beli kopi ya..
Turtle Tower di tengah danau
Turtle Tower di tengah danau
Huc bridge ke candi Ngoc Son
Huc bridge ke candi Ngoc Son
View danau Ho Hoan Kiem saat senja
View danau Ho Hoan Kiem saat senja
Sunset dari rooftop
Sunset dari rooftop
Roof top saat senja
Roof top saat senja

 

Hari ke-6 : West Lake (Hanoi), pulang ke Singapura

Waktu pulang telah tiba. Peserta umumnya sudah puas dan cukup lelah, karena mobilitas selama di Vietnam cukup tinggi. Bagi peserta yang masih ingin menikmati suasana Hanoi di hari terakhir, kami diajak untuk beli oleh-oleh di Old Quarter, seperti aneka kaos dan cinderamata.

Kaos Vietnam, desain oke tapi mutu kain kurang baik
Kaos Vietnam, desain oke tapi mutu kain kurang baik
Tempat memotret roof top kemarin
Tempat memotret roof top kemarin
Becak di Hanoi
Becak di Hanoi
Suvenir Hanoi
Suvenir Hanoi
Foto dari dalam bis
Foto dari dalam bis lagi

 

Sesi terakhir adalah mengunjungi West Lake, danau besar di Hanoi. Meski tetap memotret, target kedatangan kami disini sebetulnya hanya untuk bersantai saja, karena waktu terbaik untuk foto-foto disini tentu bukan jam 11 siang yang kontras dan panas.

Pagoda tertua, Tran Quoc
Pagoda tertua, Tran Quoc
Mungkin artinya dilarang berenang :)
Mungkin artinya dilarang berenang 🙂
Tamannya terawat, bandingkan dengan Jakarta :)
Tamannya terawat, bandingkan dengan Jakarta 🙂
Mancing adalah kegiatan ilegal disini
Mancing adalah kegiatan ilegal disini

 

Jam 13.00 kami makan siang terakhir di Hanoi, di sebuah resto besar berkonsep buffet.

Sen resto
Sen resto
All you can eat, ada kokinya juga..
All you can eat, ada kokinya juga..

 

Jam 15.00 kami sudah tiba di Bandara Hanoi dan bersiap untuk menanti penerbangan ke Changi, Singapura. Selamat tinggal Hanoi, selamat tinggal Vietnam..

Pertokoan dalam bandara Hanoi
Pertokoan dalam bandara Hanoi
Masih ada sisa Dong? Masukkan kotak amal aja..
Masih ada sisa Dong? Masukkan kotak amal aja..
Sunset dari pesawat
Sunset dari pesawat

 

Hari ke-7 : Merlion Sunrise

Perasaan baru beberapa jam saya tidur di Singapura, tapi sudah harus bangun pagi buta untuk mengejar sunrise di Merlion. Tidak banyak peserta yang ikut kali ini, kebanyakan cukup kelelahan dan lebih memilih istirahat di kamar. MRT bahkan belum buka, kami mesti menunggu taxi yang untungnya sudah beroperasi walau masih pagi buta.

Masih gelap
Masih gelap dan sepi di Lucky Plaza
Air Merlion belum keluar
Air Merlion pun bahkan belum keluar
Suka sama refleksinya
Suka sama refleksinya
Mulai agak terang
Mulai agak terang
Matahari akan muncul dari arah sana
Matahari akan muncul dari arah sana
Muncul persis di belakang ferris wheel
Muncul persis di belakang ferris wheel
Para pemburu sunrise (saya yg baju hijau)
Para pemburu sunrise (saya yg pakai kaos hijau)

 

Akhirnya waktu untuk pulang benar-benar tiba, setelah genap seminggu berpetualang dan memotret. Waktunya untuk beli oleh-oleh untuk keluarga di rumah, lalu menuju bandara Changi dan pulang ke Jakarta…

Toko oleh-oleh di Lucky Plaza
Toko oleh-oleh di Lucky Plaza
Narsis di Changi
Narsis di Changi
Beli coklat buat anak
Beli coklat dulu buat oleh-oleh anak
Boarding ke Jakarta
Boarding ke Jakarta
Inside Boeing 737-900ER Dreamliner
Inside Boeing 737-900ER Dreamliner

Sekian share dari saya, maaf kalau ada yang teracuni dan pingin trip kesana. Bagi yang perlu info tur guide yang kami pakai, namanya Hue La (Tom) dengan nomor HP 0084-987-909-204 dan email huela1901@gmail.com.

 

Credit :

Kamera : Nikon D5100, Canon Ixus 220HS

Lensa : Tokina 12-24mm f/4, Sigma 24-70mm f/2.8, Nikon AF-S 55-200mm VR, Sigma 70-200mm f/2.8 with extender

Tripod : Fotopro travel tripod

Advertisements

Published by

Erwin M.

Saya suka mengikuti perkembangan teknologi digital, senang jalan-jalan, memotret, menulis dan minum kopi. Pernah bekerja sebagai engineer di industri TV broadcasting, namun kini saya lebih banyak aktif di bidang fotografi khususnya mengajar kursus dan tur fotografi bersama infofotografi.com.

18 thoughts on “Sepenggal kisah dari tur ke Vietnam (Hanoi, Tam Coc dan Halong Bay)”

    1. Maap om, gak di track log, cuma sesekali intip koordinat pake HP aja. Kalo yg gambar peta di tulisan ini cuma dari google map untuk kebutuhan ilustrasi aja, soalnya ilmunya belum setinggi om mantu gaul. Kalo posisi saya menginap di Hanoi adalah 21 2′ 23″ N dan 105 50′ 44″ E mungkin berguna, trims..

        1. Kalo dari Asean gak perlu Visa, tapi saya lihat bule2 sih antri di konter Visa on arrival. Jadi sampe di imigrasi Hanoi saya cuma tunjukkin passport, tanpa tanya apapun dia langsung cap dan lolos deh 🙂

  1. Mantap photo photonya… apalagi ditambah cerita…. Photonya semakin menjadi jadi..
    Saya sempat mengikuti via latitude posisinya ada dimana..
    Sepotong cita sudah terlewatkan… maju terus Pak Erwin.. tetap semangat… maju terus… tak kan lari gunung dikejar.. Salm buat si kecilnya
    yg belajar berenang
    BP

    1. Makasih pak Boedi buat dukungan dan doanya.. dari pengalaman saya ngurus kumpul SPU tiap tahun, jadinya tidak kesulitan ngurus group trip spt sekarang ini..

  2. keren banget info, kebetulan besk saya mau kevietnam selama 5 hari.. kalau boleh tanya, selama disana komunikasi dan online internet gimana pa ? apakah ada beli kartu perdana vietnam ?

    thnx you

    1. Di Hanoi gak bisa BB, jadi paling pake whatsapp lewat jalur wifi. Saya beli perdana di sana 100rb dong cuma pake sms dan telpon bentar ke Indo udah abis.

  3. Keren info trip nya. info trip include Photos begini yang memang bermanfaat untuk pembaca yang pengen info tour. di tunggu info2 tour yang lainnya.

Comments are closed.